Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Senjata Ampuh Jamaludin.


__ADS_3

“Aku yakin sekali. Kita bisa mengorek informasi tentang Benjamin. Aku yakin Minah bisa sembuh dari penyakit itu,” jawab Adrian yang penuh percaya diri.


“Baiklah tuan. Saya akan pergi ke Indonesia jam penerbangan pagi,” jawab Luke.


“Kenapa kamu tidak memakai jet pribadi perusahaan?” tanya Adrian yang mengerutkan keningnya. 


“Maaf tuan... saya tidak berhak memakai fasilitas jet pribadi Anda,” jawab Luke dengan jujur.


“Aku memberikanmu tugas besar. Yang berarti kamu harus menurutinya. Jika aku sudah menyuruhmu memakai jet pribadi, maka kamu harus memakainya,” jelas Adrian. “Tidak mungkin kamu pulang pergi naik pesawat komersil. Ditambah lagi kamu membawa orang yang bisa dikatakan orang yang memiliki penyakit mental.” 


“Siap laksanakan,” sahut Luke yang berdiri sambil membungkukkan badannya. 


“satu lagi. Setelah mendapatkan Minah, kamu harus kembali ke sini. Aku yakin Benjamin akan kembali ke Indonesia dan mengambil Minah!” titah Adrian.


Luke segera menganggukkan kepalanya. Ia memutuskan untuk berpamitan malam ini juga. Setelah berpamitan Luke pergi ke kamar untuk berbenah. 


Melihat kepergian sang asisten Adrian meraih ponselnya. Ia mencari nomor telepon seseorang. Kemudian Adrian menghubunginya dan meminta seseorang untuk mengamankan rumah sakit jiwa. Yang di mana rumah sakit jiwa itu tempat Minah dirawat. 


Aska dan Adrian memiliki isi otak sang sama. Mereka ingin menyelamatkan Minah. Bukan berarti mereka berkhianat. Melainkan mereka ingin mengorek informasi. Ditambah lagi Aska sangat penasaran sekali dengan perlakuan Minah. Mengapa Minah selalu membuat dirinya tidak nyaman? 


Masih di kota yang sama, Jamaludin memutuskan masuk ke dalam kamar Jono. Saat masuk ke dalam, Jono sedang berbaring dengan tangan terikat. Ia tersenyum manis sambil meraih jarum suntik berada di atas nakas. Lalu Jamaludin mengambil botol obat dan mengisi alat itu dengan obat penenang. Kemudian ia menyuntikkan obat itu di lengan Jono. 


“Belum saatnya kamu mengamuk seperti ini. Kamu harus menyimpan semua emosi tinggi ini. Jika aku memerintahkan kepadamu untuk mengeluarkannya. Maka keluarkanlah,” jawab Jamaludin sambil tertawa dan menyuntikkan obat itu hingga habis. 


Beberapa menit kemudian Jono sadar dan melihat Jamaludin. Ia menghembuskan nafasnya secara kasar Kemudian ia bertanya, “Katanya berangkat ke New York?” 


“Kakinya pake ngamuk segala. Bagaimana papa bisa pergi?” tanya Jamaludin sambil membuka tali milik Jono.


“Apakah penyakitku bisa sembuh?” tanya Jono.


“Bisa. Tapi papa belum menemukan obatnya,” jawab Jamaludin sambil mencari alasan.

__ADS_1


“Belum saatnya kamu sembuh sayangku. Aku akan memanfaatkan penyakitmu untuk menyerang Aska dan lainnya. Jika kamu sembuh dengan cepat. Maka aku tidak bisa memanfaatkan kamu. Karena kamu adalah senjataku untuk merebut semua aset Wicaksono,” ucap Jamaludin dalam hati. 


“Baiklah,” sahut Jono dengan pasrah. “Apakah papa akan pergi ke New York sekarang?” 


“Iya... malam ini,” jawab Jamaludin. “Papa akan mencari keberadaan Benjamin.” 


“Oh.. pria tua itu yang memiliki kecerdikan untuk kabur?” tanya Jono.


“Sepertinya kamu harus mempelajari ilmu itu. Agar bisa kabur ke mana pun saat tertangkap,” saran Jamaludin.


“Akan aku pelajari semua teknik melarikan diri dengan baik dari Benjamin,” sahut Jono dengan semangat. 


Jamaludin menganggukkan kepalanya sambil mengacungkan jempolnya. Lalu ia meminta pelayan untuk menyediakan makan malam untuk sang putra. Setelah itu Jamaludin melangkahkan kakinya pergi dari sana. Namun sebelum keluar... 


“Papa,” teriak Jono yang mulai duduk.


Jamaludin menoleh lalu melihat Jono. Ia membalikkan badannya sambil berkata, “Ada apa?” 


“Bagaimana dengan kabar Julia?” tanya Jono.


“Kalau begitu,” ucap Jono menggantungnya.


“Begitu apa maksudnya?” tanya Jamaludin yang membaca pikiran Jono.


“Apakah papa akan membunuh Julia?” tanya Jono yang berharap Julia mati.


“Tidak perlu membunuh nenek tua itu. Papa akan membiarkan nenek tua itu mati dengan perlahan,” jawab Jamaludin.


Jono menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis. Jono berjanji akan melihat betapa menderitanya Julia palsu itu hingga anak menjemputnya. Melihat sang putra yang tersenyum manis, Jamaludin pergi meninggalkan Jono. Sembari berjalan Jamaludin meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang dan menyiapkan sebuah jet pribadi. 


Singapura. 

__ADS_1


Maria yang melihat Helen mengobrol bersama Christina mendekatinya. Ia lalu duduk di hadapan mereka sambil melemparkan senyuman yang hangat. Kemudian kedua wanita yang berbeda generasi itu membalas senyuman Maria.


“Ibu,” panggil Maria.


“Iya,” sahut Christina. “Ada apa?” 


“Abang Aska tidak bisa pulang dalam waktu dekat ini,” jawab Maria yang mulai gelisah.


“Ibu tahu itu,” ucap Christina yang menatap wajah Maria pucat. “Kamu nggak usah khawatir dengan keadaan Aska. Aska sedang berjuang untuk merebut Wicaksono Group.”


“Aku takut Abang ada apa-apa” ujar Maria yang  ketakutan. “Abang enggak bisa memakai ilmu bela diri. Apalagi menembak. Bagaimana bisa abang menyerang Jamaludin?” 


“Tenanglah... Sebenarnya Abang kamu itu bisa bela diri. Aska belajar dari sekolahnya dulu. Lalu di kebun Pak Broto mengajarinya walau sedikit-sedikit. Meskipun begitu Abang kamu harus dilatih leb oh keras lagi,” jelas Christina yang membuat Maria sedikit lega. “Mumpung Abang kamu berada di Perancis, kemungkinan besar ayah akan melatihnya. Tidak tanggung-tanggung loh. Ayah akan memanggil temannya untuk mengajarinya. Bahkan ayah belum bisa dikatakan sepenuhnya pensiun. Jadinya ayah akan bertugas untuk menghancurkan kerajaan Jamaludin.”


“Yang dikatakan oleh Christina benar apa adanya. Kamu jangan terlalu khawatir dengan Abang kamu itu. Mulai sekarang kamu harus berlatih menembak. Kamu harus menguasai beberapa senjata untuk melindungi diri kamu. Begitu juga dengan Christina. Mumpung ada Helen dan Romeo di sini belajarlah. Kita hanya memiliki waktu sebulan saja. Selebihnya kita akan ke Paris dan merebut semua Wicaksono Groups,” jelas Frank yang duduk di kursi singel.


“Apakah kita harus belajar setiap hari?” tanya Maria.


“Ya... itu benar,” jawab Frank.


“Jika kita di sini, bagaimana dengan Aska Food?” tanya Christina. 


“Tenanglah. Aku sudah memberikan tugas beberapa orang yang aku percaya. Mereka akan menempati posisi penting. Aku jamin mereka tidak akan berkhianat seperti Pak Gilang,” jawab Frank.


“Bila ada yang berkhianat dengan Tuan Frank. Bisa dipastikan hidupnya tidak akan selamat,” ucap Helen yang memastikan agar tidak terjadi apa-apa di Aska Food.


“Jadi paman tahu soal penggelapan dana di perusahaan Aska?” tanya Maria yang sengaja memancing agar Christina tahu soal itu.


“Paman tahu semuanya. Musuh utama paman adalah Benjamin dan Jamaludin. Kedua orang itu sudah sangat meresahkan bagi Blue Dragon,” jawab Frank yang membuat Christina terkejut.


“Apa maksudnya dengan semua ini?” tanya Christina yang menatap curiga kepada Maria.

__ADS_1


“Maaf ibu,” jawab Maria yang menarik nafasnya dengan pelan. “Aku harus membukanya.”


“Maksud kamu apa?” tanya Christina yang mengerutkan keningnya. 


__ADS_2