
"Iya aku ingin mengetes mereka semua," jawab Aska dengan serius.
"Kamu itu benar-benar sangat ingin menghancurkan orang-orang seperti itu. Tunggu seminggu lagi orang-orang itu akan datang," kesal Adrian yang meraih ponselnya.
"Seminggu?" pekik Aska. "Apa Aku nggak salah mendengarnya?"
"Maksud kamu apa? Bukankah seminggu itu mereka ke sini? Kamu keberatan?" tanya Adrian yang menatap tajam ke arah Aska.
"Bukannya begitu pa. Aku masih cuti nikah. Lala Aku harus bagaimana? Ketika aku bersama dengan istriku. Masa aku kabur sementara ke perusahaan?" tanya Aska yang polos.
Adrian menggelengkan kepalanya melihat kepolosan Sang putra. Bagaimana tidak dirinya juga lupa kalau Sang putra sedang cuti. Mau tidak mau Adrian menentukan jadwal pertemuan mereka kepada Aska.
"Ya sudahlah. Dua minggu lagi kamu akan ketemu dengan mereka. Kamu bisa mengenalnya lebih dalam dan membentuk suatu tim untuk membersihkan orang-orang brengsek di dalam kantor itu," pinta Adrian.
"Apakah Ayah tidak ikut?" tanya Aska.
"Untuk saat ini tidak akan ikut. Ayah akan melepasmu untuk memberikan kebebasan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Ayah ingin melihat kamu, Bagaimana caranya kamu memimpin perusahaan itu dengan gayamu sendiri? Ayah tidak ingin mengekang kamu," jawab Adrian sambil menatap lembut Sang putra.
"Berarti Ayah melepaskanku begitu saja?" tanya Aska.
"Ayah sudah melihat cara kerjamu bagaimana? Kamu sudah memiliki potensi dalam dunia perbisnisan seperti ini. Kamu memiliki ciri khas yang berbeda dari semua orang. Setelah menikah kamu akan tampil di depan umum sebagai CEO. Kamu harus bisa mengendalikan orang-orang yang tidak berguna itu dan melemparkannya keluar dari perusahaan. Ayah dan ibu hanya melihatnya saja," jelas Adrian.
"Bagaimana dengan Romeo dan Maria?" tanya Aska yang meminta pendapat kepada Adrian.
"Mereka sangat cakap untuk bekerja. Jadikan mereka Kedua asistenmu. Jangan pernah kamu berganti asisten. Karena mereka sudah cocok sama kamu. Romeo yang stylish-nya slengean ternyata diam-diam memiliki sifat kejam. Maria yang memiliki sifat lembut. Ternyata dia sangat teliti untuk melakukan pekerjaannya," jelas Adrian. "Mereka bisa diandalkan dan pekerjaannya sangat bagus sekali."
__ADS_1
"Terima kasih yah... Sudah memberikan aku penjelasan yang signifikan terhadap kedua asistenku itu," balas Aska. "Apakah Ayah masih mengenal orang yang bernama Frank Agard?"
Mendengar nama Frank Agard, Adrian terkejut dan menatap tajam ke arah Aska. Tiba-tiba saja wajah Adrian menjadi sendu. Entah kenapa di sudut matanya mengeluarkan setitik air. Air itu jatuh tiba-tiba ke pipinya. Rasa sesak di dalam dada dirasakan oleh Adrian. Ia mengingat pria itu sambil sesenggukan.
"Dari mana kamu mendapatkan nama itu?" tanya Adrian dengan suara parau.
Tidak sengaja Aska menatap wajah Adrian. Pria muda itu beranjak berdiri dan mendekati sang ayah. Lalu Aska menghempaskan bokongnya di samping Adrian.
"Sepertinya Ayah sangat bersedih sekali setelah mendengar nama itu?" tanya Aska sambil merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Adrian.
"Kamu tahu siapa Frank Agard sebenarnya?" tanya Adrian sambil memeluk Aska.
"Bukannya Frank Agard itu adalah kakak ayah?" tanya Aska balik.
"Kamu benar," jawab Adrian sambil melepaskan Aska. "Dari mana kamu mendapatkan nama itu?"
"Yang kamu katakan benar. Dari dulu kakak ayah itu orangnya slengean nggak pernah serius sama sekali. Tapi dia adalah seorang ketua mafia dari Blue Dragon. Jika kamu ingin tahu tentang Blue Dragon, tanyakan saja pada Romeo. Dialah kaki tangan Frank setelah Max," ucap Adrian yang membuka jati diri Max.
"Maxilium Van Den Bosch. Dia adalah temanku Yah. Dia pernah hidup di kebunnya Pak Broto ketika aku masih kecil hingga lulus SMA. Setelah lulus SMA, Max menghilang. Aku nggak tahu di mana Max berada," jelas Aska.
Adrian tidak percaya dengan persahabatan Aska dan Max. Setahu Adrian, Max adalah seorang hacker yang cukup terkenal. Ditambah lagi dia kaki tangan sang kakak. Jujur saja semua ini tidak bisa diprediksi oleh Adrian. Apakah selama ini Aska banyak melindunginya? Atau juga Aska memiliki keberuntungan yang tidak bisa ditebak.
"Apakah dia masih tampan seperti dulu?" tanya Adrian yang membuat Aska mulutnya menganga.
"Apa yang ayah katakan? Bukannya Ayah menanyakan kabarnya malah menanyakan ketampanannya?" tanya Aska yang kesal kepada sang ayah.
__ADS_1
"Ada satu fakta yang harus kamu tahu dari Frank. Setiap kami berkumpul, Frank selalu mengatakan kalau dirinya sangat tampan sekali. Bahkan ayahmu ini tersingkir begitu saja," jawab Adrian yang tersenyum manis mengingat ketika dirinya berkumpul bersama Frank.
"Sepertinya ayah harus bertemu dengannya. Ada yang harus Frank katakan," ucap Aska.
"Tenanglah. Ayah tidak akan menemuinya sekarang juga. Ayah sedang marah kepada Frank. Kenapa dia menghilang begitu lama dan tidak muncul ketika ayah memintanya bantuan? Malah kabar terakhir yang Ayah dengar, Frank sudah meninggal dunia. Jujur Ayah tidak tahu di mana makamnya saat itu. Itulah yang membuat ayah kesal," kesal Adrian.
"Habislah aku. Aku harus bagaimana untuk menyatukan kalian berdua?" tanya Aska yang beranjak berdiri sambil menatap sang ayah.
Tiba-tiba saja Adrian mengambil asbak di meja. Lalu Aska tidak sengaja melihatnya. Dengan cepat Aska pergi meninggalkan Adrian sendirian. Sementara itu Adrian melemparkannya ke arah Aska sambil berteriak, "Dasar anak kurang ajar!"
Setelah masuk ke dalam, Aska tertawa terbahak-bahak mendengar makian sang ayah. Lalu Christina memergaki Sang putra tertawa mendekatinya. Matanya menyipit sambil melihat Aska.
"Kamu kenapa?" tanya Christina.
Di saat Christina bertanya, Aska menghentikan tawanya. Aska menatap sang Ibu sambil berkata, "Aku tidak apa-apa Bu. Kalau begitu aku mau minta izin untuk beristirahat. Aku sangat capek sekali. Energiku belum kembali sempurna karena melawan orang-orang yang tidak ada guna sama sekali."
Christina mengangguk dan mempersilakan Aska beristirahat terlebih dahulu. Kemudian Aska meninggalkan Christina lalu masuk ke dalam.
Wanita paruh baya itu pun keluar dan menikmati suasana malam bertabur bintang. Christina mendekati Adrian dan memilih duduk di samping suaminya.
"Ada apa dengan Aska? Kenapa dia tertawa seperti itu?" tanya Christina.
"Ternyata Putraku juga memiliki sifat slengean. Padahal aku sendiri tidak memiliki sifat seperti itu," kesal Adrian.
"Kenapa kamu kesal seperti itu? Bukankah sifat slengean itu sangat bagus sekali di dalam diri Aska? Kemungkinan besar Aska bisa menjadi seorang pemimpin yang tegas maupun lucu bagi karyawannya," jelas Christina.
__ADS_1
"Bukannya tidak suka dengan sifatnya itu. Ternyata sifatnya itu berasal dari kakakku Frank Agard," ucap Adrian yang membuat Christina terkejut karena mendengar nama itu.
"Apakah kamu serius dengan ucapanmu itu? Bukankah Frank Agard sudah meninggal dunia?" tanya Christina yang tidak percaya sama sekali dengan berita itu.