Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Permintaan Christina.


__ADS_3

"Aku masih berada di tempat ayah," jawab Adrian.


"Syukurlah kalau begitu. Aku sangka kamu pingsan," ledek Damian.


"Ada apa yah?" tanya Adrian lagi.


"Benjamin sudah bergerak. Putramu sedang dalam bahaya. Aku harap kamu mengerti itu," jelas Damian.


"Baiklah yah. Tunggu seminggu lagi aku pasti ke sana," sahut Adrian.


"Baiklah. Istilah ini ayah akan mengesahkan putramu menjadi ahli waris Wicaksono group," ujar Damian.


"Tunggu aku datang. Setelah aku datang, ayah bisa mengesahkan. Jika tidak maka Benjamin akan menyerang putraku dan kekasihku," sahut Adrian.


"Kamu manggil Christina apa?" tanya Damian yang terkejut dengan ucapan Adrian.


"Putri Anda adalah kekasihku," jawab Adrian.


"Terserahlah apa katamu. Yang penting kamu bisa bersanding kembali bersama putriku. Dan satu lagi Kamu harus menjaga cucuku," pesan Demian.


"Baik yah," balas Adrian.


Sambungan terputus.


Adrian segera pergi ke kamar dan membereskan semua pakaiannya. Mau tidak mau Adrian akan terbang ke Indonesia tepat malam ini.


Jakarta Indonesia.


Setelah dari pusat perbelanjaan, Aska dan Christina menguruskan untuk pulang ke apartemen. Aska sangat kagum sekali dengan gedung pencakar langit itu. Ia tidak menyangka kalau dirinya bisa melangkahkan kakinya di gedung itu. Meskipun dari desa Aska sangat menjunjung tinggi harga diri. Ia bagaikan seseorang yang memiliki jabatan tinggi. Meskipun demikian Aska mencoba belajar untuk rendah diri.


Ketika sampai di kamar milik Christina, dirinya sangat terkejut sekali. Jujur saja yang dimiliki oleh sang ibu adalah penthouse. Akan menggelengkan kepalanya sambil bertanya, "Apakah ini milik ibu?"


"Tidak, penthouse Ini adalah milikmu," jawab Christina yang sengaja membelinya untuk putranya sendiri.

__ADS_1


"Jujur Bu. Aku belum bisa menerimanya," ucap Aska yang bingung dengan jawaban Christina.


"Tidak nak. Kamu nggak usah bingung. Ibu sengaja mempersiapkan sebuah penhouse mewah untukmu," sahut Christina.


"Tapi Bu," sela Aska. "Tempat ini sangat mahal sekali."


"Tak apa. Kamu harus menerimanya. Suatu saat nanti kamu akan menduduki jabatan di perusahaan milik kakekmu. Mama harap kamu mau menerimanya," pinta Christina.


"Kalau Aku menolaknya Bagaimana Bu?" tanya Aska yang berhati-hati agar sang Ibu tidak kecewa.


"Sepertinya anakku hidup dalam kesederhanaan. Jika itu maunya Baiklah aku tidak akan memaksanya," ucap Christina dalam hati.


"Kenapa kamu menolaknya?" tanya Christina.


"Karena aku tidak pantas menjadi orang kaya. Aku ingin hidup sederhana saja seperti dulu lagi. Demi menghindari gosip-gosip yang tidak enak. Dibilang aku kaya mendadak," jawab Aska yang membuat sang Ibu paham.


"Baiklah Ibu paham. Sekarang apa maumu?" tanya Christina sambil menatap mata sang anak.


"Kamu mau tinggal di sana?"


"Iya Bu."


"Nggak mau tinggal di sini?"


"Tidak mau Bu."


"Kalau Ibu ikut bagaimana?"


"Aku tidak bisa mengajak Ibu. Karena hidup ibu sama aku berbeda."


"Kamu bilang apa? Hidup kita beda dari mana? Ibu pernah mengalami kesusahan. Ibu juga sama sepertimu. Meskipun kakekmu kaya. Tapi Ibu sering memilih hidup sederhana. Ibu sering hidup seperti kamu. Semuanya sendiri tanpa ada pelayan atau pengawalan ketat. Karena ibu memilih untuk mandiri."


"Tapi Bu, jika Aska mengajak ibu. Ibu pasti tahu keadaan Aska bagaimana? Aska tidak mau melihat ibu bersedih."

__ADS_1


"Buat apa Ibu bersedih? Lagi ada kamu di sisi ibu. Ibu tidak akan pernah bersedih lagi."


"Tapi Bu, Bagaimana jika ayah datang?"


"Apakah kamu sangat mencintai ayahmu?"


"Aku sangat mencintai kalian semua. Aku juga tidak pernah memilih kasih kepada kalian."


"Kalau begitu ajaklah kami hidup bersama! Kami akan mengalah demi kamu."


"Bagaimana dengan ayah Bu? Apakah ayah bekerja tanpa orang seperti ibu?"


"Tidak. Ayahmu tidak bekerja kantoran. Ayahmu adalah seorang jenderal di kepolisian Prancis. Ayah sama ibu sering hidup sederhana. Meskipun kami berkelimpahan harta. Sekarang tidak ada tapi-tapian. Jika kamu ingin membeli rumah sederhana. Biarkan Ibu yang membelinya."


"Bagaimana pekerjaanku di sana?"


"Kamu masih memikirkan pekerjaan. Itu perkebunan adalah milikmu. Kamu bisa ke sana untuk mengelolanya. Dan sekarang Pak Broto adalah bawahan kamu. Yang menjadi asisten Kamu adalah Romeo. Apakah kamu paham soal itu?"


"Aku belum sepenuhnya paham. Mungkin pelan-pelan saja aku akan mempelajarinya."


"Tetaplah semangat. Jangan pernah menyerah sedikitpun. Setelah ini kamu harus kuliah. Mengambil jurusan bisnis. Ibu tahu di matamu memiliki potensi pemegang perusahaan lebih besar. Ditambah lagi kamu memiliki bakat untuk berbisnis. Sambil kuliah kamu akan membantu ibu bekerja di perusahaan. Masalah perkebunan biarkan Pak Broto yang mengurusnya. Kamu hanya pergi ke sana untuk mengambil beberapa berkas dan dilaporkan bagian produksi."


"Sekarang ibu mau melanjutkan pekerjaan lewat virtual."


"Bolehkah aku ikut Bu?"


"Untuk saat ini kamu tidak diperbolehkan keluar terlebih dahulu. Kamu harus mengenyam pendidikan lebih tinggi lagi. Jika tidak maka seluruh karyawanmu akan mengejek sampai puas. Karena mereka membanding-bandingkan soal pendidikan. Jika kamu lulusan SMA di perusahaan, seluruh karyawan yang Ibu miliki rata-rata berpendidikan S1," jawab Christina yang menjelaskan tingkat pendidikan di perusahaan.


"Apakah itu benar Bu?" tanya Aska lagi.


"Itu bener nak. Jika kamu ingin masuk ke dalam perusahaan, maka kamu akan kuliah mengambil jurusan tertentu. Jika kamu tidak ingin kuliah... Itu terserah kamu."


"Baiklah Bu. Aku akan kuliah untuk mewujudkan keinginan ibu," balas Aska dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


__ADS_2