
Ketika Helena ingin keluar dari ruangannya, Aska sudah masuk terlebih dahulu. Aska melibatkan kedua tangannya di dada. Dengan wajah angkuhnya, Aska menatap wajah Helena.
"Kamu mau ke mana?"
Tanya Aska tanpa basa-basi sedikitpun.
"Itu bukan urusan kamu. Saatnya aku pergi dari sini."
Jauh Helena yang tubuhnya sudah berkeringat karena ketakutan.
"Kamu nggak bisa pergi seenaknya dari sini."
Ucap Aska dengan nada dinginnya sambil menghempaskan bokongnya di sofa.
"Apa pedulimu? Tugasku sudah selesai."
Tanya Helena dengan tegas.
"Peduliku adalah kamu meninggalkan sebuah luka di perusahaan ini. Lebih baik kamu duduk di sini dan kita bicarakan dengan baik-baik."
"Oh maaf Tuan Aska. Aku tidak bisa melayanimu hari ini juga."
"Begitu ya? Seharusnya jika ada kedatangan pemegang saham terbesar di perusahaan ini harusnya disambut dengan baik. Bukankah Paman Friends sudah memberitahukannya semua ke karyawan?"
__ADS_1
Tanya Aska dengan datar.
"Aku tidak peduli akan hal itu. Karena masa kontrakku sudah habis."
"Sebegitu kah kamu ingin menghindari masalah besar dari kami?"
"Bukan. Sesuai dengan surat perjanjian. Jika Tuan sudah naik menjadi ahli waris. Aku bisa mengundurkan diri."
"Kamu bisa berbicara seperti itu. Sementara kamu sudah memberikan aku luka yang dalam. Diam-diam Kamu sudah berbohong dengan pamanku dan juga aku. Kamu sendiri adalah kaki tangan dari Benjamin. Dan diam-diam kamu adalah seorang mata-mata yang ditugaskan untuk mematai Paman Frank. Begitukah maksudmu. Meskipun aku tidak tahu menahu. Aku sudah mengetahuinya terlebih dahulu."
Wajah Helena semakin pucat mendengar pernyataan dari Aska. Dirinya sekarang sudah terpojok dan tidak bisa berkata apa-apa. Ia bingung harus bagaimana? Iya juga ingin kabur dari sana tapi tidak bisa. Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang? Mau kabur dari sini? Percuma saja kabur. Tempat ini sudah dijaga ketat oleh anggota Blue Dragon. Oleh karena itu Helena harus memikirkan Bagaimana caranya keluar?
Sebenarnya hari ini Aska tidak ingin menggerebek Helena. Dengan terpaksa Aska harus melakukannya. Aska harus menyelesaikan semua masalah di perusahaan ini. Ia tidak mau mempersulit keadaannya. Meskipun Frank menyuruhnya untuk menyelidikinya lebih dalam. Namun Aska memiliki insting yang kuat.
"Kalau kamu mau kabur. Tidak akan bisa. Sebab gedung ini sudah dijaga oleh anggota Blue Dragon. Sekarang katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan ini?"
Tanya Aska kepada Helena dengan tatapan membunuhnya.
Jantung Helena berdetak dengan kencang. Ia tidak menyangka kalau pria muda itu yang dikenal ramah berubah menjadi drastis.
Sebenarnya Aska tidak jadi masalah. Karena Aska sendiri sifatnya sama seperti yang dulu. Maka dari itu, Aska tidak akan menyia-nyiakan waktunya sekarang.
"Helena. Aku ingin bertanya baik-baik denganmu. Apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan ini?"
__ADS_1
Tubuh Helena semakin melemah. Seorang pembunuh berdarah dingin seperti Helena sangat ketakutan. Aska sudah mengetahui sepak terjang Helena. Ia sudah melakukan pembunuhan berkali-kali. Namun dia sangat cantik sekali. Helena sangat pandai lolos dari kejaran hukum.
"Aku tanya sekali lagi. Kamu pasti tahu dengan perusahaan ini. Kamu pasti mendapatkan tugas dari Benjamin. Kamu sengaja di tempatkan di markas Blue Dragon. Lalu Benjamin dan Jamaludin langsung mengirimkan pasukannya untuk memasuki perusahaan ini. Tapi sayangnya saat itu cinta Paman Frank sangat tulus. Saking tulusnya kamu berani menyakitinya. Jujur, kalau aku jadi kamu. Aku akan berpihak pada Blue Dragon dan meminta perlindungan yang sangat kuat. Kamu bisa memanfaatkan Paman Frank dengan baik. Tapi sayangnya kamu bodoh. Kamu menyia-nyiakan hal itu. Kamu malah mengatur strategi untuk menghancurkan Aska Food. Kalau aku jadi kamu... Sebelum melakukan itu... Aku pilih untuk pergi dari dunia ini."
Jelas Aska yang membuat Helena langsung terkena mental.
"Maafkan Aku. Aku tidak bisa berkata jujur kepadamu."
Ucap Helena yang sudah tidak berdaya lagi.
"Ya Kamu adalah bagian yang cukup buat di sini. Pak Gilang, Jontor, Sony adalah kaki tanganmu. Mereka sudah Aku kantongin namanya. Kecuali Jontor. Jontor mati di tanganmu. Kamu memang sengaja melakukannya demi menutup kasus produk Aska palsu. Jika dia masih hidup kemungkinan akan jujur mengatakannya. Dan pihak aparat pun dengan senang hati mengusut semuanya. Jika itu terjadi maka kamu dan Pak Gilang berakhir dari sini. Tapi sayang semuanya sudah aku ketahui. Terserah apa maumu. Benjamin sudah tidak ada di dunia ini. Tinggal Jamaludin, Jono dan Julia. Mereka adalah komplotanmu yang penuh dengan teka-teki. Untung saja semua karyawan di sini tidak gaduh. Mereka sangat jujur bekerja. Membuat laporan dengan baik. Tapi kalian mau ngobrak-abriknya menjadi tidak karuan. Saat itu aku dan Maria... Mencurigai sesuatu. Terutama dengan Pak Gilang. Yang di mana Pak Gilang sendiri meminta pihak manajer keuangan Untuk memanipulasi data. Itu sangat lucu sekali bagiku. Ya sudahlah... Aku sebagai pria terhormat tidak akan menyakitimu. Yang akan menyakitimu adalah pamanku sendiri. Apakah kamu paham dengan hal itu?"
Jelas Aska yang membeberkan banyak fakta di hadapan Helena sendiri.
Bagaimana dengan Helena? Helena memaki Aska di dalam hati. Jujur awal bertemu Helena pernah meremehkannya. Karena saat itu Aska tinggal di desa. Tapi ketika Aska berteman dengan Max. Aska mulai belajar hal-hal yang aneh. Itulah kenapa Aska bisa dibilang sebagai padi. Yang di mana semakin berisi... Aska tidak akan pernah bersuara lantang. Aska sendiri ingin hidup damai tanpa harus berkoar-koar di manapun.
Setelah bertemu dengan Helena, angka keluar dari ruangan ceo-nya. Ia akan memikirkan langkah selanjutnya. Ia harus segera mencari seorang CEO baru. Apakah dirinya yang akan naik di kursi jabatan itu? Atau ayahnya yang sengaja dipilih untuk sementara waktu? Atau juga Frank? Yang di mana Frank sendiri memiliki intuisi yang sangat kuat. Jika dirinya sudah duduk di kursi CEO. Melalui tangan dinginnya semua kasus akan selesai. Ia tidak segan-segan membayar mata-mata milik Adrian untuk masuk ke dalam perusahaannya. Itulah mengapa Frank bisa diandalkan untuk menyelesaikan kasus besar dalam perusahaan.
Melihat kepergian Helena, Aska meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang. Ia meminta agar orang itu mengikutinya sampai tugasnya selesai. Sementara itu Aska hanya bisa tersenyum licik. Diam-diam otaknya mulai bekerja dengan baik. Bahkan ia mulai merasakan gelombang tenang di dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian datang Frank. Frank hari ini tidak ingin ketemu dengan Helena. Karena Frank saat ini masih memendam amarah untuk Helena. Maka dari itu dirinya tidak akan menemuinya terlebih dahulu.
"Apakah dia sudah pergi?"
__ADS_1
Tanya Frank sambil membawa berkas-berkas milik Aska Food.