
"Maksudmu apa?"
Tanya Max yang tiba-tiba saja ingin tahu.
"Apakah ini berhubungan dengan Haryadi?"
Tanya Aska yang memiliki feeling cukup kuat tentang Haryadi.
"Kamu tahu kan... Bibinya Maria yang bernama Ambar itu?"
Tanya Romeo yang mengingatkan Aska kepada Ambar.
"Ya aku mengetahuinya. Iyalah orang pertama yang menantangku menikah dengan Maria. Aku nggak tahu penyebabnya apa? Diam-diam Ambar sangat membenciku ketika lamaran tersebut."
Jawab Aska.
"Yang perlu kamu tahu, Ambar memang sedari dulu tidak menyukai Maria. Keberhasilan Maria membuatnya iri hati. Aku yakin kalau Ambar itu bekerja sama dengan Haryadi. Yang di mana Ambar menyuruh Haryadi untuk menghancurkan Maria. Kemungkinan rumah itu juga ditunggangi oleh Ambar."
Ucap Romeo secara blak-blakan.
"Lebih baik kamu selidiki saja lebih lanjut. Jangan memakai feeling saja. Kalau pakai feeling tapi nggak ada bukti. Kita nggak bisa menjeratnya melalui hukum."
Ujar Aska yang memerintahkan Romeo untuk segera menyelidiki kedua orang itu.
"Aku setuju. Oke, aku akan menerjunkan mata-mataku untuk menyelidiki kasus ini. Aku ingin semuanya clear dan kamu bisa bernafas lega bersama Maria."
Jelas Romeo yang menyeruput kopi dalam kemasan botol.
"Ide yang sangat bagus sekali."
Puji Aska kepada kedua rekannya itu.
Mereka melakukan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih. Setelah itu mereka makan bersama dan menghabiskan waktu malam bermain game online. Tepat jam 01.00 pagi, ketiga pria itu memilih tidur di dalam.
Max bersama Romeo tidur di ruang keluarga. Sedangkan Aska tidur bersama Maria. Mereka sangat lelah sekali hingga bangun kesiangan.
Tepat jam 09.00 pagi, Maria terbangun lalu melihat Aska. Kemudian tangan mungilnya memegang pundak Aska. Maria menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil membangunkan Aska.
"Abang, bangun udah siang tahu. Katanya minta dibangunin jam tujuh."
__ADS_1
Ucap Maria yang masih menggoyang-goyangkan tubuh Aska sambil merengek manja.
Mendengar kata jam 7 pagi, Aska segera bangun. Meskipun matanya masih mengantuk, Aska merangkul Maria lalu mengajaknya tidur lagi.
"Bisa nggak sih seharian kita tidur sampai siang?"
Bisik Aska sambil mendengkur halus.
"Bukan begitu bang. Katanya Abang mau ke kantor bersama Romeo dan Max?"
Tanya Maria yang bingung dengan Aska.
"Memang Abang ingin ke kantor. Tapi Abang masih mengantuk sekali dan capek. Mending kita tidur aja terlebih dahulu."
Jawab Aska yang tidak ingin bangun.
"Kalau begitu ya sudahlah. Aku juga masih mengantuk."
Ucap Maria yang memutuskan untuk tidur.
Sepanjang hari ini Aska memutuskan untuk beristirahat kembali. Begitu juga dengan Maria, Aska membebaskan Maria untuk melakukan istirahat hingga sore hari. Aska tidak mau Maria kelelahan sehabis perjalanan jauh. Maka dari itu Aska memintanya untuk tidur kembali.
Namun sebelum itu, Romeo bangun terlebih dahulu untuk menjalankan tugasnya. Yang di mana tugas itu adalah untuk menerjunkan beberapa orang mencari informasi tentang rumah Maria.
Di tempat lain, seorang wanita paruh baya sedang melihat rumah Bu Tanti. wanita itu melibat kedua tangannya sambil mengangguk-nganggukkan kepalanya. Ia sangat puas ketika para penghuni rumah itu sudah tidak ada. Dengan kata lain wanita itu ingin segera menempati rumah tersebut.
"Akhirnya aku punya rumah sendiri. Aku nggak perlu susah payah untuk bekerja keras demi mendapatkan rumah idaman. Buat kakak pertamaku. Mampus aja sekalian sama suami lu yang penyakitan itu. Oh ya buat Maria... Lu sudah tidak bisa lagi menempati rumah ini."
Ucap wanita itu sambil tertawa terbahak-bahak.
Sementara itu, ada seorang pria memakai baju serba hitam mengamati gerak-gerik wanita tersebut. Pria itu curiga dengan gerak-gerik wanita tersebut. Pria itu tidak sengaja merekam ucapan wanita tersebut.
Dengan kata lain, pria tersebut mengirimkan bukti itu kepada Romeo. Tidak sampai situ saja, pria itu membuntuti kepergian wanita tersebut. Memang Romeo menyuruhnya untuk mengamati gerak-gerik wanita itu hingga dua puluh empat jam ke depan.
Siang yang terik, Aska dan Maria terbangun dari tidurnya. Mereka berdua merasakan cahaya matahari yang sudah masuk ke dalam sangat panas. Berhubung dirinya mengambil cuti satu hari, Aska langsung bangun sambil menatap Maria.
Dengan senyum polosnya, pasangan suami istri itu pun memutuskan berdiri dan mandi bersama. Sedangkan Romeo dan Max terbangun karena ponselnya yang berdering cukup keras.
Romeo segera mengangkat ponselnya. Lalu ia berbicara kepada orang yang berada di seberang sana. Hingga akhirnya Romeo menganggukkan kepalanya sambil tersenyum licik.
__ADS_1
Selesai mematikan ponselnya, di sini Romeo mendapatkan bukti yang cukup kuat. Ternyata rumah itu sekarang sudah ditempati oleh keluarga Maria. Yang di mana keluarganya itu sengaja mengusir Maria dari sana.
Romeo menunggu kedatangan Aska. Sambil menunggu kedatangan Aska, Romeo membangunkan Max sambil mengajaknya ke apartemennya terlebih dahulu.
Di sana mereka membersihkan tubuhnya. Mereka juga tidak lupa memesan makan siang buat para pengawal dan juga tuan mudanya.
Sedangkan Aska yang sudah selesai membersihkan tubuhnya. Lalu ia menatap kota Jakarta dari gedung apartemennya. Kemudian Aska mulai mengingat masa lalunya.
Meskipun perih namun hatinya bahagia. Kalau siang begini dirinya memetik buah-buahan di atas pohon. Bahkan Aska sendiri sering di atas pohon dan ketiduran. Untung saja ranting pohon yang ditempati Aska sangat kokoh. Akhirnya ia sangat merindukan masa lalu itu.
"Aku benar-benar rindu deh pada masa laluku. Sepertinya aku harus ke kebun Pak Broto. Tapi nanti dulu lah. Aku harus mengurus semua berkas-berkas dokumen perusahaan Aska Food. Setelah itu pergi ke kebun Pak Broto. Lalu bagaimana dengan nasib liburanku di Bali ya? Ngapain ya Kok turun di sini? Ah sebaiknya aku harus ceritakan ini kepada Maria. Nggak mungkin kan aku liburan membawa dua laporan sekaligus ke sana? Pokoknya hari ini harus diskusi."
Ucap Aska dalam hati.
Aska sangat terkejut sekali dengan rencananya itu. Kenapa dirinya tidak liburan terlebih dahulu? Padahal di Indonesia jangka waktunya sangat lama.
Tak lama Maria yang selesai mandi, langsung mendekati Aska dan memeluknya dari belakang. Maria melingkarkan tangannya di perut sixpack milik Azka. Jujur, perubahan pada tubuh Aska sangat signifikan. Rasanya Maria jatuh ke dalam pelukan Aska sangat dalam sekali.
"Sayangku."
Panggil Aska sambil memegang tangan Maria.
"Ada apa Bang?"
Tanya Maria yang bingung.
"Habis gini kita terbang ke Denpasar."
Jawab Aska yang mengutarakan unek-uneknya.
"Bukankah, liburan di akhir acara?"
Tanya Maria yang bingung dengan keputusan Aska.
"Maunya sih gitu. Tapi berhubung aku mengambil seluruh dokumen dan berkas-berkas yang ada. Nggak mungkin kan kalau dibawa ke Denpasar. Kalau dari Denpasar menuju ke Jakarta. Kita bisa mengambilnya dan langsung membawanya ke Paris saat itu juga."
Jelas Aska yang akhirnya Maria paham.
"Oh begitu ya... Kok aku baru sadar ya?"
__ADS_1
Tanya Maria ke Aska.