
"Aku adalah pria sempurna. Semua wanita mengejarku untuk dijadikan suami. Lalu kamu, Kamu adalah simpanan bos-bos yang berada di perusahaan ini," jawab Haryadi sambil tertawa mengejek.
Aska yang mendengar Maria diejek sangat marah. Pria bertubuh kurus itu melepaskan jasnya dan memberikan ke Romeo. Jujur selama ini Aska mengangkat derajat wanita lebih tinggi dan menghormatinya. Walau itu musuhnya sendiri.
Aska mendekati Haryadi kemudian menarik baju pria itu. Lalu Aska langsung memberikan boga mentah ke arah wajah Riyadi. Sesungguhnya Aska sangat kesal melihat Haryadi merendahkan Maria.
Jujur Aska sangat mengagumi Maria karena memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Ditambah lagi wajah Maria sangat cantik dan imut sekali. Itulah mengapa Aska membelanya.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Aska sengaja memukul Haryadi sebanyak empat kali. Lalu dirinya menendang kaki Haryadi dengan kuat. Hingga Hariyadi pun jatuh tersungkur dan mencium tanah.
"Lu nggak berhak menilai wanita seperti itu! Lu seharusnya mikir! Wanita di depan lu itu adalah wanita terhormat! Halo beruntung dapat wanita seperti itu! Sudah bekerja keras untuk mencari sesuap nasi tanpa bantuan siapapun! Dan elu seenaknya memaki wanita itu dengan kasar! Di mana harga dirimu Haryadi!" bentak Aska yang wajahnya berubah menjadi memerah karena marah.
Romeo yang melihat Aska emosi terkejut sekali. Baru kali ini sang Tuan mudanya itu mengeluarkan amarahnya. Romeo hanya bisa menelan salivanya dengan susah. Benar apa kata orang, jika orang sabar dan suka bercanda ketika marah bisa membuat orang-orang takut.
Bisa dikatakan amarah orang itu melebihi orang yang suka marah-marah setiap hari. Romeo hanya bisa terdiam dan tidak membela Haryadi. Sedangkan Maria dengan cepat memeluk Aska agar tidak terjadi pertumpahan darah.
"Tuan muda tidak boleh melakukan itu. Jika tuan mudah melakukannya, tuan muda bisa dipenjara," ucap Maria sambil terisak.
"Minggir Maria!" Bentak Aska.
"Jangan tuan muda. Jika tuan muda melakukannya. Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku sangat berterima kasih sekali karena sudah dibela seperti ini," ujar Maria sambil mengelus punggung Aska agar emosi sang Tuan mudanya mereda.
Selang beberapa menit kemudian, emosi Aska langsung mereda. Akhirnya Aska melepaskan Maria lalu menggenggam tangan wanita itu. Ia mengajak Maria masuk ke dalam kantor.
Sedari tadi Romeo masih diam mematung. Sementara Aska menepuk bahunya sambil berkata, "Ayo kita masuk ke dalam."
__ADS_1
"Apakah Tuan Muda tidak apa-apa?" tanya Romeo sambil memberikan jas itu ke Aska.
"Aku tidak apa-apa," jawab Aska.
Mereka akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam. Maria masih merasakan shock karena ulah Haryadi. Jujur dirinya ingin terlepas dari cengkraman Haryadi. Ia tidak mau meneruskan hubungan ini hingga ke jenjang pernikahan. Namun semuanya sudah terjadi. Surat undangan Maria sudah tersebar kemana-mana. Tinggal dua Minggu Maria harus melaksanakan pernikahannya.
Di ujung meja resepsionis, Cici melihat Aska yang sedang menggandeng Maria. Hatinya yang semula dingin menjadi kepanasan. Cici tidak rela melihat Aska menggandeng Maria.
Beberapa saat kemudian Lia datang sambil menepuk bahu Cici. Lalu Lia juga tidak sengaja melihat Maria sedang digandeng Aska. Lia langsung berdecih sambil mengumpat Maria. Dirinya juga tidak rela jika Maria mencari muka di hadapan Aska.
"Dasar wanita keganjenan!" geram Lia.
"Ya itu benar. Bisa-bisanya Maria menggandeng tangan anak desa itu. Apakah tidak tahu jika tangannya menjadi gatal-gatal?" tanya Cici yang memprovokasi Aska memiliki penyakit gatal di tangannya.
"Apakah itu benar? Jika Aska memiliki penyakit gatal?" tanya Lia yang akan membuat bahan gosip untuk besok.
"Ya itu benar. Bahkan Aska memiliki penyakit lebih parah," tambah Cici yang ingin membuat Aska minder.
"Sepertinya sangat bagus sekali untuk dijadikan bahan gosip pagi hari. Rasanya aku sudah tidak sabar lagi membuat gosip itu semakin renyah seperti kripik," sahut Lia.
Aska bersama Maria dan juga Romeo sudah sampai di ruangannya. Pria bertubuh kurus itu mengambil tisu kemudian memberikannya ke Maria.
"Lebih baik kamu hapus air matamu itu. Tidak baik jika orang melihatmu menangis seperti itu. Bisa jadi orang itu mengira kalau aku sudah menganiaya kamu," celetuk Aska.
"Tuan muda tidak salah. Tapi aku yang salah. Aku tidak mendengarkan nasehat dari ibu dan bapakku. Aku memang dilarang menikah sama Haryadi. Tapi aku terus mengejarnya dan meminta untuk menikahiku," ucap Maria dengan lemah.
"Seharusnya kamu menuruti Apa kata mereka. Mereka lebih paham dengan kondisi kamu saat ini. Jujur aku sangat malu sekali ketika Haryadi mengatakan itu ke kamu. Aku tidak bisa mendengar dan melihat jika wanita itu tertindas. Biarkan aku jadi pembunuh asal wanita itu tidak tertindas seperti itu," jelas Aska.
"Tapi tuan muda jangan melakukannya lagi," ujar Maria sambil menunduk malu.
"Melakukannya apa?" tanya Aska.
Saat mereka mengobrol, Christina datang sambil membawa cemilan. Christina tidak sengaja melihat baju Sang putra acak-acakan. Yang lebih parahnya lagi rambut Aska pun menjadi berantakan.
__ADS_1
"Kamu kenapa Aska?" tanya Christina yang khawatir.
"Aku tidak apa-apa Bu. Aku baik-baik saja," jawab Aska sambil menghempaskan bokongnya di sofa single.
"Enggak apa-apa tapi kok berantakan seperti itu. Apakah kamu habis jatuh?" tanya Christina.
"Aku tidak apa-apa Bu," jawab Aska.
"Maafkan aku nyonya. Tuan muda habis berantem dengan tunangan saya. Tuan muda habis memukul Haryadi," ucap Maria dengan penuh ketakutan.
"Apa yang dilakukan oleh Haryadi kepadamu Maria?" tanya Christina.
Aska menggelengkan kepalanya sambil meminta Maria untuk tidak bercerita apapun. Akhirnya Aska bercerita dari awal hingga akhir saat kronologi itu terjadi. Betapa terkejutnya Christina saat ini. Haryadi sudah menginjak-injak harga diri seorang wanita. Terang saja ke sini juga tidak akan memaafkan Hariadi.
"Undangan pernikahan kamu sudah tersebar loh," ucap Christina yang membuat Maria mengangguk pasrah.
"Aku bingung nyonya," jawab Maria.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan pernikahan tanpa mempelai pria?" tanya Christina yang duduk di samping Maria.
"Dengan terpaksa aku membatalkan pernikahan itu.lalu aku memutuskan untuk fokus bekerja hingga menemukan pria yang tepat untukku," jawab Maria.
"Berapa biaya yang kamu keluarkan saat mempersiapkan pernikahan kamu?" tanya Romeo yang sepertinya paham akan masalah Maria.
"Kurang lebih dua ratus juta," jawab Maria.
"Kamu gila ya Mar," sentak Romeo sampai Maria mengangkat kepalanya dan melihat sahabatnya itu marah.
"Aku tahu itu. Tapi aku harus bagaimana?" tanya Maria.
"Sepertinya kamu harus mencari penggantinya. Kamu nggak mungkin lho membatalkan semuanya itu. Bayangkan saja uang segitu banyak hanya untuk resepsi pernikahanmu saja," jawab Aska yang tiba-tiba saja membuat Christina menatapnya.
"Kamu itu aneh ya? Bisa-bisanya kamu memiliki ide seperti itu? Mencari penggantinya itu nggak cukup dalam waktu dua minggu ke depan. Jujur Maria sudah ku anggap sebagai anakku sendiri. Tapi kalau kayak gini itu membuat Maria menjadi sedih," ucap Christina dengan lembut.
__ADS_1
"Bukan begitu maksudku Bu. Maria sedang dalam masalah besar. Andaikan dia tidak mengambil keputusan itu dengan cepat, uang begitu besar tidak akan terbuang percuma. Aku yakin uang yang dipakainya itu adalah uang pribadi. Di sisi lain Haryadi hanya untuk mendompleng popularitasnya saja," jelas Aska.
"Bagaimana tuan muda tahu? Kalau uang yang aku pakai untuk mempersiapkan pernikahan itu adalah uang pribadi?" tanya Maria.