
"Memangnya ibu mau kemana?" tanya Aska yang menatap Christina curiga.
"Ibu mau diajak sama ayahmu ke suatu tempat," jawab Christina.
"Enggak boleh. Ibu harus bersamaku Bukankah ini weekend?" tanya Aska yang mulai merajuk.
"Bukannya kamu sebentar lagi akan menikah?" tanya Adrian yang baru saja datang membawa piring berisikan buah-buahan.
"Entahlah," jawab Aska yang mengedikkan bahunya.
"Anakku ini ternyata mirip sama emaknya?" kesal Adrian yang tidak dapat bagian apa-apa di bagian dalam tubuh Aska.
"Iyalah... Akku yang mengandung dan melahirkannya," ketus Christina yang bangga terhadap Aska sangat mirip dengannya.
Romeo melihat jam tangan dan memandang wajah Aska lalu memanggilnya, "Tuan muda."
"Kebiasaan lu!" ketus Aska.
"Romi," panggil Christina yang memandang wajah Romeo.
"Iya nyonya," sahut Romeo yang menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Jangan sekali-sekali kamu memanggil Aska tuan muda. Karena Aska enggak mau dipanggil tuan muda," Christina memperingatkan Romeo.
"Jujur... aku sangat membenci panggilan tuan muda. Aku sudah sering memperingatkan kamu jangan memanggilku tuan muda," jelas Aska yang tidak suka jika dirinya dipanggil tuan muda.
"Masalahnya ada tuan besar," ucap Romeo secara terang-terangan.
"APa yang diperintahkan oleh putraku... maka kamu harus menurutinya!" perintah Adrian yang tidak ingin melihat Aska kecewa.
"Mulai sekarang jika Abang memanggilku dengan sebutan tuan muda, kemungkinan besar aku memberimu hukuman yaitu mencuci mobil ibu!" titah Aska.
__ADS_1
"Aku setuju," balas Romeo. "Ayo kita pergi ke kebun Pak Broto!"
"Ngapain ke sana?" tanya Adrian.
"Hari ini akan ada penggbrekan. Kepala kepolisian menghubungiku untuk melihat acara penggrebekan sekalian kita bisa mengambil beberapa barang untuk diambil sampelnya," jawab Romeo.
"Baiklah," balas Aska. "Bukannya penggrebekan jam delapan pagi?"
"Iya," balas Romeo. "Paling kita sampai jam sepuluh pagi. Jam segitu belum selesai acara penggrebekan."
"Ambilah beberapa barang di sana! nanti kamu bawa ke lab untuk diperiksa oleh ahli gizi. Aku ingin mematikan barang-barang itu tidak membahayakan buat tubuh manusia," pinta Christina.
Mereka berdua beranjak dari duduknya lalu memandang wajah Christina dan Adrian untuk meminta izin terlebih dahulu. Setelah itu Aska mengganggu dan mengambil barang-barang palsu untuk dijadikan sampel. Kemudian mereka meninggalkan Adrian sambil menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Semoga saja acara kali ini lancar jaya," celetuk Aska.
"Iya itu benar. Aku rasa orang dalam banyak yang terlibat. Kita harus memiliki target menyelesaikan masalah ini. Kalau kita tidak memiliki target, masalah tidak akan selesai begitu cepat," ucap ucap Romeo yang memberi saran ke Aska.
"Nggak cukup berhari-hari. Jika kamu memiliki target harus dua bulan atau tiga bulan ke depan. Firasatku mengatakan kasus ini merambah ke Wicaksono Group. Mungkin saja ada keterkaitannya. Ditambah lagi hilangnya kamu ketika masih bayi. Berpisahnya kedua orang tuamu. Ini sangat rumit sekali. Kita bisa buat analisis dari a sampai z. Tapi kalau kita menjalankannya nggak bakalan selesai. Bukan nggak selesai namun setahun dua tahun masa ini selesai," jelas Romeo yang memprediksi kapan masalah selesai.
"Firasatku mengatakan... Ada satu orang dalam dibalik masalah ini. Entah kenapa aku mengarah pada kakek. Sebenarnya aku tidak menuduh kakek. Tapi masalahnya masalah ini sangat berat sekali diselesaikan. Bisakah kamu mengirimkan aku silsilah keluargaku? Aku ingin tahu semuanya," tanya Aska yang meminta silsilah keluarga besarnya.
"Nanti aku kirim bro tenang saja. Sekarang kita harus fokus ke penggerebekan itu. Jujur saja aku masih penasaran dengan barang KW yang dikirim itu. Apakah barang itu sesuai standar gizi. Atau juga bahan-bahan yang dipakainya berbahaya? Jika berbahaya bisa jadi Perusahaan kita ditutup karena menjual barang-barang yang mengandung bahan berbahaya," jawab Romeo yang menganalisis barang KW itu.
"Pak Ahmad," panggil Aska.
"Iya ada apa?" tanya Pak Ahmad sambil membawa mobil.
"Bisakah bapak ikut dengan kami? Maksudnya bapak pindah kerja saja ke Aska food," tanya Aska.
"Nanti aku bicarakan semuanya dengan Pak Broto," jawab Pak Ahmad yang tidak ingin mengambil keputusan.
__ADS_1
"Pak Broto masih mau. Karena aku sedang butuh sopir pribadi Pak. Ke mana-mana aku tidak bisa meminta abangku untuk menjadi sopir ku setiap hari. Abang akan fokus ke dalam perusahaan," ucap Aska yang bingung tidak bisa membawa mobil.
"Lebih baik kamu belajar mobil saja. Cepat atau lambat kamu akan membawa mobil sendiri," saran Romeo.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan meminta Pak Broto meminjamkan Pak Ahmad kepadaku untuk belajar memakai mobil," sahut Aska.
"Kenapa kamu tidak meminta Maria untuk mengajarkanmu? Maria sangat jago sekali menyetir. Ditambah lagi Maria suka balapan mobil," jelas Romeo.
"Aku nggak mau. Aku malu jika istriku itu yang mengajarkan kepadaku membawa mobil. Pikiran nanti aku adalah suami lemah di matanya," ungkap Aska.
"Maria adalah wanita yang sangat baik sekali. Maria tidak akan menilaimu dari segi itu. Di matanya kamu sudah mendapatkan nilai plus dari Maria sendiri. Kamu sangat cerdas sekali ditambah ketampananmu itu dan sifat konyolmu itu Maria sangat menyukaimu," jelas Romeo yang paham dengan isi hati Maria.
"Apakah Maria sangat menyukaiku?" tanya Aska lagi yang penasaran dengan isi hati Maria.
"Kalau itu tanyakan saja pada Maria. Aku tidak berani menjawabnya takut terkena harapan palsu," jawab Romeo yang memberikan sebuah teka-teki buat Aska.
Dalam perjalanan menuju kebun Pak Broto, mereka saling mengobrol dan bermain game online. Begitu juga dengan Pak Ahmad, pria paruh baya itu pun sangat terhibur sekali oleh kelakuan Aska dan Romeo.
Jujur pertama kali bertemu Aska dan Romeo sudah saling akrab satu sama lain. Mereka tidak kaku dan terus tertawa. Pak Ahmad sangat berharap sekali persahabatan mereka berdua akan abadi untuk selamanya.
"Rencana hari ini Pak Ahmad mau ke mana?" tanya Aska.
"Rencana hari ini menyetor wajah dulu ke Pak Broto lalu pergi ke kebun. Hari ini adalah hari yang sangat sibuk sekali. Banyak buah yang akan segera panen. Kemungkinan besar saya tidak ikut lagi ke Jakarta," jawab Pak Ahmad dengan jujur.
"Nggak apa-apa pak. Biar saya saja yang menyetir mobilnya Pak. Saya kuat kok menyetir dari kebun Pak Broto hingga ke kantor," ucap Romeo ke Pak Ahmad.
"Yo wes kalau gitu. Aku sudah tidak memiliki beban lagi. Jika kamu menyuruhku ke sana aku sudah siap untuk berangkat. Soal Pak Broto pasti mengizinkan. Karena perintah kamu sama Pak Broto tinggian perintah kamu," ujar Pak Ahmad dengan jujur sambil membawa mobilnya dengan fokus.
"Jangan begitu Pak. Dahulukan saja Pak Broto. Setelah itu aku. Kemungkinan besar jika aku butuh, aku bisa menghubungi bapak dua hari sebelumnya. Jadi bapak bisa meminta izin ke Pak Broto secara tidak mendadak. Mengingat pasar sedang membutuhkan buah, Pak Ahmad tidak bisa meninggalkan kebun begitu saja," usul Aska.
"Memangnya panen buah apa saja?" tanya Romeo yang penasaran sekali dengan kebun Pak Broto itu.
__ADS_1