
Tepat pukul jam 09.00 pagi, Aska pergi ke ruangan Christina. Saat menuju ke ruangan Christina, Maria telah memanggilnya terlebih dahulu.
"Tuan muda," panggil Maria sambil mendekati Aska dengan tergesa-gesa.
"Ada apa?" tanya Aska sambil memandang wajah Maria.
"Maafkanlah acara lamaran semalam rusak karena saudara saya sendiri," jawab Maria sambil menunduk ketakutan.
"Tak apa. Lamaran itu hanyalah sebuah syarat karena aku ingin menikahimu," ucap Aska sambil memegang daun pintu."Apakah Nyonya ada di dalam?"
"Ada Tuan. Di dalam juga ada tuan besar," jawab Maria.
"Kembalilah bekerja. Jangan pikirkan semalam itu. Oh ya... Panggil Sony ke sini!" perintah Aska.
"Baik Tuan," balas Maria sambil membungkukkan badannya.
Aska melihat Maria yang sangat menghormatinya hanya menggelengkan kepalanya saja. Ia langsung menepuk bahu Maria sambil berkata, "Aku tidak mau kamu seperti itu. Bersikaplah biasa saja. Karena sebentar lagi kita adalah pasangan suami istri.Mana ada seorang istri menghormati suaminya seperti itu? Penghormatan seperti itu adalah bawahan dan atasan. Apakah kamu paham?"
"Kita masih dalam ranah lingkungan pekerjaan. Aku akan memberikan contoh kepada lainnya untuk menghormati Anda. Soal hubungan suami istri, saya belum bisa mengutarakannya ke semua orang. Cepat atau lambat akan ada pro dan kontra di dalam kantor," jawab Maria yang menjelaskan lingkungan pekerjaannya.
"Tapi kalau kita berdua saja tidak perlu seperti itu. Kalau kamu ingin mengakui hubungan kita sebagai suami istri di hadapan publik aku mengijinkannya. Jika kamu tidak mau mengumumkan terserah," ujar Aska yang membebaskan Maria untuk mengakui hubungan pernikahannya.
"Kalau begitu saya pergi dulu tuan," balas Maria sambil meninggalkan Aska.
Aska tidak menjawab memutuskan masuk ke dalam. Sementara itu Christina sedang sibuk mengecek beberapa dokumen yang berhubungan dengan ekspor impor. Christina memang sengaja untuk turun tangan mengecek seluruh dokumen ekspor impor itu beberapa bulan belakangan ini. Dengan cara itu Christina bisa meminimalisir kecurangan yang dilakukan oleh pegawainya sendiri.
__ADS_1
"Apakah ibu sibuk hari ini?" tanya Aska sambil mendekati mereka.
"Tidak. Ibu disuruh sama ayahmu untuk mengecek beberapa dokumen ekspor impor. Agar tidak kecolongan lagi," jawab Christina.
"Kalau kamu mesti masuk sini, orang yang kamu tanya adalah ibumu. Lalu bagaimana dengan aku?" tanya Adrian yang kesal pada putranya itu.
"Nanti malam Aska akan mengajak ayah untuk pergi jalan-jalan," jawab Aska yang tersenyum lucu melihat sang ayah kesal.
"Ujung-ujungnya yang bayarin semua belanjaanmu adalah ayah. Yang ngajakin siapa yang bayarin siapa? Malam ini aku menolak tawaran kamu. Lebih baik ayah pilih tidur saja," kesal Adrian yang membuat Christina tertawa.
"Aku ke sini hanya untuk bertemu dengan ibu. Pagi ini aku ingin memecat Sony," jawab Aska.
"Kalau begitu panggillah!" perintah Christina sambil membenahi kacamatanya.
Aku sudah menyuruh Maria untuk memanggilnya," sahut Aska sambil membetulkan kancing lengannya "Abang ke mana?"
"Apakah Sony mendapatkan pesangon? Bukankah dia sudah membuat rugi perusahaan sebesar lima puluh delapan kalau dihitung-hitung uang pasangan yang dimiliki Sony tidak cukup untuk membayar semuanya. Aku sudah menghitungnya," ucap Aska dengan jujur.
"Ini anak siapa ya? Semua orang belum bekerja dan menangani pekerjaannya. Dia sendiri sudah bekerja. Sepertinya ibu akan memecat semua orang agar kamu bisa menghandle seluruh divisi," kesel Christina yang membuat mata Aska membulat sempurna.
"Sepertinya itu tidak bagus buat saya. Lebih baik saya tidak akan ikut campur dalam perusahaan ini," ujar Aska.
"Kenapa kamu mundur seperti itu? Bukannya lebih baik seperti itu? Semakin kamu mengenal perusahaan ini. Semakin kamu bisa mengendalikannya seluruh divisi di perusahaan ini. Jika ada kesalahan kamu bisa mengeceknya ulang tanpa harus memanggil orangnya. Disaat ada kesalahan kamu bisa mengambil keputusan dengan cepat. Tanpa harus menunda-nunda lagi," puji Christina sambil memberi saran terbaik buat Aska.
Aska mengangguk paham dan mendapatkan ilmu dari sang ibu. Aska akan menyimpannya dan mempraktekkannya jika ada suatu kesalahan di kemudian hari. Dirinya berharap ingin menjadi atasan yang penuh dengan bijaksana.
__ADS_1
"Apa yang dikatakan oleh ibumu itu benar. Ayah juga sependapat dengan ibumu. Jika menguasainya maka kemungkinan besar, Kamu tidak akan kerepotan mengurusi perusahaan ini," tambah Adrian yang melihat ada kejanggalan di dokumen tersebut.
Tak lama kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu. Lalu Aska segera membukanya dan melihat Sony berdiri mengejeknya. Tanpa banyak bicara Aska menyuruhnya suami masuk ke dalam untuk bertemu Christina. Sebelum masuk Sony mendekati Aska sambil berbisik, "Apakah kamu seorang pembantu mereka?"
"Jangan banyak bicara! Cepat temui mereka!" tegas Aska yang malas sekali bertemu dengan Sony.
Mau tidak mau Sony masuk ke dalam dan menghadap Christina. Sebelum Christina bersuara, Sony membungkukkan badannya sambil menyapanya terlebih dahulu, "Selamat pagi Nyonya Christina."
Christina tidak menjawab langsung mengangkat wajahnya. Wanita paruh baya itu pun menaruh berkas itu di meja. Kemudian Christina berdiri sambil mendekati Sony.
"Sony Setiawan. Seorang pria muda yang bertalenta dan memiliki segudang prestasi di perusahaan ini. Selain itu kamu menjabat sebagai divisi pemasaran dua. Divisi tersebut difokuskan untuk menjual makanan kaleng yang diekspor ke luar negeri. Namun nyatanya sang ketua divisi dua adalah seorang penghianat. Perusahaan ini sudah merugi sebesar lima puluh delapan milyar. Sekarang aku tanya, kamu bekerja sama siapa?" tanya Christina dengan tegas.
Sony yang sudah berdiri dari tadi hanya diam saja. Dirinya terkejut mendengar pernyataan Christina. Bagaimana bisa aksinya telah diketahui oleh sang atasan. Ia menunduk dan mencoba mencari jawaban agar tidak ketahuan.
Akan tetapi Aska masih berada di sana hanya bisa menghalalkan nafasnya secara kasar. Ia tahu kalau pertanyaan itu tidak akan dijawab dengan Sony. Dengan terpaksa Aska mendekati Sony sambil bertanya, "Kamu bekerja sama siapa Sony?"
"Kamu siapa?" tanya Sony sambil menatap mengejek Aska.
"Jangan menatapku seperti itu! Aku bertanya harusnya kamu menjawab!" tegas Aska sambil melipat kedua tangannya di dada dan menatap wajah Sony yang seakan mengejeknya. "Jangan pernah mengejekku seperti itu! Kamu disuruh Nyonya Christina untuk menjawab pertanyaannya. Bukan memandangiku seperti itu!"
Seakan menantang Sony tidak takut sama Aska. Sony malah mencibir Aska dalam hati. Namun Aska tahu apa yang dilakukan Sony itu. Kemudian Adrian menegur Sony yang tidak terima dengan perkataannya kepada Sang putra.
"Jangan mengulur waktuku seperti ini! Aku tidak mau membuang waktuku hanya demi jawaban satu orang saja! Coba katakanlah!" teriak Adrian dengan nada tegas.
"Cepat jawablah! Jika kamu tidak menjawab kemungkinan besar masuk dalam penjara. Aku tahu semua kejahatanmu. kamu dibayar mahal oleh seseorang untuk menghancurkan perusahaan ini. Iya kan?" tanya Aska dengan nada rendah.
__ADS_1
"Sekarang aku tanya, kamu berhak untuk bertanya kepadaku seperti ini? Kamu adalah anak miskin yang masuk ke dalam perusahaan ini dalam beberapa hitungan hari saja. Jangan sok belagu seperti itu di depan bos. Kamu akan tahu akibatnya!" kesal Sony yang tidak mau Aska turut ikut campur dalam urusan ini.