
"Papa!!!!"teriak Mauren. Anak kecil itu langsung berlari ke arah Papanya disusul Dora yang berjalan di belakangnya.
"Mas."
Richard langsung merangkul pinggang istrinya dan mencium keningnya. Semua orang kebetulan ada disana terkejut, terutama resepsionis itu, wajahnya nampak terlihat pucat.
Richard lalu membawa istri dan anaknya memasuki lift khusus CEO.
"Jadi itu wanita yang menyebabkan Irene masuk penjara."ucap seorang pria yang baru saja tiba di lobby.
Ting!
Pintu lift terbuka. Richard keluar dari dalam lift sambil menggendong putrinya.
"Papa ini tempat apa?" Mauren menatap ruang kantor Richard.
"Ini ruang kerja Papa Sayang." Richard mendudukkan Mauren di sofa di dalam ruangannya.
"Sayang, kok tumben kamu ke kantor Mas?
"Aku mau makan siang sama kamu, Mas." Dora lalu duduk di sofa sebelah Richard
"Mau makan siang dimana sayang?
"Di kantor Mas saja."
"Ya udah, kalau begitu Mas pesan makanan di luar dulu. Kamu mau makan apa, sayang?"
"Aku mau makan kaeng Phet aja." tapi jangan terlalu pedas ya mas, ini masakan kesukaan Dora. Mama sering masak Kaeng Phet. Dia selalu pakai daging ayam yang membuat Dora makan lahap. Apalagi santannya kental wah pasti enggak." sahut Dora
"Kamu mau makan apa Mauren?"
"Mauren makan Gai Yang, Pa. Tapi kecapnya tidak terlalu banyak. Mauren mau makan Gai Yang pakai nasi ya pa." ucap Mauren meminta kepada Richard memesan menu makanan khas Bangkok itu. Sama seperti Dora yang memesan Kaeng Phet. Ibu dan anak itu sama sama menyukai masakan khas bangkok. Karna mereka memang sudah terlahir di kota itu. Sehingga mereka tidak dapat melupakan Citra rasa menu makanan khas Bangkok.
Richard lalu mengambil ponselnya. Pria itu memesan makanan untuk mereka bertiga.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, pintu ruangan Richard dibentuk oleh OB. Richard mempersilahkan OB itu masuk. OB itu membawakan makanan dan minuman yang dipesan olehnya.
Selain membawa makanan, OB itu juga membawa perlengkapan makan, berupa piring dan sendok. Setelah mengantarkan itu OB tersebut segera keluar dari ruangan Richard.
Dora lalu membuka makanan itu. Saat melihat makanan yang sudah diinginkannya sejak tadi, kini sudah ada di depan matanya.
"Anak Papa mau makan Kaeng Phet ya?" Richard mengusap perut istrinya.
"Mas, ayo makan. Jangan mengelus perut mulu." tegur Dora. Wanita hamil itu makan dengan begitu lahapnya.
"Mas, jadi merasa kenyang saat melihat kamu makan dengan begitu lahap."
Beberapa saat kemudian ketiganya telah menyelesaikan makanannya.
"Sayang, lebih baik kamu bawa Mauren pulang ke rumah, atau ke butik saja. Karena di sini tidak ada ruangan untuk istirahat. Tidak seperti di ruangan Papa. Di sana ada kamar pribadi Papa. Kasihan Mauren, dia tidak bisa tidur siang nanti.
"Tapi, aku masih mau dekat sama kamu, Mas." manja Dora. Saat ini ketiganya masih duduk di sofa. Posisi Dora sekarang sedang bersandar di dada suaminya.
__ADS_1
"Tapi, Mas jam dua siang ini, ada meeting sayang.
"Mama, boneka Dora Mauren."
"Boneka Maureen ada di butik, sayang."
"Ya udah deh, aku sama Mauren ke butik aja. Tapi kamu jam lima Mas Sudah di rumah,ya." Dora beranjak dari duduknya.
"Iya sayang, kamu hati-hati di jalan, ya. Richard ikut berdiri juga. Dia Lalu mencium kening istrinya.
Richard mengikuti istrinya dan anaknya keluar dari dalam kantornya.
"Mas mau kemana?"
"Mas mengantar kalian ke lobby. Richard menggandeng istrinya berjalan menuju lift.
Sampai di Lobby, mereka berpas-pasan kembali dengan pria itu. Pria itu menyapa Richard sambil tersenyum layaknya bawahan pada atasan.
"Mas, itu siapa sih? kok aku seram melihat tatapannya.
"Oh itu karyawan baru. Kalau nggak salah namanya Rendra. Dia baru satu minggu bekerja di sini." sahutnya sambil terus melangkah ke arah pintu lebih kantor.
***
Keesokan harinya, Richard dan Dora hadir di sekolah Mauren. Keduanya sengaja datang ke sekolah karena hari ini murid akan bagi repot kenaikan kelas.
Terlihat Ibu Rani tersenyum sinis saat melihat tangan Dora merangkul dengan suaminya. Perutnya yang sudah membuncit itu semakin membuat panas hati ibu Rani.
"Mas, apa nggak sebaiknya Mauren kita pindahin saja sekolah lain?" ucap Dora dengan suara lirih saat putrinya maju ke depan kelas untuk mengambil raport.
"Kenapa sayang? kedua alis pria itu saling bertaut.
"Aku nggak suka aja, sama ibu Rani."
"Tapi nanti Bu Rani, sudah tidak menjadi wali kelas Putri kita lagi, Sayang."
"Tapi masih satu sekolah mas."
"Kita lihat Nanti sayang, kita tanya dulu Mauren mau tidak dia pindah sekolah. Karena teman-temannya kan sekolah di sini." tutur Richard. Sebenarnya dia tidak setuju dengan usulan istrinya, karena kasihan anaknya nanti akan menyesuaikan lagi dengan sekolah yang baru.
Mendengar itu, Dora lalu terdiam. Dia tidak yakin kalau Mauren mau pindah ke sekolah lain
***
Sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Amor. Kebetulan ponsel Amor sekarang sedang berada di atas meja. Moresette melirik sekilas ke arah ponsel itu. Sangat jelas dia melihat di layar utama ponsel Amor, tertera nama Kak Fernando.
Amor yang baru selesai meminum air jeruk, itu langsung mengambil ponselnya dilihatnya ada pesan masuk dari Fernando.
Amor lalu membuka pesan itu. Ternyata Fernando mengirimkan sebuah foto. foto motor Amor, tapi bukan berada di bengkel lagi. Melainkan di kantor Fernando.
Bapak pemilik bengkel itu mau menyerahkan motor Amor yang sudah selesai diperbaikinya itu, pada Fernando. Karena dari awal bapak itu sudah mengenali Fernando saat Amor membawa motornya ke bengkel itu.
Amor lalu membalas pesan yang dikirimkan oleh Fernando.
__ADS_1
"Kak, motor aku itu ada dimana? kok tempatnya nggak seperti bengkel?"
"Ada di kantor Kakak. sengaja Kakak ambil duluan, karena kalau kamu kesana mengambilnya saat pulang kerja, pasti bengkel bapak itu sudah tutup."balas Fernando.
"Terus, kantor Kakak dimana? biar nanti pulang kerja aku minta antar Moresette ke sana?
Fernando Nggak membalas pesan Amor. Karena dia tidak mau didesak oleh Amor untuk memberitahukan alamat kantornya. Bukan apa-apa. Pria itu hanya ingin menjemput Amor sore ini. Biar ada alasan untuk mengajak Amor jalan-jalan sore ini.
"Sebelumnya, tadi malam saat menjelang tidur, Fernando berbicara dengan Bimbim. Dia ingin meminta pendapat dulu pada anaknya sebelum dia menjalin hubungan dengan Amor.
"Bimbim, bimbim suka nggak sama tante Amor?"
"Iya suka."
"Kenapa, Bimbim suka sama tante Amor?
"Tante Amor, baik kayak Mama Risma."
"Bimbim mau nggak kalau Tante Amor jadi mamanya Bimbim?
"Mama?
"Iya, kayak Maureen, kan sekarang dia sudah punya Mama.
Anak kecil itu lalu terdiam. Dia jadi teringat dengan perlakuan Dora terhadap Mauren yang membuatnya ingin juga perlakuan seperti itu.
"Jadi tante Amor akan tinggal di rumah ini?"
"Iya, sayang, mau nggak?"
"Mau!" sahut Bimbim cepat.
Mendapat lampu hijau dari Bimbim, semakin membuat Fernando yakin untuk menjalin hubungan dengan wanita itu.
***
Melihat pesannya tidak dapat balasan dari Fernando, Amor lalu meletakkan kembali ponselnya.
"Serius amat balas pesan Kak Fernando." ucap Moresette, disela-sela makannya
"Oh, itu motor aku sudah selesai diperbaiki katanya.
Alis mereset bertaut. "Memang Apa hubungannya motor kamu dengan Kak Fernando."
"Nggak ada hubungannya, sih. Sebenarnya cuman Kak. Fernando bantuin aku mau ngambil motorku di bengkel. Karena katanya bengkelnya keburu tutup, kalau aku ambilnya setelah jam pulang kerja." sahut Amor.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1