
Hari yang dinanti-nanti oleh Antonius dan Riana tiba. saat ini Riana sedang berada di kamar utama, Gadis itu baru saja selesai di rias. Riana yang tidak memiliki teman yang seumuran dengannya itu hanya ditemani oleh wanita paruh baya yang selama ini menemani dirinya. sebab mamanya Riana sedang sibuk di lantai bawah melihat-lihat apa saja yang masih kurang untuk acara nikah.
Wanita paruh baya itu memeriksa mulai dari tempat ruangan akan sampai ke halaman, tempat meja prasmanan diletakkan.
Satu jam sebelum acara, Richard dengan keluarga kecilnya sudah berkumpul di rumah Tuan Bernando. Rencananya dia akan ikut iring-iringan pengantin pria.
Tak ketinggalan, Tuan Nicholas Nyonya Alena juga ikut iring-iringan pengantin pria. Sedangkan para sahabat Richard dan Dora akan berangkat masing-masing. karena mereka harus melihat kondisi dari istri-istri mereka yang sedang hamil.
Sekitar 15 menit sebelum acara, mobil yang membawa pengantin pria sudah tiba di sisi jalan di depan rumah Antonius.
Antonius turun dari mobil itu dan berjalan didampingi oleh kedua orang tuanya menuju tempat acara. Antonius langsung diarahkan ke tempat duduk yang sudah disediakan.
Sedangkan di tempat lain, saat ini Amor dan Mia beserta suami mereka baru saja ingin berangkat ke tempat acara. Seperti biasa, Afrian dari dulu paling suka numpang di mobil temannya. jadi tidak heran, kali ini dia berangkat numpang di mobil Fernando.
"Ayo cepat Rian, Cornel dari tadi sudah nungguin kita di depan pintu gerbang,"ucap Fernando yang mampir ke rumah Afrian untuk menjemput Afrian dan juga istrinya.
"Kak Afrian Kenapa Mia?"tanya Amor, karena dia melihat Afrian wajahnya terlihat pucat.
"Nggak tau juga Kak, persis kayak dia ngidam dulu. Aneh banget kan? tadi pagi muntah-muntah."
"Mungkin lagi sakit maag kali,"sahut Amor.
"Bisa juga Dia mabuk pengantin. Hahaha...."Ciledug Fernando Sambil tertawa. pandangannya masih tetap fokus pada jalan.
Tin...
Fernando membunyikan klakson mobilnya untuk menyapa corner saat sudah keluar dari gerbang. Cornel juga membunyikan klakson mobilnya, sambil menjalankan mobilnya di belakang mobil Fernando.
"Ma, Bimbim ada di mobil depan ya?"tanya Bastian.
"Enggak sayang. Bimbim nggak ikut, karena Bimbim tadi malam nginap di rumah neneknya." sahut Moresette.
Di mobil Fernando, Afrian duduk di belakang kursi kemudi. pria itu dari tadi memejamkan matanya saja. Mia yang melihat itu langsung memegang keningnya, takut kalau suaminya demam.
"Nggak panas. Kakak baik-baik saja kan? Mia nampak mengkhawatirkan suaminya. "lebih baik kita nggak usah berangkat kak."keluh Mia.
"Nggak apa-apa sayang, Kakak kuat kok."
beberapa saat kemudian mobil Fernando dan Cornel sudah tiba di sisi jalan rumah Antonius. mereka langsung turun dari mobil dan melangkah ke tempat acara akad nikah, Antonius dan Riana.
Baru lima menit rombongan Antonius masuk ke dalam rumah, baby Andika Sudah rewel. Dora sudah berusaha mencoba menenangkan bayinya, tapi Andika masih tetap menangis.
"Dora, mungkin Andika haus, Coba kamu kasih ASI di kamar!"ujar Nyonya Nadia.
"Enggak Ma, tadi waktu di jalan baru saja dia menyusu."
Richard menghampiri istrinya. "sini sayang, Mas coba bawa dia keluar."Richard mengambil alih Andika ke dalam gendongannya. lalu pria itu melangkah keluar, membawa Andika ke teras depan.
__ADS_1
Baru beberapa menit baik itu dibawa ke teras, dia sudah kembali anteng.
Dari kejauhan Richard melihat dua buah mobil yang sangat dikenali. "akhirnya datang juga mereka."
Richard tersenyum menatap para sahabatnya yang berjalan mendekat ke arahnya. senyuman itu memudar saat dia melihat Mia Tengah menuntun Afrian yang wajahnya terlihat pucat.
Alis hitam merica saling bertaut menatap para adik iparnya."Afrian Kenapa Mia?"
"Nggak tau juga Kak, baru bangun tidur dia seperti ini."sahut Mia.
"Hoek..."Afrian langsung menutup mulutnya, keringat dingin keluar dari pelipis pria itu.
"Eittt ... apa-apaan kamu Rian, mau mountain anak aku?"Richard mundur selangkah saat April mendekatkan wajahnya ke tubuh Andika.
"Enggak... Aku suka sama bau bayi. lebih enakan perutku kalau mencium anak kamu."
"Cornel, Fernando ,langsung saja kalian masuk!"seru Richard.
Cornel dan Fernando mengangguk, lalu masuk sambil menggandeng istrinya masing-masing. Afrian dan Mia juga berjalan menekuri langkah sahabatnya yang sudah berjalan lebih dulu di depan.
Richard yang melihat itu langsung menarik tangan lengan Afrian. "Mia, kamu dan Afrian nggak usah masuk ke dalam. kalian di sini saja!"cegat Richard
"Kenapa kak? aku kan mau melihat acara ijab kabulnya,"protes Mia.
"Iya nih, nanti anak kami ileran loh kalau nggak dipenuhi,"Afrian ikut menimpali.
"Mia, kamu saja yang masuk ke dalam. afrin nggak boleh masuk. biar kakak yang mana-mana Afrian di sini."
"Sah!
"Sah!
Baru beberapa menit mie yang masuk ke dalam rumah, terdengar kata sah dari dalam ruangan.
"Alhamdulillah.."ucap orang-orang yang ada di dalam ruangan.
Setelah acara ijab Kabul selesai, Mia langsung keluar dari ruangan itu. Dia sangat mengkhawatirkan suaminya. dilihatnya suaminya sedang memangku Andika di sebuah gazebo.
"Kakak sudah baikan ya?"tanya Mia saat menghampiri suaminya Gazebo.
"Iya sayang, sudah nggak mau lagi. Ini obatnya."sambil menunjuk Andika yang anteng dalam dekapannya.
Malam harinya, acara resepsi di ballroom hotel bintang lima diselenggarakan mulai jam tujuh malam. Nampak para tamu sudah mulai berdatangan. Dora dan Richard berdiri di depan pintu, menyambut tamu undangan yang baru tiba di ballroom hotel.
Terlihat dari segerombolan tamu yang hadir seorang wanita cantik yang sangat Dora kenal. Ya dia adalah Heni. mantan pacar kakaknya.
"Kak Heni,"ucap Dora dengan suara lirih saat melihat Yang sebentar lagi akan bersalaman dengannya.
__ADS_1
"Siapa sayang? tanya Richard
"Wanita yang pakai gaun berwarna merah menyala itu mantan pacar Kak Antonius."bisik Dora di telinga suaminya.
"Hai Dora, ketemu lagi kita."Heni menempelkan pipi kanan dan kirinya ke wajah Dora. Mata Heni melirik ke arah Richard.
"Cowok di samping kamu siapa Dora?"bisik Heni. Dia mengira Richard adalah kerabat dari Dora.
"Suamiku,"sahut Dora dingin.
"Ups... Aku kira sepupu kamu."
Dora bergeming, dia malas meladeni Heni. Dora langsung memegang tangan suaminya yang ingin bersalaman dengan Heni.
"Huh .. takut banget suaminya aku ambil."batin Heni sambil melongos masuk mengikuti langkah temannya.
"Heran deh aku, Kenapa sih Kak Antonius mesti mengundang dia?"Sungut Dora.
"Mungkin dia ikut sama teman yang di depannya itu."
Beberapa saat kemudian, ponsel Dora berbunyi. Tertera nama salah satu baby sitter the layar ponselnya. Dora menjauh dari tempat itu. "Hello, Mbak sus, ada apa?
"Nyonya, Andika menangis. sudah saya kasih kasih yang ada di botol. tapi dia tetap menangis."
"Oke sus. habis ini aku langsung ke sana."Dora memutuskan sambungan teleponnya.
Richard menghampiri istrinya. "Ada apa sayang?"
"Putra kita Andika menangis, Mas."
"Ya, sudah ayo kita ke sana."Richard lalu memegang tangan istrinya, dan berjalan keluar ballroom.
Richard sengaja menyewa kamar di dekat dengan ballroom. Jadi misalnya Andika rewel seperti sekarang ini, dia dan Dora bisa secepatnya menyusul Andika ke kamar.
"Mas, kamu di sini aja. nggak usah kembali ke sana. aku nggak mau Heni mendekati kamu,"Mama Mauren kembali posesif.
"Iya sayang, tapi gimana dengan Mauren? takutnya dia mencari kita.
"Mbak sus!"Panggil Dora
"Iya, nyonya."
"Coba kamu ke ballroom. Cari Mauren ya! tadi dia sama Oma Alena. Sekalian juga Kamu makan di sana. kalau mau mencari kami, bawa saja ke sini."perintah Dora pada babysitter dan juga pengawal pribadinya.
"Baik nyonya."baby sitter dan juga pengawal pribadi mereka pamit keluar dari kamar hotel itu.
Di panggung pelaminan, Heni dan temannya naik ke panggung untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Nyonya Alena yang mengenali Heni, dia memaksakan senyuman pada wanita itu.
__ADS_1
"Selamat ya Antonius."Heni menatap melekat uwa aja tampan pria itu yang pernah mengisi hatinya. kemudian ia mengulurkan tangan pada Riana. "Selamat ya, kamu dapat berkasnya aku. Dia pria yang tangguh saat di ranjang."bisik Heni di telinga Riana.
Bersambung...