
Beberapa bulan kemudian, di sebuah rumah sakit bersalin. Terlihat Afrian berlarian di koridor mengikuti branker yang membawa istrinya masuk ke sebuah ruangan.
Satu jam sebelumnya, sekitar jam 08.00 malam Mia merasakan perutnya sakit. terlihat sebuah cairan merembes keluar dari bagian inti tubuhnya. Cairan itu mengalir hingga betisnya.
"Kak Afrian!!!"teriak Mia.
Saat ini Mia sedang berada di ruang tengah. Sedangkan suaminya baru saja naik ke lantai atas, karena dia ingin mengambil ponselnya yang dia letakkan di atas nakas samping tempat tidur.
Afrian yang mendengar teriakan istrinya bergegas keluar kamar. Langkahnya begitu cepat menurun di tangga. "Ada apa sayang?"tanyanya khawatir.
"Kak, lihat kakiku!"sepertinya aku mau melahirkan."Mia menunjukkan kakinya yang basah.
"Terus gimana sayang?"sebuah pertanyaan konyol keluar dari mulut lelaki itu.
"Kakak cepetan antarin aku ke rumah sakit!"desa Mia dengan suara sedikit ditinggikan.
Afrian tersentak, dia langsung berlari menaiki tangga.
"Kak sekalian ambilkan dress dan ****** *****! Aku mau ganti baju dulu."teriak Mia.
Sembari Afrian pergi ke kamar utama, Mia berjalan perlahan menuju kamar tamu yang ada di lantai bawah.
Sekitar 5 menit kemudian lelaki itu turun membawa kunci mobil dan pakaian istrinya saja. sebab tas berisi perlengkapan melahirkan Sudah beberapa hari yang lalu dia letakkan di dalam mobilnya.
Afrian menghampiri istrinya yang sudah berdiri di depan pintu kamar tamu. setelah Mia selesai mengganti pakaiannya, pria itu langsung membopong istrinya menuju halaman, tempat mobilnya di parkir. lelaki itu menurunkan Mia, dan membuka pintu mobil.
Mia langsung menurunkan sandaran joknya saat dia sudah duduk di samping kursi kemudi. Afrian menjalankan mobilnya setelah memastikan posisi istrinya aman dan nyaman di dalam mobilnya. Nampak sesekali tangan dari pria itu mengusap perut buncit istrinya.
"Tahan ya sayang, sebentar lagi kita sampai."
Jalanan saat ini cukup padat membuat laju mobil yang dikemudikan oleh Afrian sedikit terhambat. beberapa kali avrin membunyikan klaksonnya untuk menyalip pengendara mobil di depannya.
"Kak, pelan-pelan aja!"Mia memperingatkan.
"Kakak takut kamu dan anak-anak kenapa-kenapa sayang."sahut Afrian cemas.
"Ini masih lama prosesnya Kak."
"Sayang, Kamu yakin mau melahirkan secara normal?"Afrian takut istrinya tidak kuat, apalagi yang dilahirkan ini anak pertama, kembar pula
__ADS_1
"Iya, Kak. Aku yakin. Dokter juga memperbolehkan. Katanya anak-anak kita sehat dan posisinya tidak sungsang."
Afrian mendesah pelan. Sebenarnya dia ingin istrinya melahirkan secara sesar saja. Sebab anak yang akan dilahirkan istrinya itu kembar, Jadi butuh tenaga ekstra.
Jarak tempuh ke rumah sakit yang harusnya memakan waktu 20 menit, kini menjadi 45 menit. Semua itu akibat kondisi jalan yang sedang padat. Apalagi sekarang malam minggu. malam panjang untuk para muda Maudy menghabiskan waktunya di luar rumah.
Afrian menghentikan mobilnya tepat di depan teras rumah sakit. "Sayang, tunggu di sini sebentar. Kakak mau ke dalam untuk mengambil kursi roda."ucap Afrian sebelum dia keluar dari mobil.
Mia tidak menyahut, dia hanya mengangguk. wanita itu saat ini sedang merasakan kontraksi di perutnya.
Afrian berlari menuju lobby, dia langsung ke bagian admin. Afrian bermaksud ingin mengambil kursi roda untuk istrinya, Namun kata perawat di sana kursi roda sedang dipakai Beberapa pasien.
"Kita pakai branker saja ya pak."usul salah satu perawat di sana.
Perawat wanita itu dibantu oleh aprian mendorong branker itu hingga ke teras rumah sakit. Afrian lalu membuka pintu mobil depan sebelah kiri. Didapatinya Mia sedang meringis menahan sakit.
Tanpa pikir panjang Afrian langsung membopong tubuh istrinya. Dan langsung dia letakkan pada branker. branker itu lalu didorong menuju ruang observasi.
Baru saja sampai di rumah itu, seorang sekuriti menghampiri Afrian.
"Maaf Pak, anda memiliki mobil Pajero hitam yang Parker di depan teras ya?"
"Iya,Pak."Afrian menunggu apa yang ingin di sampaikan security itu lagi.
"Bi..Bisa pak," Afrian merogoh saku celananya untuk mengambil kunci mobil. Setelah pamit dengan istrinya, Afrian langsung melangkah keluar menuju teras.
Saat sedang di tempat parkir, Afrian teringat dengan orang tua dan mertuanya. pria itu langsung merogoh saku celana depannya mengambil ponselnya.
Kring...
"Assalamualaikum... Ada apa Afrian?"tanya Nyonya Alena mengangkat sambungan telepon seluler dari Afrian.
"Ma, aku sama Mia sekarang lagi di rumah sakit. Mia mau melahirkan."
"A....Apa??"Nyonya Alena terkejut.
"Sudah dulu ya, Ma. Aku mau menyusul Mia ke ruangannya."
Sambungan telepon berakhir. sambil melangkah menuju kamar observasi, Afrian juga sambil menghubungi orang tuanya.
__ADS_1
Ketika Afrian sampai di ruangan, Mia sedang sendirian. "Sayang gimana?"
"Tadi sudah diperiksa Dokter, katanya baru buka tiga."
Afrian bingung. "itu maksudnya gimana Sayang?"
"Maksudnya proses lahirannya masih lama Kak, masih Beberapa jam lagi."
"Kamu kalau nggak kuat, lebih baik operasi saja sayang. Pasti akan lahir lebih cepat daripada melahirkan secara normal."
"Enggak, kak. Aku mau melahirkan secara normal saja. Yang penting kakak harus menemani aku. Memberi semangat buat aku."
"Iya sayang, kakak pasti akan menemani kamu saat melahirkan nanti."
***
Setelah mendapat telepon dari menantunya, Nyonya Alena dan Tuan Nicholas langsung berangkat menuju rumah sakit. Begitu juga dengan kedua orang tua Afrian, mereka juga langsung berangkat ke rumah sakit. Tak lupa saat di perjalanan Nyonya Alena menghubungi Richard.
Setelah menempuh waktu kurang lebih 1 jam perjalanan, akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Tuan Nicholas memasuki gerbang rumah sakit. "Anak si Andalas ini kenapa mencari rumah sakit di sini sih? jauh banget rumah sakitnya,"omel Tuan Nicholas saat baru saja dia memarkirkan mobil di area parkir roda empat rumah sakit.
"Jauh dari rumah kita Pa, tapi dekat bagi rumah Afrian."sanggah Nyonya Alena.
Pria paruh baya itu bergeming.
"Ayo cepat Pa, kita keluar dari mobil!"seru Nyonya Alena, tangannya sambil membuka sabuk pengaman.
Saat mau keluar dari mobil, tiba-tiba sebuah mobil berwarna putih parkir dapat di samping mobil tua Nicholas. pengemudi itu langsung keluar bersama seorang wanita paruh baya.
"Huh! Kenapa dia ke sini juga?"Tuan Nicholas mendengus kesal, sambil turun dari mobilnya.
"Alena! kamu baru datang juga?"tanya Tuan Andalas dengan mata berbinar.
"Iya, wah Kebetulan sekali ya."Nyonya Alena tersenyum ke arah Tuan Andalas dan nyonya Yasinta.
Tuan Nicholas langsung merangkul pinggang istrinya yang masih ramping. "Ayo mam, kita masuk!"Tuan Nicholas langsung mengajak istrinya berjalan menuju bangunan rumah sakit. Tanpa bertegur sapa dengan besarnya. Tuan Andalas dan istrinya berjalan mengekor di belakang.
Ke tempatnya lalu melangkah menuju kamar observasi. Di depan ruangan itu ada sebuah kursi panjang. Tuan Andalas dan Tuan Nicholas terlihat duduk masing-masing di ujung kursi. sedangkan Nyonya Alena dan nyonya Yasinta, keduanya masuk ke dalam kamar observasi untuk melihat Mia.
"Mom!" Sapa Mia saat melihat Nyonya Alena berada di ambang pintu.
__ADS_1
Nyonya Alena melebarkan langkahnya dan memeluk putrinya. Sedangkan nyonya Yasinta, dia juga menghampiri bunker Mia, berdiri di samping Afrian yang duduk di sebuah bangku plastik.
bersambung....