Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 218. MERASA CEMBURU


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, sesuai dengan janji Bastian, hari ini dia ingin membawa Mauren ke rumah yang baru satu bulan ini dibelinya. Tak ada yang tahu mengenai rumah itu. Cornel dan Moresette saja belum mengetahui perihal rumah itu.


Jam 10.00 pagi mobil Bastian sudah terparkir di halaman rumah Richard. Kedatangannya disambut baik oleh Richard. kini keduanya sedang duduk di Gazebo halaman rumah.


"Kalian mau jalan ke mana?"


"Mau melihat rumah, Om."jawab Bastian ragu. dia takut dianggap oleh Richard terlalu percaya diri, Restu belum dikantongi tapi sudah menyiapkan rumah.


"Rumah? rumah siapa?


"Ru.... Rumah saya, Om."


"Kamu beli rumah?"tanya Richard dengan kening berkerut.


Mauren datang dan langsung memotong pembicaraan keduanya. "Kak, maaf kalau menunggu lama."


"Nggak apa-apa sa... Mauren."hampir saja Bastian keceplosan memanggil Maureen dengan kata sayang di depan Richard.


"Ayo Kak, kita berangkat sekarang ."


"Om, saya dan Mauren mau jalan-jalan dulu sebentar."Bastian dan Mauren mancung punggung tangan Richard.


Richard menatap keduanya. tidak pernah dia pikirkan sebelumnya anaknya secepat ini menemukan pengganti Mario dan Bimbim. Harapannya, semoga Bastian adalah pria terakhir untuk putrinya.


Di perjalanan menuju ke rumah baru, Bastian lalu menautkan tangan kirinya dengan tangan Mauren. Terlihat sesekali pria itu mencium tangan sang kekasih.


"Jauh nggak rumahnya, kak?"


"Rumahnya kalau dari kantor di sekitar 30 menit jarak tempuh."


"Setelah menikah nanti, Kakak masih mengijinkan aku bekerja di kantor papa?"tanya Mauren dengan mata berbinar.


"Kakak tidak melarang atau menyuruh kamu untuk bekerja. Selama kita belum punya anak, Kakak akan membebaskan Kamu kerja di kantor papa."


"Terima kasih ya, Kak."Mauren langsung bersandar di pundak Bastian.


Mobil yang dikendarai oleh Bastian kini berhenti tepat di sebuah rumah mewah berlantai tiga dengan gaya minimalis.


"Ayo sayang, kita turun!"Bastian membuka sabuk pengamannya.


"Ini yang rumah kakak?"tanya Mauren saat sudah berdiri di depan rumah itu. Rumah yang tak kalah mewah dengan rumah Bimbim.


"Bukan sayang. Ini bukan rumah kakak, ini rumah kita."Bastian meralat ucapan Mauren.


"Ayo kita masuk!"tangan pria itu merangkul pundak sang kekasih.


"Perumahan di sini milik Om Fernando juga ya?"

__ADS_1


"Bukan sayang, rumah yang dibangun Om Fernando nggak ada yang dekat dengan hotel dan kantor. Makanya Kakak nggak beli di sana."


Kedua mata Mauren memandang ke arah ruang tamu. "Kakak kapan beli perabot-perabotan di rumah ini?"


"satu minggu setelah Kakak membeli rumah,"sahut Bastian.


"Ayo kita ke atas."


Keduanya menaiki tangga menuju lantai atas, pria itu ingin memperlihatkan kamar utama pada Mauren.


Bastian membuka pintu kamar utama. "Ini kamar kita sayang."tangan pria itu menarik tangan Mauren agar mau masuk ke kamar.


Mata mau renang nyapu seluruh ruangan kamar, dia melihat kamar mandi, walk and closet, serta balkon. Kini Gadis itu duduk di pinggiran ranjang. Tak jauh dari ranjang, ada sebuah meja rias di sana. Mauren tersenyum melihatnya. Bastian benar-benar sudah mempersiapkannya. pikir Mauren.


"Mau di sini dulu atau lanjut melihat ruangan yang lain?"tanya Bastian, sebab Dia melihat murid Masih betah duduk di ranjang.


"Semoga setelah menikah nanti kamu betah di ranjang itu ya sayang."imbuh Bastian menggoda Mauren. membuat Mauren langsung berdiri memukul-mukul punggung kokoh pria itu, dan berlari mengejar Bastian keluar kamar.


"Ini kamar untuk anak pertama kita."Bastian membuka sebuah ruangan kosong yang masih belum ada perabotannya.


Bastian menarik tangan Mauren agar mengikuti langkahnya.


"Yang ini kamar anak kedua."ucap Bastian tanpa membuka pintu.


"Ini ruang kerja kakak. dan itu ada meja juga di sebelah sana, siapa tahu nanti kamu mau menemani Kakak kerja sambil mendesain baju."


"Setelah keluar dari ruang kerja, Bastian menuntun Mauren untuk turun ke lantai bawah. "Kak, Dua ruangan paling ujung itu apa?"


Di rumah itu juga ada dua kamar untuk tamu, kamar itu berada di lantai bawah, dua kamar untuk asisten rumah tangga ada di bagian dapur.


Di ruang tengah ada sofa bed dan sebuah televisi. Di depan sofa itu ada sebuah ambal tebal. di sanalah sekarang Mauren sedang duduk. Nampak Bastian baru keluar dari ruang dapur. Pria itu membawa minuman kaleng dan berbagai macam cemilan kesukaan Mauren.


"Kakak kapan belanja cemilan ini?"


"Kemarin sore."dia duduk berdampingan dengan Mauren.


"Gimana, suka nggak dengan rumahnya?"


"Suka banget Kak."


Beberapa jam kemudian, Mauren diantar kembali oleh Bastian ke rumah. dari kejauhan Bimbim yang diminta oleh Papanya untuk menemani kedua adiknya ke mall, melihat mobil Bastian belok ke arah rumah Richard. saat mobil Bimbim melintas rumah Richard, dilihatnya Mauren dan Bastian sama-sama keluar dari mobil itu. Bimbim yang melihat itu langsung mencengkram kuat setirnya.


"Rupanya kalian berdua tidak peduli dengan persahabatan."ucap Bimbim dalam hati.


Dian dan Dania juga melihat Mauren dan Bastian. Kedua anak kembar itu nampak biasa-biasa saja tanggapannya. karena dari dulu Maureen dan Bastian memang bersahabat Begitu juga dengan kakaknya.


Di mall, Bimbim berjalan mengikuti kedua adiknya. Ke mana pun adiknya melangkah, Bimbim dengan setia mengikutinya. saat ini mereka sedang nongkrong di sebuah Cafe. tak jauh dari tempat mereka duduk, ada Atalia sedang fokus dengan ponselnya di tangannya.

__ADS_1


"kalian berdua tunggu di sini ya. Kakak mau menghampiri teman Mauren."setelah mengucapkan itu dia langsung berdiri dan melangkah ke arah meja Atalia.


"Hai, boleh aku duduk di sini?"


Perhatian Atalia teralihkan, Dia sedikit mendengarkan kepalanya.


"Bimbim?kening Atalia berkerut


"Boleh aku duduk?"


"Iya, silakan."


"Tumben kamu jalan ke mall sendirian?"tanya Bimbim basa-basi


"Mauren lagi repot katanya."


"Repot atau Lagi jalan sama Bastian?"


"Iya, dia repot. hari ini katanya mau melihat rumah baru saja dibeli oleh kak Bastian."


"Rumah? rumah apa?


"Rumah untuk mereka."Atalia langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Aduh, bisa-bisa Maureen marah kalau tahu aku keceplosan kayak tadi."Atalia menyesal di dalam hati karena sudah keceplosan.


"Rumah untuk mereka?"


"Maksudnya mereka mau menikah?"


Atalia menggeleng, dia tidak mau berbicara lebih banyak lagi. "Aku nggak tahu Bim."


"Nggak mungkin kamu nggak tahu. kamu sahabat nya, sudah pasti dia cerita."


"Bim, walaupun kami bersahabat, tidak mesti semua hal harus diceritakan. Kamu kenapa sih kok masih kepo dengan Mauren, bukankah dia sudah menjadi mantan kamu? Bim, Mauren itu sekarang bebas mau jalan sama siapa, atau mau menikah sama siapa saja. Kamu nggak bisa melarangnya."


"Aku cuman tidak terima saja Bastian menikung aku,"sahutnya lirih.


"Bim, seandainya Maureen memang masih mau berumah tangga sama kamu, pasti dari awal dia mau diajak. Maaf ya, Kalau menurut aku murid itu tidak menginginkan kamu. jadi Kak Bastian itu tidak menikung kamu. Kalian itu kan bersahabat. Kamu sudah mengenal Kak Bastian dari kecil. kamu pasti tahu Kak Bastian itu orangnya seperti apa.


Berbeda dengan pak Mario, kamu tidak mengenal dia orangnya seperti apa, kita tidak akan tahu bagaimana jika Maureen hidup dengan Mario kedepannya. jadi percayakanlah Mauren bersama Kak Bastian. mulai sekarang, cobalah ikhlaskan hubungan mereka, restui mereka."tutur Atalia menasehati Bimbim. dia sudah mengetahui masalah antara Mauren, Bimbim, dan Bastian.


Bimbim bergaming, otaknya mulai mencerna ucapan Atalia. Bimbim yang mengakui kalau Bastian itu memang baik, dari kecil Bastian selalu melindungi Mauren. jadi Sudah bisa dipastikan, Bastian akan menjaga dan memperlakukan orang dengan baik. Bimbim tidak merespon ucapan Atalia. Pria itu lebih memilih beranjak berdiri dari tempat itu.


"Atalia, kopiku sudah datang. Aku mau kembali ke mejaku. Kamu gabung aja ke mejaku, Masih ada sisa satu kursus di sana."


"Enggak Bim. Makananku sudah habis. Aku mau pulang sekarang. aku ke sini karena mau beli parfum saja. Oh iya, ucapan aku yang tadi jangan diambil hati ya."

__ADS_1


"Iya, aku gabung sama adikku dulu ya."pamit Bimbim.


bersambung...


__ADS_2