
Tak jauh berbeda, saat ini Bastian dan Herlan sedang nongkrong di cafe shop. Herlan yang mengajak Bastian nongkrong, sebab Hari ini adalah hari terakhir Bastian mencari pria lajang. Kalau sudah memiliki istri, pasti Bastian waktunya liburan ya akan dihabiskan bersama dengan istrinya.
"Bagaimana Bastian, sudah siap untuk besok?"
"Siap, aku sudah menghafal akadnya sejak kemarin."
"Maksud aku bukan itu."
Bastian mengangguk paham. "Kalau masalah itu nggak usah ditanya, kapanpun aku siap. sudahlah Herlan, nggak usah ngomongin itu."Bastian menyudahi pembicaraan seputar ranjang.
"Herlan, rencananya satu minggu setelah menikah, aku dan Mauren akan pergi ke New Zealand. Kamu suruh saja sih Maya buat handle kerjaan di hotel, jadi kamu bisa fokus sama usaha tambang kita. dulu Maya sudah pernah aku serahin tugas seperti itu saat aku pergi liburan ke New Zealand. Jadi dia masih bisa kita andalkan.
"Iya, aku akan usahakan bisa mengurus keduanya. Sebab aku paling malas jika berurusan dengan gadis itu.
"Kamu jangan begitu, siapa tahu nanti kamu bakalan jatuh cinta sama dia."
"Nggak mungkin!"
"Kenapa nggak? kan bisa saja karena keseringan bertemu, kalian akan tumbuh perasaan. Sama seperti aku dengan Mauren, karena terlalu sering bertemu, akhirnya aku baper sampai akhirnya aku jatuh cinta sama dia."
***
Malam harinya, di kediaman rumah Fernando saat ini Bimbim sedang berbincang dengan kedua orang tuanya.
"Bim, Kamu besok pergi ke acara nikahan Maureen dan Bastian, nggak?"tanya Mama Amor
"Kayaknya enggak, Ma."
"Kenapa enggak, Bim?"Fernando ikut menimpali pembicaraan.
"Nggak tahu Pa. Aku malas saja, apa kata orang nanti, mantan istriku dinikahi sama sahabatku."
"Tapi nggak enak kalau kamu tidak datang, Bim. Apa kata sahabat papa nanti?"
"Sudah Mas, jangan dipaksa! kamu juga misalnya jadi Bimbim, apa mau datang ke acara pernikahan mantan istri? sedangkan kamu masih cinta dengan mantan istri."
Fernando bergeming, pria itu mengatupkan bibirnya. "Ya sudah Bim, terserah kamu saja misalnya tidak ingin datang. Papa tidak bisa memaksa kamu."
Keesokan harinya, Mauren baru saja selesai di rias di dalam kamarnya. Di kamar itu juga ada Atalia, sahabat setianya yang selalu menemaninya baik suka maupun duka.
__ADS_1
"Mauren, kalau melihat kamu didandani seperti ini, aku jadi teringat dengan kejadian Beberapa bulan yang lalu."
"Maksudnya?"
"Semoga kak Bastian datang ya, Mauren."
"Kok malah kamu yang trauma, Atalia."
"Gimana aku nggak trauma, kejadian waktu itu kan aku juga ada di dalam kamar kamu. trauma Ini kemungkinan akan muncul lagi saat aku menikah nanti."
"Sudah, Nggak usah diingat-ingat lagi. ini Kak Bastian barusan kasih kabar, Katanya dia sudah di jalan, sekitar 15 menit lagi akan sampai ke rumah ini.
Di lantai bawah, semua orang sudah berkumpul di ruang tengah, tempat akan dilaksanakannya acara akad nikah. Para keluarga sudah duduk di barisan paling depan. orang tua Dora dan orang tua Richard duduk di barisan pertama. Afrian, niat dan kedua anaknya duduk di barisan kedua, Begitu juga dengan Antonius, Riana dan putra-putrinya.
"Devano Kenapa Mia, Kok matanya kelihatan merah gitu?"tanya Nyonya Alena
"lagi nggak enak badan katanya Ma, aku sudah suruh dia istirahat di kamar tamu saja, Tapi dia nggak mau. Katanya mau melihat Mauren menikah."
Kakek Bernando nampak beberapa kali bertanya jam pada Antonius. Sepertinya pria tua itu juga trauma pada pernikahan pertama Mauren.
"Richard, Coba kamu telepon Cornel, tanyakan mereka sudah sampai di mana!"seru kakek Bernando yang hanya dibalas dengan anggukan oleh menantunya. Richard langsung mengambil ponselnya pada saku celana. tak menunggu lama sambungan itu langsung terhubung.
"Cornel, kalian sudah sampai di mana?"tanya Richard di dalam sambungan telepon selulernya.
"Ini baru masuk gerbang perumahan kamu."sahut Cornel di ujung telepon.
Mendengar Bastian dan keluarganya sudah masuk gerbang perumahan, Richard langsung mengucap syukur dalam hati. kejadian yang dialami oleh Mario waktu itu tidak terjadi pada Bastian. akhirnya hari ini putrinya bisa menikah dengan pria yang dicintainya, tanpa ada halangan apapun.
"Ya sudah Cornel, Aku tutup dulu teleponnya."
Sambungan telepon berakhir. Orang-orang yang ada di sekitarnya menatap penuh tanya pada Richard.
"Mereka baru saja masuk gerbang perumahan."ucap Richard, membuat orang-orang yang ada di sana menghela nafas lega. "Mia, Afrian, cepat kalian ke depan, wakili aku dan Dora untuk menyambut kedatangan Bastian dan keluarga besarnya!"seru Richard.
"Iya, Kak." Mia beranjak dari duduknya, diikuti oleh Afrian.
Saat dia dan Afrian sampai di teras, gambar Apa buah mobil baru saja berhenti di tepi jalan depan rumah Richard. Nampak Bastian turun didampingi oleh kedua orang tuanya. keluarga besar dari pihak Cornel, Moresette dan Cyntia juga ikut hadir. Hanya Cyntia dan suaminya saja tidak hadir. Namun hal itu tidak menyurutkan senyum di wajah calon mempelai pria pagi ini. yang terpenting bagi Bastian, waktu itu mama kandungnya sudah memberi Restu pada dirinya untuk menikahi Mauren.
"Assalamualaikum.."ucap Cornel.
__ADS_1
"Waalaikumsalam.."sahut Afrian dan Mia, diikuti oleh orang-orang yang ada di teras dan halaman rumah.
Bastian melangkah masuk ke dalam rumah. pria tampan itu langsung diarahkan pada tempat yang sudah disediakan.
"Nes, cepat Panggil Mauren di kamarnya, suruh dia turun ke bawah!"seru Dora pada Nesya anak dari Antonius.
"Iya, tante."gadis cantik itu beranjak dari duduknya.
Di kamar Mauren, Atalia melihat Mauren menghubungi Bastian, namun telepon itu dari tadi tidak dijawab oleh Bastian. Tentu saja tidak dijawab, sebab pria itu sudah menitipkan ponselnya pada Laura, dan ponsel tersebut dalam mode silent.
"Nggak diangkat Atalia."Mauren menghubungi Bastian untuk menanyakan apakah pria itu sudah masuk gerbang perumahan.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Atalia dan juga Mauren.
"Kak," Nesia memanggil Mauren."
Atalia bergegas membuka pintu.
"Kak Mauren, disuruh Tante Dora untuk segera turun."
"Apa mempelai prianya sudah datang?"tanya Atalia.
Nesya mengangguk. "Iya, Kak."
Atalia lalu menghampiri Mauren. "Mauren, Bastian sudah ada di bawah. Ayo kita segera turun."Atalia membantu Mauren berdiri.
"Nesya, Kamu di sebelah kiri kakak!"seru Mauren saat ingin menuruni tangga.
Kini ketika gadis cantik itu berjalan menuruni tangga. selain Mauren, Nesya yang sudah duduk di bangku SMA itu juga mencuri perhatian orang-orang yang ada di sana. gadis cantik itu mewarisi kecantikan ibunya, terutama pada bagian matanya yang bulat seperti mata boneka.
Kedua netra Bastian dari tadi tak teralihkan dari calon istrinya. mulai dari saat Maureen berada di tangga paling atas, hingga kini sudah berada di tangga paling bawah. dia menatap ke arah calon istrinya yang sedang berjalan ke arahnya.
Bagi Bastian hari ini kecantikan Mauren berkali-kali lipat lebih cantik dari biasanya. Nesya Kembali ke tempat duduknya semula, duduk di samping mamanya. Kini hanya Atalia saja yang mengatur Mauren hingga duduk di samping mempelai pengantin pria.
Semua tamu yang ada di ruangan tengah berdesak kagum melihat. kedua pasang mempelai pengantin, bagi mereka Mauren dan Bastian merupakan pasangan yang sangat serasi. cantik dan tampan, dua kata yang keluar dari mulut tamu yang hadir sebagai pujian mereka pada sepasang pengantin yang sebentar lagi akan melakukan akad nikah.
Richard dan Dora duduk di samping Mauren. sedangkan Cornel dan Moresette duduk di samping Bastian.
bersambung.
__ADS_1