
Setelah kepergian Aulia, Fernando terlihat mengatur nafasnya akibat emosi yang bergejolak dalam tubuhnya. pria itu tugas masuk dalam rumah untuk menemui putranya di ruang tengah.
"Bimbim!!!!"teriak Fernando. Amor, dan kedua Putri kembarnya perhatian mereka Langsung teralihkan ke arah Fernando.
"Ada apa mas? Kenapa berteriak seperti itu? tanya Amor dengan nada suara yang begitu lembut
"Ini si Bimbim, Kenapa dia memberikan alamat rumah ini pada wanita sialan itu?!"
"Aulia? untuk apa Aulia datang ke sini?"tanya Bimbim di dalam hati. Semakin jengah saja demi melihat sikap Aulia. baru saja emosi Fernando mereda, kini Papanya kembali marah padanya, dan hal itu karena ulah si Aulia lagi.
"Bimbim, pokoknya Papa nggak mau tahu. sebagai hukuman untuk kamu, selama beberapa bulan ini uang belanja kamu Papa batasi. Dan satu lagi, segera akhiri hubungan kamu dengan wanita itu. Atau uang kamu akan Papa batasi selamanya."
"Ja... jangan pa, keperluan aku banyak."
"Papa tidak peduli. itu hukuman untuk kamu karena sudah banyak menghabiskan uang papa untuk wanita itu."sahut Fernando dengan tegas.
Bimbim memegang kepalanya sambil menunduk. kepalanya mendadak terasa pusing akibat masalah datang secara beruntun pada. "Mulai hari ini, uang bulanan kamu sama seperti karyawan lainnya. papa akan menyetop kartumu semua."ucap Fernando kembali.
"Jangan dong Pa."
"Keputusan Papa sudah bulat, kamu dibaikin selama ini malah membuat Papa tidak memiliki wajah di hadapan keluarga Mauren."udah Fernando sembari langsung meninggalkan ruangan itu dan kembali keluar untuk menghirup udara segar.
Setelah pulang dari rumah Bimbim, Aulia menangis sejadi-jadinya di dalam kamar kosnya. impian yang menjadi istri orang kaya kini hanya tinggal angan-angan saja. "ini semua gara-gara Mauren. dia yang merusak hubunganku dengan Bimbim."tangan Aulia terlihat mengepal kuat, dia begitu dendam kepada Mauren.
Sementara di tempat lain. Tepatnya di rumah Richard. Setelah selesai makan malam, Richard mengambil ponselnya yang diletakkan di meja samping sofa ruang keluarga berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari Arga.
Richard langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya, agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Arga. dia langsung meninggalkan ruang keluarga. sebab di ruangan itu ada istri dan kedua anaknya.
"Hello,"Richard memulai pembicaraan sambil melangkah menaiki tangga.
"Tuan, saya sudah mendapatkan informasi mengenai wanita itu. dia hanya seorang gadis dari kampung. di kota ini dia tinggal di sebuah rumah kost. Parahnya lagi, Ternyata wanita itu baru bekerja di perusahaan Tuan.
"Di bagian apa dia bekerja?"
"Di bagian pemasaran."
"Kamu suruh orang untuk mengawasinya. jangan sampai dia menyakiti orang. sebab kita tidak bisa sembarangan asal memecat orang, tanpa didasari oleh kesalahan yang diperbuat oleh karyawan itu."titah Richard kepada asistennya.
__ADS_1
Di dalam kamar Maureen, wanita itu mengisi waktunya dengan mendesain baju. tiba-tiba suara notifikasi pesan masuk ke layar ponselnya mengalihkan atensi gadis cantik itu.
Wanita itu mengerutkan rekeningnya. "Kak Bastian,?"wanita itu di dalam hati ketika melihat di layar ponselnya ada pesan masuk dari Bimbim dan Bastian juga.
"Malam Mauren, semoga hari esok dan seterusnya akan menjadi hari yang indah buat kamu."pesan yang dikirimkan oleh Bastian.
"Amin... Terima kasih Kak Bastian. Semoga hari-hari Kakak juga menyenangkan."balas Mauren.
Setelah membalas pesan Bastian, Mauren membuka pesan berupa foto yang dikirim oleh Bimbim. baginya persahabatannya dengan Bimbim yang sudah terjalin sejak kecil tidak boleh putusannya gara-gara masalah perceraian kemarin. nampak dengan jelas foto sebuah ranjang di dalam kamar utama yang dikirim oleh Bimbim. kamar yang selama beberapa minggu belakangan ini dia tempati saat masih tinggal di rumah Bimbim. pria itu memberikan caption pada foto tersebut.
"Mauren, kamar ini selalu menanti kedatanganmu."
"Sudahlah Bim, jangan membahas yang sudah-sudah. hubungan kita sudah selesai, sekarang jalani hidup kita masing-masing, sama seperti dulu lagi. Aku mau memulai hidupku dari awal lagi. Bagiku saat ini hidup dengan cinta dari orang tua itu lebih baik."balas Mauren.
****
Pagi hari yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya di permukaan bumi. Mauren yang sudah selesai melakukan ritual mandinya, Dia segera memoles wajahnya dengan bedak warna natural dan lipstik yang natural juga. Bagi Mauren, perceraian bukan berarti akhir dari segalanya. hari ini adalah awal hidupnya yang baru. tanpa ada terikat hubungan lagi dengan seorang pria.
Maureen dengan penuh semangat menuruni anak tangga. Gadis itu hari ini mau berangkat kerja.
"Pagi Pak, Pagi Ma, Pagi adik kecil."Mauren menyapa anggota keluarganya yang sudah duduk lebih dulu di meja makan.
Dora tersenyum menatap putrinya yang kini mulai kembali ceria. "Mauren, kamu lebih baik berangkat kerja bareng Papa saja."usul Dora.
"Besok saja bareng papa. hari ini papa banyak kerjaan di luar kantor. Kemungkinan juga Papa pulangnya agak lambat."
"Iya,Pa "Mauren mengangguk.
"Dika, kamu sekolah diantar sama kakak Mauren saja ya,"
"Iya, Pa."sahut Andika tanpa membantah. hubungan kakak beradik itu memang sangat dekat. Walaupun terkadang Mauren menjahili adik kesayangannya itu. Tapi tetap saja, Andika tidak merasa keberatan. karena dia tahu Mauren sangat menyayangi dirinya
***
Setelah mengantarkan Andika ke sekolah, Mauren langsung melajukan mobilnya ke kantor milik Papanya. Wanita itu langsung memarkirkan mobilnya tepat di parkiran mobil khusus petinggi perusahaan. Baru saja Mauren keluar dan menutup pintu mobilnya, dari kejauhan, terlihat Aulia berjalan ke arahnya. Mauren menatap Gadis itu dengan mata malas. Dia tidak memperdulikan Aulia sama sekali. Mauren langsung mengayunkan langkah kakinya ke arah gedung perusahaan.
Sedangkan Aulia yang melihat itu melebarkan langkahnya. "Mauren, tunggu!"teriak Aulia.
__ADS_1
Mauren menghentikan langkahnya. "Ada apa? tanya Mauren dengan nada malas.
"Aku tahu, kamu tidak perlu berbohong. pasti kamu yang merencanakan supaya aku dan Bimbim ketangkap basah saat aku makan malam di restoran itu kan?"tuduh Aulia.
"Eh, Aulia. kalau ngomong jangan asal ya, kamu Jangan asal menuduh orang. sampai sekarang, Aku saja tidak tahu kalian makan malam di mana."
"Elllah, bilang aja kamu cemburu kepadaku. karena Bimbim tidak mencintai kamu walaupun Bimbim suami kamu. Bimbim itu sangat mencintaiku, seharusnya kamu sadar itu. Jadi kamu jangan berbohong kepadaku, aku tahu pasti kamu yang memberitahu kepada papa kamu."tuduh Aulia kembali.
"Terserah kamu mau ngomong apa, kamu mau percaya atau tidak kepadaku. itu bukan urusan aku."ucap Mauren sambil langsung meninggalkan wanita itu di sana. Aulia yang merasa kesal, tiba-tiba saja mendorong tubuh Mauren hingga jatuh dari tangga menuju memasuki kantor. petugas keamanan yang melihat itu langsung berlari ke arah Mauren.
Sedangkan Arga yang Baru saja datang melihat dengan jelas Aulia mendorong Mauren hingga Mauren terjatuh ke tanah yang dilapis dengan paving block. pria itu juga berlari ke arah Mauren.
"Non Mauren, non tidak apa-apa?"Arga membantu Mauren beladiri.
Mauren memperlihatkan telapak tangannya yang luka akibat terkena batu kerikil halus. bagian lutut Mauren juga sakit dan mengeluarkan darah segar.
"Kamu karyawan baru yang bernama Aulia itu kan?"tanya Arga geram.
"I..iya Pak "Aulia tertunduk takut.
"lancang sekali kamu, berani sekali kamu mendorong anak dari pemilik perusahaan tempat kamu bekerja."
"Maafkan saya pak, saya tidak sengaja."ucap Aulia.
"Tidak sengaja kata kamu? saya melihat sendiri kamu dengan sengaja mendorong non Mauren hingga non Mauren jatuh ketika keberadaan non Mauren sudah berjalan melangkah masuk, dandan Mauren terjatuh."sahut Arga.
Atalia yang kebetulan juga baru datang langsung menghampiri Mauren. "Ibu Maureen kenapa?"tanya Atalia khawatir.
"Atalia, kamu bantu dan Mauren berjalan!"perintah Arga.
"Iya pak Arga."Atalia lalu memegang lengan Mauren yang saat ini berjalan sedikit pincang.
"Mauren, sebaiknya kamu tidak usah bekerja dulu kalau kondisi kamu seperti ini, pakaian kamu juga sudah kotor."ujar Atalia sambil berjalan merangkul dengan Mauren menuju teras perusahaan.
"Aku baik-baik saja kok dia, di ruanganku kebetulan ada pakaian ganti."sahut Mauren.
"Kamu kenapa bisa kalah sama Aulia sih?"Atalia merasa heran, sebab biasanya Mauren tidak pernah kalah saat berkelahi.
__ADS_1
"Dia tiba-tiba saja mendorong aku saat aku sudah membalikkan badan Atalia. posisinya kan dia di belakang aku. Aku tidak ada kesiapan untuk menghindar. Aku tidak menyangka saja, di perusahaan ini dia berani berbuat seperti itu. itu kan sama saja dia bunuh diri." Atalia mengangguk membenarkan penuturan sahabatnya.
bersambung....