
Setelah selesai melakukan ritual mandinya, Pak Richard langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang king size yang sudah lama menemani tidurnya selama ini.
Netra pria itu menatap arah ke langit-langit kamarnya. Ingatannya kembali membawanya pada kejadian malam itu. Kejadian dimana dia untuk pertama kalinya melakukan kontak fisik seperti itu dengan seorang wanita.
Sebuah rasa yang sampai saat ini belum hilang dari ingatannya. Rasa yang seharusnya dia dapatkan saat dia menikah nanti. Namun, malam itu memaksanya untuk merasakan rasa itu lebih awal dari yang seharusnya.
Pak Richard lalu memejamkan matanya. Dia bertekad dalam hatinya akan mengakui perbuatannya pada wanita itu saat libur semester selesai.
Saat ini nyonya Alena dan ayahnya Tuan Nicholas sudah duduk di kursi meja makan, keduanya sedang menunggu kedatangan anaknya untuk makan malam bersama.
"Mom, anak-anak ngapain aja sih mereka di kamar? Papi sudah lapar banget nih."
"Tunggu sebentar lagi Papi, Mami akan suruh Bibi untuk memanggil mereka."
"Bi....Bibi..."nyonya Alena memanggil salah satu asisten rumah tangganya.
dan asisten rumah tangga itu langsung menghampiri sang majikan. "Iya Nyonya, ada yang bisa Bibi bantu?"
"Bi, tolong ke atas ya panggilin Mia dan Richard. Bilang sama mereka ditunggu di ruang makan perintah Nyonya Alena.
Wanita paruh baya itu langsung mengangguk. "Baik nyonya, kalau begitu saya ke atas dulu."pamitnya lalu berbalik dan melangkah keluar ruang makan itu.
Saat sudah memanggil Mia, kini wanita itu berjalan ke arah kamar Richard.
Tok ...
Tok ...
Tok...
Asisten rumah tangga itu mengatup pintu kamar Richard.
Richard yang masih berada dalam lamunannya ketika kembali tersadar.
Pria itu langsung menyibak selimutnya dan langsung turun dari ranjang untuk segera membuka pintu kamar.
Ceklek!
sekali hentakan pintu kamar terbuka oleh Richard.
Pria itu membuka sedikit daun pintu kamarnya hanya bagian kepalanya saja yang dia tunjukkan pada lawan bicaranya. Karena saat ini pria itu hanya mengenakan celana pendek, sedangkan bagian dadanya dia biarkan terbuka.
"Ada apa, Bi?
"Maaf Tuan, Tuan Richard ditunggu Nyonya sama Tuan besar di ruang makan untuk segera makan malam."
__ADS_1
"Baik Bi, Terimakasih. Saya akan segera menyusul ke sana."ucap Richard lalu Richard menutup kembali daun pintu kamarnya. sedangkan asisten rumah tangga itu langsung turun kembali ke lantai bawah.
Pria itu langsung melangkah ke arah lemarinya.Dia mengambil baju kaos oblong berwarna putih dan langsung memakainya.
Di ruang makan, terlihat Mia baru sampai di ruangan itu. Wanita itu langsung menarik kursi yang memang biasa ditempati di meja makan.
"Kakak kamu ke mana Mia?" tanya wanita paruh baya itu sambil tangannya mengambilkan nasi ke piring suaminya.
"Nggak tahu Mom, masih di kamarnya kali." sahutnya, Matanya fokus pada makanan yang ada di depannya.
Tak berselang lama Richard masuk ke dalam ruangan itu, dia pun langsung mengambil tempat duduk.
"Gimana acara persami kemarin nak?" tanya Tuan Nicholas.
Richard yang akan menyuap makanan ke dalam mulutnya itu berhenti sejenak.
"Lancar Pi."
"Tapi, kata Mami kamu ada mahasiswi yang pingsan.
"Uhuk uhuk uhuk" Richard tersendat saat baru sadar mengunyah makanannya.
Mami Alena langsung menyodorkan gelas kehadapan Richard "Minum nak."
"Ayah kebiasaan, tiap makan pasti ngobrol!! Nyonya Alena memarahi suaminya.
"Kalau Ayah nggak ngomong di sini, terus di mana lagi? kalian berdua tiap habis makan langsung kembali masuk ke kamar."
"Sudah....sudah, selesaikan makannya dulu baru ngomong lagi."Nyonya Alena mengakhiri perdebatan ayah dan anak itu. Sementara Richard hanya diam. Pria itu kembali teringat dengan Dora.
Setelah menyelesaikan makanannya pria paruh baya itu langsung beranjak dari tempat duduknya.
Richard nanti selesai makan temui Ayah di ruang kerja.
"Iya Ayah."
****
Sementara di rumah Dora, saat ini keluarga Bernando Antonius juga sedang menyantap makan malamnya. Terlihat Dora yang hanya mengaduk-aduk makanannya saja tanpa ingin memakannya.
Sebelumnya Dora sudah bilang pada Mamanya bahwa dia tidak ingin makan. Namun, wanita yang melahirkannya itu terus memaksa hingga akhirnya Dora duduk di ruang makan ini.
"Dora, kok nggak dimakan? ini kan ayam adobo kesukaan kamu."
"Dora lagi Nggak selera makan Ma."
__ADS_1
"Kamu sakit ya Dora ?nah, kan sudah aku bilang tempat di sana itu tidak cocok untuk tubuh kamu. Antonius ikut menimpali.
"Antonius! Papa Bernando langsung menggelengkan kepalanya saat Antonius menatap ke arahnya.
Dora kemudian berdiri. "Dora duluan ke kamar ya, Dora lagi nggak ingin makan."pamit Dora lantas dia langsung keluar dari ruang makan dan menaiki tangga.
Ketiga orang yang berada di ruang makan itu langsung bertatapan. Masing-masing dari mereka menyimpan sebuah pertanyaan.
"Kenapa sih Ma, tumben banget dia begitu? biasanya dia yang selalu bikin rame ruang makan ini." tanya Antonius penasaran.
"Mama juga nggak tahu, mungkin dia lagi capek, atau kurang enak badan juga."
Saat tiba di dalam kamarnya, Dora langsung mengunci pintu kamar. Saat ini dia ingin sendiri dulu, tidak ingin diganggu siapa-siapa.
Setelah mengunci pintu kamarnya Dora langsung menaiki ranjang. Dia duduk di atas ranjang itu, kakinya dia lipat naik ke atas, lalu kedua tangannya dia tumpukan di atas lututnya. Setelah itu wajahnya diletakkan pada lengannya.
Air matanya kini kembali tumpah. Dia selalu teringat dengan kejadian malam itu.
Ponsel yang ada di atas nakas dari tadi mengeluarkan bunyi notifikasi. Namun, diabaikan begitu saja.
Amor dan Moresette yang sejak tadi menanyakan kabar di grup, tidak mendapatkan jawaban. Bagaimana Dora mau menjawab? Dia saja tidak membuka obrolan di group itu.
Di tempat lain, di sebuah ruang kerja yang berukuran lumayan besar itu, seorang ayah dan anak sedang berbicara serius. Terlihat di atas meja kerja itu ada dua cangkir kopi yang baru saja diletakkan oleh asisten rumah tangga.
"Richard, kamu kan, sekarang lagi libur ngajar? jadi ayah harap selama libur ngajar kamu datang ke perusahaan untuk membantu pekerjaan ayah. Karena biar bagaimanapun perusahaan cepat atau lambat akan dipimpin oleh kamu, nak." ucap pria paruh baya itu sambil sesekali menyesap kopi panas yang ada di depannya.
"Iya Ayah, tapi lusa ya.bKarena besok aku mau istirahat di rumah."
"Richard, kamu sampai kapan menekuni profesi dosenmu itu? Ayah sudah capek nak, bekerja. Seharusnya kamu sudah menggantikan posisi ayah memimpin perusahaan. Siapa tahu nanti perusahaan kita akan menjadi perusahaan besar di bawah kepemimpinan kamu nak."
"Aku masih belum tahu Ayah, Aku masih belum ada keinginan untuk menggantikan posisi Ayah. Aku juga tidak memiliki Basic untuk memimpin perusahaan.
"Tapi kamu anak laki-laki Ayah satu-satunya. jadi sudah pasti kamu yang akan menggantikan posisi ayah.
"Anak ayah kan bukan aku saja. Masih ada Mia, dia pasti bisa memimpin perusahaan."
"Richard, Adik kamu itu perempuan. Seorang perempuan itu kalau sudah menikah pasti waktunya akan lebih banyak di rumah. Jadi yang lebih tepat itu kamu, bukan Mia.
"Sudah Ayah, aku mau ke kamar dulu. Aku malas membahas masalah ini." pamitnya setelah meminum setengah dari secangkir kopi itu tadi.
Tuan Nicholas menghela nafas lagi-lagi dia gagal membujuk anaknya untuk bergabung di perusahaannya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"