Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 159. RESEPSI MAUREN DAN BIMBIM


__ADS_3

Sore harinya kakek Mario membesuk ke rumah sakit. Pria tua yang berjalan menggunakan tongkat itu nampak tersenyum sumringah menatap ke arah anak dan cucunya. Di dalam hati pria itu dia sangat bersyukur sekali cucunya tidak jadi menikah dengan Mauren.


"Sudah! tidak usah bersedih Mario, nanti kakak carikan gadis yang lebih dari dia. Belum menikah saja dia sudah membawa kesialan dalam hidup kamu.'


"Kakek!"pekik Mario, Baru kali ini dia meninggikan suaranya pada kakek yang selama ini sangat dihormati.


"Berani ya kamu sekarang membentak kakek."


"Pa! sudah sudah! lebih baik Papa pulang saja. Mario baru saja mendapat musibah, bukannya datang untuk menghiburnya, tapi malas sebaliknya."ucap ayahnya Mario membawa orang tuanya keluar ruangan.


Jam tujuh malam, acara resepsi digelar di ballroom hotel bintang 5 milik Cornel, yang mana hotel itu sekarang dikelola oleh Bastian. semua dekorasi berupa foto ataupun nama yang masih ada hubungannya dengan Mario terpaksa dicopot.


 Terlihat Mauren dan Bimbim sudah berdiri di panggung pelaminan. di sisi kiri dan kanan kedua mempelai sudah berdiri orang tua masing-masing. Tuan Bernando dan Tuan Nicholas duduk di kursi paling depan sebelah kiri bersama pasangannya masing-masing.


Di depan mereka duduk ada meja bundar yang di atasnya terdapat hidangan cuci mulut berupa kue, buah-buahan dan minuman sirup hangat.


Tak jauh dari mereka ada orang tua Fernando dan orang tua Risma, yang ikut menyaksikan pernikahan cucu mereka. Karena pernikahan ini sifatnya mendadak, maka Risma tidak bisa menghadiri acara resepsi malam ini. Sebab wanita itu kini tinggal di kampung neneknya, hidup bahagia dengan suami dan dua orang anaknya.


Ya, Risma sekarang sudah memiliki dua orang anak. Anak hasil hubungan gelapnya dengan Rehan dan anak hasil pernikahannya dengan suami almarhum sepupunya.


Nampak Afrian datang bersama istri dan dua orang anaknya yang sekarang sudah duduk di kelas 1 SMA. Adelio dan Adelia, kalian boleh ambil makanan di sana. Papa sama Mama mau bergabung dengan om Cornel."

__ADS_1


"Iya,Pa,"sahut Adelia sedangkan Adelio, sudah mengayunkan langkahnya menuju meja prasmanan. anak remaja itu mengambil beberapa hidangan dan membuatnya ke dalam piringnya lalu dia ikut bergabung kemeja anak kembar Amor.


"Hai, Boleh gabung nggak nih?"Adelio bertanya dengan wajah dibuat cool. Aurel dan aurelia hanya menatap malas ke arah Adelio.


Suasana di depan panggung lebih banyak diisi oleh sahabat dan kerabat dekat. kebetulan di meja Moresette dan Kornel masih ada dua kursi kosong, sehingga Mia dan Afrian masih bisa duduk di sana . Setelah keduanya duduk, pandangan mereka tertuju pada kedua mempelai.


"Serasi sekali ya mereka. yang satu cantik yang satu tampan. Cuma sayang sekali keduanya nikah secara terpaksa. makanya wajah keduanya tidak ada senyum sama sekali. Tidak seperti orang tuanya, nampak bahagia sekali karena mereka sekarang sudah menjadi besan," tutur Moresette.


"Iya, Kak. semoga kedepannya mereka bisa saling mencintai. "harap Mia.


"Oh iya Bastian mana? tinggal Bastian aja lagi yang belum nikah,"imbuh Mia


"Nggak tau juga ke mana dia. tadi katanya mau ke ruangannya sebentar, tapi sampai sekarang masih belum kembali. heran juga aku sama tuh anak. Sampai sekarang aku belum pernah melihat dia menggandeng seorang wanita. Padahal kata Kak Cornel, di hotel ini banyak sekali yang cantik-cantik dan berharap dijadikan istri oleh Bastian. Tapi sepertinya Bastian tidak tertarik pada mereka.


Banyak yang bertanya-tanya ke mana Mario sehingga mempelai pria digantikan oleh Bimbim. Tak sedikit dari mereka langsung mengirim pesan kepada Mario, namun nomor ponsel pria itu sampai sekarang masih belum aktif.


Mauren sengaja malam ini tidak mengundang yang rusuh seperti Arini dan juga Sarah. sebab kedua orang itu adalah musuh Mauren, yang mana keduanya sering mengganggu Mauren saat di kampus.


Meskipun Sarah tidak diundang, tapi malam ini Sarah tetap datang ke acara resepsi Mauren. Gadis itu datang bersama dengan papanya, yang merupakan salah satu rekan bisnis Tuan Bernando.


Gadis itu terkejut saat melihat Bimbim berdiri di samping Mauren sebagai mempelai pria. batunya bertanya ke mana Aulia? Sarah lalu diam-diam mengambil foto Bimbim dan Maureen dan mengirimkannya pada seseorang.

__ADS_1


****


Beberapa menit sebelum acara dimulai, Bastian melihat ke arah ballroom hotel. dia melihat dekorasi ruangan di tempat itu, sebagian di tata ulang. Cornel dan Moresette datang bersama putrinya. Mereka datang lebih awal karena Cornel ingin sekalian melihat hotelnya yang sudah beberapa bulan terakhir ini tidak dia kunjungi. Karena hotel ini sudah diserahkan pengelolanya pada Bastian.


Beberapa saat kemudian, rombongan keluarga Mauren dan Bimbim sudah datang ke hotel. Cornel beserta istri dan Santi adik Bastian ingin bergabung dengan para sahabat.


"Yuk Bastian, kita ke sana! itu Mauren dan Bimbim sudah datang," ajak Moresette.


"Mama duluan aja. masih ada yang ingin aku kerjakan di ruangan aku."setelah mengucapkan itu, Bastian melangkah ke arah lift. dia naik ke lantai paling atas, lantai tempat ruang kerja dan kamar pribadinya.


Setelah masuk ke dalam ruangannya, Bastian bukannya menuju meja kerjanya, melainkan dia masuk ke dalam kamar pribadinya. dia hempaskan tubuhnya di kasur empuk itu. lengan kanannya dia letakkan di atas keningnya, mata pria itu terpejam rapat.


"Mauren, Apakah rasa yang sudah lama berakar di dalam hati ini harus aku hilangkan? hari ini kamu sudah menjadi milik Bimbim. tangan ini sudah tak bisa menggapaimu lagi Mauren, kenapa kita tidak ditakdirkan berjodoh? apa aku tidak pantas mendampingi dirimu, menjaga kamu yang kena di ini tak lagi berdenyut?"Bastian larut dalam lamunannya.


Sementara itu di rumah Mario. Sejak pulang dari rumah sakit beberapa jam yang lalu, Mario mengurung diri di dalam kamarnya. mata pria itu menatap ke arah benda bulat yang terpasang di dinding kamarnya. Jam menunjukkan di angka tujuh. Itu artinya Mauren dan Bimbim saat ini sudah bersanding di pelaminan.


Satu setengah tahun lamanya dia menunggu momen seperti ini. Tapi kenapa saya tinggal selangkah lagi dia bersatu dengan Mauren, justru mendapat musibah seperti tadi pagi.


Pria itu sempat berpikir, Apakah semua ini karena pihak keluarga besar ayahnya tidak memberikan Restu kepadanya untuk menikahi Mauren? Entahlah, yang pasti Mario sangat menyesalkan kejadian tadi pagi. karena aneh saja menurutnya, tiba-tiba sebuah truk menabrak mobil yang ditumpanginya. Mario memegang kepalanya yang masih dililit perban, karena mendadak sakit akibat terlalu banyak berpikir keras.


Bersambung....

__ADS_1


sambil menunggu karya ini update kembali silakan mampir ke karya teman Emak.



__ADS_2