
Satu minggu kemudian setelah pulang kerja, Bimbim menemui Aulia pergi ke membeli kebutuhan Gadis itu untuk bekerja besok. Setelah membeli beberapa style pakaian kerja, dia juga minta dibelikan sepatu dan juga tas kerja.
"Sayang, tas dan sepatu kamu kan sudah banyak."mimpi mulai merasa keberatan.
"Bim, tas dan sepatu itu kan untuk aku jalan-jalan bukan untuk bekerja."
"Tapi aku lihat karyawan di kantor papa, mereka pakai tas dan sepatu yang modelnya seperti punya kamu itu."
"Bim, ayolah beli satu aja."bujuk Aulia lagi.
Bimbim membuang nafas kasar. Dia tadi pagi baru saja disemprot oleh Papanya karena meminta uang lagi. Dia kembali teringat omelan Papanya saat di dalam ruangannya tadi pagi.
"Bimo, pengeluaran kamu saat mau jalan kemarin sudah begitu banyak. Padahal kata mama kamu, Mauren pulang hanya bawa satu koper, dan satu paper bag berisi makanan saja. Kalau memang Mauren belanja menghabiskan uang kamu sebanyak itu, tidak mungkin barang bawaannya cuman segitu. Apa ada yang kamu sembunyikan dari papa?"
"Ti....Tidak ada Pa."
"Terus kenapa hari ini kamu meminta uang lagi pada papa? bukankah gaji kami di kantor sudah Papa naikkan sejak kamu menikah? itu harusnya sudah cukup untuk kebutuhan kamu satu bulan ke depan!" cecar Fernando.
Bimbim bingung mau jawab apa lagi. "Ya sudah kalau Papa tidak mau ngasih."
Aulia yang merasa ucapannya tidak ditanggapi oleh Bimbim itu, dia memukul pelan dengan Bimbim. "Bim, Kok diam?"
Bimbim kembali tersadar. "Aulia kita lebih baik pulang saja. Kamu cukup beli baju kerja saja. Untuk sepatu dan tas, kamu pakai yang ada dulu."
"Kenapa Bim? kok kamu sekarang perhitungan banget sama aku?"
"Ini bukan masalah perhitungan Aulia, papa aku sudah curiga, karena pengeluaran aku sudah sangat banyak. Dan kamu pasti tahu itu."
Aulia tidak berani membantah Bimbim lagi. sebab dia aku memang dirinya sudah banyak menghabiskan uang Bimbim.
Keesokan harinya, Aulia sudah resmi menjadi karyawan di perusahaan Tuan Nicholas. Hari ini adalah hari pertama bekerja. jam 08.00 Aulia datang dan langsung memarkirkan motornya di tempat parkiran roda dua. Tak lama setelah itu Atalia juga datang dan langsung memarkirkan motornya di tempat itu juga.
"Kamu bekerja di sini juga?"Aulia terkejut.
Atalia pun tak kalah terkejut. "seharusnya yang bertanya seperti itu aku, sebab kamu pasti baru hari ini kan bekerja di sini?"
Aulia tidak menyahut, Gadis itu langsung melengos pergi meninggalkan Atalia.
Aulia masuk ke dalam kantor itu, dia langsung diarahkan ke mejanya, sebuah ruangan.
Di ruangan Mauren, saat ini Atalia sedang berada di sana. Atalia yang bekerja sebagai sekretaris Mauren itu membuat dia bisa lebih leluasa bertemu dengan Mauren. sama seperti siang ini, setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia masuk ke ruangan Mauren.
"Mauren, Apa kamu sudah tahu kalau Aulia bekerja di kantor ini?"
__ADS_1
"Apa? yang bener kamu?
"Iya."
"Semoga saja ya dia tidak membuat ulah di kantor ini."ucap Mauren. wanita itu lalu melihat ke arah jam tangannya. "tinggal beberapa menit lagi istirahat. kita makan siang di kantin aja ya, aku harus hari ini malas makan di luar."
"Apa kamu mau aku bawakan makanan ke ruangan ini?"tawar Atalia
"Nggak Lia, Aku mau makan di kantin saja. makanan yang berkuah kuah lebih enak langsung makan di tempatnya." Mauren beranjak berdiri dari tempatnya.
Atalia lalu mengikuti langkah Mauren menuju lift. keduanya turun menggunakan lift khusus CEO. hanya Mauren, Atalia, Arga dan Richard yang boleh menggunakan lift itu.
Saat sampai di kantin, Mauren dan Atalia langsung mengambil tempat duduk. semua orang menunduk hormat pada Mauren, kecuali Aulia. Gadis itu terperangan saat melihat Mauren juga ada di kantor ini.
"Kenapa Mauren kerja di sini juga?"ucapnya dengan suara lirih, tapi masih bisa didengar oleh gadis yang duduk di sampingnya.
"Kamu jangan panggil Ibu Maureen dengan nama saja, itu tidak hormat."Gadis itu memperingatkan Aulia..
"Memangnya kenapa?"
"Ibu Mauren itu putri dari pemilik perusahaan ini,"jawabnya dengan suara lirih.
"Apa!"pekik Aulia. membuat perhatian orang-orang sekitarnya menatap kerahnya.
Aulia jadi salah tingkah ditatap oleh beberapa pasang mata.
"Siapa itu yang berteriak?" tanya Mauren yang pura-pura tidak tahu.
"karyawan baru di sini Bu, namanya Aulia."salah satu karyawan yang mejanya bersebelahan dengan Mauren.
"Kerja di bagian apa dia?"
"Marketing Bu."
Mauren manggut-manggut. Sementara Aulia, dia tidak berani bersuara lagi.
Ketika sudah sampai di tempat kost, Aulia mencoba menghubungi Bimbim.
Kring...Kring...Kring...."
"Hello Aulia."
"Bim, kamu kok kemarin tidak bilang Kalau tempat aku bekerja itu punya Papanya Mauren?"omel Aulia.
__ADS_1
"Kemarin aku mau bilang, tapi takut menghancurkan harapan kamu. dan juga saat itu Mauren memang belum bekerja di sana. jadi menurut aku, kamu tidak masalah bekerja disana."
"Itu buktinya dia bekerja."
"Dia baru beberapa hari bekerja."
"Aku rasa mau berhenti saja bekerja di sini."
"Loh kenapa? apa dia mengganggumu?"
"Tidak, hanya saja aku tidak terima saja. Dia sepertinya menganggap rendah pekerjaan aku."
"Masa sih Mauren gitu?"jawab bimbing tidak percaya.
"Kamu ini dibilangin tidak percaya."
Malam harinya, moren sedang mendesain baju di dalam kamarnya, baju untuk anak-anak remaja seumurannya. Meskipun dia bekerja di kantor Papanya, dia tetap membantu mamanya mendesain baju untuk diperlukan di butik.
"Tok...tok... tok..."pintu kamarnya diketuk. Mauren turun dari ranjangnya.
"Ada apa Bim?"tanya Mauren saat membuka daun pintu kamarnya sejengkal.
"Mauren, Aku mau keluar dulu. mau nongkrong di cafe, lama nggak ngopi dengan Bastian."
"Iya," sahut Mauren singkat, dan pintu itu kembali Dia tutup saat Bimbim melangkah ke arah tangga.
"Kring.... kring...kring..."
Ponsel yang ada di saku celana Bimbim mendapat panggilan telepon. Bimbim mengeluarkan ponsel itu dari sakunya. dilihatnya nama yang tertera di layarnya.
Bimbim Menatap layar itu dengan jengah. ternyata Aulia yang memanggil. pasti Aulia ingin membahas perihal percakapannya tadi sore, tebak Bimbim. Dia kembali teringat percakapannya tadi sore dengan Aulia di telepon.
"Bim, Aku mau lanjut kerja, tapi kamu belikan aku mobil."
"Apa! Aulia jangan kamu pikir papa aku punya uang banyak, lantas aku juga punya uang banyak. aku mendapatkan uang juga dari hasil Aku bekerja di kantor papa."
"Masa kamu nggak bisa minta mobil sama papa kamu, Bim? kan gampang saja, kamu bisa bilang mobil itu untuk Mauren."
"Nggak masuk akal banget kamu!"Bimbim langsung mematikan sambungan teleponnya.
Bimbim males mengangkat telepon dari gadis itu. Ponsel pria itu sekarang sudah dalam mode silent, sudah tiga kali Aulia mencoba menghubungi Bimbim, tapi Bimbim tidak mau menerima panggilan itu.
Setelah masuk ke dalam mobil, bimbi melemparkan ponselnya di atas kursi samping kemudi. Dia Lalu menjalankan mobilnya ke arah Cafe tempat dia dan Bastian biasanya nongkrong.
__ADS_1
Bersambung....