Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 83.KEPERGOK TIGA BOCIL


__ADS_3

Setelah rombongan Richard tiba di taman nasional di Intahanon Chiang Mai, Amor Moresette dan yang lainnya masing-masing berpencar. Ada yang melihat pemandangan yang indah di sana. Ada juga yang menikmati permainan yang disediakan di tempat wisata itu ada juga yang berfoto selfie.


Afrian menarik tangan Mia. Sejak tiba di lokasi air terjun Mae ya, perhatian Afrian sudah tertuju karena air terjun yang tidak jauh dari tempat mereka saat ini.


"Kak, aku mau dibawa ke mana? protes Mia tangannya tiba-tiba ditarik oleh Afrian.


"Ayo ikut Kakak. Kamu pasti akan senang kalau kakak bawa ke tempat itu. Mia Yang penasaran itu langsung berhenti protes. wanita itu pasrah tangannya ditarik oleh Afrian.


Beberapa saat kemudian Afrian menghentikan langkahnya. " Mia, Coba lihat itu." tunjuk Afrian pada sebuah air terjun.


Pandangan mata Mia mengikuti arah tempat yang ditunjuk oleh Afrian.


"Wah.....bagus sekali, Kak."


"Kamu suka?"


"Hmmm...." sahut Mia sambil tersenyum mengangguk.


"Ayo kita turun ke sana!"


Keduanya lalu berjalan mengikuti jalan yang berbatu.


Pegang tangan ngan Kakak Mia. Ini jalannya menurun." seru Afrian yang berjalan di depan Mia.


Mia memegang erat lengan pria itu.


Beberapa saat kemudian, Mia dan Afrian Akhirnya sampai di lokasi air terjun.


Di bawah air terjun yang tingginya sekitar dua belas meter yang terdiri dari beberapa tingkat itu, terdapat telaga kecil yang membuat orang bisa berenang leluasa. Airnya memiliki warna yang jernih. Di sekitar tempat itu terdapat banyak bebatuan besar yang bisa dijadikan pijakan untuk orang menikmati keindahan air terjun.


Air terjun Mae Ya adalah air terjun yang masih jarang terjamah oleh wisatawan. Meski belum terkenal, tempat ini sangat bagus dan mempesona dengan panorama alam yang masih alami.


Air terjun Mai Ya, terletak di taman Nasional Doi inthanon Chiang Mai. Air terjun ini jaraknya kurang lebih 70 km dari pusat kota. Air terjun ini bertingkat-tingkat dengan bentuk seperti anak tangga raksasa yang bagus banget. Di sekeliling air terjun terdapat pepohonan yang rindang menyejukkan suasana pemandangannya kayak lukisan.


Tempat ini juga sangat cocok buat yang mencari ketenangan dan menenangkan sejenak hiruk pikuk di kota dan segala rutinitas. Tak lupa orang penikmat wisata alam seperti ini, mengabadikan kebersamaan mereka dengan berfoto bersama.

__ADS_1


Banyak pemuda-pemudi yang berpasangan datang ke tempat ini. Karena pemandangannya sangatlah indah.


"Kak, fotoin aku." pinta Mia.


Afrian dengan senang hati melakukannya. Dia langsung mengambil ponsel yang ada di saku depan celananya.


"Mia, sebelah sini" Afrian mencoba mengarahkan tempat foto yang bagus untuk Mia.


Beberapa kali Afrian mengambil foto Mia dengan berbagai pose dan tempat yang berbeda. Setelah selesai berfoto, Afrian lalu mengajak Mia duduk di sebuah batu besar yang permukaannya halus.


"Mia, Kakak mau ngomong serius sama kamu. Entah ini yang ke berapa kalinya Kakak menyatakan perasaan Kakak sama kamu. Mia, Kakak sangat mencintai kamu. Sudah bertahun-tahun kakak mencintai kamu. Hingga rasa cinta kakak ini sudah ke dasar yang paling dalam, di lubuk hati kakak. Mia mungkin ini pernyataan cinta kakak yang terakhir untuk kamu. Jika kamu menolak Kakak lagi, kakak tidak tahu lagi Bagaimana menolak perjodohan dari orang tua kakak. Mia, mau nggak kamu menikah dengan kakak menjadi istri Kakak dan menjadi ibu dari anak-anak kakak?


Mia menatap ke arah mata Afrian. Terlihat sekali ketulusan yang terpancar dari mata pria itu. Tidak terlihat kebohongan ataupun main-main dari tatapan mata pria itu.


"Jawab Kakak Mia." mohon Afrian.


"Mia hanya diam. Namun kepalanya mengangguk dan bibirnya tersenyum.


Afrian lalu memegang kedua tangan Mia. Sebuah senyuman lebar terpancar dari wajah pria itu.


Afrian lalu menengadahkan telapak tangan kirinya dan Mia dengan senang hati meletakkan tangan kirinya di telapak tangan kiri Afrian.


Perlahan Afrian memasang cincin itu ke jari manis wanita yang duduk di depannya. Setelah cincin itu terpasang, Afrian mencium tangan itu dengan mata yang terpejam, sambil dalam hatinya mengucapkan syukur pada sang pencipta.


Setelah tangan antara keduanya saling bertaut, terlihat Afrian yang mendekat lalu bergeser memajukan duduknya ke arah Mia. Mata Afrian dan Mia saling berpandangan.


Netra keduanya saling bertabrakan seakan menjadi magnet antar keduanya. Perlahan wajah Afrian mendekat ke arah Mia. Semakin lama semakin dekat. Setelah jarak wajah mereka tinggal hanya beberapa senti, Mia langsung memejamkan matanya.


Melihat Mia memejamkan matanya, bagi Afrian itu sebuah petunjuk lampu hijau. Pria itu lalu membuka sedikit mulutnya, Dan makin mendekat bibirnya ke bibir tipis Mia.


Setelah bibirnya menempel ke bibir Mia, Afrian lalu memejamkan matanya. Dia bersiap membuat bibir wanita itu.


"Om Afriannnn..... Onty Miaaaa...." teriak Mauren, Bimbim, dan Bastian.


Sebelumnya, saat Afrian menarik tangan Mia dari lokasi, di mana penginapan mereka berada, Mauren melihatnya. Anak kecil itu lalu mengajak Bimbim dan Bastian mengikuti Afrian dan Mia. Kebetulan saat anak-anak pergi, semua orang dewasa yang ada di penginapan itu lagi asik berfoto, dan menikmati pemandangan yang indah di sana.

__ADS_1


"Mauren, lebih baik kita kembali saja." usul Bimbim.


"Kamu saja yang kembali Bim, aku sama Mauren cari Om Afrian." sahut Bastian.


"Enggak, aku mau ikut kalian."


"Mauren, kita jalan ke mana? Om Afrian sama Om Mia nggak ada kelihatan.


"Coba kita ke sana." tunjuk Mauren ke arah air terjun. Ketiganya lalu melangkah ke arah air terjun itu.


Bimbim menepuk lengan Mauren. Mauren gimana kalau kita sambil teriak memanggil nama Om Afrian dan Onty Mia? usul Bimbim saat mereka sudah tiba di jalan menuju lokasi air terjun


"Bener Mauren, kalau kita teriak, pasti mereka mencari kita." Bastian ikut menimpali ucapan Bimbim


"Kita lewat jalan ini dulu, baru kita berteriak Panggil Om Afrian dan Onty Mia." ucap Mauren.


Ketiganya lalu berjalan melewati jalan menuju air terjun, saat hampir sampai di lokasi air terjun, Bimbim melihat keberadaan Afrian Mia.


"Mauren, itu Om Afrian dan Onty Mia." tunjuk Bimbim ke arah Afrian dan Mia Yang sebentar lagi akan saling ******* bibir. Posisi punggung Mia membelakangi ketiga anak kecil itu.


"Ayo, kita berteriak panggil mereka." instruksi Bimbim yang langsung mendapat anggukan Mauren dan Bastian.


Bibir Afrian dan Mia saling bertautan. Sebelum sempat Afrian melum@tnya dia dan Mia dikagetkan oleh suara teriakan anak kecil. Afrian dan Mia lalu membuka matanya. Mata keduanya terbelalak karena terkejut. Afrian mengendarkan pandangan ke arah tiga bocah kecil itu. Mia menoleh ke belakang melihat ke arah tiga orang anak kecil yang berdiri di jalan, yang sudah tidak terlalu jauh dari mereka berada.


"Mereka kok tahu kita di sini,Kak?" tanya Mia.


"Kakak juga tidak tahu, Mia." sahut Afrian.


Afrian lalu membantu Mia untuk berdiri.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2