Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 132. MERAWAT ARGA


__ADS_3

Pagi ini Antonius benar-benar menepati janjinya pada Dora bahwa dia akan mengantar Rani ke rumah sakit untuk merawat Arga.


Saat ini pria itu sekarang sudah berada di depan pagar tempat kost Rani. Dia menunggu Rani di dalam mobilnya saja. Nampak Rani keluar dengan mata yang sedikit sembab.


Wanita itu tidak bisa menahan untuk tidak menangis saat tadi pagi Dora memberi kabar bahwa Arga tadi malam tertembak.


Rani membawa tas kecil berisi beberapa potong pakaian. Sebab Dora mengatakan padanya bahwa Rani pasti akan menginap di rumah sakit selama beberapa hari.


Awalnya Dora merasa tidak enak pada Rani. suaminya yang ditolong oleh Arga, tapi Rani yang disuruh bertanggung jawab merawat Arga.


Namun, Dora tahu bahwa Rani pasti tidak akan keberatan melakukannya. Karena dari cara berani menatap harga pada malam itu, sangat terlihat sekali tatapan itu menyiratkan rasa sayang terhadap pria itu.


"Kak, ini aku ada bawa laptop. nanti aku masih bisa sambil bantu kerjaan kakak,"Dodo Rani saat dirinya baru saja masuk ke dalam mobil Antonius.


"Aku beri waktu kamu paling lama satu minggu untuk merawat Arga. setelah itu tidak ada libur lagi."


"Iya kak."


***


Di rumah sakit, Nyonya Alena baru saja tiba di ruang rawat inap Arga. Dia membawa sarapan untuk Richard dan juga Arga.


wanita paruh baya itu juga membawa aneka macam jenis roti dan kue bolu. Sebelum ke rumah sakit, Nyonya Alena terlebih dahulu mampir ke toko kue miliknya mengambil beberapa kue untuk Arga.


"Nak, lebih baik kamu pulang sekarang. dari tadi malam kamu belum ada istirahat."ucap Nyonya Alena pada putranya Richard.


"Tapi Ma"sanggah Richard.


"Mama akan menggantikan kamu menjaga Arga. lagi pula Ra..."Nyonya Alena menghentikan ucapannya. Hampir saja wanita paruh baya itu keceplosan. dia ingin memberi harga kejutan dengan kedatangan Rani pagi ini.


"lagi pula apa Ma?"Richard penasaran.

__ADS_1


"Enggak apa-apa!"


"Tuan, nyonya, saya nggak apa-apa kok ditinggal sendiri. nanti ada perawat juga yang akan membantu saya di sini."Arga merasa tidak enak merepotkan Richard dan nyonya Alena.


"Enggak, nggak ada yang direpotkan Nak. kami malah senang bisa membantu merawat kamu."


"Iya, masih ada Papa yang handle perusahaan. Jadi tidak masalah kalau aku menjaga kamu di sini."Richard ikut menimpali.


"Tapi Tuan, pekerjaan di kantor lagi banyak-banyaknya. Sekarang kita lagi persiapan untuk proses pengerjaan proyek yang baru kita menangkan."


"Sudah, gak usah mikirin pekerjaan! lebih baik kamu fokus pada kesembuhan kamu saja."Richard menyahuti.


Obrolan ketiganya berhenti saat terdengar suara pintu diketuk. Richard bergegas membuka pintu.


"Assalamualaikum."Rani memberi salam.


"Waalaikumsalam."sahut orang yang ada di dalam kamar rawat inap itu.


"Masuk, Kak Nius, Rani !"seru Richard.


Kedua orang yang baru datang itu melangkah masuk. Saat masih berada di ambang pintu, tatapan mata Rani tak putus menatap karya pria yang sedang berbaring di atas branker.


Begitu juga dengan Arga, matanya menatap lekat ke arah gadis yang sudah mengisi relung hatinya sejak lama. Keduanya saling beradu pandang.


"Ehem!"Nyonya Alena sengaja berdehem untuk memutuskan pandangan keduanya.


"Arga, Rani sengaja datang ke sini untuk merawat mu selama kamu masih sakit."ucap Nyonya Alena.


Arga menautkan kedua alisnya. Dalam hatinya, bukankah Rani bekerja di perusahaan Tuan Bernando. Bagaimana mungkin Rani bisa membantu merawatnya?


"Dora sengaja mengirim Rani ke sini untuk menggantikan Richard merawat kamu. sebab Richard tidak bisa 24 jam menjaga kamu di sini. Kerjaan di kantor juga lagi banyak-banyaknya."tutur Nyonya Alena menjelaskan.

__ADS_1


"Iya kak. apa Kakak merasa keberatan?"tanya Rani.


"Eh, enggak! enggak sama sekali,"sahur Arga cepat.


"Namun, bagaimana dengan pekerjaan kamu Ran?"mata Arga yang awalnya menatap Rani kini berpindah menatap Antonius. seolah meminta penjelasan dari pria itu.


"Perusahaan mengizinkan Rani membantu merawat kamu di sini paling lama satu minggu,"jawab Antonius dengan tegas.


Nyonya Alena tersenyum, "Ya sudah, kalau begitu kami pulang dulu ya,"ucap Nyonya Alena.


"Ayo Richard. Kita pulang!"Nyonya Alena meraih tangan Richard agar segera keluar dari ruangan itu. Sementara Antonius juga berjalan mengikuti ibu dan anak itu.


Kini di ruangan itu hanya tinggal Arga dan Rani. Keduanya saling terdiam.


Mata Rani melirik ke arah makanan yang ada di atas nafas samping branker pasien. "Kakak sudah makan belum?"Rani berusaha memecahkan kecanggungan."


"Sudah Ran."


"Kakak kalau mau apa-apa bilang sama aku. jangan sungkan!"ucap Rani sambil tersenyum.


Arga tersenyum. "Kakak mau roti itu Ran."matanya menatap ke arah nakas.


"Yang ini kak?" kangen Rani menunjuk pada bulu gulung rasa pandan yang sudah diiris.


Arga mengangguk. Rani lalu mengambil kue bolu itu dan menyerahkan pada Arga. "Kakak nggak bisa makan sendiri Ran. tadi juga Kakak disuapi oleh Nyonya Alena." kilah Arga.


Kemudian Rani membuka bungkus plastik pada kue itu, dan membantunya menyuapi kue itu. Kue itu Rani tempelkan ke mulut Arga.


Arga memegang tangan Rani yang memegang kue. mulutnya sambil menggigit bolu itu. Pandangan matanya beradu pandang dengan mata Rani.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2