
Saat ini Mauren dan Bastian sedang menikmati pemandangan air terjun Erawan. mereka duduk di sebuah pondok yang disediakan di sana. Pondok itu tidak jauh dari air terjun. Di sana juga disediakan makanan dan minuman khas bangkok.
Dari tadi Bastian menatap lengkap ke arah kekasihnya. Kedua sudut bibir pria itu dari tadi selalu terangkat ke atas. Bagi pria itu, pemandangan yang ada di sekitar tempat itu masih kalah indah dengan keindahan gadis yang duduk di depannya. Tak bisa dipungkiri, dia hari ini sangat bahagia sekali. walaupun ini bukan yang pertama dia jalan berdua dengan Mauren. Namun, kali ini rasanya sangat berbeda dari sebelumnya.
Kalau dulu jarak dia dengan Mauren masih ada semacam dinding tebal. Sekarang dinding itu berubah sangat tipis, bahkan berubah menjadi transparan. Kini Bastian sudah bisa membedakan, Bagaimana rasanya jalan dengan sahabat dan bagaimana rasanya jalan dengan pacar.
Bastian jadi penasaran bagaimana nanti jika dia jalan dengan Mauren namun dengan status sebagai istri, pasti akan jauh lebih menyenangkan dan romantis dari hari ini. sebab Dia bisa dengan bebas merangkul istrinya bahkan lebih dari itu.
"Kak..."Mauren mencoba membuyarkan lamunan Bastian.
"Eh, iya sayang." sahut Bastian dengan sedikit gelagapan.
"Kakak dari tadi menatap aku sambil senyum-senyum gitu? Kakak lagi mikirin apa?"
"Kakak tadi mikir, jalan sama kamu dengan status kita yang sekarang saja rasanya sangat menyenangkan, Bagaimana rasanya jalan sama kamu dengan status sudah menikah. Pasti akan lebih seru dan menyenangkan."jawab Bastian.
Tangan kanannya lalu meraih tangan Mauren, dan mencium tangan itu sebentar. Setelah menurunkan kembali tangan itu, Bastian enggan melepaskannya. Dia terus menangkup tangan itu sambil mengobrol dengan Mauren. Andai saja pelayan belum datang, pasti Bastian belum membebaskan tangan itu.
"Kak Bastian kok romantis banget. dulu kak Mario tidak seromantis ini." batin mau, dia mulai membanding-bandingkan Bastian dengan Mario.
Sementara di tempat lain, tepatnya, di pondok yang ditempati oleh Sarah dan juga Arini. mereka kedatangan seorang pelayan yang membawa nampan berisi menu makanan pesanan mereka.
"Arini, masker kamu jangan dilepas!" Sarah melotot ke arah Arini.
"Kalau nggak dilepas gimana mau makan dan minum?"
"Arini, dengar ya aku pesan ini untuk formalitas saja, agar mereka tidak curiga pada kita."
__ADS_1
"Tapi kan ini makanan dan minumannya sangat mahal, jadi sayang Kalau tidak dimakan dan diminum."
"Kamu nggak usah protes, bukan kamu juga yang bayar."omel Sarah dengan suara lirih.
"Arini Kamu lihat sendiri kan, lelaki itu tadi memegang dan mencium tangan Mauren?"
"Iya, tentu saja aku melihatnya. adegan seperti itu harus diabadikan."
"Aku juga berhasil mengambil foto dan video saat lelaki itu mencium tangan." sahut Sarah.
"Sarah, Kita kan sudah dapat beberapa foto mereka, lebih baik kita menghindar dari sini daripada keburu dilihat mereka."ujar hari ini.
Arini menatap Sarah dengan mata malas. karena Sarah tak kunjung beranjak dari sana. meskipun yang berada di sana bukan Bimbim, tetap saja ada rasa tidak suka di hati hari ini saat melihat Mauren dicintai oleh laki-laki. Gadis itu tidak suka melihat Mauren hidup bahagia.
"lihat saja Mauren, aku akan menghancurkan hidup kamu. Aku akan membuat semua laki-laki di dunia ini membenci kamu. Aku tidak akan membiarkan kamu hidup bahagia dengan Bimbim, Bastian, ataupun Mario."batin Arini.
Arini semakin geram saat melihat Bastian memperlakukan Mauren begitu hangat. Di hatinya sejak dulu sudah tertanam kebencian terhadap Mauren. Dia iri dengan semua yang dimiliki oleh Maureen. Maka dari itulah dia sangat terobsesi sekali ingin menghancurkan kehidupan Mauren. Sama seperti tantenya Irene yang dulu menghancurkan kehidupan Dora. Karena Dora dicintai oleh dosennya sendiri, tetapi sang dosen sama sekali tidak meliriknya.
Tangan hari ini menghafal erat saat melihat Bastian ingin meletakkan paha ayam kepikir ke piring Mauren. Namun, Mauren mencegahnya.
"Kak, sudah! cukup! nanti aku kekenyangan malah nggak bisa jalan."
"Kalau nggak bisa jalan, nanti kakak gendong."sahut Bastian sambil tersenyum.
Arini semakin muak saja melihat Mauren dan Bastian saling bercanda. Dia rasanya ingin menjauh saja dari tempat itu.
"Sarah, kita pergi saja yuk. Ngapain juga kita nonton orang yang lagi pacaran. Bikin kesal aja."
__ADS_1
"Heh... Arini, mereka itu bukan pacaran biasa, tapi ini selingkuh. Makanya aku mau lihat sejauh apa perselingkuhan mereka. Bimbim kalau sampai tahu, dia pasti bakalan menceraikan Mauren."ucap Sarah yang belum mengetahui kalau Mauren dan Bimbim sebenarnya sudah bercerai.
"Arini, kamu kalau tidak suka melihat mereka, lebih baik kamu menunduk saja."ujar Sarah yang geram melihat Arini dari tadi meminta mereka agar segera pergi dari sana. Padahal Sarah masih ingin kepo akan hubungan Mauren dan Bastian.
Beberapa saat kemudian, Sarah berdiri dari duduknya. Dia melihat Mauren dan Bastian melangkah ke arah kasir. Sarah lalu melirik ke arah Arini yang terlihat sedang meminum jus buahnya. "Buruan, nanti kita kehilangan jejak mereka!"
Kini hari ini dan Sarah kembali mengikuti Mauren dan Bastian yang berjalan menuju air terjun. karena matanya fokus menatap ke arah Mauren, Sarah tidak melihat kalau di depannya ada seorang pria bertubuh tinggi besar sedang berdiri menghadap ke arah air terjun sambil mengabadikan keindahan air terjun dan sekitarnya.
BUGH!
"Arg...."pekik Sarah, wanita itu jatuh dengan posisi duduk.
"Mbak, kalau jalan itu matanya dipakai."Omel pria itu. Suaranya begitu nyaring, membuat orang-orang di sekitar termasuk Mauren dan Bastian mengalihkan perhatian mereka ke arah Sarah dan laki-laki itu.
Dari kejauhan Mauren menatap ke arah gadis yang masih terduduk itu. Keningnya sedikit berkerut. Mauren melihat ke arah gadis yang satunya lagi. Dia merasa tidak asing dengan gadis yang berusaha membantu gadis sebelahnya agar bisa berdiri.
"Gadis itu seperti Arini."gumam Mauren.
"Kenapa sayang?"
"Kak, Coba lihat gadis yang membantu berdiri itu, menurut Kakak itu mirip siapa?"
Bastian juga mengerutkan keningnya. mencoba mengingat-ingat. "mirip Arini "
"Nah, benar kan dugaan aku kalau Gadis itu Arini. Kenapa mereka ada di sini juga? apa mereka membuntuti kita?"
"Sepertinya hanya kebetulan saja."sahut Bastian.
__ADS_1
Mauren mengangguk paham, kecurigaannya pada Arini langsung hilang. kini Mauren melihat Arini merangkul pinggang Sarah, dan Sarah merangkul Arini. Arini membantu Sarah berjalan, sebab Gadis itu sepertinya mengalami cedera. Keduanya melangkah menuju taman kembali. Mereka tidak ingin melanjutkan perjalanan ke bawah air terjun.
bersambung....