Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 95. FITTING BAJU


__ADS_3

Mia pergi ke butik kakak iparnya untuk membuat gaun pernikahan. Tak lama setelah Mia datang, Afrian pun juga datang menyusul ke butik milik Dora. Keduanya lalu masuk ke ruangan Dora. Di sana Dora memperlihatkan beberapa contoh gambar gaun pengantin yang sudah ia rancang sebelumnya.


"Sayang kalau boleh dadanya jangan terlalu terbuka. Kakak nggak mau milik Kakak dilihatin orang lain."ucap Afrian yang tidak rela jika bagian dada Mia dilihat oleh tamu undangan khususnya laki-laki.


"Enggak kok Kak, gaun Ini aman tidak akan memperlihatkan area itu."sahut Dora meyakinkan Afrian. Keduanya pun sepakat dengan gambar yang sudah dirancang Dora. Karena Mia yakin kemampuan kakak iparnya itu Tidak diragukan lagi. Apalagi Dora lulusan dari California, udah banyak yang memakai jasa Dora untuk merancang gaun pengantin yang akan mereka gunakan saat acara sakral mereka diadakan. Dan banyak dari customer Dora yang merasa puas.


Beberapa minggu kemudian. Kebetulan hari ini hari weekend. Afrian dan Mia ingin membeli cincin pernikahan di sebuah toko perhiasan yang ada di salah satu Mall ternama di kota Bangkok. Sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh Tuan Nicholas. keduanya lalu meminta ditemani oleh Richard


"Kakak ipar, mana, Kak? tanya Mia saat Richard menjemputnya ke rumah.


"Memang sengaja Kakak suruh tinggal. karena kamu pasti akan lama di mall."


"Ayo Mia, kita berangkat sekarang!"


Mia lalu mengikuti langkah Richard melangkah ke arah mobil. Saat Mia membuka pintu mobil, dilihatnya Mauren sudah menunggu di dalam mobil.


"Hello ponakan Onty yang cantik."sapa Mia saat melihat Mauren duduk di samping kursi kemudi.


"Hello Onty."


Setelah Mia duduk di belakang kursi kemudi, Richard lalu menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah kedua orang tuanya.


Beberapa saat kemudian mobil yang dikemudikan oleh Richard kini tiba di tempat parkiran sebuah Mall.


Ketiganya lalu turun dan langsung melangkah menuju Mall.


"Afrian menunggu kita dimana, Mia?"


"Di lobby Mall, Kak."


Saat sudah sampai di teras Mall, Mia lalu membuka tasnya. Dia mengambil benda pipih itu lalu mencari kontak nama Afrian.


Afriani yang sedang berdiri di dekat eskalator langsung mengambil ponselnya yang bergetar di saku celananya. Dilihatnya di layar ponsel tertera nama Mia.


"Halo Sayang, kamu dimana?


"Kakak dimana? aku sama Kak Richard sudah sampai di teras Mall.


"Kakak di lobby dekat tangga eskalator."

__ADS_1


"Oke deh, kakak tunggu di sana. Kami akan menyusul ke sana."


Ia langsung memutuskan sambungan telepon selulernya. lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas sandang miliknya.


"Kak Afrian menunggu kita di dekat tangga eskalator Kak."


Richard tidak menjawab. Dia hanya mengikuti langkah Mia yang berjalan lebih dulu bersama Mauren.


"Om Afrian!!! teriak Mauren saat dia dan Mia sudah berjarak dekat dari Afrian.


"Hallo ponakan Om yang cantik." Afrian tersenyum ke arah Mauren.


"Kalian ke sini hanya bertiga saja? istri kamu mana Richard?"


"Ada di rumah, kasihan dia kalau ikut ke mall. Mia kalau ke mall nggak pernah sebentar.


"Ya sudah, ayo kita ke atas." ajak Afrian. Dia Lalu meraih tangan Mia dan membawanya naik eskalator. Sedangkan Mauren anak kecil itu digendong oleh Richard.


Setelah sampai di lantai atas, mereka berjalan ke arah toko perhiasan. Sekitar 15 menit memilih cincin yang cocok dengan selera keduanya, Afrian pun lalu membayar cincin itu.


Selanjutnya mereka berjalan keluar dari toko itu untuk menemani Mauren makan eskrim


Mereka lalu melangkah ke arah Cafe Itu.


"Kita duduk di pojok sana saja." tunjuknya pada meja yang belum ada penghuninya itu.


Tak berselang lama setelah memesan makanan, nampak Bu Rani masuk ke Cafe itu juga. Dia datang bersama keponakannya. Kebetulan meja yang masih kosong di cafe itu hanya meja yang berada di sebelah meja Richard. Jarak antara meja di sana hanya setengah meter saja.


Bu Rani lalu melangkah ke arah meja tak berpenghuni itu. Saat sudah berjalan beberapa meter, Bu Rani mengenali dua sosok manusia itu. Ya mereka adalah Mauren dan Richard.


Bu Rani melangkah ke arah meja itu dengan penuh semangat. Tampak senyum manis terpancar dari wajah cantiknya.


"Pak Richard! nggak nyangka banget ya, Pak kita bisa ketemu di sini."


Richard hanya melirik sebentar dan mengangguk. Dia tidak menanggapi ucapan Ibu Rani. Pria itu lebih memilih mengobrol dengan Afrian.


Mauren menoleh ke suara wanita yang sangat dikenalinya. "Bu Rani."


"Hai Mauren sayang," Bu Rani tersenyum ke arah Mauren. Mia yang melihat itu langsung mencibirnya.

__ADS_1


Bu Rani ketahuan Mia mencuri pandang terhadap kakaknya. Mulai dulu, Ia sangat tidak suka terhadap Rani.


"Kak, kita tukaran tempat duduk ya."


Richard yang paham akan masuk Mia itu, langsung berdiri dan berpindah ke tempat duduk Mia. Kini pandangan Ibu Rani terhalang oleh tubuh Afrian.


Beberapa saat kemudian, makanan dan minuman yang dipesan datang. Mereka pun langsung menyantapnya tanpa ada obrolan lagi. Karena mereka ingin cepat-cepat keluar dari kafe itu.


Setelah menyelesaikan makanannya Richard segera berdiri dari tempat itu. Pria itu berniat ingin pergi ke kasir untuk membayar makanan mereka.


"Pak Richard mau kemana?" tanya ibu Rani.


"Kenapa sih nanya-nanya?" tanya Mia dengan kesan protes. Sedangkan Richard, pria itu tak menyahut karena baginya sudah cukup Mia saja yang berbicara. Richard lalu melanjutkan langkahnya menuju meja kasir


"Memangnya kenapa Mbak? Apa ada yang salah? sahut Ibu Rani.


"Ya jelas salah, Kamu sepertinya sudah lama mengincar kakak saya. Perlu kamu ketahui, kakak saya sudah punya istri yang lebih cantik dari kamu. Istrinya sekarang sedang mengandung anak kedua ." tutur Mia menjelaskan.


kemudian Mia beranjak berdiri dari tempat duduknya. "Kak, ayo kita keluar."


Mia lalu membantu menurunkan Mauren dari duduknya.


Mereka berjalan keluar meninggalkan Ibu Rani begitu saja dengan wajah masamnya. Richard yang baru selesai membayar menu makanan yang mereka santap, juga mengikuti langkah Afrian, Mia dan Mauren keluar dari Cafe itu.


Lalu ketiganya pun berjalan turun ke lantai bawah dengan menggunakan lift yang ada di mall itu.


"Afrian Kamu langsung pulang? tanya Richard kepada Afrian.


"Iya Richard, Lebih baik aku langsung pulang saja. ngapain Aku di sini kalau kalian juga pulang sekarang." sahut Afrian.


Akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang. Richard menghantarkan Mia ke rumah utama keluarga Nicholas. Sementara Afrian memilih untuk pulang sendiri dengan menggunakan mobil miliknya menuju rumah utama keluarga Andalas.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2