
Richard segera berlari ke arah Ayah mertuanya. "kita langsung angkat ke mobil saja kak!"ucap Richard.
Dora yang mendengar suara di luar kamar segera keluar sambil menggendong bayinya.
"Papa! Papa kenapa?"Dora melangkah ke arah Papanya.
Tak ada yang menyahut pertanyaan Dora semua orang perhatiannya fokus pada Tuan Bernando. dilihatnya sekarang tubuh Tuan Bernando bawa oleh Antonius dan Richard menuju ke arah luar rumah.
Nyonya Nadia berlari ke arah luar sambil membawa kunci mobil suaminya. Dia membantu membuka pintu depan sebelah kiri dan menurunkan sandaran joknya.
Setelah memasukkan Tuan Bernando ke dalam mobil, Antonius langsung duduk di kursi kemudi. Nyonya Nadia duduk di belakang kursi kemudian. Sedangkan Richard, dia kembali masuk ke dalam rumah selepas mobil yang membawa Tuan Bernando keluar dari halaman rumah.
"Mas, Papa kenapa mas?"mata Dora menangis sejak tadi.
Richard mengusap air mata istrinya. "Papa sepertinya kena serangan jantung."
"Aku mau ke rumah sakit Mas. Aku mau menyusul Papa ke rumah sakit."desak Dora.
"Sayang, kamu lebih baik di rumah saja. kasihan anak-anak terutama baby Andika. Dia sangat membutuhkan kamu. Biar mas saja yang berangkat ke rumah sakit. nanti mas akan memberikan kabar pada kamu mengenai perkembangan Papa."bujuk Richard.
"Iya mas. Nanti kabari aku ya!"
"Iya, sayang."
"Kak, Aku boleh ikut ke rumah sakit nggak?"tanya Riana.
Richard yang mengingat mertuanya jantungan karena mengetahui fakta tentang Riana, dia enggan untuk membawa Riana ke rumah sakit, sebab Richard khawatir jika mertuanya melihat Riana kembali di saat kondisinya belum betul-betul pulih, maka akan memperburuk kondisinya.
"Riana, lebih baik kamu di sini saja bersama orang tua kamu. nanti kamu tunggu kabar dari Antonius. Dia pasti akan menghubungimu."ujar Richard.
"Iya kak."
Richard melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Setelah sampai di tempat parkir rumah sakit, dia mencoba menghubungi Antonius untuk menanyakan Di mana posisi mereka saat ini.
Ternyata ada di depan ruang tunggu UGD, tempat di mana Tuan Bernando dirawat saat ini. Richard lalu menyusul kakak ipar dan ibu mertuanya ke ruang UGD.
"Bagaimana keadaan Papa Ma?"tanya Richard saat dia menghampiri Ibu mertuanya yang sedang duduk di kursi panjang.
"Mama juga belum tahu Nak, Papa masih ditangani oleh dokter."
"Semoga Papa baik-baik saja."
Beberapa saat kemudian, terlihat dokter keluar dari ruangan itu. Antonius, Nyonya Nadia dan Richard langsung menghampiri dokter.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan suami saya dokter?"tanya Nyonya Nadia.
"Kondisi pasien sekarang sudah mulai stabil. pasien mengalami serangan jantung ringan. sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Bapak atau Ibu silakan ke bagian administrasi untuk menyiapkan kamarnya. Sementara hanya itu yang bisa saya sampaikan. Apabila ada perkembangan lebih lanjut, saya akan segera memberitahunya pada ibu."
"Baik dokter, terima kasih."ucap Antonius.
"Richard, kamu dan Mama tunggu Papa di sini. Aku mau ke bagian administrasi memesan kamar untuk Papa,"pesan Antonius saat Dia pamit.
"Oke, Ka."
Tak lama setelah Antonius memesan kamar, berangkat Tuan Bernando dipindahkan ke ruang perawatan. Tangan pria paruh baya itu dipasang infus. saat ini Tuan Bernando sedang tertidur akibat pengaruh obat yang disuntikkan melalui selang infus
"Kak, sebaiknya Kakak hubungi Riana tadi dia mau ikut ke rumah sakit. Namun, aku takut membawanya ke sini. takut papa akan anfal lagi,"tutur Richard.
"Iya, Terima kasih sudah mengingatkan."Antonius lalu keluar dari ruangan itu, dia duduk di ruang tunggu untuk menghubungi kekasihnya.
"Halo Kak,"sahut Riana dari seberang telepon.
"Halo sayang. Maaf ya kakak baru bisa menghubungi kamu sekarang. karena tadi kakak Lagi panik.
"Iya, nggak apa-apa Kak. Bagaimana keadaan Om, Kak?"
"Alhamdulillah kondisi Papa sudah stabil. sekarang Papa lagi tidur."
"Kak, aku sama Bapak dan Ibu gimana ya? Apa kami sebaiknya pulang saja? Kami mau membesuk, takutnya om malah drop lagi."
"Iya Kak, aku doakan semoga Om cepat sembuh,"ucap Riana. Kayaknya kami langsung pulang saja. Bapak nggak bisa lama-lama meninggalkan pekerjaannya."imbuhnya.
"Iya sayang, Tapi Kakak nggak bisa mengantar. Sebab harus menemani Mama menjaga Papa di rumah sakit. nanti sopir yang akan mengantar kamu sama bapak dan ibu."
"Iya, Kak. Terima kasih banyak."
Setelah mengakhiri panggilan, Riana langsung menemui Dora. dia dan orang tuanya ingin pulang hari ini juga.
"Kenapa nggak menginap di sini saja? di sini ada tiga kamar tamu."ujar Dora.
"Pekerjaan bapak nggak bisa ditinggal lama-lama Nak Dora. Ibu bisa melihat kamu saja sudah senang. Nanti kalau Andika sudah besar, sering-sering main ke rumah ibu ya."ucap mamanya Riana.
"Nak Dora, Bapak mau minta maaf karena kedatangan kami ke sini membuat Tuan Bernando masuk rumah sakit."tutur Pak Imran.
"Iya pa, nggak usah dipikirkan lagi. saya tahu semua terjadi tanpa disengaja. maafkan atas sikap Papa saya ya, Pak. Sebenarnya dia baik. cuma memang seperti itu bawaannya. Dulu juga awalnya suami saya tidak direstui oleh papa. Tapi lama kelamaan semua berubah. gini sikap Papa sudah baik terhadap suami saya."ucap Dora
****
__ADS_1
Sementara di tempat lain, tepatnya di apartemen Arga. Rani di sana membantu Arga membersihkan apartemennya. Padahal harga sudah memperingatkannya, namun wanita itu masih saja tetap melakukannya.
"Ran, kamu nggak usah capek-capek. besok akan ada orang yang akan membersihkan tempat ini,"tegur Arga.
"Nggak apa-apa Kak. kalau bersih gini kan enak kalau dilihat."
Arga tersenyum ke arah Rani. tidak salah jika dirinya memilih Rani sebagai pendamping hidupnya. wanita itu pintar dalam mengurus rumah dan merawatnya di saat sakit.
"Ran, bulan depan kita nikah yuk. biar kamu bisa tinggal di sini menemani kakak."
"Apa nggak terlalu cepat Kak? Aku kan belum ada ngomong sama Bapak sama Ibu."
Benar juga apa yang dikatakan oleh Rani, dirinya saja belum melamar wanita itu."pikir Arga.
***
Dua jam kemudian, setelah Tuan Bernando dipindahkan ke ruang rawat inap. kedua matanya memindai seluruh ruangan.
"Ini di mana Ma?"
"Papa sudah nggak di UGD lagi. sekarang Papa sudah berada di ruang rawat inap"
"Kita hanya berdua saja Ma?"tanya berapa rupiah itu. sebab di ruangan hanya ada istrinya saja yang menunggunya.
"Iya Pa. Richa sudah pulang ke rumah 1 jam yang lalu. sedangkan Antonius, pulang ke rumah untuk mengambil baju ganti untuknya dan untuk Mama.
"Kalau.... Riana dan orang tuanya gimana Ma?"
"Aduh, Papa Jangan bahas itu dulu. Mama takut melihat papa kayak tadi."
"Nggak apa-apa Ma. Papa sudah baik-baik saja."
"Ya sudah kalau Papa ingin membahas sekarang. sebenarnya Apa alasan Papa tidak menyetujui Riana menjadi menantu kita?"
"Sudah Ma. Papa sudah tidak mempermasalahkannya lagi. Kalau Riana itu memang anak kandung dari Pak Imran yang dulu menyelamatkan Antonius dari kecelakaan maut sekitar 15 tahun yang lalu. tidak ada alasan Papa untuk menolaknya,"tutur berapa rupiah itu.
"Mama kenapa tidak memberitahu Papa sebelumnya?"timbul pria paruh baya itu menyesalkan.
"Rencananya Mama mau mengatakannya hari ini saat Pak Imran dan istrinya sudah di sini. tapi tadi Antonius dan Riana tiba-tiba datang menghadap kepada Papa Mama minta restu. padahal, orang tua Riana belum datang. Ma Mama menjelaskan kepada papa, tapi keburu didengar langsung oleh Pak Imran."
Pria paruh baya itu membuang nafas kasar. "kalau sudah begini kan Papa yang malu ketemu sama mereka Ma."ucap Tuan Bernando lagi-lagi menyesalkan.
Bersambung..
__ADS_1
sambil menunggu karya ini update kembali singgah ke karya teman emak.