
Mendengar ucapan Tuan Nicholas yang melecehkan nama An, Tuan Andalas langsung beranjak berdiri dari duduknya. Dia tidak terima nama keluarganya dilecehkan seperti itu.
"Nggak ada apa-apa. cuma aku nggak suka ajak ada kata An di nama cucuku."
"Papa cukup!"tegur Nyonya Alena.
Nyonya Yasinta juga memegang lengan suaminya yang sudah mengepalkan tangan. Tuan Andalas menatap ke arah istrinya, Nyonya Yasinta menggeleng pelan. wanita paruh baya itu tidak mau perdebatan nama itu semakin diperpanjang.
"Papa, ayah, mengenai urusan nama si kembar biar nanti aku dan Mia berembuk berdua,"ucap Afrian berusaha menengahi perdebatan. Kedua pria paruh baya itu langsung bergeming.
Cornel dan Fernando yang mendengar ada perdebatan antara keluarga, mereka merasa tidak enak berada di sana. kedua lelaki itu memutuskan untuk pulang bersama istri dan anaknya.
"Papa... aku masih mau main sama Mauren."Bimbim menolak pulang.
"Iya Pa, aku juga masih mau di sini, main sama Mauren."Bastian ikut menimpali.
"Ya sudah, kalau begitu kita pulang saja. hari ini mau les lagi."ujar Dora.
Akhirnya ketika anak-anak itu setuju untuk pulang ke rumah masing-masing.
Kemudian Richard dan Dora juga ikut berpamitan. Pulang dari rumah sakit, mereka Langsung ke rumah Richard. Mereka ingin cerita panjang lebar di sana.
*****
Beberapa tahun kemudian, banyak hal-hal yang Dora dan Richard lewati bersama sahabat-sahabatnya selama beberapa tahun belakangan ini.
Begitu juga dengan musuh-musuhnya. dari beberapa musuh Richard dan Dora yang masuk ke dalam penjara, Tuan Robinson yang lebih dulu menghirup udara bebas. Karena dia, menyewa pengacara handal dan membayarnya dengan mahal. Sehingga hukumannya lebih ringan, setelah menjalani beberapa kali persidangan karena ia selalu naik banding.
Mengenai kasus pencurian data perusahaan, Mahendra mendapat hukuman penjara masing-masing 4 tahun. Mahendra kini juga sudah menghirup udara bebas. Mahendra sekarang sudah tidak tinggal di kota ini lagi. lelaki itu sekarang tinggal bersama istri dan anaknya di kampung mertuanya.
Dia sudah tidak mempedulikan Irene lagi. lelaki itu kini sudah menyesali perbuatannya. karena Irene lah hidupnya menjadi menderita. maka dari itulah, sejak keluar dari penjara lelaki itu memilih meninggalkan kota Bangkok.
Dia ingin hidup tenang bersama istri dan juga anaknya. Sedangkan Tuan Robinson, sekarang sudah jatuh miskin. semua asetnya disita untuk membayar ganti rugi dari dua proyek yang dia rugikan.
Sekarang Tuan Robinson tinggal di rumah kontrakan. lelaki itu kini tidak memiliki siapa-siapa lagi. Istrinya saat ini kurang lebih Delapan tahun lagi baru bisa bebas dari penjara. Sekarang tuan Robinson bekerja hanya menjadi karyawan biasa di perusahaan adik iparnya, yang gajinya hanya cukup untuk makan sebulan dan bayar rumah kontrakan.
Bagaimana dengan Irene? Ya. wanita itu tinggal beberapa bulan lagi akan menghirup udara bebas.
Sedangkan Risma, wanita itu sampai saat ini masih belum menikah. Setelah melahirkan seorang anak perempuan di kampung neneknya, Risma kembali pulang ke rumah orang tuanya. anak hasil hubungannya dengan Rehan Kini dibesarkan oleh sepupunya. yang kebetulan tidak memiliki.
***
Tepat di hari weekend, rencananya Richard hari ini dan sahabat-sahabatnya akan pergi jalan-jalan ke mall bersama istri dan anak-anaknya.
Sekitar jam setengah sebelas siang, Dora masuk ke dalam kamar putrinya. Dilihatnya Mauren sedang sibuk menggambar.
"Mauren, kok kamu belum ganti baju na, kan mama sudah bilang sebelas kita sudah harus tiba di mall?"
"Ma, Aku mau di rumah saja. Aku malas pergi ke mall."Mauren melanjutkan kerjaan menggambarnya.
"Tapi hari ini kan kita mau ada acara makan-makan sama teman Papa Nak. Bimbim dan Bastian juga ikut."
"Ish... apalagi ketemu Bimbim malas banget aku, Ma."
__ADS_1
"Mauren, kamu ini sama Bimbim kok kayak Tom and Jerry saja. Kalau nanti jodoh gimana, Masa sih tiap hari bertengkar terus."
"Ma.. Aku ini masih kecil. Masih kelas 1 SMP, jangan ngomongin masalah jodoh Ma."
Dora melihat ke arah lukisan anaknya. dilihatnya Maureen sedang menggambar boneka Doraemon. "Mauren, sepertinya Kamu berbakat untuk meneruskan usaha butik Mama."
"Tapi aku lebih suka bikin kue Ma. Aku mau meneruskan usaha Oma Alena aja."
"Yah Mauren, kasihan dong butik mama kalau nggak ada penerusnya,"ucap Dora sedih.
Brak, bunyi daun pintu yang dibuka kasar oleh Andika.
"Mama, kata Papa ayo kita siap-siap."
"Papa di mana Dika?
"Papa ada di kamar Dika, lagi mencari baju yang bagus untuk ke mall."
"Ya sudah kamu kembali ke kamar,"perintah Dora pada anak laki-lakinya.
"Mauren, cepat ganti baju nanti papa marah kalau kamu nggak ikut,"ucap Dora sebelum dia keluar dari kamar putrinya.
Mauren selalu meletakkan alat tulisnya. gadis kecil itu nampak mendesah pelan. Dia terpaksa beranjak dari meja belajarnya, lalu mengambil pakaian yang ada di dalam lemari.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Richard dan keluarga kecilnya sudah tiba di lantai tiga dekat tangga eskalator. di sana sudah ada Kornel dengan istri dan dua orang anaknya.
"Fernando sama Afrian mana Cornel?"
"Kok kamu nanya aku, kan kamu yang tetanggaan dengan mereka berdua."
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dua orang anak kecil.
"Kakak Mauren!
"Andika!"
teriak anak kembar Afrian.
"Dasar bocah rusuh."batin Mauren, dia menatap sepupunya dengan tatapan mata malas. Ternyata Afrian dan Fernando datang bersamaan. lengkap sudah anggota mereka. "Kita ke mana dulu?"tanya Richard.
"Anak Aku mau makan di Cafe, dia nggak mau makan di resto. Bosan katanya,"sahut Cornel. anaknya hasil pernikahan dengan Moresette sekarang sudah bisa protes dan pilih-pilih tempat makan.
"Ya sudah, Kita ke cafe saja,"sahut Fernando.
Mereka lalu berjalan menuju Cafe. beruntung hari ini Cafe tidak terlalu ramai. Jadi enam buah meja bisa mereka satukan.
"Mauren, itu kan Ibu Rani guru kita? bukan tante Rani istrinya Om Arga."ucap Bimbim sambil tangannya menunjuk ke arah wanita dan laki-laki, di samping wanita itu ada seorang anak kecil berusia sekitar tiga tahun.
"Iya, lama nggak melihat ibu Rani, tahu-tahunya Bu Rani sudah punya anak."
Dora yang duduk bersebelahan dengan Mauren, pandangannya ikut mengarah ke arah jari Bimbim. "Mas, Coba lihat ke arah sana."Dora menunjuk ke arah Rani. pantesan dia sudah lama nggak ngajar lagi di TK, ternyata dia dan Cornelius sudah punya anak.
Richard menoleh ke arah yang ditunjuk Dora. "Ya pastilah sayang, namanya juga sudah punya anak. pasti mau fokus mengurus anak sama suami."
__ADS_1
Saat mereka sedang asyik dengan makanan masing-masing, tiba-tiba terdengar suara dari duduk anak Afrian. " Brooot....broot..."
"Papa, Adelio kentut sembarangan,"ucap Adelia anak perempuan Afrian. anak kecil itu duduk di sebelah Kakak kembarnya.
"Lio, kita di sini lagi makan. nggak sopan kayak gitu."tegur Afrian.
Adelio menyunggingkan senyumnya. "Lio sakit perut Pa "
"Sudah Afrian, nggak apa-apa Namanya juga anak kecil,"ucap Richard.
Setelah selesai makan mereka naik ke lantai lima, menuju tempat bermain Timezone.
"Tiap ke mall pasti ke sini mulu,"ucap Mauren. Dia sedang duduk bersama Bastian dan Bimbim di kursi panjang dekat Timezone.
"Dulu kita waktu masih kecil, tiap kemal juga selalu ke tempat ini."sahut Bastian.
"Iya nih si Mauren, kaya nggak pernah kecil aja kamu." timpal Bimbim.
"Aku tuh sebenarnya tadi mau di rumah aja. tapi aku dipaksa untuk ikut."Mauren duduk sambil menyangga dagunya dengan telapak tangannya yang tertumpu di kedua pahanya.
"Mauren, kamu mau es krim?"tanya Bastian.
"Ngak Tian, Aku baru saja sembuh dari batuk. nanti kelihatan Papa bisa-bisa dimarahi."
Tak jauh dari tempat itu ada seorang anak perempuan sedang jalan-jalan bersama mamanya. anak perempuan itu seumuran dengan mereka.
"Bimbim!"seorang gadis kecil memanggil nama Bimbim. Gadis itu teman sekolah mereka sejak TK SD hingga SMP sekarang ini.
"Fans berat kamu Bim,"ucap Bastian.
Bimbim hanya menatap dengan tatapan malas ke arah Arini.
Arini melebarkan langkahnya ke arah Bimbim. "Bim, habis ini kamu mau kemana?
"Nggak kemana-mana?"sahut Bimbim asal.
"Bastian, Ayo kita Timezone! Mauren menarik lengan Bastian, meninggalkan Bimbim dan Arini. Mauren tidak suka dengan Arini. sebab dari TK sampai SMP sekarang ini, sikap Arini tidak baik terhadapnya.
"Mauren, Bastian, tunggu!"Panggil Bimbim.
"Arini aku pergi dulu ya. mau menyusul mereka."pamitnya pada Arini
"Huh! Mauren ini memang cari perhatian terus,"Arini menghentakkan kaki kanannya, lalu dia kembali ke arah mamanya.
"Kenapa Arini?"tanya mamanya.
"Kesel banget aku sama Mauren Ma, dia selalu saja jadi perhatian Bimbim."
"Sudah, kamu nggak usah berurusan sama Mauren. Mama kan sudah sering bilang sama kamu Arini, Jangan pernah mengusik Mauren. Orang tuanya tidak akan tinggal diam Kalau kamu mengganggu Mauren."wanita itu tidak ingin mau anaknya bermasalah lagi dengan keluarga Richard.
"Tapi Ma "
"Sudah, lebih baik kita segera pergi dari sini."wanita itu menarik tangan putrinya.
__ADS_1
Bersambung...