
Mas ini punya siapa? tanya Dora sambil memegang beberapa lingerie yang tergantung di dalam sana.
"Punya kamu sayang, Memangnya punya siapa lagi." ucap Richard sambil mendekat ke arah istrinya.
"Siapa tahu Mas dulu punya wanita lain."
"Nggak, Mas nggak pernah pacaran. Wanita yang dekat dengan Mas cuman kamu. Itu pun juga karena tidak disengaja.
"Sayang, Coba ambil yang warna putih.Mas mau kamu pakai itu Malam Ini." titah Richard.
"Ngak Mas." tolak Dora cepat.
"Sayang, ayolah. Nggak boleh nolak suami ini pakai berwarna merah putih pada istrinya.
Dora terpaksa menerimanya. "Tapi mas Tunggu di luar."
"Siapnya nyonya Richard." dengan penuh semangat Richard berjalan keluar dari ruangan itu.
Setelah Richard keluar, Dora lalu melihat bentuk baju itu. Ekspresi wajah wanita itu menunjukkan kalau dirinya tidak menyukai yang di pilihkan oleh suaminya.
Dora mengamati baju tidur dengan baju lingray itu. Setelah memakai baju saringan kelapa itu, Dora lalu perlahan berjalan keluar dari ruangan wolk in closet itu.
Di luar ruangan, terlihat Richard berjalan mondar-mandir seperti suami yang sedang menunggu istrinya mau melahirkan.
Saat melihat istrinya sudah berdiri di depan ruangan, Richard langsung menatap istrinya di terpesona melihat tubuh seksi sang istri. Lalu menggendong istrinya ke atas kasur empuk yang ada di kamar itu.
Richard melepaskan setelan piyamanya. Kini pria itu hanya menggunakan boxer saja. Dia langsung beranjak naik ke atas tubuh istrinya dan mulai melakukan pemanasan.
"Ahhh...."de$@han itu terdengar merdu di telinga Richard. Sehingga membuat Richard semakin bersemangat dan semakin memperdalam pemanasannya.
Ditariknya lingray yang dikenakan oleh istrinya. Lalu mencampakkannya ke lantai begitu saja.
Kini Dora sudah tidak mengenakan sehelai benang pun melekat di tubuhnya.
"Glek!
Richard Menelan salivanya dengan kasar pemandangan yang begitu indah dipandang matanya.
Adik kecilnya kini semakin meronta ingin Segara dilepaskan dari boxer miliknya. Richard kemudian melepas benda keramat itu. Kini dia sama seperti istrinya polos seperti bayi baru lahir.
"Tok.....
"Tok....
"Tok ...
__ADS_1
"Papa!!!!Buka pintu kamar papa!!! Richard tidak mempedulikan suara ketukan di luar sana.
"Mas, Buka pintu sana!! ucap Dora sambil mendorong dada suaminya agar segera turun dari tubuhnya.
Namun, suaminya tetap bertahan pada posisinya. dia terus memompa lebih cepat.
"Ahhh Mas Ah
"Tok....
"Tok...
"Tok....
"Papa!!!! Huaaaa ...Mama .....Huaaaa..... Buka pintu kamar hiks hiks ...."tangis Mauren.
Kali ini Richard benar-benar ingin menuntaskan permainannya.
"Sudah Mas, Ah....Ayo lepaskan! kasihan Mauren di luar Mas.
Richard terus melanjutkan permainannya Hingga dia mendapatkan pelepasan.
"Papa!!!!! Hiks....Hiks... Buka pintu kamar Pa... hiks.....hiks ..."Mauren duduk bersandar di pintu kamar orang tuanya, dengan kaki yang dia selonjorkan.
"Mas, Jangan dibuka dulu. Tunggu aku berjalan sampai ke kamar mandi dulu."Dora berjalan pelan ke arah kamar mandi, karena bagian inti tubuhnya ada yang lecet, akibat pergesekan terlalu lama dengan adik kecil milik Richard.
Setelah memastikan istrinya sudah di dalam kamar mandi, Richard lalu membuka pintu kamar.
"Astagfirullah. Richard melihat tubuh putrinya terjungkal ke belakang. Richard langsung menggendong tubuh Mauren dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Maafin Papa ya, Mauren. Papa nggak tahu kalau Maureen bersandar di pintu kamar.
"Papa kenapa lama baru buka pintu kamarnya?
"Papa sama Mama lagi mandi Sayang. Ini Papa masih pakai handuk."
"Papa kenapa mandi malam-malam?"
"Badan papa gerah. sudah ya, Mauren sekarang Mauren mau tidur di mana?
"Di kamar sebelah Pa. Kalau Maureen tidur di kamar papa nanti Mauren nggak akan punya adik bayi."
"Terus tadi kenapa Maureen ketuk-ketuk pintu kamar papa?
"Mauren mau minta temani papa tidur di kamar Maureen. Mama biar tidur sendirian di kamar ini.
__ADS_1
Richa terlalu mendudukkan putrinya di sisi ranjangnya. Setelah itu dia melangkah ke arah work in closed. Tidak lama kemudian pria itu keluar dengan berpakaian celana pendek dan baju kaos oblong.
Tak berapa lama Dora pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan Kimono dan handuk yang dililitkan di kepala untuk mengeringkan rambutnya.
"Mama, kok mandi malam-malam begini? kata Papa mandi malam-malam tidak baik bisa masuk angin."
Dora membulatkan matanya bingung, apa yang akan ia jawab terhadap putrinya. Itu jika dia menjawab pasti kembali putrinya akan melontarkan pertanyaan kembali.
"Sayang, kan papa sudah bilang kalau sekali-sekali tidak apa-apa. Apalagi tubuh Mama dan Papa sangat gerah. Jadi biar sedikit lebih nyaman tidur, Papa dan Mama memilih untuk mandi lagi."Richard mencoba memberikan pengertian kepada putrinya.
Akhirnya Mauren menganggukkan kepalanya.
Sementara Dora memilih untuk langsung masuk ke wolkd in closet.
"Mauren bilang mau punya adik kan? kalau Maureen ingin punya adik seharusnya Maureen tidur sendiri di kamar. Kalau Mama dan papa tidur terpisah maka Mauren tidak akan punya adik. Seperti yang Mauren katakan tadi, papa tidur di kamar Maureen sedangkan Mama tidur sendiri. Bagaimana Maureen memiliki Adik kalau mama dan papa tidur terpisah?"
"Jadi Mama dan Papa harus tidur sama agar Mauren memiliki adik? Tanya bocah kecil itu kembali.
"Iya sayang,"sahut Richard asal. Sementara Dora yang mendengarnya hanya geleng-geleng kepala. Entah bagaimana caranya wanita itu nanti menjawab segala pertanyaan putrinya.
Richard dengan santainya dapat menjawab pertanyaan Mauren. Sementara Dora pasti akan kebingungan menjawab pertanyaan-pertanyaan sensitif dari putrinya.
Sementara di tempat lain, tepatnya di rumah utama keluarga Bernando. terlihat Tuan Bernando, Antonius dan juga Nyonya Nadia sedang menyantap menu makan malam.
"Antonius, Adik kamu sudah menikah, sekarang Mama ingin tanya, kapan giliran kamu melepas masa lajang kamu? ingat umur tidak akan semakin muda tapi semakin tua"Nyonya Nadia menata putranya sembari memohon kepada putranya agar segera menikah.
"Bagaimana Antonius mau menikah, punya pacar aja nggak." celetuk Tuan Bernando dengan wajah sangarnya.
"Papa ada-ada aja!"sahut Andika dengan Ketus
"Iya memang benar kan, Papa belum pernah melihat kamu pacaran. Bahkan dekat dengan wanita pun tidak, kamu hanya sibuk dengan pekerjaan kamu.
"Belum ada yang cocok Pa, kalau ada wanita sebaik mama yang selalu sabar menghadapi sikap Papa, Antonius pasti akan segera menikah. Tapi untuk saat ini Antonius belum menemukan wanita sesabar dan sebaik Mama menghadapi seorang pria seperti Papa
"Kamu kok malah ngomong seperti itu?
"Ya iyalah, pa. Kalau wanita yang Antonius nikahi tidak sesabar dan tidak sebaik Mama, tidak menutup kemungkinan Antonius akan cepat cerai. Karena Antonius tahu sikap Antonius turunan dari Papa."ucap Antonius yang langsung mendapat tatapan tajam dari tuan Bernando.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1