
Malam ini Bastian sengaja menginap di rumah kedua orang tuanya. Sebab apanya tadi sore menyuruhnya agar malam ini menemui adiknya perempuannya di rumah. karena kedua orang tuanya ada acara makan malam di luar bersama para sahabat.
Setelah sang adik naik ke lantai atas, Bastian masih tetap berada di ruang keluarga. Pria itu sambil memangku sebuah laptop. Memeriksa laporan yang dikirimkan oleh sang asisten dan juga sekretarisnya. Dia sengaja menghabiskan waktunya bekerja dan selalu bekerja.
Tiba-tiba terdengar bunyi pintu mobil ditutup. Bastian sudah bisa menerka, itu sudah pasti kedua orang tuanya yang sudah pulang dari acara makan malam.
"Bastian, kok masih di ruangan ini?" tanya sang ayah sambil melihat jarum jam yang ada di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 11.00 malam.
"Iya pa. Bastian masih ada pekerjaan sedikit. kalau ngerjainnya di kamar, aku malah bisa ketiduran, jadi pekerjaannya tidak selesai."sahut Bastian yang malam ini sudah mengenakan setelan piyama bersiap untuk tidur.
"Papa sama Mama Kenapa jam segini sudah pulang? cepat banget, biasanya juga pulang jam 01.00 malam kalau sudah ngumpul bareng teman-teman. Apa selesai makan malam langsung pulang? biasanya ngobrol sampai tidak tahu waktu." cerocos Bastian.
Cornel menatap kerah istrinya. "Sayang, kamu duluan masuk ke kamar ya. Aku mau menemani Bastian sudah lama juga tidak ngobrol bareng dia karena dia selalu lebih lama tinggal di hotel daripada di rumah ini. sepertinya Hotel itu lebih nyaman baginya daripada rumah ini."sindir sang ayah.
Bastian hanya tersenyum kikuk.
"Iya Mas." Moresette lalu berjalan menaiki tangga, meninggalkan Putra sambung dan suaminya di sana.
Cornel melangkah ke arah putranya. saat melihat Bastian, Cornel teringat dengan Bimbim. Pria itu tidak bisa membayangkan Bagaimana jika yang berada di posisi Bimbim itu Bastian. Dia pasti akan sama seperti Fernando. Memarahi dan memukul putranya.
Cornel sangat bersyukur sekali, memiliki Putra seperti Bastian, yang selama hidupnya tidak pernah membuat masalah. Dia selalu membuat sang ayah bangga. Walaupun semenjak kecil dia kekurangan kasih sayang dari ibu kandungnya. Tetapi setelah pernikahannya dengan Morissette, Cornel melihat Bastian tidak pernah kekurangan kasih sayang dari seorang ibu. karena Moresette menyayangi Bastian layaknya Putra kandung sendiri.
Cornel duduk di sofa, bersebelahan dengan putranya yang saat ini sibuk dengan layar laptopnya. "Bastian, Kamu sudah tahu belum, Bimbim malam ini ketangkap basah oleh orang tua dan mertuanya saat sedang makan malam bersama seorang gadis di restoran?"
__ADS_1
Bastian terkejut, dia mengalihkan perhatiannya dari layar laptopnya. pria itu langsung meletakkan laptop itu kemeja yang ada di samping sofa.
"Aku beneran tidak tahu Pa. Ini baru tahu dari papa, Papa tahu dari siapa?"tanya Bastian terhenyak.
"Bukan kata siapa Bastian, Papa juga ada di sana. kebetulan tempat acara kami makan malam itu sama dengan tempat Bimbim dan Gadis itu makan malam."sahut Cornel.
"Apa Mauren juga ada di sana Pa?"
"Tidak ada. Kalau Mauren ada di sana, lain ceritanya Bastian. Itu bukan ketangkap basah namanya. Parahnya lagi Bastian, si Bimbim ternyata saat bulan madu ke New Zealand juga membawa gadis itu."ucap Cornel
Deg!
"Kenapa Papa juga tahu perihal bulan madu di New Zealand?"batin Bastian bertanya-tanya di dalam hati.
Jantung Bastian langsung berdegup kencang. dia khawatir dirinya juga akan dilibatkan dalam permasalahan rumah tangga Bimbim dan Mauren.
"Ada orang yang kirim foto Bimbim dan Gadis itu ke ponsel Richard."
"Siapa ya kira-kira yang kirim foto itu ke om Richard? Apakah Aulia yang mengirimnya? atau siapa yang sengaja ingin membocorkan ini semua? tanya Bastian di dalam hati.
Papanya hanya membahas foto Bimbim dan Aulia saja. Itu artinya, orang yang mengirimkan foto itu tidak mengirim foto dirinya bersama Maureen. Bastian sekarang bisa menghela nafas lega.
Cornel melihat putranya termenung. "Bastian, Kok kamu diam?"
__ADS_1
Bastian langsung mengambil laptopnya. "Pa, aku masuk ke kamar dulu ya,"pamit pria berhidung mancung itu.
Di dalam kamarnya, Bastian segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang. mata pria itu menatap langit kamarnya. dia kepikiran dengan gadis pujaan hatinya. "Mauren Bagaimana keadaan kamu sekarang? Apakah kamu baik-baik saja?"Bastian benar-benar mengkhawatirkan kondisi Mauren.
Sementara di tempat lain, Mauren masih saja kepikiran Bagaimana caranya dia mengambil keputusan untuk menyelesaikan segala masalah yang terjadi di kehidupannya.
Akhir-akhir ini begitu banyak masalah yang menimpa dirinya. Entah kesalahan apa yang diperbuat oleh Maureen, sehingga Allah memberikan cobaan yang begitu berat dilalui oleh gadis cantik itu.
Baru saja dia menyelesaikan hubungannya dengan Mario, kini permasalahan rumah tangganya dengan Bimbim kembali menjadi ruak hingga kedua belah pihak keluarganya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di hubungan rumah tangga Mauren dengan Bimbim.
Sementara di tempat, tepatnya di sebuah kamar kost yang selama ini ditempati oleh Aulia. Wanita itu mengeram kesal, karena dirinya dan Bimbim kepergok oleh kedua orang tua Bimbim dan juga kedua orang tua Mauren.
Dia khawatir, kedua orang tua Bimbim tidak akan merestui hubungannya dengan Bimbim setelah perselingkuhan itu diketahui oleh Fernando dan Amor.
"Aku yakin, pasti yang mengirimkan foto itu kepada om Richard adalah Maureen sendiri. dia menginginkan hubunganku dan Bimbim hancur. Dia ingin menguasai Bimbim seutuhnya."geram Aulia yang tidak tahu malu, kalau dirinya yang membuat masalah rumah tangga Mauren terjadi.
"Aku pasti akan memberikan perhitungan kepadamu Mauren. Jika hubunganku dengan Bimbim harus kandas, itu berarti kamu penyebabnya. Aku tidak akan terima ini semua,"geramnya sambil menghempaskan barang-barang yang ada di kamar kosnya.
"Aku tidak mau! aku tidak mau kehilangan ATM berjalan ku, kalau aku putus dengan Bimbim, aku tidak bisa hidup mewah lagi seperti sekarang. Ini semua karena Mauren! Awas kamu Mauren! aku akan membuat perhitungan dengan."Aulia kembali menghempaskan barang-barang yang ada di kamarnya.
Tiba-tiba saja, suara jaringan ponselnya terdengar jelas di telinganya. Dia melihat nomor ponsel yang menghubungi dirinya, sang adik yang saat ini masih tinggal di desa, desa kelahiran Aulia, dia mengabaikan telepon itu dari sang adik.
"Apaan sih, telepon-telepon!!! geram Aulia sambil kembali mencampakkan ponselnya di atas kasur. Dia mengira kalau Bimbim yang menghubungi dirinya, nyatanya Bimbim sama sekali tidak menghubunginya sama sekali. bahkan pesan yang dikirimkan olehnya kepada Bimbim tidak direspon. Membuat Gadis itu semakin kesal.
__ADS_1
"Bim, Kenapa kamu tidak mengangkat teleponku! kau benar-benar mengesalkan."gerutu Gadis itu sambil menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
Bersambung...