
Berbagai macam mimik wajah yang nampak di ruangan itu. ada yang terlihat sedih, ada yang sedikit mangap karena merasa heran, ada yang mengerutkan keningnya.
Pagi ini Mauren turun ke lantai bawah mengenakan sandal hotel. terlihat aneh saja menurut orang-orang yang menatap gadis itu. sebab Mauren mengenakan dress simpel namun elegan. Sangat tidak cocok dipadukan dengan sandal hotel.
"Kaki kamu Kenapa Nak?"tanya Dora saat ini posisi Mauren sudah ada di depan meja makan.
"Nanti aku ceritakan, Aku mau duduk dulu."
Bimbim menarik kursi yang ada di samping Bastian, dan membantu Mauren untuk duduk. baru setelah itu bimbing mengambil tempat duduk di samping Mauren. jadi posisinya di restoran itu Mauren duduk di apit oleh dua orang pria tampan. Setelah duduk Maureen lalu menceritakan kejadian saat di kamar mandi.
Setelah berendam sekitar 15 menit di bathub , Mauren lalu keluar dari bathtub. namun saat ingin melangkah ke arah shower untuk membilas badannya. kakinya yang masih dipenuhi oleh busa sabun itu terasa licin di lantai keramik kamar mandi. hingga akhirnya Gadis itu terpeleset jatuh di kamar mandi.
"Argh.....!" pekik Mauren kesakitan.
Bimbim yang berada di luar kamar mandi seketika langsung menghampiri pintu kamar mandi. "Mauren, kamu kenapa?"Bimbim meninggikan sedikit suaranya.
"Aku terpeleset Bim."
"Buka pintunya Mauren!"
"Enggak Bim, aku nggak apa-apa. Aku masih bisa bangun."tolak Mauren, sebab Dia tidak mengenakan apa-apa. Mauren membalikkan badannya ke arah bathtub. Gadis itu mencoba berdiri dengan berpegangan pada bathtub. setelah berhasil berdiri Dia berjalan perlahan ke arah shower sambil berpegangan pada dinding kamar mandi.
***
Ada perasaan lega sekaligus kasihan yang Bastian rasakan pagi ini. Dia yakin, Bimbim belum menyentuh Mauren tadi malam.
"Nanti saat sudah di rumah, Mama akan memanggil tukang urut langganan kita."
"Iya, Ma."
Ayo kita makan sekarang. setelah sarapan kita langsung pulang ke rumah," ucap Moresette yang di angguki oleh semua orang yang ada di sana.
Nampak Mauren ingin menjangkau piring yang berisi potongan ayam goreng. Bastian yang melihat itu langsung mengambilkan potongan ayam bagian paha bawah, Dan meletakkan ke piring Mauren.
"Terima kasih Bastian." Mauren menoleh dan tersenyum ke arah Bastian. Sedangkan Bimbim dan yang lainnya, mereka fokus dengan makanannya. Tidak melihat Apa yang dilakukan oleh Bastian.
Lima belas menit kemudian mereka beranjak keluar dari restoran. sama seperti saat datang ke restoran, kini saat kembali ke kamar pun Maureen kembali memegang lengan Bimbim.
Ingin rasanya Bastian membopong mauren sampai ke lantai atas, tapi pria itu sadar diri, dia bukan siapa-siapanya Mauren.
"Bim, coba istri kamu bohong saja! kasihan dia kakinya sakit dipakai jalan."seru Amor
"Nggak usah tante, aku masih bisa jalan sendiri kok."tolak Mauren.
"Loh, kok masih Panggil tante? protes Amor
"Maaf Tan...eh mama, habisnya aku sudah kebiasaan.."
__ADS_1
"Iya, nggak apa-apa, itu karena kamu belum terbiasa aja manggil Mama."
Obrolan mereka terhenti saat mereka masuk ke dalam lift
Ting!
Pintu lift terbuka, mereka keluar dari dalam lift, menyisakan Bastian seorang. karena kamar pribadi pria itu berada di lantai paling atas.
"Pa, aku mungkin agak siangan baru pulang ke rumah. karena pagi ini masih ada pekerjaan yang ingin aku selesaikan."ucap Bastian sebelum pintu lift tertutup.
Jam 09.00 pagi mereka sudah sampai di rumah. Dora langsung memanggil tukang urut langganannya.
"Bim, bantu Mauren ke atas ya!"seru Dora pada menantunya.
"Iya,Ma."Bimbim membantu Mauren berjalan menaiki tangga.
Di dalam kamar, mauren langsung menuju pembaringan. sedangkan Bimbim, dia pergi ke balkon untuk menghubungi Aulia yang sejak tadi selalu mengirimnya pesan.
"Hello, Bim. kok kamu baru menghubungi aku sekarang? dari jam 07.00 pagi aku kirim pesan berkali-kali tapi kamu nggak membalas satupun pesan aku."omel Aulia.
"Aku lagi sarapan sama keluarga. gak bisa pegang ponsel. Mauren juga habis terjatuh di kamar mandi, Jadi aku mesti bantuin dia buat jalan."
"Kok kamu sampai segitunya memperlakukan Mauren! kayak suami siaga saja."
"Ya mau gimana lagi Sayang, Biar bagaimanapun Mauren itu sahabat aku dari kecil. Kalau teman lagi kesusahan, sudah pasti harus dibantu."
"di sana kan masih ada orang tuanya saudaranya terus juga Maureen bersahabat juga dengan Kak Bastian. Kenapa mesti kamu?
Karena pintu balkon yang tidak tertutup rapat itu, Mauren mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Bimbim. Dari situ dia sudah bisa menebak kalau Aulia merasa keberatan dengan Bimbim yang membantunya untuk berjalan. dia tidak ingin Bimbim membantunya karena terpaksa, atau karena terikat dengan tanggung jawab sebagai suaminya.
"Baiklah Bim, Aku tidak akan meminta bantuan kamu lagi."
Tok tok tok...
"Mauren... Bimbim.. ini tukang urutnya sudah datang. Buka pintunya nak!"seru Dora dari luar kamar.
Mauren melihat ke arah balkon dilihatnya di sana Bimbim masih melakukan sambungan telepon. Sehingga Mauren terpaksa beringsut turun dari pemberiannya sambil berjalan tertatih-tatih karena pintu kamar.
"Mauren, kok kamu yang membuka pintu nak? Bimbim mana?
"Bimbim lagi di balkon mah, tidak mendengar suara ketukan pintu. Dia sedang sibuk melakukan sambungan telepon, Makanya aku nggak mau mengganggunya."sahut Mauren.
"Ada apa Ma?"Imbuh gadis itu
"Ini, tukang urutnya sudah datang."jawab Dora.
"Mbok silakan masuk! Mauren biar diurut di kamar saja."seru Dora pada seorang wanita paruh baya.
__ADS_1
"Iya, Bu."wanita paruh baya itu masuk ke dalam kamar Mauren sambil menenteng kantong plastik berisi minyak dan akar-akaran yang ada di dalam botol kaca.
"Mbok, Saya tinggal dulu ya."pamit Dora. wanita itu melangkah masuk ke dalam kamar pribadinya yang bersebelahan dengan kamar Maureen.
"Pakai sarung aja nak, biar lebih enak menurutnya!"
"Bentar ya mbok."
Mauren menatap darah balkon dilihatnya di sana Bimbim sudah selesai teleponan. "Bim, Bimbim!"Panggil Mauren dengan sedikit berteriak.
Bimbim bergegas masuk ke dalam. "Ada apa Mauren?"
"Bim, kamu bisa tunggu di luar nggak? Aku mau urut dulu sama mbok ini."
"Iya Mauren, kalau gitu aku pulang ke rumah papaku aja dulu."
"Iya, terserah kamu."
Bimbim lalu keluar dari dalam kamar Maureen. "Bim, mau ke mana? tanya Richard. kebetulan pria itu juga baru keluar dari dalam kamarnya.
"Aku mau pulang ke rumah papa sebentar."
Richard merespon dengan anggukan.
Satu jam Setelah mbok pulang, Mauren masuk ke dalam kamar mandi. Gadis itu ingin segera membersihkan diri, karena dia merasa badannya penuh dengan minyak ramuan urut yang dipakai si mbok untuk mengurut tubuhnya.
Selesai membersihkan diri, Mauren kembali naik ke pembaringan yang spreinya baru saja diganti oleh asisten rumah tangga yang ada di rumah itu. Gadis itu lalu mengambil ponselnya. Dia ingin menghubungi Mario. namun sampai sekarang nomor ponsel pria itu masih tidak aktif.
"Kenapa ponsel kamu sampai sekarang masih belum aktif kak Mario? Apa kamu masih marah sama aku? tanya Mauren di dalam hati.
Mauren lalu memutuskan untuk mengirim pesan pada adiknya Mario.
"Bagaimana kabar kak Mario? pesan Whatsapp Itu yang dikirimkan oleh Maureen kepada adiknya Mario.
"Apa kondisinya sudah pulih? belum mendapat jawaban dari pesan whatsapp-nya yang pertama Maureen kembali mengirimkan pesan.
Pesan yang dikirim oleh Mauren langsung dibaca tapi tidak ada balasan dari gadis itu.
Mauren dalam mengirim pesan kembali.
"Say, apa aku bisa bicara dengan Kak Mario? lagi lagi pesan itu langsung centang biru, tapi tidak ada balasan darinya.
Mauren lalu melakukan panggilan video ke nomor ponsel adiknya namun panggilan itu seketika ditolak.
Di rumah Mario, pria itu sedang duduk di sebuah Gazebo bersama dengan adiknya. sebenarnya yang membuka pesan yang dikirim oleh murid itu adalah Mario. sebab saat pesan dari Mauren masuk ke ponsel adiknya, Gadis itu langsung memberikannya pada kakaknya.
"Kenapa Kakak menolak panggilan video dari Mauren?"
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Kakak lagi tidak Ingin berkomunikasi dengan dia."Mario menyerahkan kembali ponsel itu pada adiknya.
bersambung....