
Jam 06.30 pagi Mauren dan Bastian sudah keluar dari dalam kamar. Keduanya pagi ini memutuskan untuk pulang ke rumah sebelum sarapan pagi.
"Mauren, Bastian, Kalian mau ke mana?"tanya Dora saat keduanya berada di lantai bawah.
"Kami mau pulang, Ma."
"Kenapa buru-buru, Nak? lebih baik kalian pulang setelah sarapan saja."
"Aku sarapan di kantor saja, Ma, Mas Bastian nanti sarapan di hotel."
"Iya, Ma. baju kerja kami ada di rumah. Jadi kalau pulangnya setelah sarapan, Mauren akan terlambat ke kantor."
"Ya sudah, kalau kalian memang mau pulang."
Setelah mencium punggung tangan Dora, keduanya lalu keluar dari rumah Richard.
Pagi ini jalanan sedikit lengang, sehingga Bastian masih bisa melajukan mobilnya lebih cepat dari biasanya.
"Mas, jujur sama aku. Tadi malam Mas sama Papa pergi ke mana?"tadi malam Mauren tidak bisa bertanya banyak, sebab di sampingnya ada kedua orang tuanya.
Bastian menghela nafasnya sebentar, dia bergeming sesaat, menurutnya tidak apa-apa kalau sekarang istrinya sudah mengetahui, sebab Maya sudah ditangkap juga.
"Tadi malam Mas dan Papa pergi menangkap pelaku yang menaruh obat ke dalam minuman kamu, sayang."
"Terus gimana, Mas?
"Kamu tenang saja, pelakunya sudah tertangkap."
"Siapa pelakunya, Mas?
"Pelayan yang membawa kamu minuman dan sekretaris Mas yang bernama Maya."
"Maya?"kening Mauren berkerut dia mengingat-ingat orang yang bernama Maya itu.
"Kamu nggak mengenalnya sayang. Mas memang sengaja tidak mendekatkan kamu dengan wanita itu."
"Kenapa Mas?"
"Kejadian tadi malam itu salah satu alasannya."jawab Bastian sambil terus melajukan mobilnya.
__ADS_1
***
Siang harinya di restoran cornel sedang kedatangan tamu. Sepasang suami istri meminta bertemu dengan Cornel. Cornel sudah bisa menebak maksud kedatangan temannya itu, pasti ini ada kaitannya dengan pelaporan anaknya terhadap Maya. Ya, tadi pagi Bastian dan Herlan sudah menjebloskan mayat dan kacungnya itu ke dalam penjara.
"Maaf, Cornel, maksud kedatangan aku ke sini adalah agar anak kamu menarik laporannya di kantor polisi. Kasihan keponakan aku Cornel. Dia masih muda, masih panjang perjalanan hidupnya. Aku mohon sama kamu, tolong bujuk Bastian agar menarik laporannya. kasihan orang tua Maya yang ada di kampung.
"Maaf Don, walaupun Maya keponakanmu dia tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya."
"Apa masalah ini tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan Cornel?"
"Maaf, tidak ada kata damai, Don. perbuatan Maya sudah sangat keterlaluan. Sedikit saja Bastian terlambat menolong istrinya, pas di rumah tangganya akan hancur."
"Pa, sudah tidak usah memohon lagi. Maya itu memang bersalah, untuk apa Papa Mama masih membelanya."ucap istrinya kepada Donres.
"Kamu tahu Ma, orang tua Maya di kampung lagi sakit. Kalau Maya tidak dibebaskan, aku takut akan mengganggu kesehatan orang tuanya."
"Don, bukannya aku tidak mau membantu kamu. Dalam hal ini yang pegang kendali itu Bastian, Bukan Aku. Yang aku tahu, tadi pagi Bastian bilang, dia tidak akan membebaskan Maya. Dia sangat marah pada Maya karena sudah mencelakakan istrinya.
"Pa, ayo kita keluar. Biarkan Maya menjalani hukumannya, agar saat keluar nanti bisa menjadi pribadi yang lebih baik."
"Cornel, aku menitip Maya bekerja di Hotel kamu bukan untuk dipenjarakan."
Belum selesai Donres bicara, istrinya sudah menariknya keluar. Keduanya keluar dari ruangan kerja Cornel tanpa berpamitan terlebih dahulu. Pria itu nampak sekali sangat marah karena permintaannya tidak dikabulkan oleh Cornel.
***
Malam ini setelah selesai makan malam, Mauren langsung masuk ke dalam ruang kerja. Di sana dia hanya mengambil peralatan desain saja. rencananya Mauren akan mendesain baju di dalam kamar saja, di atas ranjang, itupun kalau tidak diganggu oleh suaminya.
"Sayang tiga hari lagi Mas akan pergi ke Filipina. Ada kerjaan yang harus Mas selesaikan di sana."
"Berapa hari, Mas!
"Paling hanya 3 hari paling lambat satu minggu. Kamu bisa ikut Mas, nggak?"
Mauren meletakkan pensilnya di atas kertas desain. "Aku nggak bisa Mas. Papa dan Om harga juga akan berangkat ke luar kota. Jadi urusan kantor diserahkan papa sama aku."
"Iya, saya nggak apa-apa. lagi pula Mas ke sana juga dalam rangka bekerja, kasihan juga nanti kamu di sana lebih sering Mas tinggal di hotel."sahut Bastian.
"Selama Mas di Filipina, kamu menginap di rumah Mama saja. Mas khawatir kalau kamu sendirian di rumah ini."
__ADS_1
"Iya, Mas."
Tiga hari sudah berlalu, Bastian berangkat ke bandara diantar oleh Herlan. awalnya pria itu ingin mengajak Herlan ke Philippine, tapi karena sudah tidak ada mayat lagi, Bastian tidak bisa mengajak Herlan lagi.
"Istri kamu mana, Bastian, Kenapa dia tidak mengantar kamu ke bandara?"tanya herlang saat ini keduanya sedang di perjalanan menuju bandara.
"Istriku jam 09.00 pagi ini ada meeting di kantor papa mertua ku, makanya dia tidak bisa mengantar aku."
"Kamu kenapa masih memperbolehkan Mauren bekerja? padahal kan kamu sudah sangat mapan."
"Dia bekerja bukan karena uang, Herlan. Tapi karena ingin membantu papa mertuaku di kantor. Adik iparku masih sekolah. dia belum bisa membantu Papa di kantor."
Beberapa saat kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Herlan sudah berhenti di depan bandara.
"Aku titip hotel dan perusahaan ya. laporkan segera Kalau ada masalah."pesan Bastian Sebelum turun dari dalam mobil.
****
Hari ini Cynthia jalan-jalan sendirian di mall. Awalnya dia ingin mengajak Riska, tapi Gadis itu sedang banyak kesibukan. Cynthia ingin menghibur hatinya. permasalahan rumah tangganya membuat dia merasa jenuh di rumah. apalagi sekarang komunikasi dengan suaminya terkesan dingin. berbicara hanya jika ada yang penting-penting saja.
Tempat yang ingin dikunjungi oleh Cynthia pertama adalah calon perawatan. Sudah lama Cynthia tidak melakukan perawatan. Mungkin itulah sebabnya Rey mencari wanita lain di luar sana, pikirnya.
Jam 12.00 siang Cynthia keluar dari salon. wanita itu merasakan perutnya lapar dia langsung menuju ke sebuah restoran langganannya, tempat dia biasanya makan dengan Rey.
Nampak Cyntia berdiri di ambang pintu. Netranya mengitari seluruh ruangan. saat ini jam makan siang, wajar jika semua meja sudah terisi penuh oleh pengunjung. saat Cynthia ingin berbalik, dia melihat ada sebuah meja yang mana di meja itu hanya ada seorang gadis yang duduk di sana. Cynthia mencoba melangkah ke arah meja itu.
"Permisi, Boleh saya ikut Duduk di sini?meja yang lain penuh semua."ucap cynthia sambil mengulas senyum ramah pada gadis itu.
Gadis yang awalnya fokus dengan ponselnya itu langsung mengalihkan perhatiannya ke arah Cynthia.
"Boleh, silakan tante."jawab Gadis itu dengan senyum ramah.
Cynthia menatap gadis yang duduk di depannya terlihat sangat cantik. kalau dibandingkan dengan Riska masih lebih cantik gadis yang duduk di depannya saat ini, pikirnya.
"Hmmm... rasanya tidak enak kalau makan di meja yang sama tapi tidak saling mengenal."ucap Cynthia.
Gadis itu paham maksud ucapan wanita yang duduk di seberangnya. Dia langsung mengulurkan tangannya ke arah Cynthia.
"Perkenalkan, nama saya Aulia, tante."
__ADS_1
Cynthia menyambut uluran tangan itu. "saya Cynthia, senang berkenalan dengan kamu. harapan saya ke depannya kita bisa berteman."ucap Cynthia.
bersambung.