Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 163. TIDUR SERANJANG


__ADS_3

Setelah keduanya masuk ke dalam kamar, Bimbim memutuskan untuk mandi sebentar. sedangkan Mauren setelah mencuci kaki di kamar mandi dia langsung menuju pembaringan.


Gadis itu memberikan tubuhnya agak tepi. Dia menyisihkan tempat yang luas untuk Bimbim tidur. Karena dia tahu, Bimbim malam ini akan tidur di ranjang yang sama dengannya. sebab kamar itu tidak ada sofa panjang yang bisa dipakai untuk Bimbim tidur. Jadi terpaksa malam ini Mauren berbagi kasur dengan suaminya.


Setelah berbaring dengan posisi menyamping, Mauren mencoba memejamkan matanya. Dia berharap akan segera tertidur sebelum suaminya selesai mandi.


Sekitar 15 menit Bimbim berendam di bathtub kamar mandi. pria itu lalu membuka matanya, dan keluar dari bathtub. Dia segera melangkah ke arah shower untuk membilas badannya. Bimbim juga berharap, Setelah dia keluar dari kamar mandi Nanti istrinya sudah tidur.


ceklek


Sekali hentakan pintu kamar mandi terbuka lebar. Perlahan Bimbim melihat ke kanan dan ke kiri, setelah memastikan istrinya tertidur dengan posisi menyamping, Bimbim menghela nafas lega. lalu dia berjalan perlahan menuju koper.


Pria itu takut kalau istrinya terbangun. dibukanya perlahan koper itu untuk mengambil baju gantinya. Kebetulan masih ada tiga style pakaian bersih yang bisa dipakai untuk tidur malam ini dan untuk pulang besok pagi. Malam ini Bimbim mengenakan setelan celana kain yang panjang selutut dan baju kaos oblong.


Setelah mengenakan pakaiannya, pandangan mata Bimbim mengitari seluruh ruangan kamar. Dia mencari tempat atau barang yang bisa dia gunakan untuk tidur. namun di sana tak ada alasan untuk dia bisa jadikan tempat tidur di lantai keramik. Padahal pria itu berharap di sana ada sofa ataupun ambal.


Apa boleh buat, malam ini Bimbim terpaksa tidur satu ranjang dengan Mauren. Bimbim lalu duduk di tepi ranjang. dia perlahan membaringkan badannya. Awalnya Bimbim mengambil posisi terlentang. Namun beberapa menit kemudian, pria itu mengubah posisi tidurnya memunggungi Mauren.


Di tempat yang berbeda, Bastian, Mario dan Aulia malam ini tidak bisa tidur. ketiganya sama-sama kepikiran dengan pria dan wanita yang mereka cintai.


Padahal yang mereka pikirkan saat ini sudah terbang ke alam mimpi. Bimbim dan Mauren tidur di ranjang yang sama, namun dengan posisi tidur saling memunggungi. pasangan pengantin baru itu sudah sama-sama lelah hari ini. makanya baru saja kepala mereka menyentuh bantal, beberapa menit kemudian mereka sudah bisa berkelana di alam mimpi.


Jam 06.00 pagi, Dora sudah beberapa kali menghubungi Mauren. Namun, tidak diangkat oleh Mauren. sebab Dia tahu betul kebiasaan putrinya yang selalu dibangunkan olehnya.


"Aduh, Mauren ini sudah menikah Tapi masih saja tidak berubah."rutuk Dora karena merasa kesal beberapa kali panggilannya dilewatkan oleh Mauren.


"Sayang, Mauren itu sudah menikah. kamu nggak usah mengaturnya lagi."tegur Richard


"Tapi mas, Putri kita ini mesti kita ajari lagi. dia itu sudah punya suami dan sebentar lagi akan memiliki anak. nanti gimana Dia mau mengurus suami dan anaknya, sedangkan dia saja masih belum bisa mengurus dirinya sendiri."


"Cepat atau lambat dia pasti akan berubah Sayang."


Dora tidak menghiraukan teguran suaminya. "Aku akan coba telepon dia sekali lagi Mas."


Kring...kring ... kring....

__ADS_1


Mauren dan Bimbim saat ini sedang tidur saling berhadapan. Yang mana posisi mereka saat ini cukup intim. kaki kanan Mauren naik kepala Bimbim. sedangkan tangan kiri Bimbim merangkul pinggang ramping Mauren. Jarak wajah keduanya hanya sejengkal saja.


Mendengar ada bunyi ponsel. Bimbim terbangun dari tidurnya, pria itu perlahan membuka kelopak matanya pagi ini pemandangan yang dia lihat adalah wajah cantik Mauren. "Hah...! Bimbim tersentak. Dia segera menarik tangan kirinya yang melingkar di pinggang istrinya. Bimbim juga menjauhkan kaki Mauren dari pahanya. Pria itu langsung beringsut mundur agar posisinya menjauh dari Mauren.


Perlahan Bimbim mengulurkan tangannya ke arah istrinya. "Mauren... bangun! ponsel kamu bunyi."Bimbim menepuk lengan istrinya tiga kali.."Bentar lagi Ma, Mauren masih ngantuk."sahut Mauren dengan mata masih terpejam. Dia mengira mamanya yang membangunkannya. sebab Sudah menjadi kebiasaan bagi wanita itu.


"Mauren! ini aku Bimbim. cepat bangun!


more lalu membuka kelopak matanya. "Hah...! Bimbim? Ada apa Bim?"tanya Mauren dia langsung menyadari bahwa Bimbim adalah suaminya. Gadis itu lalu melihat ke arah tubuhnya. Mauren mendesain negara karena pakaian yang dikenakannya masih utuh.


"Kenapa? Apa kamu mengira aku memperkosa kamu saat tidur?"Bimbim sedikit kesal dengan Mauren karena menyerah dirinya berbuat yang tidak senonoh saat istrinya tidur.


"E ..Enggak."sangkal Mauren.


"Tadi ponsel kamu bunyi seperti ada yang menghubungi."jari telunjuk Bimbim mengarah pada ponselnya yang ada di atas nakas.


Mauren lalu menoleh ke arah samping, diraihnya benda pipih berwarna hitam itu. Gadis itu lalu memeriksa ponselnya. "Mama? Ada apa ya Mama menghubungiku sampai beberapa kali begini? tanya Mauren heran.


"Coba kamu telepon balik!"seru Bimbim.


"Assalamualaikum."Dora menyahut dari seberang telepon.


"Waalaikumsalam, ada apa Ma?"


"Kok ada apa? Coba kamu lihat jam. Sekarang sudah jam 06.00 pagi. satu jam lagi kamu dan bibim kami tunggu di restoran."ucap Dora dengan tegas.


"Iya Ma."


Tut..


Panggilan tersebut langsung diakhiri oleh Dora. Bimbim menatap darah Mauren. pandangan itu menyiratkan sebuah pertanyaan.


"Kata Mama satu jam lagi kita harus berada di restoran."ucap Mauren.


"Aku duluan ke kamar mandi ya Bim."Mauren beringsut turun dari ranjang.

__ADS_1


Sementara di tempat lain, tepatnya di rumah kakek Mario. Sebelum turun ke lantai bawah untuk sarapan, pria tua itu melihat istrinya mengenakan pakaian bagus seperti ingin bepergian.


"Mau ke mana Ma pagi-pagi begini sudah rapi?"tanya kakeknya Mario


"Mau lihat Mario."


"Ngapain ditengok? dia baik-baik saja."


"Papa sudah sangat keterlaluan! Jangan dikira Mama tidak tahu dengan rencana papa kemarin."geram neneknya Mario.


"Rencana apa? Papa tidak melakukan apa-apa?"


"Iya, Papa memang tidak melakukan apa-apa, tapi orang suruhan Papa yang melakukannya."


"Sudah la Ma. Tidak usah diributkan. lagi pula mereka tidak terluka parah,"ucap pria itu menganggap enteng.


"Papa memang tidak punya perasaan. Coba kalau Papa bisa menempatkan diri di posisi Mario, Pasti Papa tidak akan tega melakukan itu."


"Dua minggu yang lalu kan aku sudah memberikan peringatan pada mereka agar membatalkan pernikahan Mario. namun dia menantangku. masih saja keras kepala ingin menikah kan Mario dengan cucu Bernando itu.


Wanita yang sudah berusia senja itu hanya menggelengkan kepala melihat suaminya yang menganggap segala sesuatunya itu enteng.


***


Jam 07.00 pagi di lantai bawah, tepatnya sebelah kanan lobby. di sana ada sebuah restoran untuk para tamu yang menginap di hotel itu. saat ini rombongan keluarga pengantin yang tadi malam menginap di hotel sudah berkumpul di restoran. Termasuk Bastian, pria itu juga ada di sana. sebab pagi-pagi sekali Moresette sudah menelponnya. Menyuruh pria itu untuk ikut sarapan bersama.


"Ini pengantin barunya mana ya, Kok belum juga turun?"tanya Fernando.


"Kamu ini Fernando, kayak nggak pernah jadi pengantin baru saja. Padahal sudah dua kali menikah. Kita juga dulu waktu nikah, Pagi harinya telat bangun karena kecapean lembur."sahut Cornel.


"Hussst! ada anak-anak di sini. jangan ngomong gitu Kak!" tegur Moresette pada suaminya.


Bastian yang mendengar itu, dia langsung mengalihkan pandangan ke arah bawah. pria itu tertegun setelah mendengar ucapan Papanya barusan. kekhawatirannya yang berusaha dia tepis tadi malam kini kembali bergelayut di kepalanya.


Beberapa saat kemudian terlihat Mauren dan Bimbim baru saja memasuki ruang restoran. rambut keduanya masih nampak basah, karena waktu sudah hampir jam 07.00 pagi mereka tidak sempat mengeringkan rambut. Nampak Mauren berjalan merangkul dengan kiri Bimbim. Istri Bimbim itu berjalan pelan. semua orang yang ada di sana perhatiannya tertuju ke arah Mauren. Mereka melihat cara jalan Mauren yang terlihat menahan sakit.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2