
Setelah selesai memasukkan baju-bajunya ke dalam coper, Dora lalu meraih putrinya kepelukannya "Sayang, Maafkan Mama ya, karena Mama harus ninggalin kamu. Mama kuliah dulu. Sementara ini kamu tinggal sama Papa kamu dulu ya. Suatu saat nanti kita pasti akan berkumpul kembali. Mama pasti akan merindukan kamu Nak. Hiksss... hiksss.. ucap Dora sambil terisak. Dora mengecup pipi dan kening putrinya.
Pagi harinya yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya di permukaan. Bini Kini terlihat dua mobil sudah terparkir di halaman villa mewah itu. Mobil yang berwarna hitam akan membawa Dora ke kota, yang akan menghantarkannya langsung ke Bandar udara internasional Mae Fah Luang, yang ada di Chiang Rai.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 2 jam akhirnya mobil yang ditumpangi Dora tiba di bandar udara internasional Mae Fah Luang, Chiang Rai.
Dora membuka pintu mobil itu, kemudian Ia turun dan dibantu oleh sang sopir untuk mengeluarkan koper milik Dora dari bagasi mobil.
Dengan berat hati Dora menaiki pesawat tujuan bandara San Diego. Untuk melanjutkan pendidikannya di sana sesuai dengan apa yang ia rencanakan sebelumnya.
Sedangkan mobil berwarna metalik akan membawa nyonya Nadia dan cucunya untuk pulang ke rumah Tuan Bernando tepatnya di kota Bangkok.
Selama beberapa jam di dalam perjalanan, mobil yang membawa Nyonya Nadia dan Putri kecil Dora sudah tiba di halaman rumah Tuan Bernando. Terlihat salah satu asisten rumah tangga menghampiri mobil itu, membantu sang sopir menurunkan barang-barang dari dalam mobil.
"Sini Nyonya, biar saya bantu menggendongnya."ucap asisten rumah tangga itu saat melihat majikannya Ingin turun dari dalam mobil.
"Ngak usah Bi, saya bisa kok." tolak Nyonya Nadia.
Wanita paruh baya itu Turun perlahan dengan mendekat cucunya. Setelah keluar dari dalam mobil itu, netra Nyonya Nadia menatap sekeliling halaman rumahnya, dia lihatnya bunga-bunganya nampak tidak terurus.
"Aduh! bunga saya Bi, kok jadi begitu?" keluh Nyonya Nadia.
Asisten rumah tangga itu langsung menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Maaf Nyonya, saya paling nggak bisa kalau disuruh merawat tanaman. Tapi kalau disuruh pelihara ternak saya ahlinya." sahut asisten rumah tangga itu sambil nyengir.
"Huh! kamu ya Bi, Ya sudah sekarang Bibi bantu saya bawa tas cucu saya ke kamar Dora." ujar Nyonya Nadia
"Baik nyonya."
Sore harinya Tuan Bernando keluar dari dalam kantornya. Pria paruh baya itu hari ini pulang lebih awal, karena dia sudah sangat merindukan istrinya. Antonius yang baru saja pulang dari pertemuan dengan klien, langsung menghampiri papanya yang sudah berada di tempat parkir mobil.
"Papa mau kemana?
"Papa mau pulang, Mama kamu sudah ada di rumah. Jadi Papa nggak bisa kerja sampai malam lagi. Kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu." Ucap Tuan Bernardo, lalu pria paruh baya itu masuk ke dalam mobilnya.
Antonius menghela nafas panjang.
Sekitar setengah jam kemudian mobil Tuan Bernando sudah memasuki halaman rumahnya. Setelah memarkirkan mobilnya, Tuan Bernando langsung keluar dari dalam mobil dengan menenteng tas kerja di tangan kanannya.
"Nyonya, dimana?" tanyanya pada asisten rumah tangga itu, saat wanita tua itu membuka pintu rumah utama.
"Nyonya ada di kamar non Dora Tuan."
Kening pria itu berkerut. "kok Nyonya di kamar Dora? tanyanya sambil kakinya terus melangkah menuju anak tangga.
__ADS_1
"Nyonya menemani anak non Dora Tuan."
pria paruh baya itu tidak merespon ucapan sang asisten rumah tangga itu, dia langsung melangkah menaiki anak tangga.
Saat Sudah sampai di lantai atas, pria paruh baya itu langsung melangkah ke kamar anaknya. "Ma Mama!!! panggilnya saat sudah membuka daun pintu kamar itu.
"Ssssst!!! mama Nadia menempelkan jari telunjuknya ke hidung dan bibirnya.
"Jangan berisik nanti cucu kita bangun." ucap Nyonya Nadia setengah berbisik
Tuan Bernando lalu melangkah perlahan masuk ke kamar itu, mendekat ranjang Dora.
"Lihat Pa, cucu kita cantik kan mirip sekali dengan Dora saat dia masih kecil.
pria itu tidak menjawab matanya terus memandangi bayi itu.
"Pa, izinkan Mama merawat bayi ini, ya."
"Enggak!!!" tolak Tuan Bernando cepat tanpa berpikir.
"Kenapa, ini cucu kita Pa. Papa nggak kasihan dengan cucu kita?
"Nanti apa kata orang Ma,nama baik keluarga kita pasti akan tercemar. Kita nggak bisa membohongi orang, wajah anak kita tidak bisa dibohongi, orang tidak akan percaya jika kita mengatakan ini bukan cucu kita."
Malam ini nyonya Nadia langsung mencari nomor ponsel Nyonya Alena melalui grup WhatsApp sosialitanya.
Dia bertanya kepada salah satu teman-teman sosialitanya yang memiliki nomor ponsel Nyonya, ternyata salah satu di antara mereka memiliki nomor ponsel Nyonya Alena. Nyonya Nadia pun meminta nomor ponsel Nyonya Alena dari temannya itu.
Pagi harinya setelah suaminya berangkat bekerja, Nyonya Nadia langsung menghubungi nomor ponsel Nyonya Alena.
Kring ....
Kring ....
Kring ....
ponsel Nyonya Alena yang ada di meja ruang keluarga berbunyi.
Asisten rumah tangga yang lagi bersih-bersih di ruangan itu, langsung membawa ponsel majikannya ke halaman depan.
"Maaf Nyonya, ponsel Nyonya berdering."ucap asisten rumah tangga itu sambil berjalan ke arah majikannya yang lagi duduk santai menikmati indahnya pagi hari dan tanaman hijau yang ada di halaman rumah yang terbentang luas itu.
"Siapa yang nelpon Bi? tanya Nyonya Alena saat dia menerima ponselnya.
Saya nggak tahu Nyonya. Di layar saya lihat nggak ada namanya.
__ADS_1
Nyonya Alena lalu memeriksa riwayat panggilan.
Kring ....
Kring ....
Kring .....
Nomor asing itu memanggil lagi. Nyonya Alena Langsung mengangkatnya. Dia mengira si penelpon itu ingin memesan kue.
"Assalamualaikum!" Nyonya Nadia memberi salam.
"Maaf ini siapa ya, dan Ada perlu apa?
"Saya Nadia, mamanya Dora."
Dag dug deg jantung Nyonya Alena tiba-tiba memompa darah lebih cepat dari yang seharusnya.
"Ma... Mamanya Dora?" Nyonya Alena memastikan lagi.
"Iya Bu, Saya mamanya Dora.
"Oh iya, Bu. Kalau boleh tahu ada apa ya,Bu?
"Lebih baik kita bertemu langsung saja ya, Bu. Nggak enak kalau ngomongnya melalui telepon." sahut Nyonya Nadia dari ujung telepon
"Oh iya, Bum Ibu mau kita ketemuan dimana?
"Terserah Ibu mau dimana."
"Bagaimana kalau kita bertemu di Paul cake a shop saya? di sana ada ruang kerja saya yang dapat nyaman ngobrol.
"Baik bu, jam sembilan nanti saya akan ke sana.
"Baik Bu, saya tunggu."panggilan telepon seluler itu terputus setelah mereka sepakat bertemu di Paul cake a shop milik Nyonya Alena.
kira-kira Ada apa Ya? Kok tiba tiba saja Mamanya Dora mengajak ketemuan. Padahal selama ini Kan, mereka selalu menghindar dari kami?apa aku ngomong sama Richard saja, ya. Ah enggak, kasihan anak itu nanti. Takut dia kepikiran yang membuat dia menjadi tidak konsentrasi mengurus perusahaan, dan takutnya memberi harapan palsu untuk dia." Nyonya Alena bermonolog sendiri.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1