Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 124. DORA LAHIRAN


__ADS_3

Richard yang mendapat telepon dari istrinya itu langsung meluncur ke rumah sakit seorang diri. Karena saat tadi istrinya menelepon, Richard sedang berada di ruang meeting. Tentu saja Arga dan Tuan Nicholas duduk di ruangan itu juga, dan mereka tidak bisa meninggalkan ruang mesin untuk menemani Richard.


Jarak kantor milik Tuan Nicholas dengan Rumah Sakit cukup dekat, sehingga tidak butuh waktu lama mobil Richard sudah tiba di parkiran rumah sakit.


Dia langsung bergegas turun dari mobil dan langsung masuk ke bagian administrasi untuk mendaftar.


Kemudian pria itu keluar lagi sambil membawa kursi roda ke arah teras rumah sakit. Sambil menunggu istrinya tiba di rumah sakit, Richard menghubungi Nyonya Alena dan mama mertuanya untuk memberitahu keadaan Dora yang sebentar lagi akan melahirkan.


Sebuah mobil berwarna metalik yang sangat dikenali oleh Richard masuk ke dalam rumah sakit.


Mobil itu langsung berhenti di depan teras. Richard mendorong kursi rodanya ke arah mobil itu. Ditinggalkannya kursi roda itu di ujung teras. Asisten rumah tangga langsung turun dari mobil dan ingin berjalan mengitari menuju pintu sebelah kiri.


"Bi, lebih baik ke sekolah saja langsung. Mama Mauren biar saya yang bawa."ucap Richard sambil melangkah ke arah pintu depan sebelah kiri.


Nia hanya mengangguk.


Dora lalu dibantu Richard untuk duduk di kursi roda dan mendorongnya ke dalam menuju kamar observasi. di sana Dora langsung dibaringkan pada sebuah branker. kemudian perawat itu memeriksa pembukaan Jalan lahir.


"Sudah bukaan dua Bu."udah perawat yang baru saja memeriksa Jalan lahir.


"Berapa lama lagi?"tanya Richard yang tangannya sesekali diremas oleh Dora, saat wanita itu menyalurkan rasa sakitnya saat kontraksi itu datang.


"Mungkin sekitar dua jam atau tiga jam lagi. tapi tergantung bayi di dalam perut, bisa lebih cepat atau lebih lambat."


"Mas.... sakit banget." rengek Dora.

__ADS_1


Richard bingung, karena ini merupakan pengalaman pertamanya menemani seorang wanita melahirkan.


"Sabar sayang,"Hanya itu yang bisa diucapkan pada istrinya. tangannya mengusap peluh yang ingin meluncur di pelipis istrinya.


"Sayang, Mas nggak sabar mau melihat anak kita nanti jenis kelaminnya apa."Richard sengaja mengajak istrinya ngobrol agar bisa mengalihkan rasa sakitnya. Setiap gambar usahakan anak dalam kandungan, Richard dan doro sepakat untuk tidak ingin diberitahukan perihal jenis kelamin anaknya. Sebab mereka ingin tahu menjadi sebuah kejutan saat lahir nanti.


"Mas, nanti misal anak kita yang lahir ini perempuan lagi, Mas harus sayang sama dia ya."


"Kok kamu ngomong begitu sayang? meskipun Mas menginginkan anak laki-laki, tapi mas akan tetap menyayanginya karena dia adalah darah daging Mas."


Beberapa jam kemudian, bukaan sudah lengkap. Perawat selalu memindahkan Dora ke ruang bersalin. Richard pun mengikuti istrinya ke ruangan itu, sebab dia ingin mendampingi istrinya saat melahirkan.


Kedua kaki Dora lalu diletakkan pada tempat dudukan kaki yang ada di ranjang itu. posisinya sekarang dalam keadaan sudah siap ingin mengejan. tangan kirinya memegang pagar kecil yang ada di pinggiran ranjang. sedangkan tangan kanannya memegang lengan suaminya


Dora yang sudah berpengalaman memahaminya.


"Aaaaa ....!!!"Dora berteriak. nafasnya ngos-ngosan, buliran keringat sebesar butiran jagung keluar di keningnya. Richard dengan sigap mengelap keringat tersebut. lalu mengecup kening sang istri.


"Semangat sayang... yang kuat ya."Richard memberi semangat untuk istrinya.


Setelah tiga kali mengejan, Dora akhirnya berhasil mengeluarkan bayi dalam perutnya.


"Oekkk....oekk...oekkk..."bayi itu menangis kencang.


"Selamat ya, Bapak dan Ibu, jenis kelamin bayinya laki-laki."ucap dokter itu

__ADS_1


"Alhamdulillah...."ucap Richard dan Dora sambil tersenyum senang.


Beberapa saat kemudian Dora dan bayinya keluar dari ruangan itu. karena akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Di luar ruangan, Nyonya Nadia, Nyonya Alena dan Mauren Sudah beberapa jam yang lalu menunggu. Mereka lalu mendekat ke arah Dora dan Richard. Kemudian melangkah sejajar dengan Richard yang saat ini sedang menggendong putranya.


Setelah sampai di dalam ruangan perawatan, Mauren melihat ke arah adiknya. Tidak ada raut wajah bahagia terpancar dari anak kecil itu. semua orang yang ada di sana heran melihat ke arah Mauren.


"Mauren, kamu kok diam aja. boleh nggak suka sama adik bayi?"tanya Dora.


"Mauren minta adik bayi seperti di mall. bukan seperti itu."ucap Mauren dengan nada suara bocah kecil.


"Memangnya yang di mall Seperti apa sayang?"


"Yang dimaksud adiknya bisa tertawa."


"Mauren, nanti kalau Adik bayinya sudah besar juga bisa ini kan adiknya masih kecil."tutur Richard.


Mauren akhirnya mengangguk paham. setelah Richard dan nyonya Alena memberitahu Mauren, kalau beberapa bulan lagi adik bayinya juga bisa tertawa.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2