
Mauren mengetuk ruang kerja Dora.
"Assalamualaikum.."Mauren dan Bastian memberi salam.
"Waalaikumsalam."jawab Dora, wanita itu langsung tersenyum saat melihat anak dan menantunya datang berkunjung di butiknya.
"Sayang, Mas mau langsung kembali ke hotel. banyak pekerjaan yang ingin Mas selesaikan."
"Iya, Mas."
"Loh, Bastian kok buru-buru?"tanya Dora saat menantunya mencium punggung tangan Mama mertuanya.
"Banyak kerjaan yang harus aku selesaikan Ma. Titip istriku ya, Ma. Nanti sore aku jemput."
"Tidak usah Mas. Nanti sore aku pulang bareng mama. Nanti jemput aku di rumah Mama saja, sekalian kita makan malam di rumah mama."
"Iya, sayang."
Dora tersenyum mendengar keromantisan anak dan menantunya, persis seperti dia dan Richard.
Malam harinya, setelah selesai makan malam di rumah mertuanya, Bastian mengikuti istrinya duduk bersantai di ruang tengah.
"Mauren, sudah ada tanda-tanda belum?"tanya Dora memegang perut Mauren.
Mauren menggeleng. "belum, Ma. beberapa minggu yang lalu aku baru aja datang haid."
Kring kring...
Ponsel milik Richard mendapat sebuah panggilan. Richard langsung keluar dari ruang tengah. Setelah berada di ruang tamu, pria itu segera mengangkat ponselnya.
"Hello..."
"Hello, Tuan. kami sudah menemukan pelayan itu "
"Langsung bawa dia ke markas!"perintah Richard yang tidak bisa dibantah oleh anak buahnya.
"Baik, Tuan."
Setelah menutup telepon, Richard kembali ke ruang tengah. "Bastian ikut Papa ke ruang kerja."
Bastian pamit pada istri dan mama mertuanya, dia mengikuti Richard naik ke lantai atas menuju ruang kerja.
"Tutup pintunya."seru Richard saat Bastian sudah masuk ke ruang kerja.
"Ada apa, pa?"Bastian duduk di kursi depan meja kerja.
"Pelayan yang kabur itu sudah berhasil ditangkap. Tidak Berapa lama lagi dia akan sampai di markas. Kamu dan Mauren sebaiknya menginap di sini. Malam ini kamu ikut Papa ke markas untuk mengintrogasi pelayan itu."
"Alhamdulillah kalau pria itu sudah berhasil ditangkap."
Setelah selesai berbincang, Bastian dan Richard langsung turun ke lantai bawah.
__ADS_1
"Mas, kita pulang jam berapa?"
"Kita menginap di sini, sayang."
"Menginap?" Mauren merasa heran. Pasalnya tadi sore suaminya bilang padanya agar tidak terlalu lama di rumah Papa Richard, tapi kenapa malah diajak menginap.
"Mauren, papa dan suami kamu ada yang mau diurus malam ini. daripada nanti kamu sendirian di rumah lebih baik kamu menginap di sini saja."Richard menimpali
Dora paham apa yang akan dilakukan suaminya malam ini.
"Urusan apa Pa?"
"Sayang, papa cuman mau minta bantuan saja sama suami kamu, ada kerjaan yang tidak bisa diselesaikan sendiri oleh Papa."
Mauren berhenti bertanya. Nanti dia akan menanyakannya langsung dengan suaminya.
Tepat jam 10.00 malam, Bastian dan Richard berangkat ke markas. Di luar pintu gerbang perumahan, Cornel sudah menunggu di sana. pria itu ingin ikut juga ke markas. Dia ingin tahu siapa dalang dibalik kejadian tadi malam.
Tak lama setelah pelayan itu disekap di ruang bawah tanah, dua buah mobil yang dikemudikan oleh Richard dan corner tiba di halaman markas.
Ketiga pria itu langsung turun dari mobil.
"Di mana dia?"tanya Richard pada. Bastian dan Cornel berdiri di belakang Richard, netra keduanya mengitari tempat itu. Sebab Ini pertama kali mereka menginjakkan kaki di markas.
"Pria itu di ruang bawah tanah tuan."
Richard menoleh ke arah Cornel dan Bastian. "Kita langsung ke ruang bawah tanah"ajak Richard yang langsung mendapat anggukan oleh Bastian dan Cornel.
Plak!!! Plak!!
"Arghhhh... arghhhh.." pekik pria itu.
"Ini ganjaran karena kamu sudah melakukan hal buruk pada anak saya!"
"Apa salah saya, Kenapa kalian mengurung saya di sini?"
Richard menoleh kepada Bastian dan Cornel. Bastian maju para pria. "Apa kamu tidak kenal dengan saya?"
"Pak Bastian?"ucap pria itu heran.
"Pasti kamu heran, kenapa saya ada di sini."Bastian mengambil cambuk yang diserahkan oleh mertuanya.
"Kamu tahu kemarin malam minuman siapa yang kamu campur dengan obat terkutuk itu?"
"Sa...saya tidak tahu, Pak."
Plak!!!
"Arghhh..." pekik pria itu."Ampun, Pak Bastian tolong lepaskan saya."imbuh pria itu memohon.
"Wanita yang kamu beri minuman itu adalah istri saya!"ucap Bastian dengan mata tajam ke arah pria itu
__ADS_1
"Ampun Pak. Maafkan saya. Saya benar-benar tidak tahu kalau wanita itu adalah istri bapak."
"Kalau kamu tidak tahu wanita itu istri saya, atas dasar apa kamu memberi dia minuman yang ada kandungan obat seperti itu?"
"Sa...saya hanya disuruh pak. saya terpaksa melakukannya. Saya diancam Jika saya tidak melakukannya maka saya akan pecat, dan saya tidak bisa membiayai Ibu saya berobat di kampung. Saya hanya mendapatkan imbalan untuk biaya pengobatan ibu saya."
Plak!!!
"Arghhh...."
"Saya tidak butuh alasan kamu. Sekarang cepat katakan, Siapa yang menyuruh kamu!"desak Bastian.
Pelayan itu bergeming, dia masih menimbang-nimbang.
"Kalau saya mengatakannya apa Saya akan dibebaskan?"pria itu mencoba negoisasi.
"Apa kata kamu? dibebaskan?"Bastian tersenyum menyeringai.
"Kalau kamu tidak mau mengatakannya, maka ibu kamu yang lagi sakit itu akan kami bawa ke tempat ini juga."imbuh Bastian mengancam, dia sengaja menakuti pria.
"Ja.... jangan Pak, jangan melibatkan Ibu saya dalam masalah ini."
"Kalau begitu cepat katakan!"bentak Bastian, dia sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa pelakunya.
"Bu Maya, Pak."
Bastian menghafalkan kedua tangannya ternyata benar dugaan Herlan tadi pagi.
"Maya? siapa Maya?"tanya Richard.
"Dia salah satu orang penting di hotel, Pa."
"Kenapa dia menyakiti istri kamu, Bastian?"
"Lebih baik kita bawa saja Maya ke sini." Cornel menimpali.
"Kamu tahu, di mana alamat rumah Maya Bastian?
Bastian mengangguk.
"Bastian, kamu dan anakku apa-apa malam ini juga ke rumah wanita itu. mengenai cara membawanya wanita itu, Kamu tidak usah memikirkannya. kamu cukup menjadi petunjuk jalan saja, dan tunggu di dalam mobil.
"Iya, Pa."Bastian menyerahkan cambuk itu kembali pada Papa mertuanya.
Richard memerintahkan pada dua orang anak duanya untuk mengikuti Bastian. Ketiganya menaiki mobil. Bastian duduk di kursi kemudi, sedangkan dua primer baju hitam itu duduk di Jok tengah.
Saat ini Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Suasana di sekitar rumah Maya sangat. Sepi, sehingga memudahkan Bastian dan orang suruhan Richard untuk membawa Maya ke markas malam ini.
Jantung Bastian berdetak lebih cepat, ada perasaan khawatir kalau dia akan tertangkap basah oleh warga di sekitar rumah Maya. pria itu sebelumnya tidak pernah membayangkan akan berada di situasi seperti ini. Selama ini hidup lurus-lurus saja, tidak pernah malu lakukan tindakan seperti ini. Apabila bersalah, serahkan pada yang berwajib. begitu pikirannya selama ini. Namum berbeda dengan papa mertuanya.
bersambung....
__ADS_1