
Mauren menangis sesungguhkan di dalam kamarnya. hatinya tak terima Bimbim mengatakan Bastian menjadi alasan untuknya menolak rujuk. dia tidak ingin persahabatan Bimbim dan Bastian menjadi hancur hanya gara-gara memperebutkannya.
"Maaf Kak. Aku terpaksa melakukan ini. baru saja kita beberapa hari menjalin hubungan tapi sudah seperti ini."
Sementara di tempat lain, tepatnya di kamar pribadi Bastian, es batu yang baru dia gunakan untuk mengompres pipinya sebentar, Kini dia biarkan meleleh begitu saja di dalam baskom
Terlihat Bastian memegang kedua kepalanya yang mendadak pusing, dadanya terasa sesak mendengar Mauren memutuskan hubungan dengannya secara sepihak. Bastian mengambil kembali ponselnya, di sana dia mulai merangkai beberapa kalimat yang ada di dalam hatinya, dan mengirimnya pada Mauren.
"Kenapa kamu mengambil keputusan seperti ini, sayang?"Kenapa kamu tidak sabar menunggu Kakak menyelesaikan masalah ini? sayang, jangan kamu hancurkan masa depan yang sudah Kakak rancang. Kakak nggak bisa melangkah ke depan tanpa kamu."pesan dikirimkan oleh Bastian kepada Mauren.
Setelah mengirim pesan, kelopak mata pria itu menutup rapat. Rasa perih pada wajahnya sudah tidak dirasakan lagi, sebab digantikan oleh rasa perih yang dia rasakan di dalam dadanya saat ini.
***
Pagi hari yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya di permukaan bumi. Pria yang hampir semalaman tidak bisa tidur itu kini tidurnya terusik oleh cahaya matahari yang mengenai tempat pada kedua netra nya.
Kelopak mata yang ditutup itu perlahan bergerak naik. Sesaat kemudian dia mengerjap mengerjapkan matanya. Di liriknya benda bulat yang menempel di dinding, ternyata jarum pendek menunjukkan pukul 9. Bastian teringat dengan pesan yang dikirimnya tadi malam. Dia penasaran, Apakah pesan itu sudah dibalas oleh Mauren?
Bastian gegas mencari ponselnya. harapan ingin mendapat balasan pesan dari orang yang sangat ya sayangi ternyata pupus. jangankan balasan, pesan yang dikirimnya tadi malam masih centang satu abu-abu. itu artinya pesannya belum dibuka oleh Mauren.
"Mauren, Kakak nggak bisa tanpa kamu sayang. jangan buat kakak seperti ini."ucapnya lirih.
Sementara di tempat lain, di perusahaan keluarga Nicholas, Mauren baru saja masuk ke dalam ruangannya. Sejak tadi pagi wanita itu irit bicara, senyuman yang biasa tebar saat melangkah di lobby pun hari ini tidak ada. bahkan berbicara dengan Atalia juga dia terkesan dingin.
Atalia yang sudah lama berteman dengan Mauren itu dia sangat mengerti jika Maureen bersikap seperti itu. Karena bukan sekali atau dua kali ini saja dia mendapati sikap dengan Mauren yang seperti ini. Atalia tahu jika sahabatnya itu sekarang sedang menghadapi masalah. Entah apa itu masalahnya, dia enggan untuk bertanya. Sebab pada akhirnya nanti Mauren juga pasti akan menceritakan sendiri pada dirinya.
Mauren menatap ponselnya yang baru saja dia keluarkan dari dalam tasnya. ponselnya masih belum dia nyalakan sejak dia terakhir berkomunikasi dengan Bastian. Perlahan jari telunjuknya menekan tombol di bagian samping. sebuah layar dengan foto dirinya dan Bastian sedang berdiri di bawah pohon kini terpampang di layar.
Tak lama setelah ponsel dinyalakan, ada pesan masuk ke ponsel wanita itu. Sesuai dengan dugaannya, pesan itu pasti dari Bastian.
Mata yang berbulu lentik itu seketika berembun saat membaca pesan yang dikirim oleh Bastian. Mauren benar-benar bingung dengan posisi dirinya sekarang ini. Ponsel itu dia letakkan di atas meja kerja. Dia bingung mau membalas apa.
__ADS_1
Kring!!
Mauren melirik ke arah layar ponselnya. tertera nama Bastian dengan tambahan emoji hati di ujungnya. Wanita itu enggan untuk menerima panggilan itu, sebab Dia belum siap untuk berbicara dengan Bastian.
****
Waktu bergulir begitu cepat, sudah satu bulan lamanya hubungan Bastian dan Mauren menjadi renggang. Sejak kejadian malam itu, Bastian tidak pulang ke rumah orang tuanya. dia memilih untuk menetap di kamar pribadinya di hotel.
Moresette dan Cornel bingung dengan kelakuan Bastian akhir-akhir ini. pria itu tiap berbicara di telepon pun jawabannya begitu singkat. Tidak biasanya dia seperti ini. Moresette lalu menyuruh suaminya untuk menemui Bastian. Berbicara dari hati ke hati. mencari tahu masalah apa yang sedang dihadapi oleh anaknya saat ini. Siapa tahu mereka bisa membantu mencari jalan keluar dari masalah itu.
Sore harinya, selepas pulang dari restoran, Cornel langsung melajukan mobilnya ke hotel milik Bastian. pria itu mengikuti saran istrinya, yang menyuruhnya untuk segera menemui Bastian, untuk mencari tahu keadaan anaknya.
"Selamat sore, Pak." sapa Maya saat kebetulan dia berada di lobby.
"Sore, Bastian ada di mana?"
"Pak Bastian ada di kamarnya, Pak."jawab Maya dengan ramah.
"Bapak dan anak sama saja, kalau bicara itu irit sekali."ucap Maya dalam hati.
Di depan pintu kamar pribadi Bastian, cornel mengetuk daun pintu itu. Tak menunggu lama, pintu itu dibuka.
"Papa, Ada apa Pa?"tumben ke sini?" tanya Bastian setelah membuka pintu.
"Boleh papa masuk?"
Bastian membuka lebar dan pintu kamarnya. Setelah Papanya masuk, pintu itu ditutup kembali oleh Bastian.
Saat ini mereka hanya berdua saja di dalam kamar. Awalnya Cornel ingin mengajak serta istrinya, tapi Moresette menolak. sebab kalau dia ikut, pasti Bastian tidak mau terbuka pada Papanya.
Bastian dan corner kini duduk di kursi yang ada di balkon. yang mana diantara kedua kursi itu ada sebuah meja kecil berbentuk bundar. Di atas meja itu ada dua buah minuman kaleng yang Bastian ambil dari kulkas sebelum dia ke balkon.
__ADS_1
"Enak juga ya ternyata kalau sore duduk di sini. pantesan kamu betah tinggal di sini Bastian."ucap Cornel basa-basi sekalian menyindir anaknya.
Bastian hanya menanggapi dengan tersenyum tipis.
"Bastian, kamu kenapa? akhir-akhir ini Papa lihat kamu tidak pulang ke rumah. Sudah satu bulan lamanya kamu tidak pernah ke rumah. terus juga Kamu terlihat pendiam, dan juga kata Herlan kamu lebih sering di kamar."ucap corner kepada putranya.
Bastian diam seribu bahasa. pandangannya menatap lurus ke depan, melihat pemandangan kota yang sore ini tidak terlalu cerah. Namun, angin yang bertiup di sana terasa sepoi-sepoi.
"Bastian, cerita aja sama papa. Sebenarnya ada masalah apa? Siapa tahu Papa bisa bantu kamu."
Bastian mahalan nafas panjang, kemudian menoleh ke arah Papanya.
"Pa, saat aku sakit demam itu aku sudah menjalin hubungan asmara dengan Mauren."Bastian menjeda sebentar ucapannya sambil mengatur nafasnya. Kenapa sekali pria itu penuh dengan pertimbangan.
"Terus?"Cornel tidak sabar ingin tahu kelanjutan ceritanya. pasti kelanjutannya ini yang menjadi penyebab anaknya seperti ini.
"Setelah beberapa hari aku pacaran dengan Mauren, ternyata bimbi mengetahui hubungan kami. Dia tidak terima kalau aku mendukungnya. Mauren langsung mengambil Jalan Tengah. Dia tidak ingin hubungan persahabatan aku dan Bimbim yang sudah terjalin sejak kecil hancur begitu saja. jadi Dia memutuskan untuk tidak memberi siapa-siapa di antara kami."tutur Bastian.
"Mauren meninggalkan aku, Pa. demi menjaga persahabatan kami bertiga."ucap pria itu lirih
Cornel menghilang napas kasar. Dia merasa kasihan pada putranya. baru saja merasakan kebahagiaan, tiba-tiba kebahagiaan itu hilang begitu saja. Pantes saja satu bulan belakangan ini anaknya tidak pulang ke rumah. karena tempat ini memang lebih enak untuk menyendiri menenangkan pikiran.
"Bastian Jangan menyerah. kamu Terus perjuangkan cinta kamu. dulu Papa juga jatuh bangun mengejar cinta mama Moresette. dengan susah payah Papa membuat Mama kamu bisa mencintai papa. Karena waktu itu dia mencintai pria lain. Kalau kamu di sini penghalangnya cuman Bimbim saja. Mauren pasti mencintai kamu kan?"
"Entahlah Pa. Aku nggak tahu dia mencintai aku atau tidak."
"Kamu harus sabar. Semua orang pasti ada ujiannya. Papa, Om Afrian, om Richard, Om Fernando, dulu kami juga diuji. tidak langsung berjalan mulus."
"Iya, Pa."
BERSAMBUNG..
__ADS_1