
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi sudah dibuka oleh Maureen. Dia melangkah menghampiri suaminya.
"Mas, Kok belum ganti baju?"
"Sayang, duduk sini!"Bastian menepuk kasur tempatnya duduk.
Mauren langsung duduk di samping suaminya. "Ada apa, mas?"
"Dulu waktu kamu sama Bimbim, apa dia juga kamu suruh menutup Mata?"
Mauren tertawa kecil. "Dulu aku membawa dasi milik Papa untuk mengikat kedua mata Bimbim."
Bastian manggut manggut mendengar cerita Mauren. Itu artinya perlakuan Mauren ke Bimbim sama saja seperti dirinya yang sudah menjadi suaminya.
"Kenapa mesti disuruh tutup? nanti malam juga bakalan kelihatan, bahkan yang lebih dari itu."ucap Bastian dalam hati sambil terkekeh.
Pria itu beranjak menuju koper. Dia mengambil baju kaos dan celana pendek. setelah mengganti pakaian, Bastian langsung naik ke ranjang. Dia mencoba rebahan di sana, tangan kirinya dia bentangkan di atas bantal Mauren.
"Sini sayang, Kita istirahat dulu. Nanti malam acaranya akan membuat kita capek. Kita bakalan berdiri berjam-jam untuk menerima tamu."
Mauren mendekat ke arah Bastian. "Gimana aku mau rebahan kalau tangan mas ada di sini?"Gadis itu mencoba menyingkirkan tangan Bastian.
"Kamu berbaring di tangan mas."Bastian mengarahkan Mauren agar tidur di bantal yang sama dengannya. Mauren menuruti perintah suaminya. Kini tubuh keduanya begitu intim. Bastian langsung mendekap tubuh istrinya. Jantung keduanya saling memompa lebih cepat. kini posisi wajah Mauren tepat berada di Ceruk leher suaminya.
Hembusan nafas Gadis itu membuat Bastian terpejam, merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Bastian mencoba mengalihkan hasratnya yang mulai naik, dia mengajak istrinya berbincang. hingga akhirnya keduanya tertidur dalam dekapan.
Sementara di tempat lain, di sebuah Cafe Atalia menemui Bimbim yang sudah lama menunggunya di sana. Awalnya Setelah dari rumah Mauren, Gadis itu ingin pulang ke kos-kosannya. Namun, Bimbim menghubunginya untuk datang ke sebuah Cafe. Atalia terpaksa menurutinya, wanita itu mengerti Kalau Bimbim saat ini butuh teman untuk curhat.
"Ada apa, Bim?"tanya Atalia saat Gadis itu sudah duduk di seberang Bimbim.
"Bagaimana acaranya, lancar."
"Alhamdulillah lancar. Kenapa tadi kamu tidak hadir Bim?"
__ADS_1
"Malas."
"Bim, sudahlah harusnya kamu sudah mengikhlaskan hubungan Bastian dan Mauren. mereka sekarang sudah menikah, dan sama-sama saling mencintai. itu artinya mereka memang ditakdirkan untuk berjodoh. Cobalah untuk move on. Jangan gara-gara masalah ini hubungan persahabatan kamu yang sudah terjalin sejak kecil menjadi bubar."ucap Atalia. Gadis itu melihat ke arah jam yang ada di tangannya.
"Bim, Aku pulang dulu ya, aku mau istirahat. karena nanti malam aku akan ke acara resepsi pernikahan Mauren dan Bastian."imbuh Atalia pamit.
"Atalia, kamu nggak minum dulu?"
"Enggak Bim, Aku sudah kenyang, barusan makan di acara nikahan Mauren."Atalia beranjak dari duduknya.
"Terima kasih ya, sudah mau menemani aku di sini."
Atalia hanya mengangguk sambil tersenyum.
Bimbim memandang punggung Atalia yang perlahan pergi meninggalkannya.
"Benar juga apa yang dikatakan oleh Atalia. Mauren memang jodohnya Bastian. Harusnya aku merestui mereka menikah. Bastian tentang pria yang baik, Mauren jatuh ke pelukan pria yang tepat."ucap Bimbim dalam hati.
Sore harinya, tepat jam 04.00 sore Maureen dan Bastian sudah lebih dulu tiba di hotel. saat di lobby, Bastian dan Mauren disambut oleh karyawan hotel. Mereka semua memberi ucapan selamat atas pernikahan Bastian dan Mauren. Pasangan pengantin baru itu menanggapi dengan tersenyum sambil mengucap terima kasih.
"Sayang, kita kebal room dulu sebentar. Mas mau melihat keadaan di sana."
"Iya, Mas."
Bastian memegang erat tangan istrinya melangkah menuju ballroom hotel. Saat sampai di ballroom, Mauren terperangah melihat dekorasi yang ada di sana. menurutnya, ini lebih baik dari konsep pernikahan yang dia rancang bersama Mario dulu. Pesta yang akan digelar Bastian malam ini jauh lebih megah dari pesta pernikahannya yang terdahulu.
"Gimana Sayang, kamu suka?"
"Suka banget, Mas. Ini bagus banget."
"Sebentar ya sayang, Mas mau menghampiri Herlan."Bastian melepaskan penggenggaman tangannya dari istrinya.
"Herlan, pastikan malam ini kondisi ballroom aman. Aku tidak mau pesta pernikahanku ada kekacauan."
__ADS_1
"Iya, tenang saja. Maya juga selalu aku awasi. Dia ada beberapa kali mau masuk ke sini, tapi aku larang."
"Aku tinggal di atas dulu ya."pamit Bastian pada Herlan.
Pria itu kembali menghampiri istrinya. "Sayang kita ke atas dulu."
Beberapa saat kemudian Bastian dan Mauren sudah berada di depan kamar pribadi Bastian. di dekat pintu sudah ada koper milik Mauren, yang baru saja diletakkan oleh room boy.
"Mewah sekali kamar milik Mas."ucap Mauren saat dia baru saja masuk.
"Mas mau tunjukin kamar pengantin kita."Bastian membawa Mauren melihat kamar utama. Kamar itu sudah dihias layaknya seperti kamar pengantin pada umumnya. terdapat taburan kelopak bunga mawar putih dan merah di atas sprei. Tak ketinggalan, 2 handuk berwarna putih yang sudah dibentuk menyerupai angsa juga sudah duduk bertengger duluan di atas ranjang pengantin.
"Sayang, kita ke kamar sebelah saja ya. Di sana juga ada kasur. Di kamar itu nanti kamu akan dirias. Kalau kamar yang ini nanti kita akan pakai buat tidur malam."
"Iya, Mas."
***
Jam 07.00 malam tamu undangan sudah mulai berdatangan. Para sahabat dan keluarga juga sudah memasuki ballroom. Fernando dan Amor datang bersama dengan anak mereka.
Afrian dan Mia menghampiri Fernando. "Kalian datang hanya berempat saja? Bimbim mana?
Fernando dan Amor saling berpandangan sebentar. "Bimbim akan menyusul belakangan."sahut Fernando.
Tak lama berselang, Mauren dan Bastian baru saja masuk ke dalam ballroom hotel. keduanya memakai baju pengantin berwarna silver, baju pengantin itu rancangan dia sendiri. berbeda saat menikah dengan Bimbim, Dia memakai baju pengantin sesuai dengan warna kesukaan Mario.
Semua tamu yang hadir di ruangan itu terpukau menatap pasangan pengantin bakar raja dan ratu yang begitu tampan dan cantik.
Maya dan sahabatnya yang bertugas sebagai resepsionis juga hadir di tempat itu.
"Cantik sekali istri Pak Bastian."Puji sang sahabat di depan Maya.
"Cantik apanya? biasa saja menurutku,"sahut Maya dengan mimik wajah menunjukkan tidak suka.
__ADS_1
"Maya, sebaiknya kamu nggak usah lagi ngejar pak Bastian, Karena dia sudah menikah. Kalau kamu tidak mau berubah, takutnya nanti kamu akan dipecat oleh istri Pak Bastian. lagi pula sekarang, di hotel ini sudah ada pak Herlan yang sudah menguasai semua pekerjaan kamu."tutur sang sahabat memperingatkan temannya. Maya menatap jengah pada sahabatnya.
BERSAMBUNG...