
"Papa!!teriak Mauren
"Putri Papa mau, kemana?
"Mau ke rumah Oma, Nadia."
Richard menatap ke arah istrinya. "Berangkat sore ini sayang?"
"Iya, Mas. Aku mau makan masakan Mama."
Terlihat Richard menghela napas kasar. Sebenarnya dia ingin pergi ke rumah mertuanya itu saat habis maghrib. Karena Dia kalau sudah di sana, tidak enak jika berdiam diri di dalam kamar. Sedangkan dirinya saat ini, ingin beristirahat dulu di dalam kamarnya. Karena hari ini, di kantornya dia tidak ada beristirahat sama sekali.
"Ya sudah, Mas mandi dulu sebentar ya. Setelah mengatakan itu, Richard Lalu naik ke lantai atas dan bergegas masuk ke dalam kamarnya, untuk mandi sebentar agar tubuhnya kembali fresh.
Di rumah Afrian, Pria itu sedang duduk di atas ranjangnya. Setelah selesai makan malam, Afrian berniat menghubungi Mia. Dia Lalu mengambil ponsel yang ada di atas nakas. Dibukanya aplikasi berlambang hijau itu, dan dicarinya kontak yang bernama Mia. Tanpa menunggu lama Afrian langsung menghubungi Mia, melalui sambungan video call.
Kring......
Kring .....
Kring ....
Mia saat ini masih berada di ruang dapur. Sebelum makan malam, dia meninggalkan ponselnya di sofa ruang keluarga. Kebetulan di ruang keluarga itu, hanya ada Tuan Nicholas yang sedang menonton televisi.
Mendengar ada suara ponsel berdering, Tuan Nicholas menoleh ke arah suara itu. Sofa itu berjarak sekitar dua meter dari tempatnya, duduk lesehan di atas ambil tebal.
Pria paruh baya itu lalu mendekat karena sofa itu. Pandangannya langsung tertuju ke arah layar ponsel yang sedang menyala diambilnya, ponsel itu dilihatnya sebuah panggilan video dari Afrian.
Tanpa pikir panjang, pria paruh baya itu mengangkat panggilan itu. Dilihatnya di layar ponselnya Afrian sedang bertelanjang dada.
Saat Tuan Nicholas mengangkat panggilan video itu, kamera ponselnya itu tidak langsung diarahkan ke wajahnya.
"Sayang....."ucap Afrian setelah sambungan telepon itu terhubung. Saat ini dia sedang memasang wajah senyum di depan kamera. Perlahan senyuman berganti dengan wajah pucat, saat dia menyadari orang yang berada di layar ponsel itu, adalah tuan Nicholas.
"Sayang!!! sayang!!sayang!!! Apa maksud kamu menelepon Mia dengan tampilan seperti itu? Apa Kamu mengajak mesum putri saya?" tanya pria paruh baya itu dengan dingin
"Saya tidak bermaksud apa-apa, Om. Saya kalau lagi di dalam kamar, memang sudah terbiasa seperti ini." sahut Afrian ketakutan.
Pembicaraan antara keduanya pun terputus setelah Mia datang dari ruang dapur.
"Papa kok pakai ponsel aku?tanya Mia saat sudah berjarak sekitar tiga meter dari Tuan Nicholas.
"Cepat pakai baju kamu!" ucap Tuan Nicholas dengan suara lirih.
Afrian langsung meletakkan ponselnya di atas kasur, dia Lalu mengambil baju kaos oblong yang baru saja dilepas, saat dia selesai makan malam. Dipakainya bajunya dengan tergesa-gesa.
"Tut!!!Tuan Nicholas memutuskan sambungan video call itu.
Setelah memakai baju, Afrian lalu mengambil posisi duduk di atas ranjang kembali.
__ADS_1
"Ehm... Afrian mengatur suara sebelum kembali mengangkat ponselnya, saat ini dia tidak mengetahui kalau sambungan itu sudah diputus oleh Tuan Nicholas.
Dengan sedikit rasa takut, Afrian mengangkat kembali ponselnya. Namun, saat pandangannya menatap daerah ponsel itu, rasa khawatir kini muncul di dalam hatinya. Karena sambungan video itu diputus oleh Tuan Nicholas.
"Apa Om Nicholas marah, ya?" tanya Afrian di dalam hati.
Setelah mematikan sambungan video itu, Tuan Nicholas selalu meletakkan kembali ponsel putrinya di atas sofa.
"Mia duduk sini dekat Papa!"
Mia duduk berjarak setengah meter dari Tuan Nicholas." Ada apa Pa?"
"Mia, Papa mau tanya, tolong kamu Jawab dengan Jujur.
"Tanya apa, Pa?"
"Ada hubungan apa kamu dengan Afrian?"
"Hubungan kayak biasa aja, Pa." jawabnya santai.
"Kamu nggak usah bohong! tadi siang Papa melihat kamu makan di restoran dengan Afrian, sambil berpegangan tangan.
Mia langsung terhenyak. hatinya bertanya-tanya dari mana Papanya tahu kalau dia dan Afrian makan di restoran.
"Siapa yang ngasih tahu pa?"
"Nggak ada yang ngasih tahu. Papa melihat langsung dengan mata kepala papa sendiri." jawab pria paruh baya itu dengan nada dingin.
Mia langsung menunduk takut
"Jawab Mia! kamu bukan anak kecil lagi."
"Aku... aku.... aku baru saja pacaran dengan Kak Afrian beberapa hari yang lalu.
"Baru saja katamu? geram Tuan Nicholas
Mia mengangguk.
Di dalam pikiran pria paruh baya itu, si Afrian itu baru saja beberapa hari pacaran. Tapi dia sudah berani pegang-pegang anaknya, bahkan malam ini sudah berani memarkan dada suxpeknya pada putrinya, kalau dia biarkan, lama-lama berpacaran bisa-bisa jebol keperawanan putrinya pikirnya.
"Kenapa ya, aku lihat pada pria itu tidak sesuai dengan apa yang diucapkan Richard. ya kalau menurut penilaian aku Afrian itu seorang pria mesum.
"Papa kok, diam?
"Mia, Papa rasa kamu harus jaga jarak dengan Afrian. Karena Papa takut kalau dia seorang pemain wanita.
"Tapi Pa, Kak Afrian itu baik. Coba deh Papa tanya sama kak Richard
"Tapi papa lebih percaya dengan apa yang Papa lihat."
__ADS_1
Di tempat lain, tepatnya di rumah Afrian. Di kamar Afrin, sejak sambungan video itu terputus Afrian kembali melepaskan bajunya. Perasaannya begitu gelisah karena dia berpikir Tuan Nicholas pasti marah padanya. Ingin sekali dia menghubungi Mia saat ini. Namun, dia khawatir ponselnya sedang disita oleh Tuan Nicholas.
Di tengah kegelisahannya itu, ponsel Afrian tiba-tiba berbunyi sebuah notifikasi pesan masuk di aplikasi whatsapp-nya. Afrian lalu memeriksa ponselnya. Nampak sudut bibirnya terangkat ke atas, saat dilihat dan mengirim pesan itu adalah Mia.
"Kakak sudah tidur?
"Belum sayang."
"Kak, Papa barusan ngomong ,aku disuruh untuk jaga jarak dengan kakak."
Jantung Afrian langsung berdetak kencang. "Ini pasti gara-gara aku nggak pakai baju. Pasti Om Nicholas menganggap aku pria yang gak benar." ucapnya dalam hati.
"Kak, Kakak kok nggak bales? kakak marah ya? kembali Mia mengirimkan pesan.
"Enggak sayang, untuk sementara ini kita turuti saja permintaan papa kamu. Kita nggak usah ketemu dulu. Cukup berhubungan lewat ponsel saja. Perlahan nanti kakak akan mendekati papa kamu."
"Iya Kak, kalau gitu aku tinggal tidur dulu ya."
Setelah mengakhiri obrolannya dengan Mia, Afrian lalu menghela nafas panjang. Dan membuangnya secara kasar. Diletakkannya kembali ponselnya di atas nakas.
"Aku pikir setelah Mia menerima cintaku, kami akan secepatnya menikah. Tapi ternyata aku harus berjuang lagi untuk mendapatkan Restu Om Nicholas."Keluh Afrian dalam hati.
"Aku harus minta bantuan dari Richard." gumam Afrian saat dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
****
Di rumah utama keluarga Bernando, terlihat Richard sedang tertidur pulas di kamar Dora. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Dora belum bisa tidur wanita itu dari tadi menginginkan sate.
"Mas!"Dora menggoyang lengan kanan suaminya.
Richard perlahan membuka matanya. "Ada apa Sayang?" tanya Richard dengan suara parau
"Mas, aku mau makan sate." rengek Dora.
Richard lalu menatap jam dinding. " Sayang sekarang sudah jam satu malam. Mana ada orang jualan sate jam segini."
"Dicoba dulu Mas, siapa tahu ada. Mas mau anak kita ini ileran?" tutur Dora sedikit memaksa
Richard langsung teringat ucapan Nyonya Alena Agara memenuhi keinginan istrinya yang lagi hamil itu, di usahakan agar dipenuhi permintaannya.
"Baiklah sayang, Mas akan coba mencarinya." ucapnya sambil turun dari ranjang. Richard langsung melangkah menuju kamar mandi. Pria itu ingin mencuci wajahnya agar tidak mengantuk lagi.
Tak berselang lama, Richard keluar dari dalam kamar mandi. Dia langsung mengganti pakaiannya. Setelah mengenakan jaket, lalu berpamitan pada istrinya. Dia keluar kamar sambil menenteng kunci mobilnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN