
"Begini Tuan Nicholas, maksud kedatangan kami ke sini adalah untuk menyampaikan niat baik anak saya Afrian yang ingin mempersunting Mia menjadi istrinya. Jadi besar harapan saya agar Tuan Nicholas bersedia menerima lamaran anak saya." ucap Tuan Andalas sopan.
"Saya berjanji akan membahagiakan dan mencintai Mia sepenuh hati. Saya Tidak akan pernah menyakitinya, dan akan memenuhi kebutuhan lahir dan batinnya. Apakah Om berkenaan menerima lamaran saya?"timpal Afrian ikut meyakinkan Tuhan Nicholas.
"Saya, tidak menerima!!! sahut pria paruh baya itu dengan tegas
"Papa!! teriak nyonya Alena, Mia dan Richard
"Kenapa lamaran Afrian ditolak Pa? bukannya kemarin malam Papa yang menyuruh dia datang ke sini membawa orang tuanya untuk melamar?" protes Nyonya Alena.
"Itu karena dia anaknya Andalas." Ucap Tuan Nicholas tegas tanpa ada pertimbangan.
Hancur sudah harapan Afrian untuk memperistri Mia. Padahal tinggal selangkah lagi dirinya akan mendapatkan label halal. Namun, hanya karena masa lalu orang tuanya yang meninggalkan kesan buruk terhadap orang tua Mia, dirinya kini ikut menanggung akibatnya.
"Nicholas! jangan kamu campur adukkan permasalahan kita di masa lalu dengan anak-anak kita. Mereka tidak ada hubungannya dengan masa lalu kita. Biarkan mereka menikah dan hidup bahagia." ucap Tuan Andalas yang mulai meninggikan sedikit suaranya, karena dia merasa geram dengan rivalnya itu.
"Apa yang dibilang Andalas itu benar Pa, jangan dilibatkan anak-anak." ucap Nyonya Alena.
"Kamu membela Andalas?? geram Tuan Nicholas.
"Tidak Pa, Mama tidak membela Andalas. Mama hanya membela Mia dan Afrian saja.
Nyonya Yasinta menatap bingung ke arah tiga orang paruh baya itu. Dia sangat penasaran ada masalah apa suaminya dengan Papanya Mia.
Afrian menatap ke arah Mia dengan wajah getir. Dilihatnya mata wanita itu nampak berkaca-kaca. Dora yang berada di samping Mia yang mengusap punggung adik iparnya itu.
"Hik... hik... hiks ..Mia tidak kuat lagi membendung air matanya. Akhirnya isak tangis yang keluar juga.
"Mia, Panggil Afrian dengan nada sedih. Ingin rasanya Dia mengusap air mata wanita itu.
"Tuh kan, Pa!!! gara-gara Papa Mia menangis." omel Nyonya Alena.
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Mia Mama nggak akan mau tidur di kamar Papa lagi." ancam Nyonya Alena di telinga suaminya. Pria paruh baya itu kaget dia langsung menegakkan duduknya.
"Mama jangan gitu dong, jangan campur adukkan masalah lamaran ini dengan kegiatan ranjang kita." Tuan Nicholas mulai panik.
"Papa juga mencampuradukkan masalah Masa Lalu dengan lamaran anak kita." protes Nyonya Alena.
__ADS_1
"Jadi Mama maunya apa?" tanya Tuan Nicholas pasrah
Sebuah kalimat pertanyaan yang diharapkan Nyonya Alena, akhirnya keluar juga dari mulut suaminya.
"Terima lamaran Afrian." jawab Nyonya Alena tegas.
Hening
Tuan Nicolas tidak menjawab. Pria paruh baya itu sedang berpikir keras untuk menentukan pilihan antara kelangsungan ular piton nya, atau istrinya akan kembali dekat dengan Andalas. Sungguh merupakan pilihan yang sulit.
Pria paruh baya itu lalu menghela napas dan membuangnya perlahan. Baiklah, saya menerima lamaran Afrian. Tapi selama mereka belum menikah mereka tidak boleh jalan berdua."
"Terima kasih Om, Terima kasih sudah menerima lamaran saya." ucap Afrian kembali bersemangat
"Mia, kita....."Afrian tidak melanjutkan ucapannya pria itu. Dia hanya menggigit Bibir bawahnya saja, yang menampak terlihat genit di mata Richard
Mia Hanya mengulum senyumnya.
"Ehem ehem!!! Tuan Nicholas berdeham kembali melihat anaknya, yang ditatap oleh Afrian dengan tatapan nakal seperti itu.
Nyonya Alena lalu menatap suaminya seolah meminta jawaban
"Dua bulan lagi." sahut Tuan Nicholas tanpa pertimbangan.
"Lama sekalian Om." ucap Afrian tanpa sadar
"Afrian!!! teguran Nyonya Yasinta sambil menggelengkan kepala.
"Saya tidak mau pernikahan anak saya dipersiapkan dengan terburu-buru.
"Iya Nicolas, terserah kamu aja. Yang penting anakku bisa menikah dengan Mia." sahut Tuan Andalas.
Tuan Nicholas tidak merespon ucapan Tuan Andalas.
Setelah selesai membicarakan rencana pernikahan, Afrian dan keluarga orang tuanya kemudian mencicipi hidangan yang sudah disediakan di ruangan itu. Berbagai macam kue olahan tangan Nyonya Alena tertata rapi di sana.
Tuan Andalas sangat menikmati kue itu. "Kue kamu dari dulu tidak berubah ya Alena, lembut dan legitnya masih sama seperti dulu." ucap pria paruh baya itu sambil mengunyah kue di mulutnya
__ADS_1
Ucapan Tuan Andalas mendapat tatapan tajam dari Nyonya Yasinta dan Tuan Nicholas.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Afrian dan kedua orang tuanya berpamitan. Hanya Mia, Richard, dan Dora yang mengantar mereka sampai teras. Sedangkan Nyonya Alena, dia tidak diperbolehkan suaminya ikut mengantar Andalas dan keluarganya.
Saat sampai di rumah, Afrian langsung masuk ke dalam kamarnya. Setelah membersihkan diri di kamar mandi, pria itu langsung melepas bajunya kini pria itu hanya mengenakan celana pendek saja.
Afrian menghempaskan badannya di atas kasur. Malam ini dia sangat bahagia karena sebentar lagi dia akan menikah dengan Mia.
"Sebentar lagi kamu akan berpetualang." ucapnya sambil mengeluh sesuatu dibalik celananya.
Di kamar sebelah, Nyonya Yasinta sedang mengintrogasi suaminya.
"Ceritakan sama Mama Apa masalah yang sebenarnya Papa dengan Tuan Nicholas?"
Tuan Nicholas terdiam. Dia sedang berpikir mencari alasan. Karena kalau dia menceritakan yang sebenarnya, bisa-bisa Afrian nggak diperbolehkan nikah sama anaknya Alena.
"Kok diam, cepat katakan pa."
"Dulu Papa pernah berselisih dalam hal pekerjaan, itu aja kok Ma."
"Tapi kenapa dia dendam gitu, Papa?
"Karena waktu itu dia banyak menderita kerugian, dan Itu penyebabnya adalah Papa yang bermain curang.x
"Papa kok dulu jahat banget."
"Namanya juga kenakalan remaja Ma, Jadi itu sebuah hal yang wajar."
Nyonya Yasinta manggut mangut. Sedangkan Tuan Nicholas tersenyum senang. Dia bisa menjinakkan bom yang bisa meledak kapan saja.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1