Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 11. MERASA BINGUNG


__ADS_3

Tak berselang lama, Pak Richard membelokkan mobilnya ke arah kanan dan berhenti di halaman yang sejajar dengan pintu utama rumah itu.


Mama Nadia yang saat ini sedang berada di teras rumah, perhatiannya langsung teralihkan pada sebuah mobil yang belum pernah dilihat.


"Siapa ya, yang datang?" gumam Mama Nadia di dalam hati.


Wanita paruh baya itu enggan mendekat. Dia ingin melihat dulu siapa kira-kira yang turun dari mobil itu. Beberapa detik kemudian, Mama Nadia melihat seorang wanita yang sangat dikenalinya.


Wanita itu adalah sahabat anaknya. Tak berselang lama, Setelah Moresette turun, terlihat Amor pun juga ikut turun dari dalam mobil, menyusul satu orang temannya lagi. dari arah pintu depan sebelah kiri, langsung bergabung mendekat ke arah Dora dan juga Amor.


Sementara si pengemudi mobil, masih belum menunjukkan batang hidungnya.


Di dalam mobil Pak Richard, sedang menerima telepon dari orang tuanya. Mereka menanyakan kabarnya jam berapa kira-kira dia akan sampai di rumah.


Setelah menutup panggilan teleponnya, Pak Richard lalu membuka pintu mobilnya dan segera keluar. Dilihatnya ada seorang wanita paruh baya berjalan mendekat, karena tiga orang mahasiswinya itu, yang dia perkirakan adalah pemilik rumah tersebut yaitu ibunya Dora.


Karena pakaian yang dikenakan oleh wanita itu merupakan pakaian branded, hampir sama dengan pakaian yang biasa dipakai oleh Mamanya.


"Mama..."Dora langsung memeluk Mamanya.


"Kamu Kenapa nak? kok tampang kamu sedikit kucel gini?"kedua tangan Mama Nadia menangkap kedua pipi putrinya.


"Dora lagi sakit tante. Siang tadi dia pingsan saat kami berkeliling perkebunan.


"Sakit, Sejak kapan Dora sakit Amor?"


"Sejak tadi malam Tante. Tadi malam Dora tidak bisa ikut acara pesta api unggun. Dia lebih memilih istirahat di tenda saja, karena udara malam di sana sangat dingin."

__ADS_1


Pak Richard yang baru saja mendengar ucapan Amor, seketika langkahnya terpaku. Dia yakin betul bahwa wanita yang ia gauli malam itu adalah Dora.


Pandangan mata Mama Nadia beralih pada pria tampan yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.


"Kalian diantar sama siapa?


Pak Richard mengulurkan tangan kanannya. "Perkenalkan Bu, nama saya Richard. Saya salah satu dosen tempat anak ibu kuliah.


Mama Nadia tersenyum dan langsung menyambut uluran tangan Pak Richard.


"Saya Nadia, orang tuanya Dora."


"Terimakasih ya, Pak. Bapak sudah mengantarkan anak saya pulang ke rumah dengan selamat."


"Iya Bu, sama-sama."


Pak Richard lalu melihat ke arah jam tangannya. Ternyata jarum jam pendek berangka tujuh malam.


"Terima kasih Bu, Lain kali saja. Saya langsung pulang saja ke rumah."tolak Pak Richard dengan halus.


"Oh begitu Pak. Ya sudah terserah bapak saja. Terima kasih banyak Pak. Karena sudah menjaga dan mengantar anak saya pulang ke rumah.


"Sama-sama Bu, ini sudah jadi kewajiban saya sebagai dosennya."ucap pak Richard walau Sebenarnya ada rasa tidak nyaman di hatinya mengucapkan seperti itu.


Karena kalau orang tua Dora tahu dengan apa yang sudah dilakukannya pada anaknya, pasti mereka tidak akan seramah ini terhadapnya.


Saat Pak Richard sedang mengemudikan mobilnya ke arah jalan menuju rumahnya. Di sepanjang perjalanan dia selalu berpikir tentang Dora.

__ADS_1


Wanita yang sudah direnggut olehnya kesuciannya. Dia bingung bagaimana caranya mengatakan kejadian malam itu pada Dora. Dia ingin mempertangungjawabkan perbuatannya pada wanita itu. Namun, masih bingung bagaimana caranya menyampaikannya.


Setelah dua puluh menit kemudian, Pak Richard sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya. Salah satu asisten rumah tangga yang mendengar suara mobil di halaman langsung bergegas berjalan ke arah ruang tamu, untuk membukakan pintu.


"Eh Tuan baru pulang?" sapa asisten rumah tangga itu pada Pak Richard. Pak Richard masuk ke dalam rumahnya.


"Mami mana Bi, kok sepi?"matanya melihat-lihat ke sekeliling ruangan.


"Nyonya ada di lantai atas Tuan."


Pak Richard selalu menaiki anak tangga dengan sedikit berlari. Pria itu ingin segera sampai di kamarnya saat pria itu sudah berada di anak tangga paling atas, nyonya Alena kebetulan keluar dari dalam kamarnya.


"Baru pulang nak?


Pak Richard langsung menghampiri Nyonya Alena dan langsung mencium punggung tangan wanita yang sudah melahirkannya sekitaran 35 tahun yang lalu.


"Iya Mom, Sebelum pulang ke rumah aku mengantar mahasiswi ku,dulu ke rumahnya."


Kening wanita paruh baya itu berkerut."kok kamu yang mengantar? bukannya pihak kampus sudah menyediakan bus untuk mereka?"


"Dia lagi sakit Mom, Kalau pulangnya ikut bus, pasti larut malam akan nyampe ke kota ini. Aku mau masuk dulu ya Mom, soalnya badan Richard sudah gerah dan lengket." pamitnya sebelum meneruskan langkahnya masuk ke dalam kamarnya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2