Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 109. KALAH TENDER


__ADS_3

Tiga Minggu berlalu. Pagi ini Dora disibukkan dengan aktivitasnya menjadi ibu rumah tangga selesai memasang dasi untuk suaminya kini mengusir rambut putrinya.


Sayang hari ini mungkin aku akan pulang agak sorean atau bisa juga malam. Karena hari ini, aku akan memenuhi undangan dari perusahaan Pak Alberto doa kan ya, Mas semoga kali ini Mas menang tender." ucap Richard.


"Iya Mas, semoga dimudahkan segala urusannya Mas."


Kring...


Kring...


Kring...


Tertera panggilan masuk di ponsel Richard Tuan Nicholas yang menghubunginya.


"Siapa Mas?" tanya Dora


"Papa, sayang. Aku angkat telepon Papa dulu ya."


"Halo Pa, Ada apa?"


"Richard, hari ini kamu berangkat bersama Arga saja ya. Karena Papa lagi kurang enak badan."


"Papa sakit ya, lagi sakit apa?" tanya Richard khawatir.


"Papa cuman lagi demam, aja. Makanya hari ini mau istirahat di rumah."


"Iya Pa, serahkan saja semua pada aku dan Arga. Kemarin Pak Alberto mengatakan tertarik kerjasama dengan kita. Jadi hari ini kita lihat keputusan dari Pak Alberto Seperti apa nantinya."


"Aku tutup dulu ya, Pa. Karena aku mau mengantar Mauren sekolah dulu.


Kemudian sambungan telepon itu pun terputus. Richard langsung mengajak Mauren berangkat ke sekolah sekarang.


"Ayo Mauren, kita berangkat sekarang?"


Keduanya berjalan keluar rumah dan langsung berjalan ke arah mobil.


Ketika sudah sampai di kantornya, Richard lalu menghubungi Arga. Agar segera ke ruangannya.


"Selamat pagi Tuan!"


"Arga, Nanti sore kita akan ke perusahaan Pak Alberto, untuk mendengarkan pengumuman siapa yang akan memenangkan tender proyek untuk pembangunan supermarketnya."


"Baik Tuan, Kalau boleh tahu, kemana Pak Nicholas? Kenapa jam segini beliau Belum masuk kantor?"


"Papa hari ini lagi sedang tidak enak badan katanya. Makanya mau istirahat di rumah saja.


"Apa masih ada yang Tuan butuhkan, dari saya?"


"Ehem....untuk surat penawaran dari PT Aman abadi Sudah selesai belum?"

__ADS_1


"Belum Tuan, masih dalam tahap pengerjaan.


"Sekarang kamu boleh kembali ke ruangan kamu."


Arga lalu keluar dari ruangan Richard dan segera kembali ke ruangannya.


"Rendra, segera selesaikan surat penawaran yang diminta oleh Pak Richard."titah Arga


"Baik Pak Arga, paling lambat sore ini akan saya antarkan ke ruangan bapak."


Besok pagi saja kamu antar ke ruangan saya karena sore ini Saya dan Pak Richard akan pergi ke perusahaan Pak Alberto.


"Baik Pak." sahut Rendra, setelah memutuskan sambungan telepon, Arga lalu membuang napas kasarnya.


"Semoga saja perusahaan ini akan memenangkan proyek dari perusahaan Pak Alberto dan PT Aman abadi." harap harga dalam hatinya.


Sore harinya, tampak Richard dan Arga keluar dari dalam ruangan. Mereka keduanya pergi memenuhi undangan perusahaan Alberto.


"Kita pakai mobil masing-masing saja. Karena Setelah dari perusahaan Pak Alberto, saya akan langsung pulang ke rumah.


"Baik Tuan." sahut Arga patuh pria itu lalu berjalan ke arah mobilnya.


Setelah mengemudikan mobilnya sekitar tiga puluh menit, akhirnya mobil di yang di kendarai Richard tiba di perusahan pak Alberto. Setelah keluar dari dalam mobilnya Richard dan Arga lalu melangkah ke arah lobby perusahaan keduanya lalu menghampiri resepsionis perusahaan itu.


"Permisi Pak, Ada yang bisa saya bantu?"


"Mbak, kami mau menghadiri acara pengumuman pemenang tender." ucap Arga.


"Terima kasih Mbak, kalau begitu kami akan langsung ke sana Arga.


Keduanya lalu berjalan ke arah lift yang ditunjuk oleh resepsionis tersebut.


Ting!


lift yang membawa mereka sudah sampai di lantai Lima. Kemudian mereka berjalan ke arah kiri sesuai petunjuk yang diberikan oleh resepsionis tersebut.


Saat sudah sampai di depan ruang meeting, keduanya lalu berhenti melangkah. Arga langsung mengetuk pintu ruangan itu. Tak berselang lama, tampak bawahan dari Pak Alberto membukakan pintu lalu keduanya pun masuk.


Saat sudah sampai di dalam ruangan Itu, tampak semua orang sudah hadir di sana. Hanya ada tersisa satu kursi, Richard pun langsung menduduki kursi itu. Sedangkan Arga, dia berdiri tak jauh di belakang Richard.


Beberapa saat kemudian, tampak pintu ruangan itu terbuka. Pak Alberto masuk didampingi oleh asistennya. Pria itu lalu duduk di kursi kebesarannya.


Setelah berbahasa-basi sedikit, sekarang tibalah saatnya pengumuman pemenang tender.


"Baiklah untuk mempersingkat waktu, langsung saja akan saya umumkan pemenang tender proyek kali ini, saya sudah memutuskan bahwa perusahaan Saya akan bekerja sama dengan perusahaan Pak Thomson."


Richard langsung terkejut. "Maaf Pak, bukankah beberapa saat yang lalu Anda mengatakan setuju dengan penawaran yang Saya tawarkan, dan saat itu anda juga mengatakan kemungkinan besar akan bekerja sama dengan perusahaan saya.


"Sudahlah Pak Richard, terus terima saja kekalahan perusahaan Bapak karena....." ucapan Pak Thomson langsung diputus oleh Pak Alberto.

__ADS_1


"Sebelumnya mohon maaf Pak Richard, waktu itu saya mengatakan kemungkinan besar, itu artinya akan ada kemungkinan kecil. Saya akan bekerja sama dengan perusahaan yang lain, dan Ini kemungkinan kecilnya penawaran yang ditawarkan oleh Pak Thomson membuat kami mempertimbangkan pilihan kami kembali, hingga akhirnya kami memutuskan perusahaan kami bekerja sama dengan Pak Thomson." tutur Tuan Alberto menjelaskan.


Tampak Pak Thomson tersenyum licik ke arah Richard. Karena selama Lima tahun belakangan ini, dia selalu kalah dengan perusahaan Richard. Kini dia merasa puas bisa mengalahkan perusahaan Richard.


Lima menit kemudian, satu persatu tamu yang hadir di tempat itu pamit meninggalkan ruangan itu. Termasuk Richard dan Arga keduanya berpamitan dengan Pak Alberto.


"Sekarang bagaimana lagi? pengerjaan bangunan di PT Aman abadi sekita sepuluh bulan lagi akan habis. Kita belum punya cadangan untuk proyek selanjutnya." keluh Richard saat keduanya sudah berada di tengah parkir.


Arga lalu membuang nafas kasar. Harapan Kita satu-satunya PT Aman abadi.


"Yang saya heran itu, kenapa tiba-tiba dalam hitungan hari saja Pak Alberto berubah pikiran?"ucap Richard dia masih merasa sakit hati pada pria tua itu.


"Saya juga merasa ada kejanggalan itu." sahut Arga.


"Ya sudah, sekarang kita lebih baik pulang ke rumah, sambil menenangkan pikiran dan mengatur langkah kembali ke depan."


Jam di ruang keluarga rumah Richard sudah menunjukkan di angka tujuh. Namun, Richard belum juga pulang dari kantornya.


"Papa mana Ma?" tanya Mauren


"Papa masih kerja, Sayang,."


"Ini sudah malam, Ma."


"Iya Sayang, sebentar lagi papa akan pulang."


Tinnn.....Tinnn


Bunyi klakson mobil Richard. Pria itu sudah terbiasa membunyikan klakson mobilnya. Dia tiba di rumah.


"Itu Papa." Mauren lalu berdiri dari duduknya dan langsung ke ruang tamu.


"Papa!!! teriak Mauren menyambut Papanya dengan senyum mengembang.


Richard dalam mengusap kepala putrinya, baginya senyuman yang diberikan oleh putrinya, mampu sedikit meringankan beban pikirannya.


Dora menyusul anaknya ke arah ruang tamu, dia Lalu mencium punggung tangan suaminya.


"Mau dibikinin minuman apa Mas, teh atau kopi?"


"Kopi aja sayang, langsung bawa ke ruang kerja ya."


Dora merasa ada aneh dengan suaminya Hari ini tidak seperti biasanya, suaminya tidak bercanda dengan putrinya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2