Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 13. CURHAT


__ADS_3

Keesokan malamnya, terlihat Richard sudah rapi dengan setelan kemejanya pria itu mengenakan celana jeans berwarna biru dipadukan dengan kemeja polos berwarna biru muda.


Setelah selesai dengan urusan di kamarnya, pria itu lantas keluar dari dalam kamarnya dan langsung menuruni anak tangga dengan sedikit.


Nyonya Alena yang berniat ingin ke dapur membantu salah satu asisten rumah tangga, menyiapkan makan malam. Nyonya Alena menghentikan langkahnya sesaat melihat anak laki-lakinya itu turun dari lantai atas dengan pakaian yang sudah rapi seperti ingin berkencan saja pikirnya.


"Mau ke mana kamu Richard?" mata Nyonya Alena memindai penampilan anaknya dari kaki hingga kepala.


"Mau ketemuan sama teman Mom?"


teman cewek atau cowok


"Cowok Mom."


"Richard, kamu ini kapan sih punya pacar?usia kamu sudah cukup matang untuk berkeluarga. Dua orang temanmu saja sudah menikah. Sedangkan kamu, jangankan punya istri punya pacar saja kamu tidak. Mami sudah sangat ingin memang cucu nak." tutur Nyonya Alena mengeluarkan unek-uneknya.


Richard menghela nafas panjang. "Mom tidak usah terlalu memikirkan jodoh aku, nanti kalau sudah tiba saatnya aku pasti akan menikah. Sudah dulu ya, Mom. Kasihan nanti teman-teman aku menunggu terlalu lama." pamitnya sambil mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.


Di sebuah Cafe, terlihat tiga orang pria yang seumuran dengan Richard sedang menunggu kedatangan Richard. Mereka adalah Fernando, cornel dan juga Afrian yang merupakan teman sekolah Richard sejak SMA.


Dari ketiga pria itu, hanya Afrian yang masih berstatus bujangan. Kalau Fernando, dia sudah memiliki seorang anak laki-laki berusia 5 bulan sedangkan Cornel istrinya saat ini sedang hamil.


"Ini Richard kemana sih? dia yang ngajakin kita ketemuan, tapi malah dia yang datang ngaret."keluh si Afrian.


"Tau tuh, Aku sudah bela-belain datang ke sini lebih awal. Tapi malah kita yang dibuatnya menunggu."sahut Cornel.


"Kalian tahu nggak perjuangan aku buat datang ke sini, Aku disuruh istriku buat nidurin anakku dulu, baru aku dibolehin pergi." keluh Bapak satu anak itu.


Tak berselang lama, mobil Richard Sudah parkir di halaman Cafe. Pria itu langsung terburu-buru masuk ke dalam Cafe itu karena dia merasa datang terlambat sekitar lima belas menit dari jam yang sudah mereka sepakati bersama.


Saat sudah di dalam Cafe, Richard langsung menghampiri ketiga orang sahabatnya itu.


"Dari mana saja sih? kamu kok sampai telat begini? Tanya Afrian tanpa basa-basi.

__ADS_1


Richard langsung menggaruk tengkuknya. "Maaf ya, jalanan lagi macet. Jadi aku nggak bisa ngebut."Richard beralasan.


"Sekarang cepat kamu duduk. Aku nggak bisa lama-lama di sini cepat katakan apa ya ingin kamu bahas?" ucap Fernando yang diberi izin oleh istrinya, Hanya Satu Jam Saja.


"Santai Do, biarkan Richard pesan minum dulu." ucap Kornel.


Richard lalu mengangkat tangannya, memanggil seorang pelayan agar mendekat ke arah mejanya.


"Coffee latte satu ya, mbak."pesan Richard saat pelayan wanita sudah berdiri di depannya.


Sepeninggalan pelayan wanita itu, Richard kembali dituntut oleh teman-temannya untuk menjelaskan hal yang membuat mereka harus bertemu malam ini.


Sudah menjadi kebiasaan di antara mereka, tiap ada yang dapat masalah mereka pasti akan saling terbuka, membicarakan masalah yang sedang mereka hadapi.


Bahkan biasanya mereka akan ikut membantu menyelesaikan masalah jika hal itu memungkinkan.


"Jadi apa yang ingin kamu ceritakan pada kami?" dari tadi aku lihat kamu sepertinya ragu untuk menceritakan masalahmu pada kami."


"Tapi kalian jangan ngomong sama siapa-siapa, ya. Ini hanya rahasia kita berempat. Dan kamu Fernando dan juga cornel jangan sampai istri kalian tahu mengenai hal ini.


Wajah Richard mengisyaratkan pada tiga orang temannya, untuk merapatkan tubuh mereka ke arahnya. Karena yang ingin dia bicarakan ini sifat aib, yang memalukan bagi dirinya. Sehingga dia tidak ingin ada orang lain ikut mendengarnya.


Beruntung sekali saat ini posisi meja mereka berada paling pojok. Di samping kiri, kanan meja mereka hanya meja kosong tidak ada yang duduk di sana.


Setelah dirasa situasinya aman, Richard pun memulai menceritakan semua kejadian yang menimpanya saat malam persami itu. Ketiga orang temannya itu langsung terkejut saat mendengar penuturannya.


Awalnya Richard enggan untuk menceritakan aibnya itu pada tiga orang sahabatnya. Namun, dia merasa tidak sanggup menanggung semua ini seorang diri.


Sahabatnya juga memahami kesusahan Richard saat itu. Seandainya itu terjadi pada mereka, mungkin mereka akan berbuat hal yang sama juga seperti apa yang dilakukan oleh Richard.


"Bagaimana keadaan wanita itu sekarang?" tanya Afrian.


"Kondisinya saat di perjalanan pulang kemarin, aku lihat dia lebih banyak melamun dia juga lagi sakit, saat aku antar ke rumah. kondisi sebelum kejadian itu memang lagi kurang sehat. Makanya saat malam itu dia ada di tenda."tutur Richard menjelaskan.

__ADS_1


"Jadi apa langkah kamu selanjutnya?" tanya Cornel.


"Aku ingin mempertanggungjawabkan perbuatanku."


"Bertanggung jawab seperti apa? menikahinya atau dipenjarakan?


"Kalau memenjarakan, aku rasanya tidak mungkin. Wanita itu anak orang kaya. Orang tuanya pasti akan menutupi kasus ini. Kalau mereka tidak terima, mungkin saja mereka akan membunuhku secara diam-diam."


"Kalau kemungkinan akan dibunuh, lebih baik kamu menyimpan saja rahasia ini rapat-rapat. wanita itu juga tidak tahu siapa memperkosanya."saran Cornel.


Richard menggeleng. "Apapun resikonya, aku akan tetap mengatakannya pada wanita itu. Aku tidak mau disebut sebagai laki-laki pengecut. Misalnya aku harus terbunuh juga, aku ikhlas untuk menebus kesalahanku." sahut Richard


Fernando menepuk pundak sahabatnya. "Kamu yang sabar ya. Aku akan selalu mendukungmu, apapun keputusan yang kamu ambil."


"Terimakasih, kalian sudah mau mendengarkan curhatan ku. Terutama kamu Fernando, dan juga Cornel walau sudah berumah tangga, tapi masih mau datang.


"Ah, kamu kayak sama siapa aja. Kita dari dulu kan, memang seperti ini." sahut Fernando.


Pertemuan keempat sahabat itu berakhir saat Fernando mendapatkan telepon dari istrinya.


***


hari terus berganti minggu berganti minggu Hari ini liburan semester berakhir.


Amor dan Moresette bermaksud ingin mengajak Dora jalan-jalan ke mall sore ini. Karena sejak pulang dari persami, Dora selalu menolak diajak hangout bareng. Alasan Gadis itu bermacam-macam. Mulai dari tidak dapat izin, malas, kurang enak badan, dan lain sebagainya.


Amor dan Moresette sepakat hari ini mereka akan langsung datang ke rumah Dora. Jadi sahabatnya itu tidak bisa menolak lagi.


Tepat pukul empat sore, taksi online berhenti di halaman rumah Dora. Terlihat Amor dan Moresette keluar dari dalam taksi. Setelah membayar ongkos taksi, kedua sahabat Dora itu langsung berjalan ke arah teras dan mengetuk pintu rumah utama keluarga Bernando.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"


__ADS_2