Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 129. MENYELAMATKAN MAUREN


__ADS_3

Tepat pukul tujuh malam, terdengar sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Richard. Pria itu langsung memeriksa ponselnya. ternyata sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Dia yakin, pasti itu pesan dari si penculik. Richard langsung membuka pesan itu.


"Jika kamu mau anak kamu selamat, segera cabut laporan kamu atas nama Mahendra dan juga Robinson dari kepolisian. Saya tunggu dalam jangka waktu dua kali 24 jam. Jika kamu tidak menarik laporan tersebut, maka kamu akan bertemu putrimu dalam keadaan tidak bernyawa."pesan Whatsapp Itu yang dikirimkan oleh seseorang ke layar ponsel Richard.


lalu nomor tak dikenal Itu mengirim foto Mauren lagi, yang sedang duduk di kursi plastik, kedua tangan dan kakinya diikat. namun mulutnya tidak dilakban.


Di foto itu juga terlihat Dani dengan kondisi yang seperti sama seperti Mauren. Namun, mulut pria itu dilakban. Foto itu diambil oleh Irene sebelum dia dan Robinson meninggalkan markas.


Richard mengepalkan kedua tangannya. setelah membalas pesan si penculik itu, dia Lalu mengirim pesan ancaman dan foto itu ke ayahnya dan juga Arga.


"Sebentar lagi ayah dan Arga akan ke rumah kamu."pesan balasan yang dikirimkan oleh Tuan Nicholas.


"Siapa yang kirim pesan Mas? apa penculik itu?"Dora penasaran karena dari tadi dia melihat suaminya sibuk dengan ponselnya.


"Bukan sayang. Papa yang kirim pesan. Katanya sebentar lagi mau ke sini."elak Richard . Dia tidak ingin Dora khawatir karena melihat kondisi Mauren dengan tangan dan kaki terikat seperti itu.


Tiba-tiba bel berbunyi


Asisten rumah tangga membuka pintu rumah utama. Ternyata Tuan Bernando, Nyonya Nadia, dan Antonius datang bertamu. Setelah mendapatkan kabar dari Dora satu jam yang lalu, mereka langsung bergegas ke rumah Richard.


Tak berselang lama, Nyonya Alena dan Tuan Nicholas datang juga. disusul oleh Arga.


"Dora, Mauren masih pakai kalung pemberian papa waktu dia ulang tahun?"tanya Tuan Bernando. Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang tengah.


"Iya, Mauren masih memakainya. Kenapa Pa?


Tuan Bernando mengeluarkan ponselnya. Saat mendapat kabar dari Dora, dia langsung melacak keberadaan Mauren melalui ponsel pintarnya.


"Papa sudah melacak keberadaan Mauren sejak tadi di rumah, tapi Papa masih ingin memastikannya lagi sama kamu Dora.


"Maksud Papa kalung yang dipakai oleh Maureen ada gps-nya?"tanya Richard yang mulai mencerna perkataan mertuanya.


Tuan Bernando mengangguk. "Tengah malam ini kita ke sana."


"Kenapa nggak sekarang saja, Pa?"sahut Nyonya Nadia.


"Jam segini situasi di sana masih belum aman. Takutnya di sana banyak pasukannya. nanti malah membahayakan untuk cucu kita. Papa juga sudah mengirim lokasinya ke teman Papa yang seorang polisi. Dia juga sedang mempersiapkan orang-orangnya untuk pergi ke sana.


"Jadi jam berapa kita ke sana Pak?"


"sekitar jam 10.00 malam. Papa sudah sepakat dengan teman Papa yang polisi itu."


***

__ADS_1


Di rumah tuan Robinson, saat ini Irene sedang duduk di ruang tamu bersama dengan asisten Robinson.


Wanita itu malam ini mengenakan setelan pakaian berwarna hitam. Rambut wanita itu biasanya dalam kesehariannya selalu dibiarkan tergerai, namun malam ini rambut panjang itu dikuncir tinggi.


"Bagaimana, apa ada balasan dari Richard?" tanya Irene kepada salah satu ajudan yang mengirimkan pesan Whatsapp kepada Richard.


"Ada Bu, katanya anaknya jangan di apa-apakan, besok dia akan mencabut laporannya.


"Bagus!!"Irene tersenyum.


"Ayo kita ke markas sekarang."


Di markas, mendengar bosnya mau datang malam ini, Riko kemudian mengikat tangan dan kaki Mauren kembali. Jam 10.00 malam mobil yang membawa Irene dan Robinson datang. Irene melihat situasi aman.


Karena keadaan aman dan terkendali, mereka ke lantai atas melalui tangga yang ada di tangga samping. Tangga itu langsung membawa Irene menuju balkon. Wanita itu langsung membuka pintu ruangan lantai atas.


"Kamu nggak masuk? di dalam ada dua kamar.


"Saya di sini saja Bu, mau berjaga-jaga."


"Berjaga-jaga dari apa? mereka nggak ada bisa melacak tempat ini. Ponsel pria itu tidak ada. Ponsel kita juga kita matikan. Di bawah sana sudah ada penjaga yang berjaga beberapa orang.


Di lantai bawah, setelah menyantap makan malam berupa roti, tangan Dani kembali diikat. Namun kali ini ikatan itu tidak begitu kencang bagi Dani, sehingga setelah berusaha beberapa jam akhirnya Dani bisa melepaskan tangannya dari ikatan. Meskipun tangannya sudah terlepas dari ikatan, tapi Dani masih belum bisa melarikan diri dari tempat itu.


Tepat pukul 02.00 dini hari, mobil Richard dan yang lainnya sudah tiba di tepi jalan hutan. tampak Richard, Arga, Tuan Nicholas, Tuan Bernando dan Antonius serta tiga orang pengawal turun dari mobil.


Mereka sengaja memarkirkan mobilnya di sana agar bisa menyelinap masuk. Setelah berjalan kaki sekitar sepuluh menit, akhirnya mereka sampai juga di tempat sebuah rumah.


Melihat di sana ada enam orang penjaga menunggu di depan sebuah pintu masuk. Richard yakin Mauren dan Dani disekap di dalam sana.


"Bagaimana, apa kita sedang sekarang saja? polisi itu kapan mereka datang? tanya Tuan Nicholas kepada besannya.


"Katanya sudah di jalan, lebih baik kita senang sekarang. Penjaga tidak terlalu banyak." sahut Tuan Bernando.


Tiga orang pengawal, bersama Tuan Nicholas, Tuan Bernando, dan Antonius, maju untuk menghadapi enam orang penjaga. sementara Richard dan Arga melangkah ke arah pintu masuk untuk menyelamatkan Mauren.


Mendengar ada keributan di luar sana, Riko dan salah satu teman yang bertugas menjaga Mauren dan Dani juga ikut keluar.


Kini di ruangan itu hanya tinggal Mauren dan Dani saja. Hal itu dimanfaatkan oleh Dani untuk segera membuka ikatan tali di kakinya.


lalu Dani menghampiri Mauren yang sedang tertidur di kursi itu. Dani segera melepas tali di tangan dan kaki anak kecil, lalu menggendong Mauren masih tertidur nyenyak.


Perlahan Dani membuka pintu mengintip keadaan di luar sana. Dilihatnya Richard dan Arga juga ikut berkelahi melawan Riko dan temannya.

__ADS_1


Dani berpikir, di lantai atas masih ada Robinson yang memiliki pistol. Untuk menyelamatkan Mauren Dani menutup pintu itu kembali dan menguncinya dari dalam.


Mendengar ada keributan di bawah sana, Robinson yang pada akhirnya memutuskan tidur di kamar itu, terbangun. Begitu juga dengan Irene. Wanita itu juga terbangun. keduanya keluar secara bersamaan.


"Ada apa?


"Saya juga tidak tahu.


"Apa Richard sudah mengetahui markas kita ya?


"Saya akan turun melihatnya."


 Irene mengekor di belakang pria itu.


Nampak Robinson dan Irene berjalan menuruni tangga. Tak lupa tangan Robinson membawa pistolnya. Saat sudah sampai di bawah, dilihatnya semua orang sedang berkelahi satu lawan satu.


Robinson dan Irene berjalan ke arah pintu, dia bermaksud ingin menyandera Mauren dengan menodongkan pistol ke belakangnya.


Namun sayangnya pintu itu terkunci. Robinson mendobrak pintu itu namanya.


"Hei..!!!


Perhatian Robinson tertuju ke arah Richard.


"Tembak aja! seru Irene.


Robinson lalu mengarahkan pistol ke arah Richard.


"Tuan awas!!"teriak Arga dia berlari ke arah.


Dorrr.


"Argh....


"Argaaa..!! teriak Richard.


Di dalam ruangan, Dani yang baru saja meletakkan Mauren di kursi Robinson itu, langsung membuka pintu. Wanita itu menendang punggung Robinson dan mengakibatkan lelaki itu tersungkur jatuh ke ke lantai.


BERSAMBUNG....


Sambil menunggu karya ini update,mampir ke karya teman emak


__ADS_1


__ADS_2