Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 156. GAGAL NIKAH


__ADS_3

"Sebentar Onty, aku coba telepon kak Mario."


Mauren mengambil ponselnya yang ada di meja rias. Dilihatnya tidak ada notifikasi apapun dari Mario, ternyata ponsel pria itu tidak aktif. Wajah Mauren mendadak pucat.


"Gimana ini Onty, ponsel kak Mario tidak aktif? tanya Mauren panik.


"Onty ke bawah dulu ya mau temuin papa kamu."Mia yang panik itu bergegas keluar dari kamar keponakannya.


Lima belas menit berlalu. Mario belum juga menampakkan batang hidungnya. Sementara di lantai atas, tepatnya di ruang kerja Richard, beberapa orang sedang berkumpul di ruangan itu.


"Aku nggak bisa menikah dengan Maureen pa. Aku dan Mauren itu cuman teman. tidak ada cinta di antara kami. Aku juga sudah memiliki pacar,"ucap Bimbim.


"Bim, tolongin tante Bim, kasihan Mauren kalau dia tidak jadi menikah hari ini. pasti banyak orang yang akan mencelanya. Kalian kan sudah berteman sejak kecil, jadi sudah saling mengenal karakter masing-masing. cinta pasti akan tumbuh seiring berjalannya waktu."Dora memohon pada Bimbim.


Bimbim bergeming.


Beberapa saat kemudian, terlihat Bimbim dan Pak penghulu saling berjabat tangan di depan dua orang saksi.


Beberapa menit sebelumnya, sekitar 5 menit lagi acara ijab kabul akan segera dimulai. Namun, belum ada tanda-tanda kedatangan Mario.


Tamu undangan yang hadir di ruangan itu nampak mulai saling melempar pandang, tak sedikit dari mereka mulai menerka-nerka bahwa pengantin laki-laki kabur.


Richard selalu menyuruh Mia untuk menemui Mauren di kamarnya. Agar putrinya segera menghubungi Mario, menanyakan apa ada kendala di jalan. namun 5 menit kemudian Ia turun kembali dan menghampiri Richard.


"Kak, gimana ini? Mario nggak bisa dihubungi. nomor ponselnya nggak aktif."


"Kemana ya anak itu?"tanya Richard mulai geram. sebab kalau pernikahan ini sampai batal Richard dan keluarga besarnya akan menanggung malu. Karena banyak tamu penting yang akan datang saat resepsi nanti malam.


"Kita tunggu lagi sebentar,"ucap Richard pada Mia.


Sementara di dalam kamar, Dora mencoba menenangkan putrinya. "Mauren sudah, Jangan menangis Lagi. nanti make up Kamu rusak sayang. sabar ya mungkin Mario lagi mengalami macet di jalan. Dia pasti akan datang."Dora mengelap pipi anaknya yang basah itu dalam tisu di tangannya.


Tiga puluh menit sudah berlalu dari jam yang ditentukan. patung hulu akhirnya buka suara. "Pak mempelai prianya apakah masih lama datangnya? karena Jam 09.00 saya ada acara di tempat."

__ADS_1


"Tunggu sebentar lagi Pak, mungkin lagi ada halangan di jalan."sahut Richard.


Richard dengan keluarga besar serta para sahabat yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri itu berkumpul di lantai atas, tepatnya di ruang kerja Richard.


"Jadi bagaimana ini? pihak Mario tidak ada kabarnya dan tidak bisa dihubungi. nomor ponsel Mario dan nomor ponsel adiknya tidak aktif."tanya Richard yang sudah bingung mau berbuat apa.


"Kamu tidak tahu nomor orang tuanya?"tanya Cornel, yang hanya dibalas dengan kepala dari Richard.


"Ada ataupun tidak ada Mario, pernikahan harus tetap dilanjutkan!"ucap Tuan Bernando. pria tua itu masih seperti dulu sifatnya. tidak pernah berubah. "malam ini semua relasi bisnis saya akan hadir di acara resepsi. maka dari itulah pernikahan ini tidak boleh batal ataupun ditunda. Mau ditaruh di mana muka keluarga Bernando, kalau sampai hal itu terjadi,"imbuh Tuan bernandu lagi.


Pandangan semua orang saat ini sedang tertuju ke arah pria yang rambutnya sekarang memutih itu.


"Nikah sama siapa Pa? marionya saja tidak datang. tidak ada juga pemberitahuan dari pihak keluarga Mario kalau dia akan datangnya?"tanya Nyonya Nadia.


"Harus ada pengganti Mario,"sahut Tuan Bernando lagi.


Hening sesaat, memikirkan ucapan tuan Bernando.


"Maksud Papa, Mauren menikah dengan orang lain? siapa pa? tanya Dora. Enggak Pa, aku nggak mau mau nikah dengan orang lain. apalagi dengan pria asing. Aku lebih baik menanggung malu daripada anakku nanti tidak bahagia."imbuh Dora sambil menggelengkan kepalanya.


"Itu mau makan waktu tidak sebentar. suruh saja Bastian atau Bimbim yang menggantikan Mario. mereka berdua bukan pria asing. Mereka sudah berteman dengan Mauren sejak kecil."sahut Tuan Bernando lagi.


"Kenapa mesti saya kek? Bastian saja!"Bimbim merasa keberatan.


"Tapi Bastian nggak ada, Bim."sahut Moresette.


"Kemana Bastian tante? tanya Bimbim.


"Mungkin dia masih di rumah. tante juga nggak tahu kenapa sampai sekarang dia belum datang. waktu Tante mau berangkat ke sini, katanya dia akan menyusul belakangan."


"Coba Tante telepon Bastian!"


Moresette lalu mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya. Dia mencoba menghubungi Bastian. "Nggak diangkat Bim."Moresette lalu mencoba menghubungi Bastian kembali. namun tetap tidak diangkat.

__ADS_1


"Bim, kita sudah tidak punya banyak waktu. penghulu dan undangan di bawah sana sudah gelisah dan banyak berbicara negatif. Papa rasa tidak ada salahnya jika kamu menikah dengan Mauren. karena kalian sudah saling mengenal sejak kecil."ucap Fernando.


Bimbim menarik nafas dalam lalu membuang dengan kasar. "Aku mau bicara dengan Mauren dulu sebentar."


Bimbim pun dipersilakan memasuki kamar Mauren, Atalia yang masih setia menemani sahabatnya itu terpaksa keluar dari kamar itu. meninggalkan dua orang yang sebentar lagi akan menikah. hanya 5 menit saja Bimbim berada di kamar Mauren, pria itu sudah keluar.


Amor mencoba menghampiri putranya. "Gimana Bim? kamu bersedia nggak?"


Bimbim mengangguk lemah. semua orang yang ada di atas itu perasaannya menjadi lega.


"Tapi aku nggak mempersiapkan mahar untuk Mauren. Karena ini terlalu mendadak buat aku."


"Pakai uang yang ada di dompet kamu saja!"seru Fernando


Dora melangkah ke arah Bimbim, "Terima kasih ya Bim, Kamu memang anak yang baik. Dora menepuk-nepuk pundak Bimbim.


"Tunggu sebentar ya, tante akan ambil baju buat kamu. kebetulan tante ada membuat dua motif baju untuk Mario yang masih ada sisa satu baju yang tidak dibeli oleh Mario. kebetulan banget badan kamu dengan Mario hampir sama."setelah mengucapkan itu Dora lalu masuk ke dalam kamarnya.


Tak berselang lama, Dora keluar dari dalam kamarnya sambil menenteng paper bag dan langsung menyerahkan pada Bimbim. "Bimbim, kamu ganti baju di kamar Andika saja."Dora membuka pintu kamar Andika.


***


Suasana di lantai bawah kembali hening saat melihat Bimbim saling berjabat tangan dengan Pak penghulu. keduanya siap melakukan ijab Kabul.


"Saudara Bimbim Prismatama bin Fernando, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Mauren Chara binti Dora Bernando yang walinya telah mewakilkan kepada saya untuk menikahkannya dengan engkau, dengan mas kawin uang Dua juta bath dibayar tunai."Pak penghulu mengucap ijab sambil menghentak tangan Bimbim.


"Saya terima nikah dan kawinnya Mauren Chara binti Dora Bernando dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."Bimbim menyahut ucapan itu dengan lancar.


"Bagaimana para saksi?"tanya Pak penghulu.


"Sah!


"Sah!

__ADS_1


"Alhamdulillah."ucap orang-orang yang ada di ruangan itu.


BERSAMBUNG....


__ADS_2