
Bastian masih menunggu jawaban pesannya dari Mauren.
"Mauren,Kenapa tidak dibalas?"Bastian kembali mengirim pesannya.
"Tapi aku masih belum tahu apakah dikasih izin lagi buat ke sana."balas Mauren.
"Kalau kamu berangkat dengan suami, pasti diizinkan."Bastian membalas dengan secepat mungkin.
"Iya, itu dulu kak, saat aku masih jadi istri Bimbim."
"Mauren, Bagaimana dengan pertanyaan Kakak saat kita di kolam renang?"Bastian kembali menagih jawaban dari Mauren atas pertanyaannya yang sudah beberapa kali ia tanyakan kepada Mauren.
Mauren bergeming, dia belum menjawab pesan yang dikirim oleh Bastian kembali. padahal pesan yang dikirim oleh Bastian langsung dibaca oleh gadis itu.
Karena tidak sabar menunggu jawaban dari, Bastian lalu melakukan sambungan video call.
Terlihat Maureen sedikit panik, dia masih belum tahu mau menjawab apa. Dengan sedikit ragu Mauren menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya, akar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Bastian. Sambungan video itu pun langsung tersambung
"Mauren, bagaimana? Kakak butuh jawaban kamu sekarang."
Mauren menatap wajah Bastian pada layar ponselnya, mimik wajahnya menggambarkan sebuah pengharapan. "A....Aku...Aku.. akan mencoba membuka hati untuk kakak."sahut Mauren terbata.
Senyum mengembang langsung terpancar di wajah Bastian. Dia sangat bahagia sekali diberi kesempatan untuk menjalin hubungan percintaan dengan gadis pujaan hatinya selama ini.
"Terima kasih ya, kamu sudah mau menerima kakak. Kakak sangat bahagia sekali malam ini."ucap Bastian apa adanya.
"Iya kak. Kita jalani aja dulu, karena aku masih belum yakin dengan hati aku, Apakah rasa yang aku rasakan ke Kakak ini murni sayang selalu sahabat atau sebagai lawan jenis."sahut Mauren
"Iya, Mauren."Bastian sangat mengerti sekali dengan kebimbangan yang dirasakan oleh Mauren. Karena tidak bisa dipungkiri, persahabatan mereka sudah terjalin sangat lama. jadi rasa sayang pada sahabat itu adalah sesuatu yang wajar. Apalagi, Beberapa bulan yang lalu ia baru bercerai dengan Bimbim yang merupakan sahabatnya juga. dia tidak ingin gagal untuk kedua kalinya.
"Ini Kakak nelpon pakai ponsel apa?"Mauren mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kakak pinjam ponsel laura."
"Tumben dia mau kasih pinjam?"tanya Mauren.
Kemudian Bastian pun menceritakan Bagaimana dirinya dapat meminjam ponsel Laura.
 sebelumnya, Bastian keluar dari kamarnya. pria itu mengayunkan langkahnya menuju kamar Laura. Dia tempelkan daun telinga jadi pintu kamar adiknya. Dia hanya ingin mengetahui apa adiknya sudah tidur. terdengar suara percakapan bahasa Korea di kamar itu. Ternyata sang adik masih menonton drama Korea kesayangannya.
"sudah ku tebak, pasti kamu lagi nonton drama Korea."ucap Bastian lalu tangannya langsung mengetuk pintu kamar.
__ADS_1
Laura yang sedang asyik menonton terpaksa turun dari ranjangnya, dan membuka pintu kamar. "Apaan sih, Kak? mengganggu orang nonton saja."sahut Gadis itu cemberut.
"Kamu ada punya ponsel cadangan nggak Laura?"
"Nggak ada!"sahut Naura cepat.
"Kakak pinjam ponsel kamu. mau nyoba kartu sim Kakak masih bagus atau rusak."
"Kak, ponsel Aku barang pribadi, mana boleh dipinjam gitu."
"Kan, cuman mau ngetes kartu sim kakak, dek."
"Ya sudah kalau cuman ngetes, sini kartunya!"Laura mana dah kan telapak tangan kanannya.
"Laura, apa nggak bisa kakak pinjam ponsel kamu buat malam ini saja?"
"Nggak bisa, kak. Aku juga masih memakai ponsel aku."
"Kamu mau apa, Nanti Kakak beliin."
"Beneran, Kak? apa saja? tanya Laura dengan mata berbinar.
"Enggak bilang saja kakak yang beli."
"Aku mau beli motor NMAX, Sepertinya seru juga naik motor ke sekolah."sahut Laura
"Memangnya kamu bisa bawanya?"
"Bisa, bawa NMAX kan sama saja seperti bawa motor matic lainnya, bedanya NMAX lebih keren dan lebih besar."sahut Laura bersemangat."
"Oke, nanti Kakak beliin,"sahut Bastian, sini ponsel kamu!"
Laura menyerahkan ponsel pintarnya pada Bastian. "Kakak pasti mau menghubungi Mauren kan?"
"Jangan banyak nanya kalau kamu masih mau motor baru."Bastian lalu pergi dari kamar adiknya.
Setelah menceritakan itu, Bastian melihat ke arah benda bulat yang menempel di dinding kamarnya.
"Sekarang sudah hampir jam 11.00 malam. lebih baik kamu tidur sekarang. Besok pagi-pagi kamu kembali bekerja."
"Iya, Kak."
__ADS_1
Setelah mengakhiri percakapan, Bastian lalu bersandar pada hardboard ranjang. pria itu nampak tersenyum. Kini gadis yang diharapkan akan menjadi istrinya sudah membuka jalan untuk dirinya. Tinggal selangkah lagi, pikir pria itu.
Sebenarnya, tadi Bastian ingin langsung mengajak Mauren menikah, agar dia bisa pergi ke New Zealand kembali, sekalian untuk berbulan madu. Namun, dia harus bersandar lagi menunggu sampai hati gadis itu benar-benar yakin kalau yang dirasakan itu benar-benar cinta terhadap dirinya.
Belum ada 5 menit Bastian menetapkan ponselnya di atas nafas, gini ponsel itu mendapatkan notifikasi pesan masuk.
"Apa Mauren masih belum tidur, ya? batin pria itu bertanya, tangannya kembali menjangkau ponsel yang ada di atas nakas.
Bastian membuang nafas kasarnya. dia menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat nomor asing
"Apa sih maunya ini cewek, jadi seorang cewek kok ngebet banget? sudah dicuekin Tapi masih saja menghubungi."gerutu Bastian saat melihat nomor ponsel adiknya Mario Selena yang mengirim pesan ke layar ponselnya.
"Kak, sudah tidur ya?"
Bastian tidak membalas pesan itu. Dia langsung memblokir nomor asing itu agar tidak terus-terusan mengganggu dirinya lagi.
****
Pagi hari yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya di permukaan bumi. Tepat pukul 07.00 pagi Bastian keluar dari dalam kamarnya. biasanya pria itu tidak pernah terlambat hadir di ruang makan.
"Pa, Kak Bastian kok jam segini belum turun?"tanya Laura.
Cornel lalu memandang ke arah Moresette."Bastian kalau tidak hadir seperti ini biasanya dia sakit, Mas."aku akan melihat Bastian ke kamarnya. Kalian lanjut saja makan,"ujar Moresette, lalu wanita itu bergegas keluar dari ruang makan.
Sesampainya di lantai atas, Moresette langsung menuju kamar putranya. diketuknya pintu kamar anaknya. "Bastian, Nak, kamu masih di dalam?"Panggil Moresette.
Bastian di dalam kamar masih bergelut dalam selimutnya. Mendengar Mama Moresette mengetuk pintu kamarnya, pria itu terpaksa membuka matanya dan menyibak selimut.
"Ada apa Ma?"Bastian merenggangkan pintunya. Membiarkan Mama sambungnya masuk ke dalam kamar. dia lalu kembali ke peraduannya dan menyelimuti tubuhnya.
Moresette duduk di sisi kasur. "Kamu kenapa Bastian? sakit?"tanya Moresette sambil menempelkan punggung tangannya pada kening putranya.
"Kamu panas banget, pantesan mama lihat mata kamu merah."
Moresette selalu beranjak berdiri dari duduknya. "Mama tinggal ke kamar sebelah dulu ya, Mama mau ngambil ponsel."
"Mau ngapain Ma? gak usah nelpon dokter. Aku baik-baik saja. Habis minum obat penurun panas juga bakalan sembuh."
"Enggak, Bastian. Nanti Papa kamu marah. Mama tinggal keluar dulu sebentar."Moresette keluar dari kamar Bastian.
Bersambung...
__ADS_1