
Di Timezone nampak para orang tua sedang sibuk mengawasi anak mereka. Terlebih aprian dan Mia. Adelia dan Adelio tidak bisa diam. Kedua anaknya selalu berebut mainan.
"Adelio, Adelia, kalian ini kapan aku punya. kalau kayak gini terus kapan Papa bisa kasih kalian adik,"keluh Afrian.
"Nggak usah nambah anak lagi Kak, Yang dua ini saja aku sudah repot banget,"sahut Mia.
berbeda dengan anak kembar Amor dan Fernando. anak mereka tidak terlalu aktif.
Mauren menghampiri mamanya. "Ma, masih lama ya?"
"Kenapa Mauren?"kamu mau pulang ya?"
"Iya Ma."
"Adik kamu sama teman-temannya masih mau main di sini Mauren. Sebentar lagi ya Sayang."Dora mengusap pipi kanan putrinya.
****
Beberapa bulan kemudian. Sekitar jam sembilan pagi, baru saja pintu lapas dibuka. Nampak seorang wanita berjalan keluar dari lapas.
Seorang wanita berambut pendek baru saja keluar dari lapas. kedua sudut bibir wanita itu melengkung ke atas. Setelah beberapa tahun hidup di dalam penjara akhirnya Irene mendapatkan kebebasannya.
Wanita itu menoleh ke kiri dan ke kanan, dia mencari keberadaan keluarga satu-satunya. Namun Mahendra itu tidak datang menjemputnya.
Sejak Mahendra keluar dari penjara, pria itu hanya satu kali saja membesuk Irene di lapas. sebenarnya Mahendra sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan Irene.
"Mahendra di mana ya?"tanya Irene dalam hati.
Wanita itu lalu berjalan di trotoar, di bawah terik matahari sambil sesekali dia batuk. sudah sebulan ini kondisinya tidak terlalu sehat. Badannya tampak begitu kurus.
Irene saat ini sedang bingung mau pergi ke mana. Uang saja Dia tidak punya. rumah peninggalan orang tuanya juga sudah disita. karena rumah tersebut dia jadikan jaminan hutangnya saat dia ingin mencelakai Dora waktu itu.
Irene terus berjalan menelusuri Jalan Raya. ini yang ketiga kalinya dia mampir di halte untuk beristirahat. Nampak Irene menyita keringat yang ada di keningnya. Matanya menatap ke arah bangunan-bangunan di sekelilingnya. Begitu banyak sekali perubahan yang tidak dia lihat selama beberapa tahun terakhir ini.
Beberapa saat kemudian, ada seorang wanita duduk di halte juga. "Mau ke mana Mbak? tanya wanita itu.
"Saya baru datang dari kampung Bu. tapi tas saya yang berisi ponsel dan dompet diambil sama copet. Mau ke rumah keluarga, tapi masih jauh tempatnya dari sini. ini saya sudah jalan kaki selama satu setengah jam."tutur Irene. Dia terpaksa mengarang cerita seperti itu. Karena jika mengatakan yang sebenarnya, dia takut wanita yang duduk di sebelahnya akan takut terhadapnya.
__ADS_1
"Mbak kalau mau menghubungi keluarga bisa pakai ponsel saya."wanita itu mengeluarkan ponsel di dalam tasnya.
Irene menggerak-gerakan telapak tangannya. "Enggak Bu, saya nggak hafal nomor ponsel keluarga saya."
"Ya ... sayang sekali ya."ponsel itu dimasukkan kembali ke dalam tasnya.
Wanita itu melihat ke arah Irene, dilihatnya penampilan Irene saat ini hanya mengenakan sendal jepit, baju kaos oblong yang kusam dan celana kulot berwarna hitam. di samping tempatnya duduk ada sebuah tas travelling kecil, sudah bisa diperkirakan itu isinya adalah beberapa potong pakaian.
Melihat keadaan Irene seperti itu, tumbuh rasa iba di hati wanita itu. dia pun mengeluarkan dompetnya, dan mengeluarkan selembar uang. "Mbak ini saya kasih uang. semoga cukup untuk transport Mbak pergi ke rumah keluarga."wanita itu menyerahkan uang itu pada Irene.
Irene langsung menerimanya. memang itu yang diharapkannya. sebab cacing di dalam perutnya sudah demo sejak tadi, meminta jatah untuk segera diisi.
"Terima kasih banyak ya Bu. uang ini sangat berharga sekali untuk saya."ucap irena dengan mata berbinar.
"Iya, sama-sama Mbak."
Beberapa saat kemudian, sebuah bis berhenti di halte tersebut. Ibu itu langsung berdiri.
"Ayo Mbak, bareng."
"Enggak Bu, Saya mau beli makanan dulu,"tolak Irene.
Setelah bis itu berlalu pergi, Irene melanjutkan perjalanannya. dia mau mengisi perutnya dulu sebelum pergi ke rumah saudaranya.
Setelah sekitar dua puluh menit berjalan kaki, akhirnya Irene sampai di sebuah warung sederhana. Dia sengaja membeli makanan di sana, karena dia harus bisa berhemat dengan selembar uang pemberian wanita yang di halte itu.
***
Di sebuah sekolah TK. Di sana sedang ada pelajaran mewarnai. Nampak seorang anak laki-laki menghampiri meja kelompok saudara kembarnya. tangannya sambil menenteng sebuah buku gambar.
"Adelio, Kenapa kamu membawa buku kamu ke meja Adelia?"tanya Bu guru di kelas itu.
"Lio nggak nyontek Bu. Lio cuma mau suruh lihat bantu mewarnai buku Lio."sahut Adelio.
Bu guru itu menggeleng. "Adelio, Kembali ke tempat duduk kamu sayang. kamu nggak boleh meminta bantuan dengan Adelia, meskipun dia adik kamu. Kerjakan tugas kamu sendiri!"seru ibu guru.
Akhirnya Adelio pun terpaksa Kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
Menjelang pulang sekolah, buku-buku hasil mewarnai yang sudah diberi nilai itu dibagikan kembali oleh guru pada muridnya.
"Adelio."bu guru memanggil Adelio agar maju ke depan untuk mengambil bukunya. namun yang maju adalah Adelia.
"Adelia, yang Ibu Panggil itu Adelio, bukan kamu sayang."
"Iya Bu, tapi Lia disuruh Kak Adelio buat ambilin bukunya." ibu guru itu menatap ke arah tempat duduk Adelio.
"Adelio kemana?"tanya Bu guru ke anak-anak yang duduk bangku Adelio.
"Adelio lagi keluar bu,"sahut seorang anak yang tempat duduknya bersebelahan dengan Adelio.
"Keluar ke mana?"
"Katanya dia mau kentut di teras Bu."
ibu guru itu kembali menggeleng-geleng melihat kelakuan Adelia. "Macam-macam saja tingkah Adelio ini."
Jam pulang sekolah, seperti biasa di depan gerbang sana ada Mia, Dora, Amor dan Moresette yang sudah datang menjemput anaknya. seperti ibu-ibu yang lain, mereka berempat juga sering ngerumpi sambil menunggu anak-anak mereka keluar kelas.
"Amor, baru aku melihat di aplikasi biru, Risma memposting foto dia dengan seorang pria dan anak laki-laki. Kamu tahu nggak kira-kira ini siapa?" tanya Moresette, sambil memperlihatkan sebuah foto di ponselnya.
Amor dan yang lainnya melihat foto itu. "Oh ini. Aku lupa cerita sama kalian. Beberapa hari yang lalu aku dengar dari mama mertua aku, katanya si Risma itu baru saja nikah dengan suami dari sepupu yang mengadopsi anaknya,"tutur Amor.
"Maksud kamu, dia jadi istri kedua?"tanya Dora.
Amor menggeleng. "Bukan Dora, kata mertuaku, sepupu si Risma itu Beberapa bulan yang lalu meninggal dunia karena sakit. jadi si anaknya itu mencari ibunya terus. makanya Risma disuruh neneknya nikah sama suami sepupunya itu. Biar bisa menggantikan sosok ibu untuk anak yang selama ini ditinggalkannya."
"Kasihan banget ya anaknya itu. Dia nggak pernah tahu siapa Bapak biologisnya." timpal Moresette.
"Mending nggak usah tahu, papa angkatnya itu sudah sayang banget sama Risma. lagi pula, Rehan juga sekitar satu bulan yang lalu kecelakaan bersama istri dan anaknya. cuma aku nggak tahu gimana kondisi mereka."tutur Amor.
Dia banyak mendapat informasi dari mertuanya. Karena mertuanya itu menjadi tempat curhat mamanya Risma.
Tettt...
Bel pulang sekolah berbunyi, anak-anak berlarian keluar. nampak Adelio berlari dengan Andika. sedangkan Adelia, dia jalan kaki bersama anak Moresette dan anak kembar Amor.
__ADS_1
bersambung...