
Usia kandungan Dora sudah genap sembilan bulan. Dora kini tidak diperbolehkan oleh Richard lagi pergi ke sekolah maupun ke butik tempatnya biasa bekerja. Dia sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Meskipun begitu, Dora masih melakukan pekerjaannya mendesain baju. Karena pekerjaan itu bisa dilakukan di mana saja. Tidak mengharuskannya datang ke butik.
Sementara ini, Dora tidak melayani customer yang ingin memesan baju dengannya. Karena hal tersebut mengharuskan Dora untuk bertemu face to face dengan customernya.
Richard tidak memperbolehkan istrinya untuk mendatangkan customer ke rumahnya. karena Richard ingin menjaga privasi rumahnya. Hanya sahabat dan keluarga saja yang boleh berdatangan ke rumahnya.
Setelah menemani Mauren tidur siang, Dora beringsut turun dari pembaringan putrinya. dia ingin kembali ke dalam kamarnya, karena ponselnya dia tinggalkan di atas meja nakas.
Diambilnya benda pipih itu. Perlahan wanita hamil itu duduk di pembaringan yang dilapis dengan sprei berbahan katun yang dingin.
Dia mengirim pesan kepada asistennya, Bila.
"Bila, kirimkan data stok pakaian butik yang stoknya tinggal sedikit."pesan dikirimkan oleh Dora kepada asistennya.
βLima belas menit kemudian, Bila mengirimkan apa yang diminta oleh bosnya. diperiksanya laporan stok barang yang dikirim oleh asistennya itu.
Kemudian wanita itu beringsut turun dari ranjang nya, dan pergi ke ruang kerja suaminya. Di ruangan itu, Dora menyimpan semua alat untuk dia bekerja.
Dia ambil tas kerja miliknya, yang diletakkan di atas lemari kecil dalam ruangan itu. Tas itu berisi perlengkapan untuk Dora menggambar atau membuat desain baju.
Kali ini Dora mendesain baju di balkon kamar putrinya. Sebelum melahirkan, dia ingin membuat stok baju yang banyak untuk butiknya. Sebab dia takut setelah melahirkan nanti waktunya akan lebih banyak tersita untuk mengurus suami dan kedua anaknya.
Malam harinya, di rumah Tuan Nicholas ada acara makan malam bersama. Acara makan malam kali ini, lebih spesial dari biasanya. sebab Nyonya Alena ingin merayakan ulang tahun untuk suaminya yang ke enam puluh lima tahun.
Jam tujuh malam, Afrian menyembunyikan klakson mobilnya di halaman rumah Richard. Tak berselang lama, Richard keluar bersama istri dan juga anaknya. Mereka ingin berangkat bersama-sama ke rumah utama Tuan Nicholas.
"Sayang, apa Ayah nggak marah kalau kita nggak membawa kado?"tanya Afrian kepada istrinya.
"Nggak mungkin lah, Papa sama Mama kan ngasih taunya dadakan. Ulang tahun jam tujuh malam, ngundangnya jam enam sore.
Jalanan Malam ini terasa sedikit langgang, sehingga dua mobil yang dikemudikan oleh Richard dan Afrian tiba di halaman rumah utama keluarga Nicholas.lebih cepat dari biasanya.
Pintu utama Sudah dari tadi dibuka oleh Nyonya Alena. Sebab wanita paruh baya itu sudah mendapat kabar dari minyak bahwa sebentar lagi mereka akan sampai.
"Assalamualaikum!!"ucap tamu yang datang.
"Waalaikumsalam."Nyonya Alena menyambut anak menantu serta cucu kesayangannya.
"Oma!!"Mauren Langsung berlari ke pelukan Nyonya Alena. Bocah kecil itu sejak dulu memang sangat manja pada Omanya. berbeda dengan Nyonya Nadia, sikap Mauren biasa-biasa saja pada neneknya yang satu itu.
__ADS_1
"Ayo kita langsung ke ruang makan. Papa sudah menunggu di sana."ajak Nyonya Alena tangannya menuntun tangan Mauren melangkah ke ruang makan.
Atmosfer dalam ruangan itu berubah menjadi dingin, saat Afrian melihat rival Papanya duduk di depan kue ulang tahun.
Berbagai macam makanan enak sudah tersaji di atas meja makan. Mereka lalu menempati tempat duduk yang tersusun rapi mengelilingi meja makan.
"Ini semua Mama yang masak?"tanya Mia.
"Iya sayang, Mama hari ini nggak pergi ke toko, karena ingin menyiapkan semua ini."
"Kok mama baru memberitahu kami jam enam sore? kalau ngasih tahu pagi, kan aku sama Mia bisa bantuin masak-masak."
"Mama memang sengaja tidak memberitahukan lebih awal. Karena Mama tidak ingin merepotkan. Kalian berdua kan lagi hamil. Apalagi kamu Dora sebentar lagi akan lahiran.
"Papa selamat ulang tahun."Richard memberi kado pada Tuan Nicholas.
"Selamat ulang tahun, juga Pa."Afrian ikut menimpali.
"Kado Om aprian mana? tanya Mauren.
Afrian menggaruk belakang kepalanya. Dia tersenyum canggung.
"Pa, kami nggak sempat beli kado. Karena kami tahunya Ayah ulang tahun ini jam enam sore."Mia benar-benar lupa kalau hari ini Papanya ulang tahun.
"Hem... nggak apa-apa."sahut pria yang berulang tahun itu.
Sudah semingguan ini akan bisa menikmati makanan berbumbu. Lelaki itu tidak merasa mual dan muntah lagi. Maka dari itulah Afrian malam ini begitulah segala menikmati makanannya.
Jam sembilan malam, Mauren mengajak orang tuanya untuk pulang. Anak kecil itu sudah merasakan kantuk. Richard dan istrinya lalu berpamitan untuk pulang ke rumah. Afrian juga beranjak dari duduknya. Padahal sebenarnya Mia malam ini ingin menginap di rumah orang tuanya, namun suaminya mendesak untuk pulang.
"Masih hamil muda, tapi perut kamu sudah kelihatan besar banget ya, nak."tangan Nyonya Alena mengusap perutnya saat mereka berada di depan teras rumah.
"Iya, Ma. Kaan, anak aku kembar dua. Makanya perut aku kelihatan lebih besar ukurannya dibanding ibu hamil pada umumnya.
Nyonya Alena tersenyum " pantesan Afrian ngidamnya parah banget kemarin.
Lelaki itu hanya tersenyum kikuk. Dia jadi penasaran satu bulan yang lalu, saat ini dan ingin makan nasi goreng buatan Tuan Nicholas. Tuan Nicholas mertuanya itu mengomel sepanjang dia masak nasi goreng di dapur.
Bukan hanya nasi goreng, tetapi mangga muda yang ada di belakang rumah membuat Tuan Nicholas harus merasakan sengatan serangga.
Beberapa hari kemudian, satu jam Setelah Richard berangkat kerja. Dora merasa perutnya sedikit sakit, Air ketuban pecah. Dora yang sudah berpengalaman itu tidak begitu panik.
__ADS_1
Dora mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Ia mencari kontak asisten rumah tangga yang bekerja di rumah mereka.
Kring..
Asisten rumah tangga yang kebetulan sedang duduk di teras samping itu, langsung menerima sambungan telepon.
"Iya, Bu."
"Bi, tolong ke kamar aku sekarang."
"Baik, Bu."
Sambungan telepon terputus, Dora bergegas ke ruang walk in closet untuk mengganti pakaiannya.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, doara sudah bisa menebak Siapa yang datang. setelah mengganti pakaian wanita itu, Dora langsung berjalan ke arah pintu. Tak lupa ponselnya dia masukkan ke dalam tas selempangnya.
Tas yang ada disudut raungan, tas berisi baju bayi dan perlengkapan yang lainnya sudah ada si sana sekitar lima hari yang lalu, supaya saat mendadak mau melahirkan, tas itu tidak ketinggalan.
Dora mengangkat tas itu dan membuka pintu kamarnya.
"Bawa ini, Bi. Kita ke rumah sakit sekarang. Aku mau melahirkan."Dora menyerahkan tas perlengkapan melahirkan pada asisten rumah tangga, dan tangan yang satunya digunakan untuk memegang perutnya yang terkadang muncul rasa nyeri.
Asisten rumah tangga itu bertugas menuntun tangan majikannya untuk menuruni tangga. Padahal Richard sudah menyuruh istrinya selama hamil tidur di kamar bawah saja. sebab Wanita itu sudah merasa nyaman dengan kamarnya sendiri.
Setelah sampai di halaman rumah, asisten rumah tangga itu langsung menggiring Dora ke arah mobil.
"Ibu, sandarannya mau diturunkan apa kayak gini aja?
"Biar begitu saja Bi, nanti aku bisa turunin sendiri saat di jalan.
"Keduanya kini masuk ke dalam mobil, dan asisten rumah tangga langsung menjalankan mobilnya menuju Rumah Sakit, tempat Dora biasanya periksa kandungannya.
Setelah duduk di samping kursi kemudi, dia langsung menghubungi suaminya memberitahukan mengenai kondisinya dan menyuruh suaminya agar belum punya di rumah sakit saja.
Dora menurunkan sandaran kursinya. Dia dari tadi menahan rasa nyeri di perutnya, akibat kontraksi yang datang setiap beberapa menit.
Dibaringkannya punggungnya di sandaran jok itu. Terlihat Dora memiringkan tubuhnya, agar rasa sakit yang sebentar datang dan sebentar pergi itu bisa sedikit bisa enakan.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih πππ
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH ππ
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN