
Mauren, dulu waktu papa aku nikah sama mama Amor, Aku disuruh makannya belakangan."ucap Bimbim
"Iya Mauren. Aku juga disuruh makan belakangan."Bastian ikut menimpali.
"Waktu papa aku nikah sama Mama, aku malah disuruh makan duluan sebelum acara."sahut Mauren.
"Tante Mia, Tante Mia. Mauren mau makan."rengek Mauren dia tidak mau mendengarkan nasehat Bimbim dan juga Bastian.
"Iya Sayang, sebentar ya sebentar lagi Om Antonius datang bawain makanan.
Tak berselang lama, Antonius datang bersama Cornel, Fernando, dan Afrian membawa kantong plastik yang berisi nasi kotak.
Antonius menyerahkan kantong plastik itu pada Mia. Kalu Mia membagikan makanan kotak itu kepada anak-anak.
Mauren, Bimbim, dan Bastian mendapatkan makanannya lebih dulu. Mereka kompak membagikan makanan kepada anak-anak.
Tuan Bernando yang sedang mengambil makanan di meja prasmanan, menatap jengah pada Antonius yang menatap kepada seorang wanita cantik yang ada di sana.
Tampak wanita cantik itu sedang membantu anak-anak untuk duduk makan dengan teratur.
"Mauren, paha ayamku Kenapa kamu ambil?" protes Bimbim
"Bukan mau ambil, Bim. Aku mau tukar aja. aku nggak suka dadanya."
"Aku juga mau makan paha ayam Mauren.
"Maureen, balikan paha ayam Bimbim. Kamu makan ayamku saja. Bastian mencoba menengahi.
Mauren lalu menyerahkan paha ayam milik Bimbim dan mengambil dada ayam untuk diserahkan kepada Bastian.
Setelah anak-anak menyelesaikan makanannya. Antonius menemui seorang wanita yang sudah lama ia kenal tetapi selama ini hubungan keduanya masih belum jelas. Karena sepertinya wanita itu selalu menghindar dari Antonius.
***
Kini satu persatu tamu sudah berpamitan pulang. Kedua bus yang membawa orang-orang panti, baru saja berangkat.
Tak lama setelah bus berangkat, Afrian, Cornel dan Fernando berpamitan pulang. sebab istri-istri mereka ingin meluruskan punggungnya di rumah.
__ADS_1
"Loh, Mia kamu pulang juga? Kenapa nggak istirahat di kamar tamu saja?"usul Nyonya Alena.
"Biasalah Ma, papa kan masih alergi sama Mas Afrian."lirih Mia.
"Papa kamu itu, kayak anak kecil saja."gerutu Nyonya Alena.
Rani tiba-tiba masuk ke ruang tengah. Setelah membantu asisten rumah tangga membereskan barang-barang di meja prasmanan, wanita itu ingin berpamitan pulang.
"Ran, kamu sudah membungkus makanan untuk Arga belum?"tanya Nyonya Alena.
"Sudah Bu. rencananya pulang Ini aku mau mampir sebentar ke apartemen ka Arga."
"Baguslah kalau begitu. kalian sebaiknya cepat menikah, kasihan Arga tinggal di apartemen sendirian."tutur Nyonya Alena. beliau mendapat bocoran dari Richard bahwa Arga dan Rani sudah menjadi sepasang kekasih.
"I...Iya, Bu. rencananya mau nunggu Kak Arga betul-betul sehat dulu."jawabnya dengan sedikit malu-malu.
Satu jam berlalu, kini di rumah Richard hanya ada orang tua Dora, Andika dan juga Riana saja. Nyonya Alena dan Tuan Nicholas tiga puluh menit yang lalu sudah pulang ke rumah.
Saat ini di ruang keluarga ada Tuan Bernando dan nyonya Nadia. pasangan paruh baya itu sedang bermain dengan kedua cucunya.
Di Gajebo, Antonius dan Riana beringsut turun. keduanya memutuskan untuk meminta Restu pada Tuan Bernando hari ini. mereka melangkah masuk didampingi oleh Dora. sebab Dora ingin menyusui putranya. diambilnya putranya dari pangkuan sang Papa. Dora langsung menuju kamar tamu.
Selepas kepergian Dora bersama cucu laki-lakinya, Tuan Bernando menatap ke arah Antonius dan Riana yang berdiri berjarak dua meter di depannya. Selama ini hubungan keduanya masih abu-abu, terhalang restu dari Tuan Bernando.
Riana tidak ingin, Antonius membangkang orang tuanya. jika mereka nekat ingin tetap melanjutkan hubungan mereka, jika Tuan Bernando tidak merestui keduanya.
Selama ini Antonius, sudah lama memendam rasa cintanya terhadap Riana. Tapi karena Tuan Bernando tidak merestui mereka, sehingga mau tidak mau Antonius selalu menemui Riana secara diam-diam. untuk melepas rasa rindu yang ia rasakan.
Kali ini Antonius memberanikan diri kembali untuk berbicara langsung kepada Tuan Bernando. Antonius meraih tangan Riana untuk menguatkan wanita itu agar tidak takut.
Keduanya kini duduk bersimpuh di depan Tuan Bernando dengan berjarak satu meter.
"Pa, rencananya dua bulan lagi aku dan Riana ingin menikah. Aku mau Papa merestui pernikahan aku dengan Riana,"tutur Antonius, dia sekilas menatap Riana hanya menunduk, wanita itu tidak berani menatap wajah tuan Bernando sama sekali.
"Bukankah Papa sudah pernah bilang sama kamu. Papa nggak akan merestui kamu dengan wanita ini!"ucap pria paruh baya itu sambil meninggikan nada suaranya.
"Kenapa Tuan Bernando tidak mau memberi Restu pada anak saya?"
__ADS_1
Sebelumnya, beberapa menit setelah Dora, Antonius dan Riana masuk ke dalam rumah, sebuah mobil Avanza berwarna putih tiba di sisi jalan depan rumah Richard.
Richard yang sedang asyik dengan ponselnya, atensinya teralihkan ke arah mobil yang baru berhenti. Pria itu masih duduk di tempat. Dia masih memantau dari kejauhan, tamu siapa yang datang.
Pintu mobil terbuka. Sepasang paruh baya keluar di pintu yang sama. Richard beranjak berdiri dari duduknya setelah mengenali orang yang baru keluar dari mobil.
Pria itu langsung menghampiri tamu tersebut dan langsung mencium punggung tangan pasangan paruh baya itu.
"Maaf Nak, kami terlambat."ucap seorang wanita paruh baya sambil tersenyum ke arah Richard.
"Nggak apa-apa Bu,"sahut Richard.
"Kita langsung masuk aja Bu, Riana ada di dalam!"imbuh Richard. ternyata Richard sudah sangat lama mengenali sepasang paruh baya itu. Yang selama ini menjaga dan mengelola panti asuhan milik keluarga Nicholas.
Ketiga orang itu langsung masuk ke dalam rumah. Richard langsung membawa pasangan paruh baya itu ke arah ruang tengah.
Ketika langkah ketiganya hampir tiba di ruang tengah, terdengar suara Antonius meminta Restu pada Papanya. Namun, dijawab oleh Tuan Bernando dengan nada sedikit meninggi, bahwa Tuhan Bernando tidak akan merestui Riana menjadi menantunya.
Kalimat itu sangat jelas terdengar di telinga Richard dan kedua orang tua Riana. melihat putrinya duduk dengan kepala tertunduk, menghadapi penolakan oleh pria arogan di depannya, membuat Pak Imran ikut angkat suara.
Dia tidak terima putrinya diperlakukan seperti itu. Pak Imran sangat tahu betul Antonius dan Riana saling sehingga dia mempertanyakan alasan penolakan Tuan Bernardo terhadap putrinya.
Lelaki yang menatap tajam ke arah Antonius dan Riana itu, mengalihkan perhatiannya pada tiga orang yang berdiri di depan ruang tengah.
"Saya tanya sekali lagi, Apa alasannya Bapak menolak Riana Putri saya?"tanya Pak Imran lagi sambil menekan kata putri saya."
"Ja... jadi Riana ini anak....?"Tuan Bernando tak bisa meneruskan ucapannya. lelaki paruh baya itu terlihat memegang dada kirinya terasa ditekan dengan beban berat.
"Papaaa!" pekik Antonius saat melihat Tuan Bernando hampir tumbang di atas ambal tebal. Antonius langsung maju menangkap tubuh Papanya.
"Papaaa,"teriak Nyonya Alena juga dan langsung menghampiri suaminya.
Suasana di ruangan itu berubah menjadi tegang. Pak Imran yang awalnya ingin marah pada Tuan Bernando kini mengurungkan niatnya. calon besannya itu sekarang mendadak kesakitan pada dadanya.
Bersambung..
Sambil menunggu karya ini update kembali, Monggo mampir di Karya Baru Emak juga yang ceritanya nggak kalah seru. "Divorce on the wedding day."
__ADS_1