Aku Ibu Mu, Nak

Aku Ibu Mu, Nak
BAB 213. JANGAN MACAM-MACAM


__ADS_3

Mauren perlahan melangkah ke arah Bastian. dilihatnya Bastian sedang duduk termenung. kepalanya sedikit mendongak ke atas menatap langit malam.


Saat sudah berjarak sekitar dua meter di belakang, Mauren menghentikan langkahnya. "Selamat ulang tahun Kak Bastian. Semoga semua harapan Kakak di tahun ini bisa terwujud."


Bastian yang mendengar ada suara Mauren, dia langsung menoleh narasumber suara.


"Mauren!"Bastian mengucek matanya, memastikan kalau itu nyata bukan khayalan.


Mauren melanjutkan langkahnya ke arah Bastian. Kini posisi Mauren sudah berdiri tepat di hadapan Bastian.


"Tiup lilinnya Kak!"


Bastian yang sedang menatap lekat ke arah mau renang langsung mengalihkan perhatiannya pada kue yang dibawa oleh Maureen. Dia Lalu meniup lilin itu dengan sekali tiupan.


Kemudian kue itu langsung diambil oleh Bastian dan diletakkannya pada meja yang ada di dekatnya. setelah itu Bastian langsung memeluk tubuh gadis yang sangat dirindukannya selama satu bulan ini. Begitu erat pelukan Bastian. Air mata kebahagiaan menetes di kedua sudut mata pria tampan itu. Bastian segera mengusapnya. Dia tidak ingin melihatnya menangis.


"Kak, jangan kencang-kencang meluknya."


Bastian melonggarkan pelukan itu. "Terima kasih sayang, Kakak bahagia sekali kamu bisa datang ke sini malam ini."Pria itu masih mendekat Mauren. Beberapa kali terlihat dia mengecup pucuk kepala Mauren.


"Iya, Kak. Maaf ya, aku baru bisa datang ke sini."


"Tidak apa-apa, sayang. Yang penting kamu sudah datang malam ini, itu sudah lebih dari cukup. Bahkan ini menjadi kado terindah dalam hidup kakak.


Mendengar kata kado, Mauren baru sadar, paper bag yang masih ditangannya belum diserahkan pada Bastian. Mauren mencoba mengurai pelukan itu.


"Kak, ini kado untuk kakak."Mauren menyerahkan paper bag itu pada Bastian. pria itu dengan senang hati menerimanya. baginya pemberian dari Mauren itu adalah sesuatu yang sangat berharga. semua kado yang diberikan oleh Maureen setiap tahunnya dia simpan di dalam lemari khusus. Bahkan adiknya saja tidak diperbolehkan membuka lemari itu.


Bastian memegang kedua tangan Mauren. "Sayang, jangan tinggalin kakak lagi ya. Kakak nggak bisa hidup tanpa kamu. Hidup Kakak hampa tanpa kamu."


"Tapi bagaimana dengan Bimbim, Kak."


"Kamu tidak usah memikirkannya. seiring berjalannya waktu pasti dia akan menerima hubungan kita. Kamu mau kan merajut mimpi bersama kakak?"


Mauren mengangguk, dan itu kembali membuat Bastian kembali memeluknya.


"Terima kasih sayang. Kakak sangat bahagia sekali malam ini."


Kring!

__ADS_1


Kring!


Ponsel yang ada desaku jaket mau berbunyi. Bastian terpaksa mengurai pelukan agar Mauren bisa mengambil ponselnya.


"Siapa?"tanya Bastian.


Mauren memperlihatkan layar ponselnya pada Bastian. Ternyata Moresette yang menghubunginya.


"Assalamualaikum, tante."


"Mauren, Om mau bicara dengan Bastian."ternyata Cornel yang menghubungi Mauren melalui ponsel istrinya.


Ponsel itu lalu diserahkan Mauren pada Bastian.


"Hello Ma."


"Bastian, ini Papa. Kamu lekas bawa turun Mauren. Antar dia ke kamar adik kamu!"


"Kenapa tidak di tidur di kamar pribadiku saja Pa?"


"Jangan macam-macam kamu, Bastian!"


"Papa nggak setuju. Pokoknya kamu bawa Mauren sekarang ke kamar adik kamu."sambungan telepon diputus oleh Cornel.


"Sayang, kita turun sekarang. Kakak akan mengantar kamu ke kamar si bocil itu."Bastian mengambil kue yang tadi dia letakkan di atas meja.


Saat keluar dari pintu lift, di kejauhan sana Bastian melihat Papanya berdiri di depan pintu kamar adiknya.


"Ayo, sayang. Kamarnya ada di ujung sana."


Keduanya melangkah ke arah cornel yang berdiri sambil bersandar pada dinding kamar. pria yang tidak lagi muda itu nampak sekali kelelahan. Dari tadi pagi dia sibuk di hotel ini untuk menyiapkan acara perayaan ulang tahun hotel. Istrinya sudah lebih dulu tidur. Begitu juga dengan putrinya. Seandainya dia tidak menunggu Mauren, Dia pasti sudah dari tadi ikut terbang kelam mimpi bersama istrinya.


Cornel bertanggung jawab terhadap keselamatan Putri sahabatnya. maka dari itulah dia rela berdiri di depan kamar hotel sejak tadi. Semua ini dia lakukan demi kebahagiaan putranya.


Cornel menatap lekat ke arah dua orang anak muda yang berjalan menghampirinya. senyum anaknya yang sudah lama tidak dilihatnya kini kembali terbit.


Putranya malam ini kembali tersenyum cerah. semua ini karena Mauren. Itu artinya Mauren adalah sumber kebahagiaan putranya. rencananya Cornel akan membicarakan ini dengan Richard. Dia ingin segera menikahkan Bastian dengan Mauren. Karena Cornel takut Mauren akan kembali meninggalkan putranya seperti kemarin. Jadi dia Ingin secepatnya mengikat Mauren agar tidak bisa lepas lagi dari putranya.


Selepas masuk ke dalam kamarnya, Bastian langsung meletakkan kue kemeja makan. dia berniat ingin memakan kue yang dibawa oleh Maureen. Saat di pesta tadi, dia tidak mau makan apa-apa, sebab perasaannya sedang sedih karena Mauren tidak datang ke acara pesta malam ini. Setelah menghabiskan beberapa potong kue, Bastian membersihkan diri di dalam kamar mandi.

__ADS_1


Bastian sudah mengenakan baju piyama. pria itu duduk di atas ranjangnya sambil membuka paper bag pemberian kekasih tercinta. sebuah kotak berwarna hitam Bastian keluarkan dari tas berbahan kertas itu.


Pria itu sudah bisa menyebabkan kalau di dalam kotak itu adalah sebuah jam tangan. perlahan Bastian membukanya. Diambilnya jam tangan mewah itu, dan langsung dipakainya di pergelangan tangan kirinya


Bastian lalu mengambil ponselnya dan langsung memfoto tangan kirinya. foto itu lalu dia kirimkan ke nomor ponsel Mauren. Bastian juga menulis sebaris kalimat di sana.


"Terima kasih sayang, Kakak suka sekali dengan jam tangannya."pesan dikirim oleh Bastian.


Malam ini Maureen tidak bisa tidur. sejak masuk ke dalam kamar, dia masih belum bisa memejamkan matanya. Wanita itu masih teringat dengan dekapan hangat dari pria yang memeluknya di cafe.


Lamunan Mauren buyer saat terdengar notifikasi pesan masuk ke layar ponselnya. Mauren mengulas senyum saat membaca pesan yang dikirimkan oleh Bastian. dia senang jika Bastian menyukai barang pemberiannya. Belum sempat Mauren membalas pesan itu, Bastian sudah keburu melakukan sambungan video. sekarang pria itu tidak perlu bertanya lagi kalau mau melakukan panggilan video. Karena dengan statusnya yang sekarang ini dia merasa sah-sah saja menghubungi kekasihnya.


"Sayang, kamu kenapa belum tidur?"tanya Bastian saat Menatap layar pada ponselnya.


"A... Aku tidak terbiasa tidur berdua Kak."ucap Mauren beralasan. Kenapa juga dia mesti membuat alasan seperti itu? Mauren menyesali ucapannya.


"Kamu mau tidur di kamar sendiri, sayang? Kakak akan carikan kamu kamar di dekat kamarku sepertinya masih ada yang kosong."Bastian beringsut akan menurun di ranjang."


"Jangan, kak! nggak usah, aku di sini saja."Bastian kembali duduk di ranjangnya.


"Sayang, Kamu kenapa tidak bisa tidur berdua? nanti gimana kalau sudah menikah? kalau sudah punya suami kan tidurnya harus sekamar."


"Itu kan beda Kak, konteksnya."


"Oh, maksud Kam..."


"Sudah Kak. nggak usah bahas hal-hal berbau ranjang."potong Mauren.


Bastian terkekeh dalam hati. kekasihnya itu pasti ingin menghindari obrolan berbau dewasa.


"Kak, Aku mau mencoba tidur, mau menjamin mata. besok pagi-pagi aku sudah harus pulang. Soalnya besok pagi aku masuk kerja."


"Iya, sayang. kalau begitu selamat istirahat ya. semoga mimpi indah."


"Kakak juga tidur ya!"kalau kesiangan bangunnya nanti siapa yang mengantar aku pulang."


"Iya, sayang. Kakak juga mau tidur sekarang."sahut Bastian.


Keduanya menyudahi sambungan telepon selulernya. Kali ini mereka ingin benar-benar istirahat.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2