
Pagi ini Bastian tidak mengijinkan Mauren untuk bekerja, sebab dia melihat istrinya terlihat pucat.
"Sayang, kamu jangan ke mana-mana ya, Tunggu mas di sini. Mas mau menemui Herlan sebentar. Kalau kamu butuh sesuatu, kasih tahu Mas."
"Iya, Mas."
Bastian langsung keluar dari kamarnya, sebab Herlan sudah menunggunya di ruang kerja.
"Bagaimana, Herlan? Apa kamu sudah menemukan siapa pelakunya?"
"Pelakunya pelayan restoran hotel ini. tadi malam aku sudah mencarinya, tapi dia tidak ada di rumah kosnya.
"Siapa dia? ada dendam apa dia dengan istriku?"tanya Bastian lirih.
"Aku tanya ke bagian HRD, pria itu baru satu bulan bekerja di sini. Mungkin karena itu, dia tidak tahu siapa wanita yang gelasnya sudah dia campur dengan obat perangsang. Andai Dia tahu, Mungkin dia tidak akan berani melakukannya.
"Kalau dia tidak tahu siapa Mauren, atas dasar apa dia melakukan itu?"aku yakin, pelayan itu pasti disuruh oleh seseorang."
"Ya, Sepertinya dia hanya orang suruhan."Herlan membenarkan dugaan Bastian.
"Aku akan menyuruh orang untuk mencari dan menangkap uraian itu.
Bastian bergeming, otaknya mulai berpikir, menerka-nerka siapa kira-kira pelakunya. apa pelayan itu suruhan Carlos? sebab setelah kejadian tadi malam, Bastian mendapat laporan bahwa yang menyewa ballroom tadi malam adalah orang tua Carlos.
"Herlan, apa kamu mencurigai seseorang?"
"Aku curiga yang menyuruh pelayan itu adalah Maya. karena dia punya akses untuk berhubungan dengan orang-orang di sini."Bastian mendengarkan sambil kepalanya manggut-manggut.
"Kecurigaanku bertambah saat aku bertanya Pak Baron kapan dia mengirim laporan anggaran dana, kata pria itu dia mengirim laporan selisih anggaran sekitar jam 02.00 siang, sedangkan Maya bilang baru tadi malam Pak Baron mengirimnya."
"Pantas saja saat aku ingin mengangkat telepon dari istriku tadi malam, dia berusaha mencegahku."
"Setelah aku mengantar teman istrimu itu, aku mencoba bertanya pada petugas CCTV Apa ada orang yang meminta rekaman CCTV selain aku, ternyata tidak ada."ucap Herlan.
"Kalau memang Maya pelakunya, dia benar-benar bermain aman."
"Iya, betul. Maya pandai sekali, dia bersikap biasa-biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa."
"Kuncinya ada di pelayan itu. Pelayan itu harus kita tangkap, karena hanya dia yang tahu pelaku utamanya. Selama pelaku utamanya belum ditangkap, istriku tidak akan aman."ucap Bastian
__ADS_1
"Kirimkan biodata pelayan itu, Aku mau minta bantuan dengan papa untuk menangkapnya juga."
Setelah mendapatkan data karyawan tersebut, Bastian langsung mengirimnya pada cornel. Dia menceritakan perihal kejadian tadi malam pada Papanya. corner yang tidak memiliki pengalaman di dunia mafia itu terpaksa menghubungi Richard, sebab corner tahu Tuan Nicholas dulu pernah beberapa kali menyekap dan menyiksa orang-orang berbuat jahat pada keluarga ataupun perusahaannya.
"Kirim data pribadi orang itu!"seru Richard geram. Dia sudah lama tidak menyiksa orang. pelakunya belum tahu siapa keluarga Bastian, makannya mereka berani bertindak seperti itu pikir Richard.
Sekarang Richard tahu Apa alasan putrinya tidak masuk kerja hari ini. Rupanya putrinya mendapat masalah ini tadi malam.
Setelah mendapatkan data, Richard lalu menghubungi anak buahnya untuk menangkap pelayan restoran hotel itu.
"Kalau kalian sudah menemukannya, bawa dia ke markas!"
"Baik Tuan."sahut ketua geng mafia itu.
Selesai membahas masalah tadi malam, gini Bastian kembali dihadapkan pada anggaran proyek pembangunan hotel di Bali. pekerjaannya tadi malam yang sempat tertunda kini dilanjutkan kembali pagi ini. Maya juga dipanggil ke ruang itu untuk membahas pembangunan hotel di Bali. Bastian dan Herlan juga bersikap biasa-biasa saja. Keduanya tidak ingin Maya tahu kalau mereka mencurigai gadis itu, sebab mereka takut kalau Maya akan kabur, dan itu akan memerlukan waktu lagi untuk menangkapnya.
"Sepertinya aku harus pergi Chiang Rai untuk bertemu dengan Pak Baron,"ucap Bastian.
"Boleh saya ikut, Pak? karena dari awal saya yang menangani proyek ini."tanya Maya
"Tidak perlu! kalaupun Aku butuh asisten buat di sana, her lelah yang akan aku bawa ke Chiang Rai, bukan kamu."ucap Bastian tegas.
Maya hanya bisa menahan kesal dalam hati. Menurutnya, Bastian setelah menikah justru semakin menjaga jarak dengannya. Di ruangan berduaan dengan Bastian pun Maya tidak pernah lagi, selalu ada Herlan di samping Bastian.
"Mas, aku mau ke butik mama."pesan yang dikirimkan oleh Mauren kepada sang suami.
"Iya, sayang, sebentar lagi Mas akan mengantar kamu ke sana."
Setelah membalas pesan dari istrinya, Bastian beringsut dari duduknya.
"Herlan, Aku mau mengantar istriku ke bukit mertuaku. Siapkan mobilku di depan teras hotel!"seru Bastian yang dibalas anggukan oleh Herlan.
"Istrinya Terus yang diurusi!"sungut Maya dalam hati.
Setelah Bastian sampai di kamar pribadinya, istrinya sudah siap untuk berangkat. Sepatu sudah dikenakannya, tas sudah dia gantung di bahu kanannya.
"Kenapa sih buru-buru, Mas masih mau berduaan sama kamu di sini."Bastian meraih bintang istrinya dan melakukan ciuman di kening sang istri.
"Aku bosan kalau berdiam diri di sini, Mas. peralatan desain ku tidak ada di sini."
__ADS_1
"Ya sudah kalau kamu mau ke butik mama. Ayo kita berangkat sekarang."Bastian langsung memegang tangan istrinya.
Di lobby Hotel tangan Bastian terus merangkul pinggang istrinya. Hal itu menjadi pusat perhatian orang yang ada di sana. Bastian tidak mengharapkan tatapan orang-orang di sekitarnya, pikirannya sekarang sedang bercabang kemana-mana.
Herlan sudah menunggu Bastian di teras hotel. Pria tampan berkulit sawo matang itu langsung menyerahkan kunci mobil pada Bastian.
"Herlan, Aku tinggal dulu sebentar, selama pelayan itu belum ditangkap kamu awasi pergerakan Maya. Aku tidak mau dia mencelakakan istriku lagi. Kalau bukti dan saksi sudah ada, aku akan menjebloskan dia ke dalam sel tahanan."ucap Bastian setelah istrinya masuk ke dalam mobil.
Di halaman butik Dora ini terdapat beberapa buah mobil terparkir di sana. Bastian dan Mauren baru saja tiba di halaman Butik.
"Sepertinya butik lagi banyak pengunjung."pucuk moral diri pada suaminya.
"Iya, Sayang."
keduanya langsung masuk ke dalam butik."
"Mama ada di mana Bila?"tanya Mauren pada pegawai butik.
"Ibu Dora ada di ruangannya non."
Mauren mengangguk, dia Lalu memegang tangan suaminya melangkah menuju ruangan Dora.
Di lorong tempat baju-baju digantung, Mauren melihat Aulia sedang memilih baju di sana. mantan kekasih Bimbim itu Kebetulan juga melihat ke arah Mauren dan Bastian, Dian pun datang menghampiri.
"Wah ternyata jandanya Bimbim belanja di butik ini juga."
Bila yang mendengar itu langsung ingin membela anak bosnya, tapi Mauren menghentikannya.
"Memangnya kenapa kalau aku belanja baju di tempat ini juga? ini tempat umum, siapa saja bebas untuk belanja di sini."
"Iya sih, tapi gimana ya, sepertinya sekarang kamu yang mengikuti fashionnya aku."sahut Aulia dengan begitu percaya diri.
"Mbak Aulia, bajunya mau yang mana?"tanya salah satu pegawai lainnya yang ada di bukit itu juga, kedua tangannya 5 baju.
"Bungkus semua."sahut Aulia angkuh.
"Selamat belanja ya, Mbak Aulia."ucap Mauren saat ingin meninggalkan Aulia.
"Sayang, sepertinya Aulia tidak tahu kalau butik ini milik mama."ucap Bastian sesudah menjauh dari Aulia.
__ADS_1
"Iya lah Mas, kalau dia tahu ini butik mama, nggak bakalan dia mau bulan jadi butik ini."sahut Mauren, tangannya sambil mengetuk pintu ruangan Dora. wanita itu membuka daun pintu ruangan mamanya setelah mendengar seruan Dora dari dalam.
Bersambung....