
Beberapa menit kemudian, pintu kamar Bastian kembali dibuka. Nampak cornel dan Laura masuk ke dalam kamar.
"Kak, ponsel aku mana?"Laura meminta ponselnya kembali.
"Kakak pinjam dulu ya."
"Enggak! kan perjanjiannya cuman sampai pagi. Sini balikin ponsel aku!"
Bastian meraih ponsel milik Laura yang ia letakan di atas nakas. diperiksanya aplikasi hijaunya, ternyata hanya ada pesan dari Herlan. Bastian lalu membalas pesan itu, sekalian Dia menyuruh asistennya untuk membantunya mengambil ponsel di kamar pribadinya. Bastian terpaksa melepas kartu sim-nya kembali.
"Bastian, Kamu tidak usah bekerja hari ini. Papa sudah menghubungi dokter. Mungkin sebentar lagi dia akan datang."ucap Papanya Bastian.
"Iya, Pa."kalau orang tuanya sudah berbicara, terutama Papanya Bastian tidak berani membantah. Pria itu sangat patuh kepada kedua orang tuanya. Walaupun Moresette hanya mama sambungnya, tapi dia sangat menghormati dan menghargai Mama sambungnya itu. Dia sangat menyayangi Moresette. Begitu juga Moresette yang sangat menyayangi Bastian sama seperti Putra kandungnya sendiri.
***
Siang harinya, Herlan datang diantar oleh super khusus hotel. pria berkulit sawo matang itu masuk ke dalam rumah dengan menenteng sebuah paper bag di tangan kanannya.
"langsung saja ke atas, Herlan! kamar Bastian pintu ketiga dari tangga."
"Iya Bu."Herlan lalu menaiki tangga sesuai arahan dari mama sambungnya Bastian.
Di pintu ketiga, pria mengetuk pintu kamar milik Bastian.
"Masuk!"teriak Bastian dari dalam kamar.
Herlan membuka pintu kamar Bastian, dan langsung menghampiri ranjang Bastian. "Bastian, ini ponselnya."
"letakkan saja di atas nakas!"
"Bagaimana keadaan hotel?"
"Semuanya aman dan terkendali."sahut Herlan.
"Untuk beberapa hari ini Sepertinya aku tidak ke hotel dulu."
"Iya, kamu istirahat saja. Kalau ada hal-hal yang penting aku akan kabari kamu."
"Bastian, tadi saat Maya mendengar kamu sakit, dia langsung ingin ikut aku ke rumah kamu."
"Jangan sampai dia tahu alamat rumah Papa. lagi pula aku juga tidak mau dia datang menengok aku."
"Iya, makanya tadi aku tidak mengizinkannya ikut."
"Apa ada lagi yang kamu butuhkan?"tanya Herlan kembali.
"Kalau tidak ada, Aku mau kembali ke hotel."
__ADS_1
"Tunggu!"Bastian memposisikan dirinya duduk, dia menjangkau laci nakas.
"Tolong kamu bawa ini ke tukang service, Siapa tahu masih bisa diperbaiki, karena sebagian data-data penting milikku ada di ponsel ini."
Herlan mengambil alih ponsel yang tadi malam ikut nyamplung ke kolam, dan memasukkannya ke dalam paper bag kecil.
Setelah Herlan keluar dari kamarnya, Bastian langsung memasukkan kartu SIM pada ponsel cadangan miliknya.
Ting!
Ting!
Suara notifikasi saling bersahutan di ponsel milik Bastian. Ada beberapa pesan masuk di ponsel Bastian. Tiga diantaranya pesan dari Mauren selainnya dari rekan bisnisnya.
Bastian lebih dulu membuka pesan yang dikirimkan oleh Maureen. "siang Kak, lagi kerja ya?
"Kok ponsel kakak tidak aktif?"pesan itu yang dikirimkan oleh Maureen ke layar ponsel Bastian.
Bastian tersenyum membaca pesan dari Mauren. jarinya mulai mengetik pesan balasan untuk Mauren.
"Selamat siang sayang. Kakak Hari ini nggak masuk kerja. Mengenai ponsel, tadi malam kakak meminjam ponsel Laura. jadi Pagi harinya ponsel itu diambil kembali. Baru siang ini asisten Kakak mengantar ponsel ke rumah, makanya baru aktif."balas Bastian
"Kakak sakit apa?
"Demam biasa saja."
Percakapan itu terputus. Bastian tidak membalas pesan lagi. Dia paham saat ini pasti Mauren sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Sore hari, Mauren menepati perkataannya pada Bastian. Gadis itu memutuskan untuk pergi menengok Bastian terlebih dahulu sebelum dia pulang ke rumah. setelah masuk ke dalam mobil, Mauren ingin menghubungi Bastian, Siapa tahu pria itu minta dibawakan sesuatu.
"Assalamualaikum, Mauren."
"Waalaikumsalam, Kak, Ini aku sudah di parkiran kantor. Rencananya Sebelum pulang ke rumah, Aku mau mampir ke rumah kakak."ucap Mauren di dalam sambungan telepon selulernya.
"Oh iya, Kakak mau dibawain apa? roti, bubur, buah, atau apa?"
Bastian bergeming sesaat, memikirkan tawaran Mauren. "Kakak mau bubur."
"Oke Kak. nanti aku belikan bubur di tempat kita dan Bimbim biasanya makan bubur."
Beberapa saat kemudian, Mauren sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah Cornel. Gadis itu keluar dari mobilnya sambil menenteng bubur ayam pesanan Bastian. kedatangan Mauren langsung disambut hangat oleh Moresette.
"Tante, aku ke sini mau menengok Kak Bastian."
"Iya, Mauren. Bastian sudah cerita kok. makanya Tante disuruh nungguin kamu di sini."sahut Moresette sambil tersenyum ramah.
"Mari masuk, Mauren. langsung ke atas saja."
__ADS_1
"Iya, Tante."Mauren sudah sering ke rumah cornel sejak dia kecil. Maka dari itulah dia tidak merasa canggung saat berada di rumah itu.
Di lantai atas, Mauren melihat pintu kamar Bastian sudah terbuka lebar. Moresette sengaja membukanya seperti itu. karena Mauren ingin datang bertamu ke kamar putranya.
Mauren mengetuk daun pintu yang terbuka itu. Sebab saat ini Bastian sedang rebahan sambil memejamkan matanya. hingga saat ini demamnya masih turun naik.
Mendengar suara ketukan di pintu kamarnya, Bastian langsung membuka matanya. senyumnya langsung mengembang, saat melihat gadis cantik sedang berdiri di ambang pintu kamarnya. "Sini, sayang!"seru Bastian.
Wanita itu langsung mengayunkan langkahnya ke arah pembaringan. "Aku duduk ya Kak."Mauren meminta izin sebelum dia duduk di tepi ranjang.
"Iya, Sayang. duduk saja, nggak apa-apa."
"Gimana kondisi Kakak sekarang, apa sudah membaik?
"Demamnya masih turun naik. Ini badan Kakak kembali hangat."
Mauren menjulurkan tangannya rekening Bastian. "sakit Apa kata dokter?"
"Hanya kecapean saja."
"Jangan-jangan Kakak sakit karena tadi malam jatuh ke kolam."
"Enggak ah!"sanggah Bastian. Dia tidak ingin orang semakin dihantui rasa bersalah.
"Kak, ini buburnya. mau dimakan Sekarang atau nanti?"
"Sekarang saja, sayang. mumpung masih hangat."Bastian lalu berusaha bangkit untuk duduk bersandar pada hardboard ranjang.
Mauren lalu membuka penutup kubur tersebut. "Mau disuapi atau mau makan sendiri?"
Bastian tersenyum mendengar pertanyaan seperti itu. "Kamu mau menyuapi kakak?"
Mauren mengangguk, dia Lalu menyendok bubur itu dan menyuapi Bastian. Mauren kembali teringat dengan Bimbim. Beberapa bulan yang lalu dia juga melakukan adegan seperti ini, tapi dengan pria yang berbeda.
Mata Bastian menatap lekat wajah cantik Mauren. Rasanya Dia seperti bermimpi saja bisa diperlakukan seperti ini oleh Mauren.
Tanpa diketahui oleh keduanya. Di luar kamar, Moresette mengabadikan momen keduanya dalam bentuk foto dan video.
"Bagaimana ya reaksi Dora kalau melihat ini?"gumam Moresette di dalam hati.
Beberapa saat sebelumnya, Moresette yang disuruh oleh suaminya mengambil ponsel di ruang kerjanya, seketika menghentikan langkahnya saat melihat Mauren menyuapi Bastian. Wanita itu terperangah dengan mulut menganga. Tangannya langsung merogoh ponsel desaku daster yang dikenakannya.
Moresette mengambil beberapa foto dan satu video, menunjukkan bahwa yang sedang menyuapi Bastian Bubur yang ia bawa sebelumnya. di video itu juga memperlihatkan Bastian yang pandangannya tidak teralihkan dari wajah Mauren. Nampak senyum membingkai pada wajah Putra kesayangannya.
Setelah selesai mengambil foto dan video, ponsel itu dimasukkan kembali ke sakunya. kemudian dia melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja sang suami. keluar dari ruang kerja, Moresette turun ke lantai bawah. sebab suaminya sudah menunggunya di ruang tengah.
bersambung...
__ADS_1