
Di rumah utama keluarga Andalas, terlihat Afrian itu sedang bersiap untuk berangkat ke rumah utama keluarga Nicholas. Beberapa kali, dia bercermin menatap penampilannya. Dia ingin terlihat tampan dan perfect di hadapan keluarga Mia.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
Pintu kamar diketuk oleh Nyonya Yasinta.
Afrian lalu berjalan ke arah pintu dan membuka daun pintu kamarnya.
"Afrian, kamu mau kita berangkat jam berapa ke rumah Mia? kamu mau lamaranmu ditolak gara-gara kita terlambat datang?"omel Nyonya Yasinta.
Afrian lalu teringat dengan Tuan Nicholas. Dari situ dia sudah bisa menilai bahwa pria paruh baya itu sangat disiplin soal waktu. Afrian lalu bergegas mengambil kunci mobilnya, yang ada di atas nakas. lalu dia melebarkan langkahnya keluar dari dalam kamar.
Afrian menutup pintu kamarnya dengan kasar karena terburu-buru.
"Ayo Ma, cepat!!! bahaya kalau kita sampai terlambat." ucap Afrian yang berjalan lebih dulu Dari Nyonya Yasinta.
Nyonya Yasinta lalu berjalan menuruni tangga mengikuti Afrian, dan turun tangga dengan setengah berlari.
"Papa, mana Ma?" tanya Afrian panik.
"Papa kamu sudah lama menunggu di teras depan." sahut nyonya Yasinta yang melebarkan langkahnya. Dia mencoba mengimbangi langkah Afrian.
Dengan tergesa-gesa, Afrian membuka daun pintu rumah. Nyonya Yasinta sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan putranya.
Ketiganya lalu menaiki mobil Afrian duduk di kursi kemudi. Sedangkan kedua orang tuanya duduk di jok Tengah.
Setelah sampai di luar komplek perumahan, Afrian mulai menginjak dalam pedal gasnya.
"Afrian,.Jangan ngebut."tegur Tuan Andalas.
"Kalau kita sampai celaka, Yang ada malah tertunda acara nikah kamu." Tuan Andalas memperingatkan.
Afrian lalu menurunkan kecepatannya.
Sementara di rumah utama keluarga Nicholas, Tuan Nicholas dari tadi berulang kali melihat ke arah jarum jam yang ada di pergelangan tangannya.
Setelah telat sepuluh menit dari jam yang dijanjikan oleh Afrian.
"Ini Afrian jadi ngelamar nggak, sih?" tanya Richard sehingga membuat orang-orang yang ada di ruangan itu semakin gelisah.
"Mia, Coba kamu telepon Afrian." seru nyonya Alena.
__ADS_1
Mia lalu mengambil ponsel yang ada di atas nakas.
Kring....
Kring...
Kring.....
Tak Ada jawaban dari Afrian. Sebab ponsel pria itu ketinggalan dalam kamarnya.
"Nggak diangkat Ma," ucap Mia yang raut wajah cemas.
Sepertinya mereka mempermainkan kita. Tuan Nicholas langsung mengambil kesimpulan.
"Mungkin terjebak macet, ya." ucap Dora yang mencoba berpikir positif.
"Oh iya, juga ya." sahut Mia yang kembali tersenyum.
"Nah, itu ada suara mobil di depan." ucap Richard. Kemudian pria itu beranjak berdiri dari duduknya dan melangkah ke arah pintu depan.
Nampak Richard membuka lebar daun pintu. setelah daun pintu terbuka, pria itu langsung melangkah ke arah teras. Dilihatnya Afrian turun dari mobil bersamaan pasangan paruh baya, yang Richard ketahui adalah orang tua Afrian.
"Ayo Pa, Ma. kita sudah telat Dua puluh menit." ucap Afrian cemas.
Afrian melebarkan langkahnya. Di Teras rumah, dilihatnya di sana hanya ada Richard yang menyambutnya.
Aku lupa melihat jam. keasikan merapikan rambutku. Afrian menunjuk gaya rambutnya yang terlihat licin dan klimis.
"CK... Richard menggelengkan kepala
"Papa kamu gimana?" tanya Afrian
"Kamu lihat saja nanti di dalam. Ayo masuk." suruh Richard.
"Malam Om, Tante! mari masuk." ucap Richard ramah dengan sedikit membungkukkan badannya, saat kedua orang tua Afrian sudah berada di teras.
Pasangan paruh baya itu hanya tersenyum. lalu mereka berjalan mengikuti langkah Richard masuk ke ruang tengah.
"Kita langsung ke ruang tengah, orang tua saya sudah menunggu di ruang tengah." ucap Richard saat mereka sudah berada di ruang tamu.
"Keempat orang itu, lalu melanjutkan langkahnya menuju ruang tengah. Saat sudah sampai di ruang tengah, Tuan Nicholas dan Tuan Andalas saling berpandangan mata keduanya sama-sama melotot karena kaget
"Kamu!!!!! ucap Tuan Nicholas lantang. Posisi pria paruh baya itu sekarang sudah berdiri.
Nyonya Alena ikut berdiri. Dia langsung memegang lengan suaminya. "Sudah Pa, sudah!! yang sudah berlalu Jangan diingat-ingat lagi. Karena semua hanya masa lalu. Yang terpenting sekarang Mama sudah menjadi milik Papa."ucap Nyonya Alena dengan suara lirih. Wanita paruh baya itu mencoba menenangkan suaminya.
__ADS_1
"Mia, Richard, dan Afrian heran melihat orang tua mereka.
"Papa kenal dengan Om Nicholas?" bisik pria di telinga Papanya.
"Kenal, tapi sebagai rival." sahut Papanya Afrian di telinga anaknya.
"Maksudnya apa? perasaan Afrian langsung berubah menjadi tidak enak.
"Dulu Papa pernah mau rebut calon istri Tuan Nicholas."
Mendengar ucapan Papanya, wajah Afrian langsung terlihat pucat.
Mendapati kenyataan seperti itu, membuat rasa percaya diri Afrian langsung down. keyakinannya yang awalnya seratus persen saat dia pulang mengantar mobil Tuan Nicholas, perlahan terkikis hingga menjadi saat dia datang terlambat dua puluh menit sekarang dia tambah lagi konflik masa lalu orang tuanya, yang sepertinya belum selesai dan itu. Membuat harapan Afrian kini semakin tipis
"Aduh, Pa, Kok gini sih? gimana nasib aku, Pa?" ucapnya sedih dan cemas.
"Pa, Ada apa sih?" tanya nyonya Yasinta yang memang tidak tahu dengan masa lalu suaminya.
Tuan Andalas langsung menggaruk belakang kepalanya. Pria paruh baya itu bingung Mau mengatakan apa pada istrinya. Karena istrinya pasti akan marah besar.
Richard menatap kerah Nyonya Alena. Dan nyonya Alena memberi kode melalui matanya. Richard yang cerdas itu langsung paham dengan maksud Nyonya Alena.
"Om, Tante, mari silakan duduk." Richard mencoba memecahkan ketegangan di antara mereka.
Tuan Nicholas Masih berdiri dan menatap tajam ke arah rivalnya itu. Sehingga membuat Tuan Andalas sedikit canggung dengan situasi di ruangan itu.
Andai saja Ini bukan acara lamaran anaknya yang sudah panglatu, pasti sudah dari tadi dia menarik istri dan anaknya untuk keluar dari rumah Tuan Nicholas. Namun, demi anaknya yang belum laku itu, ditonjok pun dia rela malam ini.
"Ayo Pa, Ma. Kita duduk." ajak Afrian.
Kemudian Afrian dan kedua orang tuanya duduk di tempat yang telah disediakan.
Nyonya Alena lalu membujuk suaminya agar segera duduk kembali di tempat yang semula. Setelah semua orang duduk, suasana di tempat itu tampak hening. Tuan Andalas merasa takut untuk membuka obrolan.
Nyonya Yasinta menyenggol lengan Tuan Andalas. "Pa, Ayo ngomong sekarang!!"desak Nyonya Yasinta dengan suara lirih.
Kemudian Tuan Andalas memandang ke arah Nyonya Alena.
"Ehem!! Tuan Nicholas berdehem melihat istrinya ditatap Andalas.
Tuan Andalas lalu mengalihkan pandangannya ke rivalnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN