
"Argh...."Mia meringis kembali, dia meremas tangan Nyonya Alena
"Sudah bukaan berapa sayang?
"Bukaan enam Ma."
"Sabar ya nak, mungkin sekitar satu jam lagi,"ucap Nyonya Yasinta.
"Iya, Ma."
Semakin lama rasa sakit yang dirasakan oleh Mia semakin intens, jeda waktunya juga semakin cepat. seorang dokter wanita dan seorang perawat masuk ke kamar observasi untuk memeriksa Jalan lahir.
"Pembukaannya sudah sempurna. sus bawa pasien kerang bersalin."perintah dokter.
"Ma, aku takut. mimik wajahmu terlihat takut
"Jangan takut sayang, Kakak akan menemani kamu di dalam sana,"ujar Afrian.
"Iya,nak ada Afrian yang akan menyemangati kamu,"Nyonya Yasinta ikut menimpali.
Branker Mia lalu didorong menuju kamar bersalin. Afrian ikut mendampingi istrinya. sedangkan dua pasang paruh baya duduk di depan ruang bersalin.
Di ruang bersalin, miya di bopong Afrian untuk dipindahkan ke ranjang khusus bersalin. kedua kaki bila diletakkan pada tumpuan kaki yang ada di ranjang itu. Kini posisi Mia sudah dalam keadaan terlentang dan siap untuk mengejan. Satu tangan kimia berpegangan pada pagar ranjang yang berbentuk paralon kecil terbuat dari besi. sedangkan satu tangannya lagi berpegangan pada suaminya.
"Ibu Mia, ambil nafas dulu kemudian mengejan."dokter memberi pengarahan.
Mia hanya mengangguk. Dia Lalu melakukan apa yang dokter perintahkan.
"Arghhh ..."teriak Mia kencang .
Mia terengah-engah, mengatur nafasnya kembali agar kembali normal. butiran keringat sebesar biji jagung keluar di keningnya. Afrian yang melihat itu langsung mengelapnya. Kemudian maju bukan yang itu.
"Semangat sayang, demi anak-anak Kita, kamu harus kuat."berisik Afrian menyemangati istrinya.
Mia lalu mengambil nafas lagi dan mulai mengejan. "Arghh...."teriak Mia lagi, pegangan tangannya di tangan Afrian terlepas.
"Ayo Bu Mia, sebentar lagi ini rambut bayinya sudah mulai kelihatan,"dokter juga memberi semangat pada pasiennya.
Afrian yang mendengar itu tanpa sadar kakinya melangkah karena dokter, dia sudah penasaran ingin melihat anaknya.
Ketika aprian sampai di sana, pria itu langsung melihat ke arah jalan lahir anaknya. badan Afrian gemetaran, keringat dingin bermunculan, tubuhnya terasa lemas seketika. Pandangannya menjadi gelap.
BUGH.
__ADS_1
Tubuh Afrian jatuh ke lantai.
"Dok, gimana ini suami pasien pingsan!"
"Cepat Panggil keluarganya!"perintah dokter. dokter itu ingat saat dia masuk ke dalam bersalin dia melihat di depan ruangan ada dua orang laki-laki paruh baya duduk di pinggiran kursi.
Satu orang perawat berlari keluar ruangan. "Bapak berdua Tolong masuk untuk mengangkat suami pasien!"seru perawat itu.
Tuan Nicholas dan Tuan Andalas langsung berdiri. Keduanya melangkah masuk mengikuti langkah perawat.
Di dalam sana dokter dan perawat memasang badan, menjadi benteng untuk menutupi bagian bawah minyak agar tidak kelihatan pria paruh baya yang mengangkat Afrian ke branker bekas Mia saat di kamar observasi.
Branker Afrian didorong keluar oleh Tuan Andalas dan dibawa menuju UGD.
Nyonya Alena lalu masuk ke ruangan itu untuk menemani Mia melahirkan cucunya. kini di depan ruang bersalin hanya ada Tuan Nicholas yang duduk seorang diri. sedangkan Tuan Andalas dan istrinya duduk di depan ruang UGD.
"Afrian ini pasti dia habis melihat darah, makanya pingsan."sungut Tuan Andalas.
"Iya pa, Kok bisa ya padahal kan dia posisinya berada di samping Mia!"
"Papa juga bingung sama anak itu."
Di ruang bersalin terdengar suara bayi menangis saling bersahutan. tidak lama setelah afrin keluar dari ruang bersalin, Mia berhasil mengeluarkan bayi perempuan. bayi yang kedua lahir dengan jenis kelamin laki-laki.
"Pa, cucu cucu kita sudah lahir. Cepat ambil wudhu. gantikan Afrian untuk mengazani anaknya!"perintah Nyonya Alena.
"Iya,Ma."
Pria paruh baya itu beranjak dari duduknya, kemudian berjalan ke arah Mushola yang tidak jauh dari ruangan itu. dalam hatinya dia mengomel pada menantunya. "Huh..! dasar menantu durjana. dulu waktu istrinya mengidam aku yang direpotkan. Hari ini anaknya lahir aku juga yang kembali direpotkan."
Setelah mengazani cucu-cucunya, Tuan Nicholas langsung keluar dari ruangan itu. Dia pergi ke ruang administrasi memesan kamar perawatan untuk Mia dan cucunya.
Sekitar 15 menit kemudian Mia dan anak-anaknya dipindahkan ke ruang rawat Inap.
"Pa, gimana dengan Afrian dan pesan kita? nanti mereka bingung mencari kita."
"Nggak usah dipikirkan Ma! nggak usah dikasih tahu. Mereka hanya tahu enaknya aja. biarin mereka mencari ruangannya sendiri.
***
Di ruang UGD terlihat afrin mengerjapkan matanya. pria itu baru sadar dari pingsannya. denyut jantung dan tekanan darahnya sudah kembali normal. dilihatnya kedua orang tuanya berdiri di sisi kiri dan kanannya.
"Aku di mana Ma?"tanya pria itu bingung, matanya memindai sekeliling ruangan.
__ADS_1
"Kamu sedang berada di ruang UGD."
"Kenapa aku di sini Ma, bukannya tadi aku berada di orang bersalin menemani istriku?"
"Mana Mama tahu kamu aja keluar ruangan itu dalam keadaan pingsan.
Afrian langsung bangkit, pria itu kini duduk di atas branker lalu beringsut untuk turun.
Nyonya Yasinta menandakan anaknya. "Afrian kamu mau ke mana? apa kondisi kamu sudah benar-benar pulih?"tanya Nyonya Yasinta.
"Sudah Ma, Pa aku baik-baik saja. Aku mau menyusul Mia di ruang bersalin,"Papa kembar beringsut turun dari ranjang. dia langsung keluar dari ruang UGD itu.
Afrian didampingi kedua orang tuanya berjalan menuju ruang bersalin. ternyata di sana ada seorang pria bertubuh tambun sedang duduk di kursi panjang depan ruang bersalin. kening Afrian berkerut heran menatap pria yang duduk itu.
Namun, dia tidak memperdulikan pria itu. Afrian melanjutkan langkahnya karena pintu ruang bersalin yang tertutup itu, dan bersiap untuk memutar handle pintu.
Pria bertubuh tambun langsung berdiri dan menghampiri Afrian, mau ke mana anda? mengintip istri saya melahirkan ya?"cacar pria itu, tangannya menarik kerah baju Afrian.
Nyonya Yasinta yang melihat perdebatan itu langsung menghampiri Afrian. "Ada apa ini!"
"Di dalam, istri saya sedang melahirkan. tapi kenapa pria ini mau masuk ke ruang bersalin?"tutur pria bertubuh tambun Itu menjelaskan.
"Kalau yang di dalam ini beneran istri anda yang melahirkan, lantas Kenapa anda tidak menemaninya di dalam?"tanya Afrian tidak percaya dengan ucapan pria itu.
"Di dalam sudah ada ibu mertua. Saya nggak bisa menemaninya karena saya phobia darah. makanya saya duduk di sini.
ceklek.
Pintu ruang dibuka oleh seorang perawat. "Pak Bimo bisa masuk sekarang. anaknya sudah dibersihkan,"ujar perawat itu.
Pria bertubuh tambun lalu masuk ke dalam ruangan.
Afrian mengenai perawat itu. wanita berseragam putih itu juga ada di ruangan istrinya saat melahirkan. "suster istri saya di mana?"Afrian mulai khawatir.
Perawat itu tersenyum karena Afrian. "istri bapak sudah dipindahkan ke ruang perawatan lantai tiga ruang VIP."
"Bagaimana kondisi istri dan anak-anak saya suster, apa mereka baik-baik saja?"
"Mereka baik-baik. saya tinggal ke dalam dulu ya pak."pamit perawat itu.
Afrian dan kedua orang tuanya langsung bergegas menuju lift. pria itu sudah tidak sabar ingin melihat wajah anaknya. Apakah mirip dengan dirinya atau mirip dengan istrinya.
Bersambung....
__ADS_1