
Keesokan harinya, saat ini Mauren sedang berkumpul dengan kakek dan neneknya di ruang tengah. Rencananya satu jam lagi keluarga Bastian akan datang untuk melamar Mauren.
"Jadi kakek setuju aku nikah sama Kak Bastian?"tanya Mauren. tangannya sambil memijat ke dua pundak kakek Bernando.
Pria tua itu mengangguk. "saat kamu berpisah dengan Bimbim, kakek sudah suka dengan anak muda itu. Tidak salah kan pilihan kakek waktu itu? buktinya sekarang kamu juga suka sama dia."
"Iya,Kek. Kak Bastian memang baik banget. dia dari kecil memang selalu menjaga dan melindungi aku."
Antonius dan Riana memasuki ruang tengah. "Anak kamu mana Antonius, Kenapa nggak diajak sekalian?"tanya Nyonya Nadia.
"Mereka berdua nggak mau ikut Ma."
"Aduh, Padahal aku mau ngumpul sama mereka."timpal Mauren.
"Kamu main aja ke rumah tante, ajak Bastian sekalian."sahut Riana.
Tak lama waktu berselang, Oma Alena dan Opa Nicholas juga datang. Mia menonton Nyonya Alena agar bisa duduk berdampingan dengan Nyonya Nadia. Sementara itu, Afrian dan kedua anaknya melangkah di belakang Opa Nicholas.
***
Hari ini cornel hanya menggunakan satu buah mobil saja ke rumah Richard. Bastian duduk di kursi kemudi, di sampingnya ada Laura. sedangkan cornel dan Moresette duduk di jok Tengah.
"Kak, apa nggak sebaiknya kita beritahu Mbak Cynthia."
"Nggak usah! selama ini dia sudah menelantarkan Bastian. Jadi dia tidak usah kita libatkan dalam acara lamaran ini. kita akan memberitahukannya setelah acara lamaran, dan kita akan undang dia saat hari h nanti."
Bastian yang sedang fokus menyetir itu hanya mendengarkan saja obrolan orang tuanya. Dia tidak ingin menimpali sama sekali. Rencananya setelah acara lamaran ini Bastian akan memberitahukan pada Mama Chintya.
Dua puluh menit kemudian mobil yang dikendarai oleh Bastian sudah tiba di kediaman rumah Richard. Dora dan Richard menyambut kedatangan cornel sekeluarga. Moresette dan Dora langsung bersalaman serta saling cium pipi kiri dan kanan.
__ADS_1
"Ayo masuk, kalian sudah ditunggu di dalam. semua anggota keluargaku sudah hadir semua,"ucap Dora.
Sore ini ruang tengah rumah Richard sudah dipenuhi oleh keluarga besar Dora dan Richard. Cornel sebagai kepala keluarga ada sedikit rasa grogi saat ditatap oleh Opa Nicholas dan kakek Bernando. Richard memberi kode ke arah corner agar segera memulai pembicaraan. Demi putranya, Cornel memberikan diri untuk berbicara.
"Maksud kedatangan kami ke rumah ini adalah ingin menyampaikan niat baik anak kami Bastian, untuk melamar Ananda Mauren meskipun hubungan keduanya baru berjalan lebih kurang 2 bulan, Saya rasa itu tidak jadi masalah, sebab keduanya sudah saling mengenal sejak kecil."
"Aku sebagai orang tua dari Mauren belum bisa memberi keputusan sebelum putriku memberikan keputusan. Mauren, apa kamu bersedia menjadi istri Bastian?"tanya Richard kepada putrinya.
Semua orang di sana menatap ke arah Mauren. Terutama Bastian, pria itu menatap Mauren penuh harap. Dia takut di saat seperti ini, Mauren tiba-tiba berubah pikiran.
"A...Aku bersedih Pa."
Senyum lebar langsung membingkai pada wajah Bastian. Ada semacam kelegaan yang dia rasakan. Kini tinggal menunggu keputusan dari pihak orang tua dan keluarga Mauren.
"Karena putri kami bersedia, maka aku dan Dora juga setuju. Sebab tidak baik Jika mereka berpacaran terlalu lama. Apalagi mereka sudah saling mengenal karakter masing-masing. Jadi aku rasa, alangkah baiknya pernikahan mereka disegerakan. Bagaimana Pa, ayah, Apa kalian setuju?"
Richard tersenyum mendengar jawaban dari Papa mertuanya. "Bagaimana yang lain, apa Kalian juga setuju?"semua anggota keluarga yang lain menjawab dengan anggukan.
"Alhamdulillah, itu artinya lamaran anak saya diterima,"ucap Cornel. Pria itu lalu menoleh ke arah putranya agar ikut berbicara.
"Saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya karena sudah mempercayakan Mauren kepada saya. Saya berjanji, di depan semua orang yang ada di sini, Saya akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Mauren. Mencintai Mauren, menyayangi dan menjaganya dengan sepenuh hati."tutur Bastian. Netranya memandang satu persatu ke arah orang yang ada di depannya. lalu pandangan itu berakhir pada Mauren. Bastian tersenyum saat Mauren tersenyum ke arahnya.
"Jadi kapan acaranya akan diselenggarakan?"tanya Opa Nicholas.
"Saya dan Mauren sudah sepakat, acaranya akan dilaksanakan dua bulan lagi,"sahut Bastian yang dianggap oleh beberapa orang yang ada di sana.
"Kalau saya sih terserah saja, mau kapan acaranya. yang penting saat hari h nanti pengantin laki-lakinya harus datang,"Timpal kakek Bernando, yang langsung mendapat tatapan tajam oleh Nyonya Nadia.
"Kenapa Ma? apa Papa salah bicara? papa kan Hanya mengingatkan saja, supaya kejadian yang dulu tidak terulang lagi."
__ADS_1
"Maaf kalau saya menyala, insya Allah anak saya akan datang. semoga saat hari H nanti akan diberi kelancaran."ucap cornel yang langsung diaminkan oleh orang-orang yang ada di sana.
Tak terasa satu jam sudah berlalu. Cornel dan keluarga kecilnya pamit pulang ke rumah. keempatnya kembali diantar oleh Dora dan Richard serta Mauren. Sore ini Bastian sangat bahagia. impiannya dari kecil untuk menikahi Mauren sebentar lagi akan segera terwujud.
"Sayang, Kakak pulang dulu ya."pamit Bastian pada Mauren. Setelah itu dia juga berpamitan kepada kedua calon mertuanya, lalu melangkah memasuki mobil, menyusul kedua orang tuanya serta Laura yang sudah menunggunya di dalam mobil.
Setelah duduk dengan nyaman di dalam mobil, Bastian mengemudikan mobilnya dan melajukannya ke arah jalan raya meninggalkan rumah Richard.
Bastian membunyikan klakson sambil melambaikan tangannya, lalu melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan raut wajah Bastian begitu berbinar. Senyum sumringah terpancar di wajahnya. Itu dapat dilihat oleh kedua orang tuanya dan adiknya Laura.
"Cie...eee yang mau nikah senyum-senyum."goda Laura saat melihat sang kakak tersenyum sepanjang perjalanan.
"Anak kecil, kamu diam saja. Kamu belum tahu apa-apa."balas Bastian yang kesal digoda oleh sang adik.
"Siapa bilang aku anak kecil, ini sudah besar tahu. Umur aku juga sebentar lagi sudah 17 tahun, tinggal menghitung hari saja."sahut Laura. Dia juga kesal, Bastian selalu mengatainya masih anak kecil. Padahal beberapa hari lagi Laura sudah merayakan sweet seventeen.
"Sudah sudah, ngapain juga kalian merebutkan ini dan itu. Kamu juga Laura, Apa kamu tidak senang melihat Kakak kamu bahagia? kamu lihat saja, jauh saja dari Mauren wajah Kakak kamu seperti ditekuk. sekarang wajahnya sudah berbinar, setelah mau menerima lamarannya."ucap Cornel menengahi kedua anaknya.
"Ya ya ya, Cinta sejati!"celoteh Laura
"Tau apa kamu tentang cinta?"gerutu Bastian.
"Ah sudahlah, ngapain juga berdebat sama orang yang lagi kasmaran." balas Laura lalu ia mengalihkan pandangannya.
Bastian mengacak rambut adiknya dengan menggunakan satu tangan, sementara satu tangannya menyetir dan pandangannya masih fokus ke depan.
"Kak, rambutku Jangan diacak-acak dong, nanti malah kusut."protes Laura. Sementara Bastian hanya terkekeh Begitu juga dengan kedua orang tuanya.
Bersambung...
__ADS_1